
Pagi itu Airin sudah siap dengan seragam sekolah nya tiba-tiba Jeni datang mengetuk pintu Airin, wanita itu tersenyum penuh makna menatap Airin.
"Mbk Jeni? Ada apa mbk? " Gumam Airin yang masih mengenakan sepatu sekolahnya.
"Tuh disuru tuan Febyan untuk sarapan di rumah utama, Airin mbk boleh nanya sesuatu gak? " Ucap Jeni duduk disamping Airin.
"Sarapan dirumah utama mbk? Boleh mbk Jeni mau tanya apa sama aku? " Ucap Airin menatao Jeni.
"Kamu punya hubungan spesial sama dengan Ryou yaaa? "
"Haaa.. " Ucap Airin nampak terkejut dengan pertanyaan Jeni.
"Gak usah kaget deh mbk juga sering lihat kamu mesra mesraan saama den Ryou, lagi pula kalau memang iya gak papa kok kayaknya den Ryou juga mulai ada perubahan sejak ada kamu disini. "
"Haa Ah.. emzz aku sama kak Ryou hanya teman kok, lagi pula semua orang bisa berubah kan mbk bukan karena ada aku disini. "
Airin nampak bersemu merah saat Jeni terus saja menanyainya tentang Ryou dan bagaimana Ryou bisa menunjukkan perubahan yang benar-benar mengejutkan semua orang.
"Kamu tahu Airin jika kamu bisa menjadi nyonya Ryou Wijaya aku jamin hidup mu akan seperti ratu.. "
"Aku gak mau menjadi ratu mbk Jeni, aku Airin dah ah ayo sudah jam 07.00 nanti aku telat kesekolah. "
"Iya deh yuk ah.. "
Mereka berjalan ke rumah utama Airin nampak menatap Febyan yang sedang sarapan sedang kan matanya tidak melihat keberadaan Ryou disana, Febyan menyadari kehadiran Airin kemudian tersenyum ramah.
"Airin kok diem disitu nak? Kemari lah duduk dan sarapan. " Ucap Febyan menyuruh Airin untuk duduk bersama nya.
"Terima kasih tuan.. " Gumam Airin duduk di meja makan.
__ADS_1
"Panggil om saja Airin, makan lah sebentar lagi Ryou akan turun dan berangkat sekolah. "
"I.. iya om. "
Airin mengambil nasi goreng kedalam piring nya dan memakannya dengan canggung ini ini kali pertama baginya duduk bersama dengan pria selain ayahnya, dia begitu gugup saat berdua dengan Febyan meski dia begitu baik dan ramah.
Ryou turun dari kamar dan menatap Airin yang sedang sarapan di meja makan bersama ayahnya, hari ini Ryou masih belum kesekolah melihat luka diwajahnya sebaiknya dia menunggu sampai luka sembuh.
Ryou duduk disebelah Airin membuat gadis itu terkejut dan menatapnya yang nampak tersenyum tipis, Febyan memperhatikan perubahan Ryou sejak adanya Airin.
"Apa kamu tidak sekolah Ryou? " Ucap Febyan membuat Ryou menghela nafas kasar.
"Bukan urusan mu. " Ucapnya dingin.
Ryou hanya duduk menatap piring kosong di depan mata nya sesekali dia memperhatikan Airin yang sedang makan, senyuman tipis kini selalu menyertai wajah tampannya.
"Ryou papa bertanya dengan baik baik kenapa kamu terus bersikap seperti itu, lagi pula papa juga tahu jika kamu mematahkan tangan pemuda itu. " Ucap Febyan mengingat laporan Demian beberapa waktu silam.
"Ryou berhenti lah bersikap brandalan kau tahu kamu hanya mempermalukan papa didepan collagen kerja papa. "
BRAK
Ryou memukul meja makan itu dengan begitu keras membuat piring disana bergetar Airin nampak terkejut berada diantara argumentasi diantara dua orang di meja makan.
"Jika kau malu tidak perlu mengakui jika aku anakmu. " Ucap Ryou dengan keras.
Airin menatap takut Ryou yang nampak begitu menakutkan jika sedang marah, Airin memegang tangan Ryou agar dia tidak melanjutkan amarahnya.
Para pelayanan nampak mengintip pertengkaran mereka di pagi hari itu mereka sudah biasa saat Ryou lebih keras dari ayahnya, namun itu bukan hal biasa bagi Airin melihat argumentasi mereka.
__ADS_1
"Kak Ryou berhenti lah.. " Ucap Airin lembut membuat Ryou menatapnya dengan tajam.
Seketika Airin membeku menatap mata tajam Ryou yang siap memangsa siapa saja yang mengganggu dirinya, Ryou menarik tangan Airin untuk pergi bersama dirinya.
"Ryou... papa belum selesai bicara.. Ryou... " Pekik Febyan marah.
Ryou menarik tangan Airin dengan keras hingga membuat gadis itu meringis namun tidak berani berkata, Ryou memakaikan helm pada Airin dan pergi berlalu.
Airin menatap pergelangan tangan nya yang merah karena tangan Ryou yang mencengkram nya dengan erat,Ryou yang hanya bercelana pendek dan kaos putih membuat dirinya begitu tampan.
"Kak Ryou ini bukan arah sekolah kita kan? " Ucap Airin.
Ryou hanya diam tidak menjawab pertanyaan Airin dia membawa Airin ketempat di mana kejadian beberapa waktu lalu, Airin menatap pepohonan dan membuat nya ingat Ryou akan membawa nya kemana.
Airin hanya diam mengikuti Ryou yang nampak masih marah setelah pertengkaran nya dengan ayahnya, Airin mengeratkan pegangan nya pada perut sixpack Ryou.
Setelah perjalanan beberapa jam mereka sampai Airin segera turun dan melepaskan helm nya menatap Ryou yang menarik nafas nya dengan kasar.
"Maaf aku merusak hari mumu, temani aku disini saja Airin. " Ucap Ryou lembut.
"Ahh iya kak tidak masalah. " Ucap Airin gugup saat Ryou bebicara dengan begitu lembut padanya.
Airin mengikuti Ryou menuju bebatuan di sungai itu duduk bersanding menatap hamparan air yang begitu jernih dan juga bunga yang nampak bermekaran.
"Kak Ryou seharusnya tidak seperti itu pada om Febyan, bagaimana pun dia kan ayah mu. " Ucap Airin lirih takut Ryou akan kembali marah.
"Aku tidak ingin membahas nya. "
Airin diam menikmati udara pagi yang begitu sejuk dan nyaman waktu sudah menujukan pukul 09.00 pagi, Ryou tidur di pangkuan Airin membuat gadis itu membeku.
__ADS_1
"Ka Ryou... " Gumam Nya.
Ryou nampak diam memejamkan matanya menikmati kebersamaan mereka pikiran Ryou begitu kalut jika terus bersama dengan ayahnya, kebencian terus saja menghantui pikiran nya.