
Daniella tiba dirumah Alin dan melihat Alin menghampirinya dengan wajah khawatir karena melihat luka kembali tercetak di tubuh gadis itu.
"Ya ampun kamu luka kenapa lagi sih Daniella sayang? Gak capek ya luka melulu?"
Daniella tak merasakan apapun lagi. Luka ini hanya secuil saja baginya dibanding luka-luka yang selalu ia terima sebelumnya.
"Udahlah bunda. Toh udah biasa kan Daniella kayak gini? Tapi aku senang karena bisa membalas sedikit orang yang membuliku. Wajahnya... tidak pernah merasa bersalah." Gadis itu tersenyum smirk dan melewati Alin.
Daniella kembali ke ruang tamu sambil membawa sebaskom air dan lap untuk mengompres lukanya. Dia melakukannya dengan sangat hati-hati dan sesekali merasa pedih.
***
Rivaldo tiba dirumah dengan pikiran yang terus terbayang saat ia bertemu dengan Daniella. Kenapa dia bisa membenci seseorang seperti Daniella? Ia tak pernah seperti ini sebelumnya.
Dia bercermin dan mengusap wajahnya yang masih terdapat bekas merah karena ditampar oleh Daniella. Memang tidak sakit, tapi yang terasa itu malunya ditampar di depan anak buah keluarganya. Huft, dia tidak ingin diremehkan.
"Hitung-hitung pengalaman ditampar cewek." kata Rivaldo dengan nada meremehkan.
"Kalau dipikir-pikir harusnya tadi nolongin tuh cewek." katanya gusar.
Cowok itu mengganti pakaiannya dan memutuskan untuk tidur sebentar. Tapi itu tak terjadi karena kedatangan Kiel yang mendobrak pintu kamarnya secara tiba-tiba diikuti oleh Aksa dibelakangnya.
"Ngapain lo ikut-ikutan Kiel sa? Lo mau se frekuensi sama dia?"
sinis Rivaldo.
Aksa mencibir. Wajahnya yang tadi terpaksa senang kembali murung.
"Iya juga."
"Lo mah gitu Riv. Gak terima kalau Aksa kesayangan lo ini se frekuensi sama gue."
"Cukup lo aja yang meresahkan di circle kita-kita Kiel. Aksa jangan sampai. Dia harus tetap alim."
"Serah lo lah. Siniin toples makanan lo Riv," perintah Kiel seperti seorang majikan terhadap pembantunya. Ia melompat ke atas kasur Rivaldo tanpa merasa bersalah. Cowok itu memang selalu seenaknya.
Dengan kesal Rivaldo melempar toples kue di meja sebelah tempat tidurnya ke wajah Kiel.
"Gila lo Riv. Untung bukan toples kaca yang lo lempar. Bisa berabe entar urusannya."
"Ya makanya lo jangan seenaknya di kamar gue."
"Lo juga punya hobi aneh ya Riv? Pasti lo juga ngemil sambil rebahan kek gue,"
Rivaldo mumet karena akan sulit menjelaskan sesuatu kepada orang seperti Kiel. Keburu panjang lebar ceritanya.
"Itu bukan gue. Itu si Lilian anak perempuannya kak Revan."
"Woah,"
__ADS_1
Percakapan tidak berarti seperti ini membuat Rivaldo rasanya ingin menggoreng kedua sahabatnya itu hidup-hidup.
"Udahlah ya gue mau istirahat kalian berdua silakan keluar."
"Hah, iya deh. Gak kita ganggu tapi kita boleh ratain rumah lo gak Riv? Sama isinya hehehe... "
"Terserah lo,"
Tentu saja Kiel hanya bercanda. Dia memberi Aksa isyarat untuk segera keluar dari kamar Rivaldo dan mulai merencanakan apa saja yang akan mereka lakukan dirumah besar itu.
***
Sementara itu di sebuah ruangan yang amat sangat tertutup dan jauh dari jangkauan orang-orang, Nadia wanita licik itu merasa geram ketika mengetahui Daniella masih ada di kotanya dan belum dijual ke luar negeri.
"Aku memerintah Liza sialan itu untuk menjualnya ke perdagangan manusia tapi kenapa anak itu masih ada disini? Panggil Liza, aku rasa dia ingin mencoba mengkhianatiku!" bentaknya kepada seorang anak buahnya.
"Ba... ik nyonya."
"Kau yakin aku merekrutmu dengan kegagapanmu itu?" pertanyaan itu membuat anak buahnya yang merasa gagap tadi sakit hati.
Tapi dia diam saja karena masih ingin bekerja dan segera memanggil Liza. Kurang dari lima menit, Liza dan beberapa temannya datang. Wajah Liza tampak tegang namun dia berusaha merubah raut wajahnya santai seperti sedang tidak tahu apa yang terjadi.
"Ada apa nyonya?" tanya Liza gemetaran.
"Kau terlihat gemetaran berhadapan denganku yah?" Nadia melihat Liza tidak tegap dan tegas seperti biasanya ketika berhadapan dengannya.
"Sepertinya hanya perasaan anda saja nyonya." balas Liza lagi.
"Hm... begitu ya? Lantas kau pasti tahu bagaimana bisa Daniella masih ada di kota ini padahal aku menyuruhmu membuangnya ke perdagangan manusia."
Liza mendadak kaku ditempat. Dasar jahat, manusia tidak tahu diri. Kau tidak bisa hidup tanpa bekerja untuk tuan Dilan dan nyonya Devina dulu! Sekarang kau ingin menjual nyonya kecil ke perdagangan manusia.
Jika saja Nadia bukan atasannya sekarang, maka dia ingin membuat Nadia sengsara di penjara. Tinggal menunggu waktu yang tepat untuk membuat Nadia membayar semua kejahatannya di penjara nanti. Itu adalah salah satu impian Liza.
"Kenapa diam saja?" Liza memejamkan matanya sebentar dan menetralkan pandangannya kepada wanita yang dia rasa sudah gila itu.
"Mohon maaf nyonya tapi sebelumnya saya sudah mengantarkan dia ke mucikari namun sepertinya dia sangat cerdik dan berusaha kabur," Liza mengarang seadanya dan merasa kesulitan bernafas setelah berkata seperti itu.
"Semoga kau percaya begitu saja. Kau, kan, bodoh?" umpat Liza.
"Benarkah seperti itu?" Nadia menatap curiga kepadanya. Satu menit, dua menit dan kemudian tiga menit. Suasana menjadi hening dan akhirnya Nadia tertawa jahat.
"Ternyata gadis itu memang tidak mau kalah dariku. Kalau begitu aku harus turun tangan sendiri. Hai bocah, bersenang-senanglah dulu sebelum kau ada ditanganku sebentar lagi. Ya, sebentar lagi! HAHAHAHAHA!!!"
Anak buah Nadia yang menyaksikan itu hanya bisa diam. Nadia berhasil membungkam dan memperbudak mereka semua. Jujur mereka hanya ingin berharap Daniella selamat saat ini.
Nadia melewati dan menatap mereka semua dengan menyeringai seram dan tertawa karena melihat wajah pucat mereka.
"Siapkan enam orang untuk ikut bersamaku dan juga mobil," katanya setelah menghilang dibalik ruangan tersebut.
__ADS_1
Liza tak bisa menyembunyikan kekhawatirannya lagi dan langsung menjauh dari semua anak buah Nadia. Dia harus menyelamatkan Daniella dan Alin dengan cara apapun itu.
"Halo Alin, ini aku Liza!"
"Hah? Liza? Tak ada yang curiga... "
"Itu tidak penting sekarang. Tolong dengarkan aku baik-baik ini sangat sangat gawat. Nadia sudah tahu Daniella masih ada di kota ini. Kalian berdua dalam bahaya, apalagi Daniella. Tolong berangkat malam ini juga ke kota lain." jelas Liza lewat telepon.
"Ap... apa?" Alin menangis dan ikut panik.
"Tolong jangan menangis sekarang Alin. Aku tahu ini sangat berat. Pokoknya tak ada waktu cepat sekarang berkemas-kemas dan berangkat."
"I, iya... terimakasih infonya."
"Ya, jangan terlambat Alin. Daniella akan dijual ke luar negeri oleh wanita gila itu."
"Yah, aku paham."
"Selamat tinggal Alin, kuharap kalian selamat."
Setelah mengatakan itu Liza mematikan teleponnya dan segera kembali ke ruangan tadi namun tiba-tiba seseorang membekap mulutnya.
"Hihihihi, aku tahu kau berbohong. Kau bekerja sama dengan Alin selama ini kan? Aku akan menyerahkanmu kepada Nadia. Aku penasaran bagaimana reaksi wanita itu. Dengan begini aku akan mendapat uang ratusan miliar."
"Ka, kau... jangan bermimpi dengan begini bisa mendapat uang darinya. Emph... kau akan menyesal. Nadia tidak royal seperti yang kau bayangkan. Sadarlah. Dia itu gila dan hanya akan memanfaatkanmu."
"Apa kau bilang? Dia hanya akan memanfaatkanku? Tutup mulutmu Liza!" bentak orang misterius itu sambil menjambak rambut Liza dengan kuat.
"Kau ingin menghalangiku untuk mendapatkan uang? Apa kau tidak tahu aku bosan miskin seperti ini?"
"Kenapa kau jadi seperti ini?"
"Sudah cukup!" dia kemudian menendang wajah Liza dan memijak ulu hati Liza.
"Sadarlah Sam... "
"Jangan sebut namaku." Dia kemudian menghunus pisau lipatnya ke wajah Liza dan mengenai hidungnya. Alhasil Liza meringis ketika hidungnya mengeluarkan darah hingga beberapa tetes sampai akhirnya Liza tidak sadarkan diri.
"Hihihi... " dia tertawa menyeringai seperti orang gila.
.
.
.
Ramaikan lapak ini ya, jangan lupa share dan rekomendasikan ke teman-teman kalian yang sesama pembaca Mangatoon/Noveltoon.
👍📝 dan vote dari kalian menjadi penyemangat bagi author🤧
__ADS_1