Takdir Pedang Suci

Takdir Pedang Suci
Kekuatan Penghubung


__ADS_3

"Jadi.. bagaimana tanggapanmu tentang pemuda yang sebelumnya telah kau jumpai?" Tanya sesosok suara yang tengah berbincang dengan Yharon


"Sungguh mengejutkan! Saya merasakan sebuah kekuatan besar dari dalam tubuhnya, terlebih lagi.. dia memiliki 10 kotak sihir legendaris tersebut" ujar Yharon


"Ohh.. benarkah?"


"Iya.. mana mungkin saya berani berbohong dan bercanda kepada tuan perihal masalah ini. Menurut saya.. mungkin dia ialah seorang pemuda yang telah diramalkan akan menyelamatkan dunia dan negeri ini dari kekuasaan musuh" ujar Yharon


"Hm.. kutahu.. setiap kali kau menilai seseorang, kau pasti tak pernah sekalipun bermain-main dengan ucapanmu. Maka dari itu, aku sangat terkejut mendengar perkataanmu tentang pemuda itu"


"Saya berani berkata seperti itu karena selain 10 kotak sihir yang ia bawa, ia juga memiliki pedang suci legendaris tersebut, ia juga telah berkawan dengan Raja Griffin, Kolkhis yang terkenal agung dan kuat"


"Hm.. sepertinya hal ini semakin menarik. Jadi.. hal itulah yang membuatmu berani beranggapan demikian?"


"Iya!"


"Baiklah.. kurasa juga begitu.. dan mulai sekarang, jika kau berkenan.. awasi terus setiap pergerakannya. Jika perlu, bantulah dia jika memang kondisi saat itu memaksamu untuk memberikan pertolongan kepadanya!"


"Baik! Perintah tuan akan saya laksanakan"


Kembali kepada tempat pengungsian dari insiden yang telah menimpa sebuah kota dahulu


"Huaaww.." Katsumi keluar dari tendanya


"Hm.. pemandangan pagi hari yang sangat indah, seandainya saja negeri ini dapat selamanya seperti ini" pikir Katsumi setelah melihat pemandangan dipagi hari


Katsumi terlihat diam sesaat menikmati indahnya pemandangan


"Katsumi!" Sahut Lifya yang memanggilnya


"Ohh.. Lifya" balas Katsumi


Lifya berjalan mendekati Katsumi


"Pagi Katsumi, tengah menikmati indahnya matahari terbit ya?" Tanya Lifya


"Pagi juga Lifya, iya.. kau benar. Sudah lama aku tak melihat matahari terbit setelah perjalananku dimulai" ujar Katsumi


"Hah? Perjalanan?" Ucap Lifya


"Ahh.. sudah-sudah.. lupakan saja! Tak perlu diingat kembali oke"


"Hm.. baiklah"


"Ngomong-ngomong.. kau sudah sarapan pagi belum Katsumi?" Tanya Lifya


"Belum, aku baru saja bangun dari tidurku. Hehehehe..." balas Katsumi


"Emm.. sudah kuduga, mari.. ikut denganku!" Sahut Lifya


"Ehh.. mau kemana?"


"Sudah.. ikut saja" ucap Lifya sambil menarik tangan Katsumi


"Uhh.. pelan-pelan dong" ucap Katsumi


Lifya menoleh kearah Katsumi dan tertawa kecil


"Hufft.."


Setelah beberapa saat mengikuti Lifya, akhirnya kami sampai pada suatu tempat dibukit yang telah disiapkan oleh Lifya sebelumnya sebuah api unggun


"Nah.. kita telah sampai" ucap Lifya


"Wah.. jadi kau mengajakku ketempat ini ya"


"Ayo.. mumpung masih pagi hari, karena suhunya masih relatif dingin, alangkah baiknya kita makan makanan yang hangat terlebih dahulu" ujar Lifya


"Iya kau benar, tetapi.. enaknya makan makanan apa ya? Hm..." ucap Katsumi


"Tenang.. aku sudah menyiapkan beberapa ubi bakar disana" sahut Lifya


"Ehh.. kau telah menyiapkan ubi bakar? Sejak kapan?" Tanya Katsumi


"Belum lama kok.. makanya, sebelum makanan tersebut menjadi dingin, mari.. kita makan selagi masih hangat"


"Hm.. kau benar juga"


Setelah tiba, kami kemudian duduk pada sebuah dahan kayu yang berada didekat api unggun tersebut


"Wah.. indah sekali pemandangannya, aku terkejut karena pemandangan disini lebih indah dari pada dicamp tadi" sahut Katsumi


"Iya.. aku juga merasa heran karena masih terdapat tempat seperti ini didunia yang sedang berperang, aneh sekali ya"


"... Hm.. iya, kau ada benarnya juga. Mungkin pasukan neraka belum tiba ditempat ini, maka dari itu pemandangan yang yang berada disini masih terjaga keindahannya"


"Em.. kau benar, tapi apa mungkin semua hal ini akan bertahan cukup lama" ujar Lifya


"Entahlah.. akupun tak tahu"


"Begitu ya.." ucap Lifya dengan nada pelan dan menundukan kepala


Katsumi melihat kearah Lifya


"Lifya.."


"Sudah.. tak perlu kau pikirkan kembali, hehehehe. Ohh.. iya ubi bakarnya, ayo kita makan sebelum dingin" ucap Lifya kemudian pergi mengambil ubi bakar

__ADS_1


Tetapi Katsumi hanya terdiam ditempat duduknya, tak bergerak sama sekali sambil meratapi Lifya


"Sepertinya.. ada yang sedang kau sembunyikan dariku ya, Lifya. Melihat ekspresi diwajahmu sebelumnya kumerasakan kegelisahan yang sedang melanda dirimu" pikir Katsumi


"Katsumi.. ini ubi bakarmu, makanlah selagi hangat" ucap Lifya yang membawa 2 ubi bakar


"Ahh.. em.. terima kasih" ucap Katsumi


Kami berdua memakan ubi bakar masing-masing


"Anu.. Lifya, seperti apa tempat tinggalmu dahulu?" Tanya Katsumi


"Tentu saja tempat yang sangat indah, penuh dengan kebahagiaan yang melanda kehidupan kami setiap harinya. Tidak ada yang namanya permusuhan dan perselisihan ditempat itu"


"Wah.. mendengarnya saja, aku sudah dapat beranggapan bahwa tempatmu merupakan tempat impian bagi semua orang!" Ujar Katsumi


"Hehehehe.." Lifya tersenyum kecil


"Memang.. dahulu.. memang banyak dan tidak jarang datangnya para pengelana dan pedagang yang datang dari tempat yang jauh untuk bersinggah atau berdagang didesa kami, mereka beranggapan bahwa warga-warga didesa kami semua ramah dan baik hati, maka dari itu sangat minim sekali terjadinya pertengkaran maupun perselisihan seperti yang kubilang sebelumnya" ucap Lifya


"Namun.. semua berubah saat prajurit neraka dan undead yang tiba-tiba muncul dan menyerang desa kami. Mereka semua menghancurkan dengan ganasnya, meratakan semua hal yang menghalangi langkah mereka"


Karena menceritakan cerita itu, Lifya menjadi sedih kembali. Melihat kondisi Lifya saat ini membuat perasaan Katsumi bersalah karena telah memancing Lifya agar menceritakan masa kelamnya tersebut


"Jika saja dahulu diriku ini kuat, mungkin aku akan dapat menahan serangan pasukan tersebut sehingga memungkinkan untuk para penduduk segera mungkin meninggalkan desa"


"Tetapi yang terjadi malah sebaliknya.. aku tak dapat melakukan apapun untuk melawan mereka, kemampuanku serasa tak berguna sama sekali dan terdiam kaku membeku melihat pasukan musuh datang didesa kami saat itu" tambah Lifya


Katsumi terdiam..


"... Lifya, sepertinya.. hal tersebut sudah tak berlaku dengan dirimu saat ini" ujar Katsumi


"Katsumi, apa maksudmu?" Tanya Lifya


"Melihat kemampuanmu dahulu kumenjadi mengerti bahwa kau saat ini telah bertambah kuat, buktinya saat dahulu kau membantuku melawan Zang didimensi gelap"


Lifya melihat kerah kedua tangannya sambil berfikir "Apa benar.. aku yang saat ini telah bertambah kuat?" pikirnya kepada diri sendiri


Katsumi meraih tangan Lifya dan berkata "Tangan ini.. tangan ini sekarang, bukan! dahulu.. dari dahulu tangan ini telah hebat dalam menggunakan sebilah pedang.."


"Katsumi.." ucap Lifya dalam hati


"Mungkin.. jika selalu kau tingkatkan kembali, kuyakin.. kemampuannya akan semakin meningkat dan terus meningkat. Maka dari itu.. jangan kau sia-siakan bakatmu Lifya, mungkin telah takdirmu bahwa kau memang harus menggunakan tanganmu untuk menegakkan keadilan, kau mengerti maksudku?"


Lifya terdiam.. tak berkata apa-apa.. selain menundukan kepala


"Ehh.. Lifya, kenapa? Aku salah ya. Maaf-maaf.. bukan maksudku membuatmu bersedih kok"


"Katsumi.." ucap Lifya perlahan memegang pundak Katsumi


"Ehh.. kenapa? kau ingin menghajarku ya?" ucap Katsumi gugup


"Ehh.. Lifya! Kau kenapa?" Tanya Katsumi


"Terima kasih.. terima kasih karena kau selama ini selalu mengerti apa yang selalu kurasakan dan kupendam didalam diriku!' Ucap Lifya yang terlihat sedih


"... Tentu.. tak masalah, aku hanya merasa harus sedikit bertindak melihat kondisimu yang sangat tidak memprihatinkan itu" ujar Katsumi


"Terlebih lagi.. karena dirimu, kumenjadi mengerti makna dari persahabatan yang sebenarnya melalui sikapmu terhadap Zang maupun sebaliknya" balas Lifya


"Hm.. baguslah kalau kau kini mengerti arti dari persahabatan yang sesungguhnya. Maka dari itu.. teruslah bersamaku, kita raih kemenangan dunia ini bersama-sama!" Ujar Katsumi


"Iya.. kau benar, aku akan selalu berada disisimu.. menjadi pedang kedua yang kau miliki untuk meraih kejayaan dunia dan negeri ini"


Katsumi merasa lega karena melihat senyuman manis diwajah Lifya yang menandakan bahwa dirinya saat ini telah kembali ceria seperti sedia kala


"Hehehehe.. ohh iya, ubi bakarnya! Kalau tidak cepat-cepat dimakan nanti keburu dingin" sahut Katsumi


"Ehh.. iya, aku sampai melupakan ubi bakarnya, hihihihi.."


Kami berdua melanjutkan memakan ubi bakar yang sebelumnya telah dibakar oleh Lifya


"Semoga.. suatu saat nanti kita dapat tetap melihat alam yang indah ini ya" sahut Lifya


"Iya.." balas Katsumi


"Ngomong-ngomong.. saat naga dahulu menyerang kota yang kau selamatkan, Zang mengatakan kepadaku bahwa aura dan kekuatan ditubuhmu berubah drastis menjadi gelap" ujar Lifya


RollBack kembali kepada ingatan Lifya saat Zang memberi tahu bahwa kekuatan Katsumi berubah


"Lifya.. apa kau saat ini merasakan sebuah kekuatan aneh dari dalam tubuh Tuan Katsumi" sahut Zang kepada Lifya melalui telepati saat Katsumi melawan naga dahulu


"Kekuatan aneh? Apa maksudmu Zang, aku sama sekali tak memahaminya"


"Kekuatan kegelapan.. kekuatan itulah yang mengakibatkan Tuan Katsumi memiliki kekuatan besar seperti ini, jika kau fokus.. kau akan merasakan hal yang sangat berbeda dari biasanya tentang aura yang tuan miliki. Terlebih lagi.. warna dan bentuk kelopak mata tuan kini berbeda dari sebelumnya"


Beberapa ingatan yang diingat oleh Lifya tentang perkataan Zang


"Jadi seperti itu.. Zang mengatakan mirip dengan yang kuucapkan kepadamu"


"Hm.. soal kekuatan baruku dahulu ya. Sejujurnya.. aku juga masih penasaran dengan kekuatan baru yang tiba-tiba muncul padaku dahulu"


"Apa kau mengetahui.. dari mana asal kekuatanmu itu berawal?" Tanya Lifya


"Entah.. sebelumnya.. aku sama sekali tak mempunyai bahkan tak menguasai kekuatan seperti itu.. terlebih lagi.. saat kucoba untuk menggunakan kekuatan baruku dahulu, sama sekali tak aktif seakan-akan aku sama sekali tak memiliki kekuatan itu" ujar Katsumi


"Hm.. mungkin saja, kekuatan tersebut merupakan kekuatan sebenarnya yang kau miliki didalam dirimu, Katsumi"

__ADS_1


"Mungkin saja.. jika memang benar, apakah kudapat terus menggunakannya, atau kekuatan tersebut hanya akan muncul dikala kondisi memang memaksa untuk menggunakan kekuatan itu, hm.." sahut Katsumi


"Baiklah.. kita akan cari tahu besok saja, berharap datang suatu petunjuk yang dapat menjelaskan asal-usul dari kekuatanku itu"


"Emm.. kau benar, ngomong-ngomong.. mari, kita kembali keperkemahan (Camp)!" Ujar Lifya


"Iya, aku juga ingin melihat kondisi saat ini ditempat itu"


Kami berdua kembali kepada perkemahan yang kami tinggali


"Uaahh.. sejuknya, melihat pemandangan dimana semua orang bekerja keras dan saling bantu-membantu walaupun berbeda ras dan golongan" ucap Katsumi


"Katsumi, kau sepertinya sangat terlihat senang dengan hal ini, apa kau belum pernah datang kesuatu tempat ramai sebelumnya?" Tanya Lifya


"Hm.. pernah sih, hanya saja.. setelah kumenetap ditempat tersebut, tak lama kemudian tempat itu hancur. Kau tahulah.. mengapa tempat tersebut dapat hancur"


"... Apakah.. karena ulah dari.. pasukan neraka dan para undead?"


"Ya.. merekalah.. yang selalu menghancurkan tempat-tempat yang mengandung banyak kenangan didalamnya.. suatu saat, aku pasti akan membalaskan dendam mereka kepada pasukan musuh yang telah merenggut secara paksa hak-hak mereka untuk berbahagia didunia ini"


"Uhh.. naas sekali, dan tak kusangka, kau ternyata sangat terlihat ambisi sekali dengan perkataanmu itu"


"Hehehehe.. tidak juga, aku hanya melakukan kewajibanku sebagai pahla.. maksudku, warga Negeri Ardonia"


"Hm.. benarkah.. mungkin saja suatu saat nanti saat kita telah mengembalikan kedamaian pada dunia dan negeri ini. Kau akan dilantik menjadi seorang kesatria kerajaan yang terhormat" ujar Lifya


"Bisa saja kau Lifya, dan mana mungkin.. hal tersebut dapat terwujud. Menjadi kesatria bukanlah hal sepele karena mengandung banyak arti besar didalam kata kesatria tersebut, salah satunya menjadi seorang pemimpin, dan lain-lain"


"Begitu ya.. Em.."


Tiba-tiba terdengar suara seseorang nenek-nenek memanggil nama Lifya dari arah perkemahan


"Lifya, lihat! Ada yang memanggilmu disana. Kau mengenalnya?" Tanya Katsumi


"Ohh.. dia nenek yang tadi memberiku beberapa ubi tadi" balas Lifya


"Benarkah?"


"Iya.. mungkin saja, sekarang dia membutuhkan bantuanku, karena sebelumnya aku melihat disekitarnya banyak sekali karung-karung ubi"


"Lalu?" Tanya Katsumi


"Hufft.. bagaimana sih kau Katsumi, pastilah akan kubantu nenek itu, dia telah berbuat baik kepadaku, jadi aku harus membalas kebaikannya"


"Hm.. begitu ya"


"Iya. Yasudah, aku pergi dulu ya, Katsumi"


"Hm.. ingat! Berhati-hatilah! Jangan sampai melukai dirimu sendiri"


"Iya!" Sahut Lifya sambil berlari


"Hufft.. sekarang aku sendirian.. hm.. apa yang akan kulakukan ya?" Pikir Katsumi


Lalu.. tiba-tiba


"Ha! Apa-apaan ini!" Ucap Katsumi yang melihat kerah tangannya karena mengeluarkan cahaya emas


"Aku harus bergegas pergi dari sini sebelum ada seseorang yang melihat hal ini" pikir Katsumi


Katsumi pergi kesuatu tempat sepi dibelakang perkemahan itu


"Tanganku.. mengapa tiba-tiba menjadi seperti ini!" Pikir Katsumi


Lalu.. tiba-tiba.. wuss.. muncul aura dan partikel sihir membentuk suatu benda dan Cyingg..


"... Ah.., Hah! Bukankah.. ini kotak sihir? Mengapa tiba-tiba dapat muncul ditempat seperti ini.."


"Apa mungkin.. ini ada kaitannya dengan kekuatan baru yang kumiliki"


Lalu.. tiba-tiba kota sihir terebut berubah menjadi sebuah cincin yang terpasang dijari Katsumi


"Astaga.. apa lagi ini!" Sahut Katsumi


"Aku harus segera melepaskannya sebelum seseorang melihat benda ini"


Katsumi berkali-kali mencoba untuk melepas cincin tersebut. Tetapi tetap saja sia-sia


"Hufftt.. cincin ini terpasang kuat dijariku. Sepertinya memang benar, ada kaitannya hal ini dengan kekuatan baru yang kumiliki"


"Sepertinya aku harus mencari tahu sendiri.. apakah ucapanku benar bahwa cincin ini benar-benar memiliki hubungan dengan kekuatan baruku"


Katsumi kembali menuju keperkemahan


"Uhh.. jariku terasa terbakar, apa hal ini karena ulah cincin ini?" pikir Katsumi


"Energi.. energi sihirku juga serasa dibatasi oleh cincin ini.. sebenarnya, apa maksud cincin ini terpasang dijariku?"


"Hufft.. sudahlah, tak perlu kupikirkan lebih dalam, terlebih lagi.. hal ini sama sekali tak mempengaruhi pikiranku" ujar Katsumi


"Berhati-hatilah.." ucap sesosok suara yang tiba-tiba muncul tepat ditelinga Katsumi


"... Siapa itu.. Hei!" Sahut Katsumi, tetapi tetap, tak ada 1pun respon yang ia dengar dari sesosok suara misterius itu


"Hah.. suara siapa tadi? Suara tersebut berbeda dengan suara yang sering kudengar melalui mimpiku, dan.. apa maksud dari suara tadi"


"Mungkin.. sebaiknya aku bertanya kepada Zang, mungkin saja dia mengetahui hal yang sedang kualami sekarang ini"

__ADS_1


"Baiklah.. aku harus bergegas menemui Zang!"


Katsumi berjalan untuk menemui Zang. Teka-teki yang melanda dirinya kini kian membingungkan.. seakan-akan terdapat suatu hal yang memaksa semua hal tersebut berjalan tak mengikuti sesuai dengan takdir yang menempel pada diri Katsumi.. mungkin saja ucapan Katsumi benar, mungkin saja kekuatan gelap yang terdapat didalam tubuh Katsumi mulai melakukan aksinya


__ADS_2