
Jono dan Deviana sekarang nampak sedang menikmati waktu mereka di desa itu, semua orang mengganggap mereka adalah suami istri karena mereka semua tidak begitu mengenal keluarga Wijaya seorang pengusaha kaya dan terkenal.
Deviana menatap hamparan padi yang hijau membentang saat ini mereka sedang berada di sebuah rumah makan sederhana, makan siang setelah menemani Deviana memeriksa beberapa pasien yang terdampak penyakit yang belum bisa diobati oleh tenaga kesehatan disana.
"Dev? " Seru Tono menatap Deviana yang nampak memandang hamparan padi.
"Hemzz ada apa sayang? " Gumam Deviana menghadap Tono.
"Mau sampai kapan kita akan berada di zona nyaman seperti ini? Aku takut jika semua terbongkar dan melukai perasaan mereka. "
Deviana menatap Tono mencari cela jika pria di depan nya ini sedang bergurau namun Deviana tidak menemukan cela itu dan menatap Tono dengan serius.
"Maksudnya bagaimana? "
"Bagaimana jika Febyan dan Ryou tahu hubungan kita ini, aku tidak ingin anak itu semakin rusak apa lagi mengetahui kebenaran ini? "
"Itu lebih baik, lagi pula Ryou tahu jika aku dan ayahnya sudah tidak memiliki kecocokan lagi. 8 tahun lalu Ryou juga memergoki ayahnya sedang bersama wanita lain dan itu awal dimana Ryou ku menjadi seperti ini. " Ucap Deviana menerawang masa lalu
__ADS_1
"Febyan memiliki wanita lain di hidup nya? Bagaimana bisa itu terjadi? "
"Aku tidak tahu hal itu terjadi saat aku baru melahirkan Ryou dan dia mulai berubah, meski pun kita telihat baik baik saja tapi hati dan jiwa kita sudah tidak bersama. "
"Maaf... "
"Gak papa, lagi pula aku masih ada kamu disini aku nyakin kamu pria yang baik yang bisa mengembalikan diriku sekarang. " Ucap Deviana mengengam tangan Tono.
"Aku yang beruntung bisa memiliki mu meski hubungan kita terlarang, kamu adalah ibu idaman Airin gadis itu begitu ingin memiliki seorang ibu yang berprofesi sebagai dokter.. "
"Benarkah? Kalau aku boleh tahu kenapa ibu Airin meninggal? "
Tono nampak diam mengingat masa lalu yang begitu menyakitkan bagi dirinya dan Airin, saat mertua nya dengan kasar mengusirnya dan Airin setelah tahu putri nya meninggalkan karena melahirkan anak Tono.
Saat itu usia Airin baru 1 bulan dan mereka tidak memiliki tempat tinggal sama sekali belum lagi Tono di pecat oleh perusahaan yang berkerja sama dengan perusahaan mertuanya itu.
Uang pesangon hanya bisa membuat mereka menyewa sebuah tempat tinggal yang begitu kecil, saat itu Airin juga menyusu dan cukup sulit untuk Tono mencari pekerjaan bersambi kan menggendong Airin.
__ADS_1
Namun karena kerja kerasnya dia bisa menghidupi gadis itu hingga besar meski dirinya harus kehujanan kepanasan demi masa depan Airin, sampai pada saat nya dia bertemu dengan Deviana di sebuah mall di jakarta.
"Saat itu aku mengagumi kelembutan mu dan kasih sayang mu yang tidak memandang kasta Devi.. " Ucap Tono menatap wanita itu.
"Saat anakku menabrak mu dan membuat pakaian mu kotor tidak sekata pun amarah di wajahmu, tidak sepata kata pun penghinaan aku.. "
"Stttt jangan memuji ku seperti itu mas, aku adalah seorang dokter anak bagaimana bisa aku berbuat sehina itu membentak seorang anak kecil, lagi pula aku sudah menggangap anakmu anakku juga. " Ucap Deviana menenangkan Tono.
****
Ryou mengajak Airin kembali setelah dirinya puas berada di sana sedang kan Airin nampak sudah tertidur saat Ryou tidak menyadari nya, Ryou terlalu menikmati kesendirian nya hingga melupakan Airin yang sudah tidur.
Ryou membangun kan nya kemudian mengajaknya untuk pulang karena hari sudah begitu malam, waktu sudah menujukan pukul 19.00 malam.
Perjalanan nampak begitu hening dan sepi suasana malam yang begitu dingin membuat Airin mengeratkan pelukan nya pada Ryou, matanya begitu mengantuk membuat nya kembali tidur.
"Gadis ini bagaimana bisa dia tidur seperti ini? Bagaimana jika dia terjatuh? " Gumam Ryou memegangi tangan Airin.
__ADS_1
Ryou mempercepat motornya saat dirasa jika Airin begitu nyenyak tidur diatas motornya tanpa memikirkan bagaimana jika dia jatuh dan Ryou meninggalkan dirinya, Ryou merasa begitu hangat saat Airin memeluk nya dia sudah lama tidak merasa pelukan dengan tulus.