Takdir Pedang Suci

Takdir Pedang Suci
Dunia Gelap


__ADS_3

Wuss.. tap.. tap.. Katsumi dan Lifya tiba disebuah tempat asing bagi mereka


"Lifya.. apakah ini dimensi yang kau maksud sebelumnya?" tanya Katsumi


"... Mungkin.." jawab Lifya


"Mungkin! jangan bilang bahwa kau sama sekali tah mengetahui apa-apa tentang dunia ini!"


"...." Lifya terdiam


"Ahh.. sudahlah.. kita akan mencari tahu sendiri tempat apa ini!" sabut Katsumi


"Tapi sebelum itu" Katsumi mengeluarkan sebuah sihir dan.. Cyingg.. 3 bola cahaya terbang menyinari Katsumi dan Lifya


"Katsumi.. apa yang kau lakukan!" sahut Lifya


"Tempat ini begitu gelap.. akan sangat bahaya jika kita berjalan ditempat gelap seperti ini" balas Katsumi


"Tetapi.. bukankah cahaya itu dapat menarik perhatian monster-monster disini!"


"Tenang.. jika mereka tiba, kita hanya harus mengalahkan mereka saja. Hahahahaha"


"... Kau terlalu percaya diri Katsumi, lihat saja.. jika nanti kau hampir tertelan oleh monster disini, tak akan kubantu dirimu"


"Hehehehehe" tawa Katsumi


"Baiklah.. mari kita lanjutkan perjalanan kita disini. Jangan sampai belum apa-apa yang kita lakukan ditempat ini, kita sudah harus berlawanan dengan monster disini!" ucap Katsumi


"Baiklah.." sahut Lifya


Kami ber2 melanjutkan perjalanan kami ditempat entah berantah ini.. berharap Katsumi, temanku dapat ditemukan


"Tempat ini terlalu lembab.. kucuriga.. disini pasti banyak monster yang menghuni tempat ini, Lifya.. berhati-hatilah!"


"Emm.. aku akan selalu berhati-hati, tenang saja" balas Lifya



"Uhh.. tak kusangka, ternyata selama ini kita berjalan diatas rawa, pantas saja hawa yang kurasakan begitu lembab" ucap Lifya


"Hufft.. sudahlah Lifya, hanya berjalan diatas rawa memang apa masalahnya, hm.. jangan-jangan.. kau mempunyai masa lalu yang buruk tentang rawa ya?"


"... Emm" ucap Lifya dengan nada rendah


"Heee?? heee?? heee?? heee!!!, jadi kau benar-benar mempunyai masa kelam dirawa?"


"...." Lifya hanya terdiam


"Anu.. maaf, bukan maksudku untuk mengungkit-ungkit masa kelammu, aku hanya bercanda saja tadi"


Lifya masih tetap terdiam tak bergerak sambil menundukan kepala


".... Apa yang harus kulakukan?" pikir Katsumi


"Hufftt.." Katsumi kemudian merunduk membelakangi Lifya


"Mari.. kugendong dirimu, kau benci dengan rawakan?"


"Haa!" bisik Lifya


"... kau bilang apa tadi?" tanya Katsumi


"Tidak.. tidak ada apa-apa kok"


"... Baiklah, ohh iya, maaf jika kau merasa tidak nyaman yah"


"Emmm..." balas Lifya


Katsumi kemudian mengangkat tubuh Lifya dan menggendong dirinya


"Jika boleh tahu, mengapa kau benci dengan rawa Lifya? kaukan tahu sendiri bahwa di rawa sama sekali tak ada hal yang membahayakan dirimu" ujar Katsumi


"......" Lifya terdiam


"... Maaf-maaf karena telah menanyakan hal konyol kepadamu, aku sama sekali tak ada maksud apa-apa kok. Sungguh"


Lifya masih terdiam


"... Ternyata benar perkataan ayahku, jika ada seorang wanita yang sedang marah, maka akan sangat sulit untuk membuatnya baik kembali, hufft" pikir Katsumi menghela nafas


"... Keadaan disini benar-benar hening, sepertinya aku memang harus segera mencari topik-topik pembicaraan agar suasana disini dapat menjadi lebih hangat" pikir Katsumi


"Anu.. Lifya, sebenarnya.. apa tujuanmu hingga bersedia ikut bersamaku ditempat yang sangat tidak jelas ini?" tanya Katsumi


"....." Lifya terdiam.. kemudian melirik kearah Katsumi "Memang mengapa kau bertanya seperti itu?" balas Lifya


"... Anu.. aku hanya bertanya saja, jika kau ingin membalas budi untuk kejadian dahulu, sepertinya sudah karena selama ini kau selalu membantu dan menemani perjalananku, Maka dari itu kubertanya seperti ini kepadamu"


"... Mungkin karenaku telah merasa nyaman dengan dirimu saja, jadi kuselalu mengikutimu. Terlebih lagi aku sekarang hanya tinggal seorang diri dan tidak memiliki siapapun"


"Astaga! kulupa kalau Lifya sudah tak memiliki siapa-siapa lagi! apa yang akan kukatakan selanjutnya kepadanya!" pikir Katsumi


"Katsumi.. kenapa kau berkeringat? tanya Lifya


"Hiii.. aku ketahuan! apa yang akan kukatakan kepadanya" pikir Katsumi kembali


"Eee.. anu.. tubuhmu begitu berat, alhasil punggungku terasa sakit dan kumenahannya. Eeh.. kekuatanku telah mencapai batasnya sehingga membuatku berkeringat, hehehehe" ucap Katsumi

__ADS_1


"Ohh.. begitu ya? yasudah, aku akan turun dari punggungmu saja" ucap Lifya terlihat kesal


"Ehh.. jangan! tadi aku hanya bercanda juga kok" jelas Katsumi


Lifya tetap bersikeras turun dari punggung Katsumi


"Lifya.. jangan turun dahulu.. tenagaku masih banyak kok, terlebih lagi saat ini kita sedang berada dirawa" ucap Katsumi sambil memegang tangan Lifya


"Katsumi.. lepaskan tangamu dariku!" sahut Lifya


"Iya iya.. aku mengaku salah karena telah menyebutmu berat, maaf"


"Baik.. tetapi lepaskan tangaku dahulu"


"Tidak.. tenagaku masih banyak.. maka dari itu kau jangan turun dari punggungku"


Kami ber2 terus berdebat dan..


"Aaaa..." teriak kami ber2


"Tuh.. Katsumi.. karena ulahmu sekarang kita berdua telumur oleh lumpur-lumpur ini" ucap Lifya


"Hehehe.. maaf, aku tidak sengaja"


Grekk.. Katsumi bediri


"Mari.. kubantu kau berdiri" ucap Katsumi


Lifya tersenyum dan memegang tangan Katsumi namun.. Brugg..


"Aaahh Lifya, apa yang kau lakukan.. kau membuatku menjadi semakin kotor" ucap Katsumi sehabis ditarik Lifya sehingga ia terjatuh kembali


"Hihihihi.. dengan begini kita telah impas"


"Hufft.. terserah kau saja" balas Katsumi


Kami ber2 berdiri dan melanjutkan perjalanan


"Uhh.. Katsumi.. badanmu sungguh bau!" sahut Lifya


"... Memang kau pikir.. semua ini salah siapa" balas Katsumi


"Hihihihi..." tawa kecil Lifya


"Kau sendiri.. juga bau.. malah lebih buruk dariku" ucap Katsumi


"Tidak.. kau yang bau, aku sama sekali tidak merasa bahwa diriku ini bau, jika kita mencuim sesuatu bau yang menyengat, itu semua pasti berasal dari dirimu" balas Lifya yang tidak sadar bahwa dirinya sendiripun bau


"Terserah kau saja.. kau mau menyebutku dengan sebutan bahwa diriku bau, aku sama sekali tak peduli!" sahut Katsumi kesal


"Hm... sudah-sudah.. sekarang kita lanjutkan perjalanan ini!" sahut Katsumi


Kami ber2 melanjutkan perjalanan didalam dunia aneh ini.. hingga pada akhirnya kami berhasil keluar dari dalam rawa dan mulai memasuki hutan


"... Aneh.. pohon-pohon ini.. sepertinya sangat tidak asing bagiku, seakan-akan aku pernah melihat dahan seperti ini" pikir Katsumi sambil mengamati pohon tersebut


"Dimana ya kira-kira kupernah melihat dahan seperti ini, menginjakan kakiku ketempat ini saja aku tak pernah sama sekali"


"... Jangan-jangan" Cyingg.. Katsumi teringat kembali dengan mimpinya dahulu


"Iya.. tidak salah lagi, dahan ini mirip persis dengan dahan yang berusaha mengalangiku saat kuingin menyelamatkan Zang dari sebuah pohon besar didalam mimpiku, tapi.. mengapa hal ini bisa terjadi ya? hm.. kumerasakan sesuatu yang janggal ditempat ini"


"Lifya.. sepertinya benar, tidak salah lagi bahwa ditempat inilah temanku terperangkap, tetapi.. mengapa dia bisa sampai ketempat seperti ini?" ucap Katsumi


"Hah.. benarkah? jika memang benar berarti usaha kita selama ini tidak sia-sia, kita juga harus terus mencarinya.. terlebih lagi saat ini kita tengah berada didunia yang sama dimana temanmu teperangkap" balas Lifya


"Ohh.. iya, untuk pertanyaan mengenai temanmu yang hingga bisa tiba ditempat ini.. mungkin saat dia terjatuh, terserang, dll. Secara tidak sengaja kekuatannya/ energi mananya bocor sehingga membuat pintu ruang antar waktu terbuka karena tertarik oleh energi sihir milik temanmu tersebut" jelas Lifya


"Jika memang benar.. lalu siapa yang menyerang mereka. Ataukah.. jangan-jangan!"


"Jangan-jangan apa Katsumi?" tanya Lifya


"Ohh tidak ada apa-apa kok" balas Katsumi


Dibalik senyum kecilnya.. Katsumi berfikir


"... Sepertinya sewaktu kami masih berada diKota Etherea.. secara tidak sengaja Zang terkena serangan oleh beberapa pasukan neraka, karena kekuatannya yang tidak mengimbangi pasukan itu, akhirnya Zang tertembak jatuh dan alhasil seperti kata Lifya, energinya bocor, menarik pintu dimensi terbuka dan tiba ditempat ini"


Tiba-tiba..


Dugg.. Dugg.. detak jantung Katsumi terdengar karena tersangsang oleh suatu aura "Hah.. apa ini.. aura Zang! iya.. tidak salah lagi bahwa ini aura miliknya.." pikir Katsumi


Sett.. Katsumi berbalik arah dengan sigab dan mulai melanglah jauh, menambah kecepatan larinya untuk mengejar/ menyusul energi yang dipancarkan oleh Zang


"Katsumi.. tunggu!" Lifya menyusul Katsumi


Tap.. tap.. tap.. langkah demi langkah Katsumi lakukan dengan cepat


"Katsumi.. sebenarnya apa yang terjadi?" ucap Lifya dibelakang Katsumi


"... Aku secara tiba-tiba merasakan aura milik Zang temanku, karena kutak ingin kehilangan jejaknya kembali.. mendadak secara reflek kubergerak untuk mengejarnya" sahut Katsumi yang terlihat bersemangat


"... Katsumi.." ucap Lifya dalam hati


Pohon demi pohon telah kami lewati dan akhirnya tiba dimana Zang berada, Namun...


Wuss.. Katsumi muncul dari dalam rimbunnya pepohonan, disusul oleh Lifya dibelakangnya. Tap.. tap.. kaki Katsumi dan Lifya menginjak tanah

__ADS_1


"Hah.. hah.. hah.. Akhirnya kita tiba juga" ucap Katsumi disebuah tempat luas, ditengah tempat tersebut terlihat sebuah pohon tua yang berdiri kokoh


"Hah.. hah.. hah.. Katsumi! jika kau ingin melakukan hal seperti tadi, beritahu kudahulu agar kutidak seperti ini!" sahut Lifya


"Hehehehe, maaf.. aku hanya reflek tadi"


"Baiklah.. tetapi sekarang, kita harus bagaimana Katsumi?" tanya Lifya


Kemudian katsumi menunjuk kearah pohon tua itu


"Katsumi.. mengapa jarimu menujuk kearah pohon itu? pohon itu terlihat sangat tua dan lemah" ucap Lifya


"Apa kau yakin.." balas Katsumi


"Hah? apa maksudmu Katsumi?"


Katsumi lalu menembakan sihir api biru miliknya kearah pohon itu namun bola api Katsumi malah terhisap oleh pohon itu


"Hah! pohon macam apa itu! mengapa dia dapat meyerap kekuatanmu!" sahut Lifya


"... Seperti dugaanku.. pohon tersebut bukanlah pohon biasa, pohon itu dapat menyerap setiap energi sihir maupun energi kehidupan yang dipancarkan oleh makhluk-makhluk lain. Pantas saja disekitar pohon ini berdiri.. tak terdapat 1 pohonpun disampingnya. Seakan-akan mereka menjauh ketakutan dan memilih mundur dari pada menjadi korban selanjutnya" pikir Katsumi


"... Apakah mungkin aku bisa.. baiklah.. akan kucoba" pikir Katsumi kembali


Tap.. Katsumi memegang gagang pedang suci miliknya.. Syingg.. pedang tersebut kemudian berkilau seusai dikeluarkan dari sakunya


"Katsumi.. pedangmu.. bercahaya!" sahut Lifya


"Hm.. tak apa-apa Lifya, pedangku ini merupakan pedang sihir jadi wajar saja jika pedang ini memancarkan sebuah cahaya dari dalamnya" balas Katsumi


"Baiklah.. semoga dugaanku kali ini benar!" pikir Katsumi


Katsumi mengarahkan pedang miliknya kearah pohon itu dan.. duarr.. duarr.. duarr.. Katsumi menembakan sebuah bola sihir berulang kali melalui pedang suci itu kearah pohon tersebut. Seperti dugaan Katsumi.. pohon tersebut terlihat sama sekali tak mampu menyerap kekuatan dari pedang suci milik Katsumi


"Ternyata memang benar, pohon ini tak dapat menyerang kekuatan dari pedang suci ini. Karena kekuatannya yang begitu besar inilah yang menyebabkan pohon itu dibuat kualahan untuk menguraikan energi ini" pikir Katsumi kembali


Katsumi menembak dan terus menebak hingga akhirnya terlihat bahwa pohon tersebut mulai tumbang


"Sedikit lagi.. sedikit lagi.. Zang!.." pikir Katsumi


Katsumi merasa bahwa Zang tengah berada didalam pohon tersebut.. maka dari itu Katsumi sangat bersikeras ingin membebaskannya


Hingga pada akhinya pohon itu hancur


"Duarrr!" suara ledakan terdengar cukup keras


"... Katsumi aku datang!" sahut Katsumi


Namun.. Katsumi hanya menemukan dahan-dahan dari pohon itu.. susanapun menjadi sedih


"... Apa.. apaan ini.. mengapa dirimu tak ada ditempat ini. Padahal sebelumnya kumerasakan aura besar tentang dirimu" ucap Katsumi


"Katsumi.. sebenarnya ada apa?" tanya Lifya


"... Sebelumnya.. kumerasakan aura temanku dari dalam pohon itu. Maka dari itu.. kuterus menyerang agar pohon itu tumbang dan temanku dapat terbebas. Tetapi..."


Lifya menepuk bahu Katsumi


"Tenanglah Katsumi.. kau telah berusaha semampumu.. jika memang usaha yang kau lakukan kali ini gagal kembali seperti usaha-usaha sebelumnya. Kau hanya perlu mengulanginya kembali.. jangan menyerah Katsumi.. kumerasa bahwa kau telah tiba ditakdir penentu.. jika kau terus berusaha lagi.. kuyakin, pasti temanmu dapat kau temukan kembali" ucap Lifya


"... Kau benar.. tidak sepatutnya kumeratapi kesedihan dan kekecewaan ini lagi" Katsumi bangkit "Kutak boleh menyerah.. kita juga telah tiba ditempat ini.. maka tak boleh kita sia-siakan" sahut Katsumi


"Hmm.. kau benar!" balas Lifya


"Ayah.. maafkan aku karena sebelumnya kubeberapa kali mengeluh kepada takdir ini.. apakah kumasih pantas.. untuk mejadi seorang penyelamat Negeri Ardonia?" pikir Katsumi


"Tentu saja.. kau masih berhak menjadi seperti yang kau katakan tadi. Semua ini hanyalah ujian yang diberikan olehmu. Bersabarlah.. maka kau akan mendapatkan hasil yang baik" tiba-tiba sesosok suara seperti didalam mimpi Katsumi muncul


"Apa! suara ini lagi!" ucap Katsumi dalam hati kembali


Tiba-tiba.. dari arah atas Katsumi dan Lifya, terlihat sebuah bulu-bulu besar berjatuhan


"Inikan.. bulu.. bulu sayap milik Zang!"


Secara reflek.. Katsumi menghadap langit gelap dan terlihat sebuah Kolkhis terbang diatasnya


"Zang.. akhirnya kumenemukanmu!"


"Jadi.. itukah teman Katsumi, Raja Griffin, Kolkhis?" pikir Lifya


Namun..


Anehnya.. Zang tiba-tiba menyerang Katsumi dengan cara menembakan beberapa kekuatan sihirnya seperti tembakan petir kearah Katsumi dan Lifya


"Apa!" sahut Katsumi


"Lifya.. cepat menghindar dari sini!" sahut Katsumi


Tap.. tap.. Katsumi dan Lifya berhasil menghindar dari serangan Zang



Bruull.. Zang mendarat dengan cepat dan berhenti dihadapan Katsumi dan Lifya. Hanya saja kali ini Zang tidak berada dipihak mereka, melainkan dipihak musuh. Warna mata Zang berubah menjadi ungu dan terdapat beberapa zirah gelap yang melindungi tubuh Zang serta aura gelap yang menyelimuti tubuh Zang


"Zang.. apa yang terjadi padamu?" tanya Katsumi kepada Zang melalui telepati. Tetapi sama sekali tidak terdapat respon dari Zang


Disini Katsumi mulai bingung dengan apa yang sebenarnya tengah terjadi kepada Zang sehingga dia bisa berubah menjadi sesosok seperti ini. apakah mereka terlambat untuk menolongnya, jika memang benar.. apakah ini awal dari hilangnya salah 1 teman yang paling Katsumi sayangi. Takdir akan terus berjalan seiringnya dengan waktu.. mungkin dengan waktu.. Zang dapat kembali berubah seperti sedia kala, semoga Katsumi cepat menyadarinya

__ADS_1


__ADS_2