Takluk Nya Pemuda Dingin

Takluk Nya Pemuda Dingin
Aku Benci Hujan


__ADS_3

Malam telah datang Airin nampak masih berkutik dengan ponselnya rasa bosan menyergap nya, Airin keluar menatap langit yang nampak begitu gelap.


Dari kejauhan Ryou menatap Airin yang sedang duduk sendiri matanya menatap tanpa berkedip, angin menerpa rambut panjang nya membuat gadis itu nampak mengikat rambut nya.


"Cantik... " Gumam Ryou menatap lekat Airin.


Teman-teman nya nampak menatap Ryou dengan heran kemudian mengikuti arah pandang Ryou yang menatap Airin yang kini sedang bermain ponsel.


"Bidadari ku.. " Ucap Andre.


"Bidadari mata lo.. " Ucap Rio memukul kepala Andre.


"Awww apa sih loh.. " Pekik Andre nampak kesal.


Keributan itu membuat Airin menatap ke arah balkon kamar Ryou dan melihat ke empat pemuda itu yang sedang menatap dirinya, Airin terdiam tak kalah matanya bertemu dengan mata coklat milik Ryou.


"Kenapa dia menatap ku seperti itu. " Gunam Airin menatap Ryou.


"Sudah jam 9 malam tapi mereka masih saja berkumpul, memangnya orang tuanya tidak mencari mereka apa.. " Timpal Airin kembali sibuk dengan ponselnya.


Airin tidak menghiraukan tatapan mereka padanya karena jarak antara mereka cukup lah jauh jadi tidak membuat Airin khawatir.


"Apa kau selalu menatap gadis itu dari sini? " Ucap Glen memakan sneak yang dibawakan Ryou.


"Tidak." Ucap nya singkat.


Mereka nampak kembali mengobrol bercanda gurau seakan-akan hanya mereka manusia didunia ini, sesekali Airin mencuri pandang dengan keributan mereka.


"Apa kak Ryou seorang perokok pasif?, Aku baru tau apa orang tuanya tahu jika mereka merokok? " Batin Airin heran menatap Ryou yang menikmati rokoknya dengan semangat.


"Entah lah besok, aku rasa Silvi sudah menyiapkan apa yang akan kita mainkan besok dengan siswa MoS. " Ucap Glen.


"Dan aku selalu suka dengan ide nya hahah.. " Ucap Rio tertawa saat mengingat Ryou mencium Airin.


"Ide gila. " Ucap Ryou menghembus kan asap rokok nya.


"Tapi dengan kejadian itu kita semua tahu jika kau menyukai gadis itu.. " Sahut Bayu.


"Betul... " Seru Rio dengan semangat sembari menatap Airin yang masih pada posisinya.


Nampak hujan mulai turun menerpa mereka dengan dingin nya angin, Airin nampak berlari masuk kedalam paviliun sedang kan keempat pemuda itu nampak masih bersantai di balkon kamar Ryou.


"Hujan bro gimana apa kita tidur disini saja ? " Ucap Bayu.


"Tidur lah disini lagi pula ada banyak kamar.. " Ucap Ryou santai sembari menatap paviliun.


Airin menutup kepalanya dengan selimut tebal dan juga bantal agar gemuru hujan dan guntur tidak terdengar, Airin begitu takut saat mendegar hujan dan juga guntur sejak kecil.


"Ayah... aku takut.. " Pekik Airin memanggil Tono.


Tono yang sedang beristirahat di sebuah penginapan seketika terbangun saat mengetahui keadaan diluar sedang hujan guntur, seketika Tono menghubungi Airin namun nomor gadis itu nampak tidak bisa dihubungi.


"Astaga bagaimana keadaan putriku saat ini, dia pasti begitu ketakutan kenapa ponselnya tidak bisa dihubungi.. " Ucap Tono telihat panik.


Toni keluar dari kamarnya dan bertemu dengan Deviana yang nampak terkejut melihat Tono yang keluar dengan panik.


"Ada apa? " Ucap Deviana.

__ADS_1


"Aku lupa jika Airin begitu takut dengan hujan guntur, sekarang dia sendiri dirumah aku sudah menghubungi nya tapi tidak bisa. " Ucap Tono panik.


"Sudah kamu gak usah begitu khawatir aku akan menghubungi Ryou agar Ryou menemani Airin. " Ucap Deviana dengan lembut.


"Terima kasih kamu selalu ada untukku sayang... " Ucap Tono mengelus puncak kepala Deviana.


Deviana hanya tersenyum manis menatap pria yang kini bersama dengan nya bahkan lebih dekat dari 4 tahun lalu, Deviana mengubungi Ryou untuk meminta nya menemani Airin membawa nya kerumah utama.


"Gue heran lo bisa suka sama Airin dengan cepat sedang kan Silvia yang dari dulu suka sama lo cuman lo diemin? Why..? " Ucap Bayu nampak bingung dengan Ryou.


"Kepo amat hidup loo.. " Sahur Andre.


"Ha ha ha.. sudah lah lagi pula Silvi hanya menang cantik dan kaya doang, untuk hal lainnya mungkin nol besar makanya Ryou selektif.. " Sahut Rio yang masih sibuk dengan ponselnya.


Getaran ponsel Ryou membuyarkan percakapan mereka yang begitu ramai, mereka nampak diam saat panggilan masuk itu bertuliskan Mama.


"Nyokap lo Ryou.. " Ucap Andre memberi kode.


"Haloo.. " Gunam Ryou yang masih asik dengan rokoknya.


"Ryou.. kamu dimana? " Gumam Deviana.


"Dirumah."


"Bisa mama Minta tolong padamu? "


"Apa.. "


"Bisa kah kamu menemani Airin untuk sementara dulu, Airin fobia dengan hujan guntur saat ini mama dan pak Tono kan sedang pergi sayang... "


"Lalu? "


Ryou mematikan sambung nya kemudian berdengus dengan malas menatap paviliun Airin yang sepi.


"Why? " Gumam Rio menatap Ryou.


"Tunggu lah disini gue akan segera kembali. " Gumam Ryou dingin.


Mereka nampak heran dengan ucapan Ryou menatap teman mereka dengan aneh yang berjalan meninggalkan balkon kamarnya.


"Mau kemana dia? " Seru Andre heran.


"Entah... " Balas Bayu menaik turun kan bahunya.


Ryou berjalan dengan celana jeans hitam dan kaos pendek sebatas bahunya berjalan menuju paviliun Airin yang sepi, pemuda itu membuang rokoknya kemudian berlari kecil menghindari hujan yang turun.


"Dia telihat baik baik saja, jika dia takut kenapa tidak masuk. " Gumam Ryou berada didepan pintu paviliun Airin.


Keempat pemuda itu nampak bingung melihat Ryou yang kini sedang berada didepan pintu paviliun Airin, menatap Ryou dengan aneh dan juga penuh tanda tanya.


"Apa yang dia lakukan? " Gumam Andre.


"Entah lah mengendap-endap seperti maling saja.. " Balas Rio.


"Apa dia akan mencari kehangatan pada gadis itu? " Seru Glen dengan tawa.


Mereka nampak tertawa sembari menatap Ryou yang berusaha masuk ke dalam paviliun Airin.

__ADS_1


"Airin buka pintu nya.. " Pekik Ryou.


Ryou masuk kedalam paviliun yang ternyata tidak lah di kunci oleh nya mengedar pandang nya mencari gadis itu yang masih meringkuk diatas tempat tidur.


"Airin.. " Gumam Ryou.


Seketika gundur menyambar dengan begitu keras membuat Airin telonjat kaget dan langsung berlari memeluk Ryou dengan erat, hingga membuat Ryou kehilangan keseimbangan dan terjatuh kebelakang.


Lampu pun nampak padam dalam kegelapan hujan dan guntur kedua muda mudi itu masih tergeletak di lantai yang dingin, Ryou terdiam saat tubuh mungil Airin berada di atas nya dan memeluk nya dengan erat.


"Ayah... aku takut.. aku pikir ayah tidak akan kembali cepat.. " Tangis Airin pecah begitu saja dalam kegelapan.


Sedang teman teman Ryou begitu terkejut saat guntur menyambar dengan kencang membuat mereka semua berlari kedalam kamar dan menutup jendela Balkon.


"Gila kaget gue sampean.. " Pekik Glen mengelus dadanya.


lampu padam begitu lama membuat mereka harus menggunakan pencaharian dari ponselnya untuk bergerak, mereka memutuskan untuk turun mencari Ryou.


"Airin lepas kan aku.. aku tidak bisa bernafas jika kau memeluk ku sekenceng ini. " Gunam Ryou yang mulai kehabisan nafas dengan posisi nya saat ini.


Seketika Airin tersadar jika yang dia peluk saat ini bukan ayah melainkan Ryou dengan panik Airin segera melepaskan pelukan nya dan berdiri dari tubuh Ryou, dalam kegelapan dia tidak bisa melihat apa pun.


"Maaf kak Ryou aku tidak tahu, aku minta maaf.. " Ucap Airin yang masih nampak syok.


"Aku tidak bisa melihat mu disini sungguh gelap.. "


Ryou berdiri dalam kilatan guntur samar samar dia masih bisa melihat Airin yang berada di dekat lemari dengan ketakutan, Ryou mendekati gadis itu dan menyentuh tangannya..


"Aku disini. " Gumam Ryou singkat.


GLEDAR


Guntur kembali bersahutan membuat Airin kembali memeluk Ryou dengan ketakutan, Ryou terdiam merasakan sesuatu yang kenyal menempel sempurna di dadanya.


"Ah bagaimana bisa aku berpikir kotor dalam keadaan seperti ini. " Batin Ryou.


Aroma tubuh Airin begitu wangi membuat Ryou begitu menikmati kedekatan mereka, meski Airin baru berusaha 15 tahun tapi tubuh nya begitu terawat dan juga sempurna untuk gadis seusia nya.


Airin yang hanya mengenakan baju tidur pendek membuat Ryou begitu panas apa lagi dengan posisi mereka yang sedekat ini, Ryou memeluk Airin dengan erat seakan engan melepaskan tubuh mungil gadis itu.


"Diluar hujan guntur belum lagi mati lampu sementara kita disini dulu. " Gumam Ryou.


Ryou membawa Airin duduk di atas ranjang miliknya dengan posisi Airin yang tidak melepaskan pelukan nya pada Ryou, gadis itu begitu takut hingga tidak memikirkan apa pun saat itu.


"Aku tidak peduli apa yang dia pikiran saat ini aku hanya memikirkan kapan hujan guntur ini berakhir. " Batin Airin.


Ryou menghidupkan lampu dari ponselnya kemudian meletakkan nya di atas nakas milik Airin sementara itu bisa menerangi keadaan mereka.


"Kenapa kau takut guntur? " Ucap Ryou.


"Aku tidak suka guntur aku juga tidak suka hujan.. " Balas Airin menatap mata coklat Ryou yang nampak indah.


"Kenapa matanya begitu indah saat dalam kegelapan seperti ini. " Batin Airin terpanah menatap mata Ryou.


Ryou menatap Airin tanpa berkedip tatapan nya beralih ke bibir gadis itu, bibir pertama yang bisa membuat nya ingin terus merasakan nya.


Ryou mendekati bibir Airin dan sesekali menatap mata gadis itu menunggu reaksi nya namun Airin nampak diam memandang mata teduh Ryou saat ini.

__ADS_1


Kini Ryou merasakan kembali bibir yang kini menjadi candu untuk dirinya menyesap nya tampa perlahan dari Airin, menikmati kenyal dan menis dari gadis yang baru saja dia kenal.



__ADS_2