Tale Of Daniella

Tale Of Daniella
Chapter 01


__ADS_3

"Daniella, jangan bermalas-malasan atau kau tidak akan memakan apapun hari ini lagi!" teriak seorang wanita bak ibu tiri Cinderella. Ya, Daniella merasa dia adalah Cinderella di kehidupannya sekarang.


Diperintah ini itu dan dikendalikan oleh wanita yang bahkan bukan ibu tirinya. Dia adalah wanita licik mantan asisten rumah tangga, namanya Nadia. Setelah papa mamanya meninggal dunia akibat kecelakaan pesawat sepuluh tahun lalu, Nadia yang dia kenal menyukai papanya dalam bentuk perasaan cinta mulai merebut segalanya.


Nadia membawa putrinya yang sebaya dengannya yang bernama Tasya. Usia mereka berdua hanya terpaut empat bulan. Tasya terlahir lebih dulu.


Nadia sangat memanjakan putrinya dan membuat Daniella kecil menderita.


Dengan sedikit tenaga karena sudah tidak makan sejak kemarin siang membuatnya berjuang sendirian untuk mengerjakan perintah Nadia.


Daniella pernah memberontak karena sengsara hidup bersama Nadia, malah mendapat kekerasan fisik dari Nadia. Daniella dipukuli di bagian punggungnya dan di kurung.


Daniella tak berdaya untuk melawan Nadia karena Nadia senantiasa memukulinya.


Nadia menyuruhnya untuk mengepel lantai dapur yang kotor karena ulah Tasya yang belajar memasak namun sia-sia karena semua masakannya hangus sia-sia.


"Udah deh ma. Lain kali Tasya belajar masak ya? Tasya mau kencan sama Vernon. Tasya jadi kucel di dapur tau gak sih ma? Cukup Daniella yang lusuh, Tasya putri mama jangan." sergah Tasya saat Nadia menyuruhnya belajar memasak. Ia melepas celemek di tubuhnya dan menatap tak suka pada mamanya.


"Tasya mama mendesak kamu belajar memasak supaya kamu juga pintar soal urusan rumah tangga. Kamu harus menjadi menantu keluarga tuan Regan Heindrick."


"Cukup ma! Aku cintanya sama Vernon. Mama gak usah atur Tasya terus bisa gak sih?" bentak Tasya sambil melempar guci berbahan kaca ke arah Nadia hingga membuat Nadia terkejut dan cepat menyingkir.


PRANG!!! Salah satu guci kesayangan Nadia akhirnya pecah berkeping-keping di lantai.


Daniella yang menyaksikan pertengkaran antara ibu anak itu hanya bisa diam sambil melanjutkan pekerjaannya.


"Tasya sudah mama bilang jangan berpacaran lagi dengan Vernon. Vernon itu bukan laki-laki baik seperti yang kamu pikirkan. Dia itu penuh tipu muslihat Tasya!" Nadia menangis karena merasa tak bisa menyadarkan putrinya.


"Tidakkah kau juga menyadari hidupmu penuh tipu muslihat?" batin Daniella.


"Ma kalau mama ikut campur seperti ini lagi Tasya tak segan-segan bunuh diri di hadapan mama." ancam Tasya yang menyadari kelemahan Nadia adalah kehilangan dirinya.


"Mama mohon jangan lakukan itu sayang."


"Jadi jangan ikut campur... huh, dasar bodoh. Kenapa kau yang ibuku malah mempersulit dan memperpanjang perkara hah?"


Nadia menyentuh dadanya, berusaha untuk tidak emosi dan menahan sakit hatinya.


"Ma, mama gak apa-apa?" Daniella menghampiri Nadia dan ragu memanggilnya mama.


"Jangan sentuh saya." Nadia menepis tangan Danielle yang mencoba membantunya.


"Kamu lihat? Kami tak membutuhkan bantuanmu. Jangan ikut campur urusan pribadiku dengan mamaku." sahut Tasya ketus.

__ADS_1


Daniella berdiri dan menatap tak mengerti kepada kedua orang itu. Bisa-bisanya mereka masih drama dan pura-pura baik-baik saja.


Ia memilih diam dan melanjutkan pekerjaannya.


Sementara Nadia berusaha menahan Tasya yang hendak kencan dengan Vernon, satu-satunya laki-laki di hati Tasya.


"Bekerja yang benar pemalas!" teriak Nadia emosi kepada Daniella yang menatapnya sejak tadi dan mencampakkan majalah ke arah Daniella hingga mengenai kepalanya dan membuat rambutnya terurai.


Pekerja lain yang menyaksikan itu merasa kasihan dengan Daniella. Bagaimana pun juga saat masih hidup papa mamanya dan Daniella sendiri sangat baik dan tidak pernah merendahkan mereka yang hanya seorang pelayan di rumah mewah bak kastil kerajaan tersebut.


Setelah Nadia pergi, bibi Alin yang kini menjabat menjadi kepala pelayan rumahnya menenangkan Daniella.


"Daniella sayang maafin saya gak bisa lindungi kamu dari dia." Alin menangis terisak.


Daniella menggeleng-gelengkan kepalanya pertanda tak suka dengan permintaan maaf Alin. Alin lebih menderita darinya. Tubub Alin telah coklat dan tersisa bekas luka lebam disana-sini. Alin lebih tersiksa darinya.


"Tidak bi Alin, jangan bilang begitu... " Daniella memeluk Alin dan meratapi nasibnya seolah pasrah ketika melihat Nadia kembali dengan cambuk di tangannya.


"Ini bukan rumah duka. Jangan menangis di rumahku!"


Dan yah, mereka berdua menahan tangis sambil berpelukan dan pasrah.


***


Kini dia telah selesai mandi dan mengaduh kesakitan beberapa kali karena lukanya yang pedih beradu dengan percikan air saat mandi.


Dia menatap cermin riasnya dan itu berhasil membuatnya berkaca-kaca mengingat apa yang dia alami selama ini. Dia rindu papa mamanya dan ingin bertemu dengan mereka. Dia berharap semua ini segera berakhir.


Dadanya terasa sesak.


"Daniella... " panggil seseorang lirih dari luar sana.


"Itu kamu ya bi Alin? Masuk aja gak apa-apa pintunya gak aku kunci kok." balas Daniella.


"Iya, baiklah,"


Daniella menoleh saat Alin telah segar dan wangi dengan parfum ciri khas-nya.


"Makan dulu Dan, kamu gak makan dari kemarin." bujuk Alin sambil meletakkan sepiring nasi goreng dan susu sapi murni dari nampan yang dibawanya.


"Bi Alin tahu? Kadang aku berpikir jika aku tak diberi makan sekali pun oleh mama Nadia, itu setidaknya bisa menjadi jalan aku bisa bertemu dengan papa mama."


Alin tertegun mendengarnya.

__ADS_1


"Aku rindu mereka. Disini mentalku terlalu gampang diruntuhkan. Aku ingin bertemu dengan papa mama secepatnya."


"Daniella sayang, jangan bilang gitu. Disini kita senasib. Ingat kakek nenek kamu sudah tak pernah bertemu denganmu sejak sembilan tahun lalu, ingat? Kamu bisa bayangkan betapa hancurnya mereka saat melihat cucunya menyerah begitu saja karena orang seperti Nadia."


Daniella menumpahkan air matanya lagi. Kali ini dia menangis sesenggukan sambil memukul-mukul dadanya.


"Kenapa sesedih ini bi? Kenapa sepedih ini rasanya hidup tanpa bisa bertemu bersama keluarga kita? Kapan kita keluar dari penjara ini?"


Alin memeluk kepala Daniella dan memberikan sandaran yang dibutuhkan Daniella. Daniella butuh dirinya.


"Bukan cuma kamu juga Daniella... aku juga punya impian. Impian ingin hidup bebas tanpa campur tangan Nadia, tapi kenapa susah banget rasanya?"


"Tapi aku yakin gak selamanya hidup kita ada di bawah kendali Nadia. Suatu saat nanti kita pasti bisa bebas meskipun kita gak bakal tau kapan itu terjadi. Kita doakan bersama aja ya Dan?"


Daniella mengangguk pelan Dan sangat berharap permintaan mereka terkabulkan.


Cast Daniella Calandra (Moga kalian suka)





Cast Tasya





.


.


.


**Gimana nih cast-nya? Author akan lanjut dan ramaikan lapak ini ya. Spam komen biar author semangat.


Jangan lupa favoritkan novel ini supaya kalian mendapat notif update-nya dan jangan lupa di share dan di rekomendasikan ke teman kalian yang sama-sama reader Mangatoon/Noveltoon yah!


Sekali lagi jangan lupa 👍📝 dan vote**.

__ADS_1


__ADS_2