
Febyan baru saja datang ke Jakarta setelah beberapa jam perjalanan kemudian menelpon Tono untuk menjemput nya, namun ponsel Tono tidak bisa dihubungi.
"Kenapa tidak bisa terhubung? " Gumam Febyan.
Febyan menyuruh orang kepercayaan ya untuk menjemput dirinya yang sudah lama berada di bandara, Febyan menghubungi Deviana namun nomor istrinya itu pun sama sama tidak bisa dihubungi.
"Kemana sebenarnya mereka.. "
"Permisi pak Febyan apa kita bisa kembali sekarang, maaf saya terlambat ada macet dijalan. " Gumam seorang pria berjas rapi.
"Ah Demian sudah datang kamu?, Sebaiknya kita segera pulang saya rasa Deviana sedang tidak dirumah aku berusaha menghubungi nya tapi tidak bisa. "
"Maaf pak Dokter Deviana bertugas di desa terpencil untuk membantu warga sana yang mengalami beberapa kesusahan kesehatan dan juga tenaga medis. "
"Oh begitu baik lah, mari antar saya pergi. " Ucap Febyan memasukkan ponselnya kedalam jas.
"Mungkin Tono juga bersama dengan Deviana tidak mungkin jika dia pergi sendiri. " Batin Febyan mulai tenang.
Laki laki yang dipanggil Demian itu kemudian mengantarkan sangat Febyan menuju rumah nya beberapa kali Demian juga bercerita tentang perkembangan perusahaan yang Febyan yang sedang naik dengan pesat.
Febyan juga bertanya prilaku Ryou apa dia masih berbuat sesuatu nya atau lebih baik, Febyan selalu rutin bertanya tentang Ryou meskipun dia tahu jika jawaban yang akan diberikan oleh Demian tetap lah sama.
"Kemarin den Ryou di keroyok beberapa pemuda pak, namun dia baik baik saja saat itu entah dari mana dia juga bersama dengan seorang gadis remaja seusia nya dan mereka juga masih mengenakan seragam. " Seru Demian.
"Siapa gadis itu? Apa mereka baik baik saja? " Ucap Febyan khawatir.
"Mereka baik baik saja meski ada eciden sedikit pak, saya hanya melihat nya seperti biasa tanpa membantu den Ryou sesuai dengan perintah anda. "
"Bagus awasi terus Ryou dan gadis bersama nya itu, seperti gadis itu kekasih nya saya tahu betul jika Ryou tidak pernah mengizinkan seorang pun menaiki motornya itu. "
"Anda benar pak saya rasa juga gadis itu punya hubungan spesial dengan putra anda, jika anda ingin saya akan menyelidiki gadis itu dan mengirim kan fotonya. "
"Tidak usah Demian biarkan saja selagi hubungan mereka dibataa kata normal, aku tidak ingin sampai Ryou tahu jika selama ini aku menyuruh mu mengikutinya dan menyelidiki semua orang yang dekat dengan nya. "
"Baik Pak. "
__ADS_1
Setelah perjalanan panjang akhirnya mereka sampai di rumah Febyan waktu sudah menujukan pukul 17.00,Febyan segera masuk ke rumah nya ingin bertemu dengan Ryou sedang kan Demian sudah pergi.
"Ryou... " Panggil Febyan dengan keras.
Beberapa pelayanan mendekati Febyan yang sudah pulang dengan beberapa paperback yang dia bawa dikedua tangan nya.
"Selamat sore Pak Febyan, bapak sudah pulang? " Ucap mbok Ayu.
Febyan berbalik dan menatap para pelayanan dirumah itu dengan ramah.
"Ini oleh-oleh dari saya untuk kalian.. " Ucap Febyan menyerah kan paperback pada mbok Ayu.
"Terima kasih tuan.. " Ucap mereka meninggalkan Febyan.
Ryou turun dengan malas menatap ayahnya yang sedang memberi kan oleh-oleh pada pelayanan dirumah itu, dengan malas Ryou turun dan mendekati Febyan.
"Ada apa? " Gumam Ryou dingin.
Febyan cukup terkejut tak kalah melihat wajah babak belur anaknya dia tidak menyanhka jika sampai membuat wajah tampan itu begitu berubah.
"Aku baik baik saja, kenapa papa memanggilku? " Potong Ryou meneguk beberapa air dalam gelas.
"Papa baru saja pulang dan itu sambutanmu Ryou? Apa kau tidak merindukan ayahmu ini? "
"Itu sudah biasa bagi ku ada kalian atau tidak itu tidak menjadi masalah apa pun. " Ucap Ryou berjalan menjauh meninggalkan Febyan.
"Ryou tunggu.. " Febyan nampak membawa sebuah Paperback untuk Ryou.
"Ini untukku papa ingin memperbaiki hubungan kita nak.. "
"Terima kasih tapi harusnya anda tidak sudah repot membawa kan ku oleh-oleh. "Ryou mengambil Paperback itu kemudian kembali berjalan menuju kamarnya.
" Ryou papa belum selesai bicarakan kenapa kamu seperti itu? "
"Sudah lah pa, tidak ada lagi kan? Aku ingin istirahat. "
__ADS_1
"Tunggu Ryou.. Ryou.. " Pekik Febyan pada Ryou yang tidak menggubris ucapan sang ayah.
Hatinya begitu teriris sakit saat anak semata wayang nya bersikap begitu membuat nya begitu menyesal sudah melakukan kesalahan ini, bersikap sibuk dan acuh pada Ryou hingga membuat anak itu begitu berubah.
"Ini balasnya karena kesalahan ku sendiri selama ini. " Gumam Febyan menatap pintu kamar Ryou yang tertutup dengan rapat.
Febyan berjalan turun dan mengambil paperback yang berada di atas meja dan membawa nya keluar dari rumah menuju paviliun dibelakang rumah utama.
Febyan mengetuk pintu dengan sedikit keras membuat gadis yang sedang tertidur nyenyak itu terganggu dan kemudian berjalan membuka pintu dan tekejut melihat Febyan yang tersenyum padanya.
"Tuan Febyan, maaf Airin tidak tahu.. " Gumam Airin.
"Tidak masalah nak, ini oleh-oleh untukmu dari saya.. " Ucap Febyan menyodorkan paperback itu pada Airin.
"Terima kasih tuan Febyan, ini pasti mahal.. " Ucap Airin menatap tas slempang bermerek Gucci itu.
"Tidak masalah, saya pergi dulu.. "
Airin tersenyum seneng saat menatap tas pink itu yang pasti harga nya jutaan dan tas itu juga salah satu pemintaan Airin pada Ayah nya namun belum terpenuhi karena harga yang mahal.
"Rezeki anak sholeha.. " Gumam Airin begitu ceria dan bahagia.
Ryou memperhatikan Airin yang begitu bahagia mendapatkan hadiah dari ayahnya dengan menyesap rokok nya Ryou tak henti memandang Airin, tanpa disadari nya Febyan memergoki Ryou yang sedang merokok sembari menatap Airin dengan senyuman.
"Ryou tersenyum? " Gumam Febyan aneh melihat putra nya tersenyum dengan begitu lebar dan bahagia.
"Ada hubungan apa mereka berdua??" ucap Febyan masuk dengan kedalam rumah nya.
Febyan berada didalam kamar nya dan Deviana yang nampak begitu sepi dan sunyi entah sudah berapa lama dirinya tidak berada dikamar itu bersama dengan Deviana,mereka terlalu sibuk dengan urusan mereka sendiri tanpa ada waktu bersama.
Menatap foto pernikahan mereka 15 tahun silam dengan sedih bayangan akan Margaret yang sudah merusak kepercayaan Deviana membuat dirinya meneteskan air mata, entah lah kenpa dia bisa begitu bersalah setiap kali menatap poto pernikahan mereka.
Febyan yang berada di kamarnya dengan perasaan bersalah dan berusaha untuk bisa berubah demi masa depan pernikahan nya dan juga Ryou, namun tanpa sepengetahuan Febyan Deviana juga bermain api dibelakang nya.
Berhubung lama dengan seorang pria yang bahkan bersanding dengan Febyan saja tidak lah pantas, namun meski begitu mereka berdua sudah sama sama bersalah menodai pernikahan yang suci itu.
__ADS_1