Tale Of Daniella

Tale Of Daniella
Chapter 29


__ADS_3

Happy reading 📖


.


.


.


Daniella memicingkan matanya saat melihat Kiel dan Revan tengah berseteru. Entah apa yang mereka permasalahkan. Daniella menghampiri keduanya dan membuat mereka tukar pandang. Ada angin apa Daniella datang menghampiri mereka?


"Lagi bahas apa sih kalian? Heboh bener kayaknya." tanyanya.


"Gue bilang ke Revan kalau gue dapat voucher makan gratis di restoran seluruh kota dari lo," balas Kiel sejujurnya, dan membuat Daniella menepuk jidatnya.


"Lo sih pamer. Aduh... " Daniella merasa tak enak apalagi sepertinya Revan juga kebelet menginginkan voucher yang sama seperti Kiel darinya.


"Yah gue kira tadi lo bakal bawa banyak."


"Dah kek bagi-bagi undian aja gue lo kata."


Revan memegang tangan Daniella, seperti memohon agar diberikan. Daniella shock. Tolonglah, kemarin dia sempat diam-diam suka kepada Revan. Revan tipe pasangan idealnya. Dan saat tangannya dipegang seperti itu oleh Revan, Daniella malah gugup dan merasa gemas saat melihat ekspresi lucu Revan yang sedang memohon kepadanya. Boleh tidak sih dia mencubit pipi Revan? Selain menggemaskan, ternyata Revan juga bertingkah random seperti Kiel kakak tirinya.


"Heh, tangan lo Revan! Daniella udah ada yang punya. Lepasin." kata Kiel tiba-tiba mengingat Aksa.


"Ck, teman lo satu itu lagi. Lagipula Daniella juga belum pacaran tuh sama Aksa? Daniella, kan, gak suka sama Aksa? Iya gak Dan?"


"Hah?"


"Aduh ekspresi linglung lo itu. Andai lo adik perempuan gue pasti gue bakal... "


"Habis lu dicubit sama dia. Lebam mulu."


"Sok tahu lo," kata Revan meringis. Daniella meletakkan tangan Revan kembali ke dalam kantongnya dan menyiapkan kata-kata untuk menjawab keinginan Revan.


"Hm... oke deh. Entar gue titip sama Kiel kakak lo." balas Daniella.


"Jangan ke Kiel. Dia serakah Dan. Mending besok gue mampir lagi kemari waktu pulang sekolah. Biar gue ambilin sendiri." tawar Revan setelah berpikir sebentar.


"Gue aja terus lo katain." cibir Kiel.


"Fakta, dude." Revan tertawa renyah dan semakin menjadi-jadi saat merasa berhasil membuat kakak tirinya kesal. Kiel buang muka namun tiba-tiba dia heboh sendiri saat melihat Aska sedang menuntun Chelsea untuk pulang bersamanya.


"Bukannya itu Aksa sama Chelsea Dan? Wah si Aksa udah mulai koleksi nih ya ceritanya?" tuduh Kiel yang tidak-tidak.


"Jangan suka ngarang yang nggak-nggak deh. Lagipula lo juga belum tahu pasti kebenarannya." tegur Revan. Daniella melihat wajah cowok itu dari samping.

__ADS_1


Astaga. Bijaknya Revan. OMG!! Daniella rasa dia akan semakin suka dengan Revan. Pemikiran Revan tetap dewasa meskipun sering melontarkan lelucon seperti Kiel. Sekarang cowok itu tidak se gesrek yang ia pikirkan.


"Iya, iya. Mending gue gak ngomong deh di depan lo Revan. Salah mulu njir." lagi-lagi Kiel melengos.


Mereka kembali mengamati apa yang terjadi antara Aksa dan Chelsea. Chelsea terlihat tak suka saat Aksa memaksanya naik ke atas motor miliknya.


"Gila, si Aksa mau boyong anak orang kemana dah sampai maksa gitu? Baru kali ini gue lihat tuh cowok kurang ajar." kata Kiel membulatkan matanya.


"Ingat Kiel. Ngomong sesuai apa yang lo lihat."


"Iya njir."


Daniella tertawa kecil sebentar tapi kemudian dia sadar ini bukan saatnya untuk tertawa.


Mereka melihat Chelsea menolak dengan ogah-ogahan dan menimbulkan tanda tanya baginya, Revan dan juga Kiel.


Sementara itu yang terjadi antara Aksa dan Chelsea...


"Gue bilang lo naik ke motor gue." paksa Kiel lagi sampai Chelsea merasa ngeri dan mencoba merebut tas sekolahnya yang tadi sempat dipegang oleh Aksa.


"Nggak Aksa. Udah berapa kali sih Chelsea bilang kalau Chelsea itu pulang dijemput papa mama Chelsea? Lagipula jangan jadi sok akrab gini deh sama Chelsea. Main paksa."


"Gue bilang naik lo. Susah amat ya menurut? Lo dijemput papa mama lo? Tinggal telepon mereka, bilang lo pulang sama gue."


Chelsea berbalik dan segera berlari namun gagal karena Aksa menarik tudung kepala di jaketnya dengan cepat. Chelsea merasakan lehernya tercekik. Dia terbatuk-batuk.


Daniella melotot melihat sikap kurang ajar seorang Aksa barusan. Dia segera menyusul Kiel yang ingin menengahi pertengkaran antara keduanya.


"Udah kenapa? Lo gila anjir. Dia cewek Aksa! Jelasin sama gue sejak kapan lo mulai berani main kasar sama cewek?" bentak Kiel. Daniella kaget mendengar suara tinggi Kiel yang bisa membuat siapa saja terbungkam. Kiel langsung menurunkan tangan Aksa dari jaket Chelsea dan membuat cewek itu bersyukur karena bisa bernafas dengan lega.


"Dih. Peduli apa lo? Lo gak perlu ikut campur. Lo bodon di hadapan gue asal lo tahu!"


BUGH! Kiel berhasil mendaratkan tinjunya di wajah Aksa hingga cowok itu meringis dan terkapar kesakitan di tanah.


"Aahhh," reaksi murid-murid perempuan yang ada disana saat melihat keributan yang terjadi antara dua orang sahabat itu. Mereka tak bisa berkata apa-apa saat melihat Kiel marah. Sangat mengerikan, demi apapun. Mereka menegang.


"Gila, lo pengen dipuji pahlawan sama cewek?" kata Aksa tertawa hambar dan menatap Kiel sengit.


"Gue benar-benar gak suka lo kasarin cewek. Dan... secara, gue juga gak banget buat gue selamatin cewek demi mendapatkan simpati dari orang lain. Otak lo tuh negative mulu." balas Kiel serius.


Daniella meringis melihat itu dan kini dia menatap Chelsea yang shock.


"Lo gak kenapa-napa kan?"


"Nggak... nggak terlalu parah sakitnya Dan. Tapi dari sini Chelsea benci sama Aksa. Papa mama Chelsea aja gak pernah main kasar sama fisik sama Chelsea. Tapi kenapa dia... berani banget memaksa Chelsea sampai segitunya?" kata Chelsea dengan nada memelas.

__ADS_1


"Seumur-umur, Chelsea gak pernah dikasarin sampai segitunya." lanjut Chelsea lagi. Daniella memeluknya dan menenangkan Chelsea dalam pelukannya.


"Tenang ya Chel. Setelah ini lo gak bakal pernah dikasarin kayak gini lagi sama cowok. Lo harus berani lawan mereka balik kalau mereka nekat apa-apain lo."


Chelsea menganggukkan kepalanya pelan.


Kiel menatap Aksa dengan ganasnya. Dia menatap dingin kepada Aksa.


"Minta maaf sekarang juga Aksa." titah Kiel pelan.


Aksa berdecih dan bangkit. Dia menghampiri Chelsea sementara Daniella menatapnya tidak suka. Cowok itu menghela nafas dan jongkok sebentar di hadapan Chelsea yang masih membenankam dirinya di dalam pelukan Daniella. Dia buang muka, tak ingin melihat wajah Aksa.


"Gue.. minta maaf sama lo. Sori kalau gue udah memperlakukan lo dengan buruk kayak tadi." kata Aksa. Daniella tahu itu tidak tulus tapi setidaknya tidak gengsi untuk sekarang ini.


"Cewek bukan untuk lo sakiti. Lo itu rendah banget sebagai cowok bagi Chelsea. Karena... lo orang pertama yang berani kasarin dia. Lain kali berpikir sebelum bertindak." kata Daniella menatap wajah Aksa lekat-lekat. Begitu juga dengan cowok itu.


"Chel, papa mama kamu udah datang jemputin kamu tuh."


Chelsea langsung terbangun. Tidak ingin menatap wajah Aksa, dia menutupinya dengan telapak tangannya dan mengenakan tasnya kembali.


Daniella mengantar Chelsea hingga gerbang. Cewek itu masih terkejut dengan kekerasan yang dialaminya barusan. Aksa benar-benar hina di matanya sekarang. Aksa adalah monster dimatanya sekarang.


"Loh ini Daniella yang kemarin kan? Kamu tahu kenapa wajah Chelsea pucat gini?"


"Sepertinya Chelsea lagi kelelahan tan. Hehehe," jawab Daniella tertawa kecil.


"Astaga putriku. Kamu nggak boleh capek sayang. Nanti kalau kambuh gimana?"


Daniella tidak salah tangkap kan? Kambuh? Apanya?


Sudahlah lagu pula bukan urusannya untuk mengetahui semua tentang Chelsea.


"Kalau begitu kami pamit pulang duluan ya nak Daniella?" kata mama Chelsea.


"Iya tante." balas Daniella sekenanya.


Daniella kembali ke tempatnya. Dia melihat Kiel dan Aksa sudah tak ada disana. Sampai akhirnya dia melihat Revan melambaikan tangannya dari kejauhan, menawarkannya untung pulang bersama dengan cowok itu.


.


.


.


👍, 📝 dan vote dari kalian menjadi penyemangat bagi author

__ADS_1


__ADS_2