
Tepat dibawah langkah kaki para prajurit pemberani.. terbentuklah sebuah persembunyian rahasia beberapa ras yang diungsikan untuk para masyarakat negeri Ardonia dikala pertempuran tengah berlangsung..
"Ayah.. sebenarnya apa yang sedang terjadi diatas sana ayah.. kumerasa takut akan hal ini" ucap seorang pemuda
"Tenanglah anakku, itu hanyalah suara pertempuran dari kesatria-kesatria pemberani kita yang sedang membela tanah air kita ini dari serangan musuh" jawab ayahnya dengan muka ceria
"Wahh.. jadi suara-suara dari atas sana adalah suara dari kesatria kita ya-kan Ayah?"
"hahahaha... iya kau betul sekali nak"
"Ayah.. aku ingin menjadi seperti mereka, apakah aku bisa?"
"hahahaha... bersabarlah anakku, suatu hari nanti kau pasti akan menjadi lebih dari sekadar menjadi kesatria kita"
"Ha? maksud Ayah apa? aku tidak paham?"
"Yaudah lupakan saja perkataan Ayah tadi ya nak. jangan terlalu dipikirkan"
"Yah.. Ayah nih emang suka seperti ini. persis seperti yang dikatakan oleh almarhum Mama dulu"
Ditengah percakapan ini suasana sedikit mencekam karena para masyarakat yang berada didalam gua merasa sangat gelisah karena mereka semua tidak ada yang tahu tentang hal sebenarnya yang sedang terjadi diatas sana..
Disuatu hari sang pemuda tersebut keluar dari kamarnya dan menatap sinar rembulan yang menembus celah-celah bebatuan
"Apakah mungkin... kalau aku bisa menjadi lebih dari sekadar kesatria seperti ucapan ayah kemarin?" perkataan yang muncul dari dalam benak hatinya
"Iya pemuda, kau dapat menjadi lebih seperti yang dikatakan oleh Ayahmu kemarin" sosok suara berbisik yang tiba-tiba muncul dari tempat tersebut
"Siapa kau? cepat tunjukan dirimu!" ucap pemuda tersebut
"Aku tak perlu menunjukan diriku, karena suatu saat kau akan mengetahui secara langsung tentang siapa kau, aku, dan takdir dunia yang sebenarnya" ucap sosok suara kembali
"Aku sama sekali tidak mengerti apa yang kau katakan. semua perkataanmu tidak ada yang masuk akal, dan akupun tak bisa melihatmu!"
Suara tersebut mengilang tanpa jejak bak ditelan kesunyian yang abadi didalam tempat tersebut
"Sebenarnya suara siapa tadi itu? apakah mungkin itu suara-suara dari roh agung Ardonia seperti kata Ayah, jika memang benar, ada tujuan apa mereka menghampiriku? ucap pemuda tersebut
Keesokan harinya.. sama seperti hari-hari sebelumnya, tempat tersebut selalu gelap. Entah itu pagi, siang, sore, dan malam.. semua tampak sama saja.
"Ayah.. kemarin ada sesosok suara yang membisik kepadaku, padahal ditempat tersebut tidak ada siapa-siapa, hanya ada aku seorang Yah" ucap pemuda itu dengan nada yang terengah-engah karena sebelumnya dia berlari menghampiri Ayahnya yang sedang bertugas
"Sesosok suara? maksudmu.. suara seperti apa anakku?" Ayah tidak mengerti"
"Sesosok suara wanita Ayah, dia mengatakan bahwa perkataan ayah dulu memang benar dan dia juga mengatakan bahwa akan tiba saatnya aku mengetahui jati diriku yang sebenarnya, apakah Ayah mengerti yang dikatakan sesosok suara tersebut kepadaku?"
"Duh.. penjelasanmu panjang sekali ya, sepertinya kamu memang niat sekali memberi tahu Ayah, hahahaha..."
"Dihh.. Ayah nih, padahal aku sudah mengatakan dengan kondisi yang seperti ini, ehh ayah malah tidak mendengarkannya"
"Iya iya.. Ayah mengaku salah hahahaha"
"he'eh.. baiklah aku maafkan Ayah, oh iya seperti yang kukatakan sebelumnya.. apakah Ayah mengerti maksud dari sosok suara tersebut?"
"Ohh suara itu ya.. maaf, Ayah sama sekali tidak mengerti maksud dari suara yang menghampirimu kemarin. Maaf ya"
"Yaudah.. tidak apa-apa kok Yah, Aku juga tidak terlalu memfikirkan suara tersebut"
Tidak lama setelahnya sang pemudapun pergi bersama teman-temannya dan Ayahnyapun pergi menuju rumahnya. Dengan tergesa-gesa sang Ayah masuk kedalam rumah dan membuka laci kamar sambil mengambil foto istrinya dari dalam laci tersebut.
"Nolina.. Nolina.. akhirnya.. akhirnya.. sudah tiba saatnya Katsumi mengetahui siapa jati dirinya yang sebenarnya, dia mengatakan bahwa dia mendengar sesosok suara yang membisik kepadanya tentang sebuah takdir, apakah mungkin.. itu suara dari Dewi Agung? jika benar aku akan mengatakan siapa Katsumi sebenarnya dan memberikan azimat suci yang dititipkan oleh Dewi Agung kepada kita"
__ADS_1
Keesokan harinya disaat Katsumi(sang pemuda) sedang bermain-main bersama temannya. Ayahnyapun menghampiri dirinya dan ingin mengatakan kebenaran jati dirinya.. Namun tiba-tiba dari dinding sebelah selatan.
Duaarrr... brugggtttt... dungggggtttt...
suara ledakan tersebut telah menghancurkan dinding sebelah selatan dan dari dalam tembok dinding tersebut keluarlah Necromencers bersama pasukan mayah hidupnya(undead) untuk menyerang tempat tersebut
"Ada Necromencers.. cepat ambil senjata kalian masing-masing dan serang mereka!" teriak beberapa penjaga
Keadaan disana berubah menjadi histeris akibat kedatangan makhluk tersebut.. para wanita dan anak-anak segera diungsikan ketempat-tempat yang lebih aman
"Para ibu-ibu cepat pergi menuju gerbang Utara.. kami akan menghadang untuk memperlambat pergerakan mereka" ucap dari salah 1 penjaga
------
"Nak.. cepat pergi dari sini, bawa teman-temanmu ketempat yang lebih aman!" ucap Ayahnya sang pemuda sambil menunjuk kearah gerbang timur
"Tapi bagaimana dengan Ayah.. jika aku pergi Ayahpun juga harus ikut bersamaku ketempat yang lebih aman"
"Maaf nak, untuk kali ini Ayah tidak bisa mengikuti sesuai dengan keinginanmu, masih ada tanggung jawab yang harus Ayah selesaikan disini, karena itu memang sudah menjadi tanggub jawab Ayah sebagai seorang penjaga"
"Baiklah.. jika Ayah ingin terus berjuang disini, akupun akan ikut serta dalam perjuangan Ayah, jika aku pergi dari tempat ini mana mungkin aku akan menjadi seperti yang Ayah katakan.. malah aku akan dicap sebagai seorang pecundang"
"Baiklah jika itu memang keinginanmu, Ayah akan mengizinkanmu ikut membantu Ayah. Ini.. gunakan pedang Ayah, gunakan juga kemampuan bertarungmu untuk membunuh musuh oke"
"Iya Ayah, akanku pergunakan dengan baik kelebihanku ini, aku tidak akan mengecewakan Ayah"
"Baiklah.. Ayo kita berjuang bersama-sama disini.. ingat selalu waspada dan lihat sekitar nak"
"Iya iya Yah.. hahahaha"
kami berduapun bertarung dengan gagah ditempat ini. Namun.. tanpa kami sadari dari balik lubang dinding tersebut, keluarlah pasukan tengkorak, pasukan dari pimpinan perang ini, DeadMask
wusssttt... seettt...
"Huh, hal seperti ini masih kecil untuk Ayah lakukan"
"Ayahku memang hebat, aku bangga pada Ayah hehehe"
"Baiklah nak, ayo kita lanjutkan perlawanan ini"
"Baik Ayah"
Ditengah pertempuran yang kami lakukan untuk mempertahankan tempat ini.. tepat dari atas kami berdiri. robohlah bebatuan-bebatuan besar yang menimpa dan menghancurkan pemukiman kami
Duarr.. Duarr.. Duar.. Buggg... Buggg...
"Nak, Hati-hati jangan sampai terkena bebatuan ini, tetap waspada!"
"Baik Ayah" ucap Katsumi kepada ayahnya
"Nak cepat.. kita pergi kesana.. yang lain juga telah mengungsikan diri.. mungkin sepertinya tinggal kita yang tersisa disini"
"Cepat Katsumi.. Ayah akan melindungimu dari belakang"
Tiba-tiba.. dari bawah tanah muncull..
"Ahhh.. Ayah kakiku.." Jerit Katsumi dengan kondisi kaki yang tertangkap undead"
"Dasar kau monster!" ucap ayahnya kepada undead yang menahan anaknya
__ADS_1
"Ahhh.. Ayah kakiku.." ucap anaknya dengan muka pucat
"Sepertinya kakimu terkilir nak, Tenang Ayah akan menggendongmu dipunggung Ayah"
kami berduapun bergegas pergi karena kian lama, semakin banyak bebatuan yang terjatuh dari langit-langit. Dan tepat diatas kepala kami, Tiba-tiba.. bebatuan besar jatuh tepat diatas kami ber2 dan..
"Ayah.. awas diatas kita!" ucapku dengan nada tinggi kepada ayah sambil menujuk keatas
Dengan sigab, Ayahpun menghempas aku jauh dari dirinya dan alhasil.. bebatuan besar itupun akhirnya menimpa Ayahku tersebut
"Ayah..!! Ayah..!! hah.. hah.." tangisku yang berusaha menggali bebatuan-bebatuan karena batu-batu yang berjatuhan telah usai
"Ayah? Ayah.. bertahanlah, Tangan Ayah..(hiks hiks) Tangan Ayah hancur sebelah" tangisku yang tengah melihat kondisi Ayahku yang teramat terluka para
"N..n.. nak.. m..m..mm..maa...maaa... maaaafff.. maaaafff kk.. kan Ayy... Ayyyahhh.." desak ayahku yang teramat luka parah
"Ayah.. sudahlah berhenti berbicara.. darah yang keluar makin banyak seiring Ayah terus berbicara"
--------
"Tolongggg... tolongggg siapapun tolong kamiii" jeritku, namum tak ada yang tiba
"Sss... sssuu... sssuuuuddd... suudaa... ssssudaahhlah.. nn.. n... nak.., **.. tiiid.. tidakkk.. a... aaa.. adda.. la.. laa.. llagg... lllaggiii y.. yaa.. yaanggg biis... bisssaaa kiiit.. taaa lllakkukk.. kkann" desah ayahku yang makin lama semakin parah
"Ayah.. bertahanlah Ayah(hiks hiks) Ayah pasti akan tertolong" tangisku
Dengan menarik nafas panjang ayahkupun berbicara...
"huuuuhh... hahh..., sepert.. tiinnyaa sudahh.. wakttunya.. Ayaah memmberi tahhumu nak"
"Apa maksud Ayah" jawabku yang masih mengalirkan air mata
"Sepperrtii yang kau katakan.. sesosok suara tersebut sebenarnya adalah... suaraaaa dari Dewii Agung, karenaa.. dia telah memberikan takdir kepadamu sebagai sang penyee..lamaatt.. duniaa.."
"Dewi Agung? penyelamat dunia? apa semua maksud Ayah itu?
"Suatuu.. harii kamu akan mengetahui dengan sendirinya, nak. Ayah hanya bisa menitipkan ini.
Ayahkupun mengambil sebuah azimat dari dalam sakunya dengan menggunakan tangan kiri karena tangan kanannya telah hancur tertimpa batu besar
"Benda apa ini Ayah? untuk apa ini diberikan kepadaku?"
"Suatu saattt.. azimmattt iitu akkan.. menollongmu, nak. semmoga kamu dappat menggunaakkannya dengaan baik"
Ayahkunpun melepaskan tangannya dari genggamanku dan..
"Ayahhh?? Ayahhh?? Ayahhh!!!.. Bangun.. bangun Ayah!!! (hiks hiks hiks)" tangisku yang teramat mendalam
Ayahkupun tewas dalam insiden ini, dengan menitipkan sebuah azimat pemberian Dewi Agung
Sesaat kemudian aku berhenti menangis dan menatap jasad Ayahku
"Ayah.. terima kasih atas jasamu padaku, aku berjanji.. akan melakukan seperti yang kau bilang sebelumnya.. yaitu menjadi penyelamat dunia, terima kasih karena telah mendidiku menjadi seperti ini.. Ayah"
Akupun berdiri dan mengusap air mata yang terdapat pada mataku dengan menggunakan lengan kananku. Aku keluar dari tempat tersebut dengan menggendong jasad ayahku dan keluar dari tempat persembunyian untuk menguburnya
"Jadi seperti ini.. tempat sebenarnya yang harus kami tinggali, ternyata sungguh indah seperti ucapan Ayah, Ayah pasti akan senang jika kukubur ditempat seperti ini"
Aku tersenyum sambil menatap jasad Ayahku. Tak lama kemudia akupun mengubur jasad Ayahku dan mendoakannya agar tenang dialam sana
__ADS_1
"Ayah.. aku akan berusaha sesuai perkataanku sebelumnya.. aku akan mewujudkan semua impian orang negeri Ardonia ini, aku mohon.. Ayah.. semoga kau dialam sana selalu mendoakanku agar aku selalu selamat dalam menjalankan takdirku ini"
"Memang.. masih banyak yang harus kulakukan dan yang belum kuketahui.. tapi.. dengan didikan Ayah yang mengajarkanku untuk tetap berusaha pantang menyerah.. aku akan terus menggali jati diriku yang sebenarnya, Aku berjanji"