
"Akhirnya selesai juga.. " Gumam laras meregangkan kedua tangannya yang begitu lelah karena terus menulis.
"Rin.. " Seru Laras menatap Airin yang sudah siap akan pulang.
"Kenapa? " Gumam nya.
"Lo mau pulang sekarang? "
"Iya, emang kenapa? "
"Gue lupa kasih tau lo tadi, kalau lo ditunggu sama Silvi di ruangan OSIS selepas sekolah. Katanya ada rapat siapa yang dampingi kak Ryou besok. "
"Tapi kak Ryou gak bilang apa pun tuh waktu ketemu tadi, apa dia juga lupa? "
"Wah kurang tau gue sih, kalau lo mau gue bisa kok nemenin lo ke sana? "
"Ah gak usah Laras, aku ke sana sendiri aja lagian pasti ada banyak OSIS di sana kok. Aku pergi sekarang yaa dah.. " Ucap Airin meninggalkan Laras dengan lambaian tangannya.
Airin berjalan menuju ruang OSIS yang tak jauh dari kelasnya sebenernya perasaan nya tidak enak saat Silvia mengajaknya bertemu, namun perasaan itu dia tepis mungkin saja memang gadis itu ingin membahas tentang ulang tahun sekolah mereka.
Lorong sekolah sudah mulai sepi hanya ada beberapa murid yang masih ada di lorong itu yang masih mengobrol dan juga masih berada dalam kelas, tak lama Airin berhenti di depan sebuah ruangan bertuliskan OSIS.
"Kok sepi sih? " Gumam Airin merasa ragu saat ingin masuk kedalam ruang OSIS.
Tiba-tiba pintu terbuka dan terlihat Karen salah satu OSIS yang dia tau tentang senyum padanya sebelum meninggal kan Airin yang merasa lega.
"Itu kak Karen, bearti memang benar ada rapat OSIS. " Seru Airin masuk ke dalam ruangan itu.
Nampak Silvia dan teman-temannya sedang duduk di atas kursi dan sedang asik mengobrol dengan tawa yang keras, dengan ragu Airin duduk di salah satu kursi dengan diam dan menunduk.
__ADS_1
Silvia menatap Airin dengan sinis kemudian tersenyum menatao teman temannya yang juga menatap Airin dengan tidak suka, Silvia turun dari meja kemudian mendekati Airin yang masih diam.
"Wah semakin keras kepala kayaknya nih bocah, kalian tahu kan apa yang harus kalian lakukan untuk membuat nya jerah." Ucap Silvia duduk di atas meja di mana Airin sedang duduk dengan takut.
"Iya nih,kita apain ya? " Seru Dewi mulai mengganggu Airin.
"Anak anak kayaknya udah pada pulang deh, gimana kalau kita kurang ni bocah disini sendiri dalam kegelapan malam yang akan datang. " Niken nampak memainkan rumah panjang Airin.
"Maaf kak jika tidak ada hal penting sebaiknya saya pulang. " Ucap Airin hendak berdiri.
Niken menahan pundak Airin dan membuat nya terduduk kembali.
"Lo emang harus di kasih pelajaran, baru tau rasa karena udah berani godain Ryou. " Ucap Silvia penuh penekan.
"Maaf kak tapi saya dan kak Ryou tidak memiliki hubungan apa pun, jadi biarkan saya pulang sekarang. " Gumam Airin dengan suara bergetar.
"Enak bangat idup loh, lo itu cuma gadis miskin dan bodoh yang mau ngelawan seorang Silvia ha.."
Crek
Silvia menarik baju putih Ryou hingga sebagai kancingnya terlepas begitu saja membuat Airin terkejut dengan apa yang dilakukan Silvia, tanktop putih milik Airin terekspos sempurna membuat mereka tersenyum sinis.
"Baju ini gak pantes buat lo, ini baju Ryou bahkan aroma parfum nya saja masih begitu tercium sakin mahalnya. Tapi sayang harus dipakai oleh cewek udik kayak lo.. " Silvia tertawa menatap Airin yang menangis sembari menutupi dadanya.
"Lo mau pulang kan, ya udah nanti kita selesai kan dulu semua ini setelah itu lo boleh pulang. " Ucap Silvia menatap teman teman nya agar memegang tangan Airin.
"Kak Silvia aku mohon kak, jangan lakukan itu.." Seru Airin histeris seakan-akan dia tahu apa yang sedang dipikirkan oleh Silvia dan teman-temannya.
Silvia dengan begitu kejam menarik kembali baju yang dikenakan oleh Airin hingga semua kancing baju itu telepas dan tejatuh di kakinya, Silvia juga menarik paksa baju itu hingga terkoyak dan menampakkan tubuh Airin yang mulus.
__ADS_1
Airin semakin histeris dia tidak tau kenapa Silvia begitu kejam melakukan semua itu padanya hanya karena kedekatan nya dengan Ryou, mereka tertawa melihat Airin yang begitu kacau dengan pakaian nya.
"Ada yang kurang deh, Sil.. " Seru Niken.
"Apa? "
"Tara.aata.. " Ucap Niken menujukan lipstik merah nya dari dalam tas.
"Wah gila ngapain lo bawa lipstik semerah itu bangkek.. "Seru Dewi
" Kepo hidup lo, pegang dong biar tambah cantik.. "Ucap Niken tertawa keras.
Dengan berutal Niken mencoret wajah Airin dengan lipstik merah yang dia bawa, mereka tertawa begitu keras melihat penderitaan Airin. gadis itu juga begitu takut ingin melawan mereka semua.
" Udah cantik deh, dah sono pulang. "Dewi mendorong dengan keras tubuh Airin hingga gadis itu terjungkal ke lantai tepat di depan sepatu putih yang begitu dia kenal.
Silvia tekejut menatap kedatangan Ryou di dalam ruang OSIS bersama dengan teman teman nya itu, Ryou nampak menatap Silvia dengan begitu bengis nya.
"Apa yang lo lakukan Silvia? " Ucap Ryou dengan begitu dingin.
Tatapan tajam mata Ryou membuat mereka merasa seperti di kulit saat itu juga, Silvia hanya diam dan saling tatap dengan sahabat sahabat nya itu yang sama takut nya dengan dirinya.
Ryou menuduk menatap Airin yang masih tertunda dengan tangis sesegukan, sedangkan teman-temannya menatap Airin tak berkedip melihat tubuh mulus Airin terekspos sempurna itu.
Ryou menatap tajam ke arah teman-temannya membuat mereka seketika mengalihkan pandangan mereka dari dada Airin yang terlihat, Ryou melepaskan baju putih nya kemudian memakai nya pada Airin.
Tubuh atletik Ryou terekspos sempurna membuat mereka semua tekejut dengan apa yang Ryou lakukan, teman-temannya pun merasa heran menatap sebegitu penting nya gadis itu bagi Ryou.
"Kak Ryou.. " Ucap Airin lirih.
__ADS_1
"Pakai ini untuk menutupi dadamu, aku tidak ingin semua mata menatap mu dengan lapar. " Ucap Ryou setelah selesai memakai kan bajunya pada Airin.
"Dan kau Silvia, lihat apa yang akan aku lakukan pada mu besok pagi. " Ucap Ryou kemudian membantu Airin berdiri dan membawanya pergi dari sana.