
Setelah sampai rumah Airin segera berlari meninggalkan Ryou yang babak belur di depan rumah, Ryou menatap nya dengan rasa bersalah karena dirinya gadis itu menjadi seperti itu.
"Maafkan aku Airin, akan kubuat dia menyesal telah menyentuh mu. " Gumam Ryou kembali pergi.
Satpam dirumah itu nampak bingung melihat Ryou yang kembali pergi, dia tidak tahu apa yang terjadi pada dua anak remaja itu.
Ryou menjalankan motornya den kecepatan yang tinggi menyusul teman teman nya yang sudah lebih dulu sampai, tak membutuhkan waktu lama baginya untuk sampai di mana Boy berada.
"Kita tidak akan berbuat apa pun sampai Ryou datang.. " Ucap Glend berpangku tangan.
"Ryou datang.. " Gumam Bayu melihat kehadiran nya.
Ryou turun dari motor nya menatap bengis Boy yang kini sudah tidak berkutik lagi di tanah sedang teman teman nya pun merasakan apa yang dirasakan oleh Ryou beberapa saat lalu, Ryou datang dan langsung menghampiri Boy yang terkapar.
"Ini semua tidak seberapa dengan apa yang kamu buat pada Airin.. " Ucap Ryou.
"Lo mau apa ha? Marah lihat cewek lo sendiri di sentuh oleh laki-laki lain? "
"Tapi dia gadis yang wangi suatu hari aku akan melakukan yang padanya.. " Ucap Boy yang kian memancing amarah Ryou.
Dengan emosi Ryou memutar tangan Boy hingga membuat nya begitu kesakitan semua orang disana begitu terkejut dengan apa yang Ryou lakukan, Ryou mendorong Boy kembali hingga tersungkur.
"Balas karena tangan kotor mu berani menyentuh nya, jika kau ingin mati coba saja kau dekati dia akan ku habisi kalian semua. " Ucap Ryou menghapus darah yang masih mengalir dari kening nya akibat perkelahian nya tadi.
"Sudah lah itu cukup pantas untuknya ayo pergi, kau butuh obat Ryou.. " Ucap Andre menyentuh bahu Ryou.
"Aku akan kembali memastikan jika Airin baik baik saja. " Gumam Nya pergi berlalu.
Mereka nampak saling pandang melihat tingkah Ryou yang begitu peduli pada gadis itu melebihi dirinya sendiri, pandang mereka beralih pada Boy yang meringkuk menahan sakit.
Rasa iba tiba tiba menyergap mereka meski begitu mereka tidak menyangka jika Ryou sampai mematahkan tangan pemuda itu, Bayu segera menghubungi ambulan untuk membantu pemuda itu.
__ADS_1
"Kita masih punya hati sedikit, kau tenang saja ambulan akan segera datang. " Ucap Andre meninggalkan mereka pergi menyusul temannya.
Mereka pergi meninggalkan tempat itu yang nampak begitu berantakan setelah pertempuran mereka, mungkin semua itu juga akan membuat Boy semakin menaruk dendam pada mereka.
Ryou kembali ke rumah melepaskan helmnya dan nampak lah wajah tampannya yang penuh dengan memar dan juga Luka yang masih mengeluarkan dari, satpam Ryou pun panik dan segera menhampiri nya.
"Ya ampun den.. Kenapa den? " Ucap pak Ahok panik.
"Apa sih lebay.. " Ucap Ryou dingin meninggalkan Ahok yang tercengang.
"Haduh bisa di pecat aku jika bapak tau kalau den Ryou berkelahi.. " Ucap Ahok takut.
Ryou berjalan menuju kamarnya sembari melepaskan baju sekolah yang kini sudah berubah menjadi kemerahan karena darah nya,matanya mematap Paviliun Airin yang begitu gelap.
"Apa dia masih memikirkan kejadian tadi? " Gumam Ryou.
"Bodoh tentu saja dia memikirkan nya, aku tahu jika dia pasti belum pernah bersentuhan dengan lawan jenisnya. Airin maaf kan aku.. " Ryou mengacak rambut nya frustasi.
Ryou manyambar baju kaos berwarna hitam miliknya kemudian berjalan turun menuju paviliun Airin, hatinya gelisah tak tenang dia sendiri bahkan tidak memikirkan keadaannya sendiri.
"A.. Airin.. apa kau.. " Ucpa Ryou.
"Aku baik baik saja, kenapa kak Ryou datang ke sini? " Ucap Airin dingin.
"Aku khawatir padamu, aku minta maaf sudah membuat mu merasakan.. "
"Stop aku tidak ingin mengingat nya lagi aku sudah melupakan nya, lagi pula sebaiknya aku menjauh dari mu aku tidak ingin musuh musuh mu melukai ku lagi atau sampai mereka menyentuh ku lagi. "
"Ini jaket mu Terima kasih. " Ucap Airin menutup pintu kembali.
"Airin aku mintak maaf.. " Gumam Ryou lirih.
__ADS_1
Airin menangis dalam diam di depan pintu paviliun itu mengingat kejadian beberapa jam lalu membuat hidup nya berada begitu menyakitkan, beberapa kali dia menyeka air matanya dengan kasar.
"Ahhh.. aku kotor... " Gumam Airin mengelap tubuh nya dengan kasar.
Ryou berjalan tertatih masuk kedalam rumah nya hatinya begitu hancur dan sakit saat melihat Airin berbicara dingin padanya, dia tidak berpikir jika Airin ingin menjauh darinya.
***
Pagi itu Ryou tidak pergi ke sekolah mengingat wajahnya yang masih lebam semalam setelah kebersihan luka nya Ryou segera tidur, dia berniat mengantarkan Airin ke sekolah.
Ryou menuruni anak tangga perlahan meja makan yang besar itu selalu sendiri sepi tanpa ada yang duduk di sana, para pelayanan tekejut melihat wajah Ryou yang babak belur itu.
"Ya ampun den.. " Pekik mbok Ayu.
"Aden kenapa? Berantem lagi yaa?, Den mau sampai kapan seperti itu aden sudah besar waktu memikirkan masa depan kok malah semakin mejadi.. "
"Aku tidak papa, simpan kembali makanan itu aku tidak lapar. " Ucap Ryou dingin meninggalkan mereka yang menatapnya iba.
Ryou berdiri di depan Gazebo menunggu Airin keluar dari paviliun dan dia akan menghantar nya ke sekolah untuk menjaga keselamatan nya dan juga tanda minta maaf nya.
Sudah lama Ryou berdiri dan mondar mandir disana tapi Airin nampak tak muncul keluar.
"Apa dia sakit? " Gumam Ryou menerka-nerka.
Nampak Airin keluar dengan pakaian santai duduk diantara bunga bunga di taman, Ryou hanya memerhatikan nya tanpa ingin menemuinya dia takut jika Airin masih menolak nya.
"Se terluka itu kah dirimu saat ini Airin?, Semua karena aku.. " Ucap Ryou.
Airin nampak diam duduk menikmati pagi yang cerah menikmati hembusan angin menerpa wajahnya, kini dia lebih baik tidak terlalu memikirkan kejadian semalam hatinya lebar baik namun untuk saat ini dia ingin dirumah dulu.
Walaupun dia sekolah dia akan bertemu dengan Silvia yang akan menggangu nya lagi dan saat ini dia sedang tidak ingin berdebat atau pun di debat oleh orang lain.
__ADS_1
"Heuemm segar sekali ketikan pagi pagi menghirup udara segar di hamparan bunga ini.. " Ucap Airin tersenyum menyambung hembusan angin.
Ryou menatap Airin yang kini sedang terjadi senyum menikmati angin yang menerpa wajahnya, Ryou ikut tersenyum saat dia yakin jika gadis itu sudah lebih baik. Ryou kembali kekamar menuju balkon untuk melihat Airin lebih leluasa.