Tale Of Daniella

Tale Of Daniella
Chapter 18


__ADS_3

Happy reading 📖


.


.


.


Empat hari telah berlalu kini Daniella diperbolehkan pulang. Sejak tadi Alin telah membantunya bersiap-siap untuk pulang. Seminggu ini semuanya sepertinya terasa beres. Dokter Albert dan seluruh kawanannya telah berada di bawah penanganan polisi. Hari ini juga mereka harus mempertanggungjawabkan perbuatannya di pengadilan. Sepertinya Albert akan mendekam di dalam penjara untuk waktu yang lama karena ia berpotensi terkena pasal berlapis.


Dan kabar yang paling terbaru dari semua itu adalah Daniella dan Alin sekarang tinggal bersama dengan Shakila. Karena sebulan dua bulan lagi Shakila telah aktif lagi menjadi model dan mengharuskan Alin latihan beradaptasi dengan pekerjaannya nanti. Shakila tinggal bersama para pekerja di rumahnya. Jadi dengan datangnya Alin dan Daniella sepertinya bisa membuatnya terhibur.


Rumah Shakila sama seperti rumahnya, penuh dengan segala fasilitas bak istana kerajaan, hanya berbeda di perabotan rumah saja.


"Jadi ingat rumah sendiri kan?" kata Alin saat Shakila meninggalkan mereka berdua untuk menerima telepon dari teman se pekerjaannya.


Daniella menatap Alin dalam.


"Ya sih bunda. Tapi Daniella pengen rumah yang seharusnya milik Daniella juga bisa kembali. Hm, selain itu pengen banget ketemu sama keluarga Calandra. Mereka di mana ya sekarang?"


"Biar waktu yang menjawab ya?" Alin juga tidak tahu mengarang jawaban untuk menenangkan Daniella.


Daniella menganggukkan kepalanya dan lanjut membereskan pakaiannya. Sementara Alin telah keluar sejak tadi.


Shakila sangat baik. Wanita itu memberi kamar masing-masing kepada mereka. Kamar ini penuh fasilitas sama seperti kamarnya dulu. Rumah Shakila berlantai empat dan memiliki lift. Sementara kamar Daniella dan Alin berada di lantai dua.


Kamar baru Daniella terdiri atas spring bed berukuran lebar untuk satu orang. Sepertinya muat untuk menampung tiga orang diatasnya. Ada TV, kulkas mini, alat memasak air instan dan beberapa gelas diatas nampan, kamar mandi yang luas dan memiliki wastafel, bath-up, dan toilet duduk. Selanjutnya ada juga lemari pakaian, rak buku dan meja belajar yang di khususkan untuknya.


Setelah acara beres-beres kamar selesai, kini Daniella berniat menikmati pemandangan di luar dan kini dia telah berada di balkon kamarnya dan melihat ke sekeliling.


"Pindah rumah serasa tinggal di hotel. Hemmm," Daniella berguman panjang.


"Wah ada jemuran handuk juga di balkon ini." Daniella kemudian kepikiran untuk mandi. Badannya terasa lengket seharian.


"Mungkin handuknya ada di kamar mandi." katanya saat menyadari tak ada handuk di jemuran tersebut.


Daniella masuk lagi ke dalam kamarnya dan menutup pintu kamarnya yang mengarah ke balkon. Dia melepas pakaiannya di kamar mandi dan muka membasahi tubuhnya di bawah air yang keluar dari shower.

__ADS_1


***


Setelah mandi Daniella keluar dari kamarnya dan mencari Alin yang tak ada di kamarnya padahal kamar mereka berseberangan.


"Bunda dimana ya?" matanya tertuju ke lantai bawah ketika melihat Alin pergi ke dapur.


Daniella tersenyum simpul dan menuruni tangga.


"Bunda tega banget sih mau makan gak ngajak-ngajak Daniella." celetuknya pura-pura ngambek.


Alin yang melihat itu refleks menepuk jidatnya.


"Oh iya. Bunda lupa ngajak kamu."


Sesaat kemudian gadis yang baru pulang dari rumah sakit itu tertawa puas.


"Ah bunda serius banget sih. Daniella tuh cuma mau ngerjain bunda doang." dia kemudian ikut bergabung untuk makan siang dengan Alin dan Shakila.


Beberapa saat kemudian ketiganya menikmati makan siang hari itu sambil mengobrol random. Meski sudah akrab seperti keluarga, kelihatannya mereka tetap mematuhi etika tidak perlu banyak bicara saat makan.


***


Dia bertekad untuk merubah segalanya. Mulai dari penampilannya, sifatnya dan vibes-nya dimata orang-orang.


Dia melangkahkan kakinya dan melihat dirinya secara keseluruhan di cermin.


"Aku adalah aku. Kalian tidak akan bisa membuatku menangis lagi hahaha! Dasar orang-orang sok kuat dan berkuasa. Kalian bukan apa-apa tanpa kekayaan orangtua kalian. Jika saja kalian tahu keluarga Calandra punya lebih dari kekayaan kalian." Daniella tertawa menyeringai dan bermaksud sombong sebentar.


"Mama Nadia, Tasya, Jennifer, Rivaldo dan Vernon. Akan kubuat kalian bungkam dan tidak bisa menyentuhku lagi."


"Tak akan ada Daniella yang dulu kalian kenal belagu dan kelewat polos."


"It's Daniella Revolution!" Daniella tertawa menyeringai dan memainkan rambutnya.


Dia mulai bersiap-siap untuk masuk sekolah mulai besok. Dia yakin dirinya sudah ketinggalan banyak pelajaran selama empat hari. Meski guru akan memaklumi kejadian yang baru saja menimpanya, Daniella selaku murid berprestasi masih kepikiran untuk mempertahankan prestasi belajarnya.


Daniella memang terkenal ambisius di sekolahnya. Oleh karena itu dia disebut sebagai salah satu bagian dari Golden Student Circle dari 100 total murid yang ikut masuk dalam nominasi itu.

__ADS_1


Nominasi itu bukanlah nominasi yang diluncurkan oleh sekolah, namun nominasi yang di buat oleh murid-murid SMA Athlanta International High School. Murid-murid yang merasa dimasukkan ke dalam nominasi tersebut hanya diam saja, tak menanggapi. Apalagi Daniella.


Pernah suatu ketika dirinya belajar bersama dengan lima murid-murid lain yang berasal dari kelas yang berbeda untuk persiapan olimpiade lima mata pelajaran yaitu bahasa Inggris, Fisika, Biologi, Matematika dan TIK, dia menguping omongan Claudia, murid kelas 1-1 yang merasa risih dilibatkan dalam nominasi itu.


"Apa banget sih *buat nominasi gak jelas kek gitu? Bodoh banget mereka. Lebih bagus belajar perbaikin nilainya daripada bandingin mana yang lebih pintar nomor satu sampai seratus,"


"Biarin aja mereka kek gitu. Lumayan saingan berkurang,"


"Dih sombong banget lu pada. Gak liat juara umum bertahan santai aja? Nih Daniella Calandra."


"Perasaan dia sama perasaan gue jelas beda bodoh. Gue ngerasa risih, kalau dia bisa selow ya beda orang."


"Ngakak, hobi banget lu cap orang lain bodoh Cla,"


"Gue ngomong sesuai kenyataan*."


Mengingat itu membuat Daniella tertawa sebentar. Jujur saja dia risih tetapi tidak terlalu terang-terangan seperti Claudia. Claudia memang benar. Makanya dirinya merasa terwakili saat Claudia berkata seperti itu.


Daniella berniat untuk merubah penampilannya besok. Tidak cupu lagi, tidak menye-menye lagi dan yang pastinya berani menentang Rivaldo, Jennifer dan... Tasya.


Dia kemudian membuka pintu lemari pakaiannya dan mencari sepasang baju sekolah yang baru yang masih bisa dipakai.


"Ah, ini dia. Yuhhuu, aku jadi gak sabar buat sekolah besok."


Setelan seragam sekolah yang dipegang Daniella tersebut sudah rapi dan wangi.


"Pengen liat seberapa heboh mulut mereka mencampuri hidup orang hahahaha!"


Percayalah, ekspresi Daniella sangat menakutkan saat wajahnya terpantul di cermin itu.


.


.


.


👍, 📝 dan vote dari kalian menjadi penyemangat bagi author.

__ADS_1


__ADS_2