Tale Of Daniella

Tale Of Daniella
Chapter 24


__ADS_3

Happy reading 📖


.


.


.


"Dah Daniella! See you tomorrow." Chelsea setengah berteriak sambil melambaikan tangannya kepada Daniella dari dalam mobilnya. Daniella balas melambaikan tangan sambil memasang senyum dengan wajahnya yang terlihat kusut.


"Gue harus tegas sama Chelsea. Maaf Chel, bukan maksud gue jauhin lo. Tapi gue harus."


Daniella menghembuskan nafas kasar dan masuk ke dalam rumah Shakila dengan pikiran yang entah kemana.


"Bibi tante Shakila sama bunda Alin kemana?" tanya Daniella sopan.


"Masih belum sampai dirumah nak. Mereka sedang ada perjalanan kali ini."


"Oh begitu ya bi? Kalau begitu Daniella permisi dulu ya bi. Bibi lanjut kerja aja."


"Iya nak."


Daniella manggut-manggut dan memanyunkan bibirnya. Hari ini memang hari selasa. Dia tak tahu harus apa.


"Bosan kalau gak kerjain apa-apa. Mau kerja tapi udah keburu dikerjain sama pekerja disini. Huft."


***


Daniella turun dari lantai atas dengan menggunakan lengan panjang dan celana pendek diatas lutut berbahan jeans. Di pergelangan tangannya terdapat sebuah karet gelang berwarna hitam yang dikenakannya baru-baru ini. Dia juga menenteng tas ransel mininya dan tampak menyisir rambut panjangnya yang indah.


"Bibi Daniella izin main sekitar komplek sebentar ya?"


"Jangan nak. Kamu masih baru di sekitar sini. Entar kalau kamu tersesat gimana? Kamu punya HP?"


"Nggak bi. Belum punya gantinya yang baru."Daniella menggeleng. Bibi yang berbicara dengannya itu pun menggeleng-gelengkan kepalanya.


"Salah satu hal yang saya khawatirkan ya ini nak Daniella."


"Sebentar kok bi. Boleh ya bi?"


Daniella merasa bibi ART yang dia tanyai itu dilema. Akhirnya dia mendapatkan anggukan kepala dari bibi ART tersebut sebagai jawabannya.


"Boleh tapi ingat jangan terlalu jauh ya nak Daniella. Bibi paling takut entar kalau ada apa-apa sama kamu. Bibi takut dipecat."


"Tenang aja bi. Daniella hanya akan berjalan-jalan di sekitar sini. Gak bakal jauh-jauh deh sampai nyasar segala." dia tak tega jika saja bibi ART tersebut sampai dikeluarkan hanya karena kelalaiannya sendiri. Yah meskipun dia tahu Shakila tak sejahat itu.


"Eh nak gak makan dulu aja?"


"Udah kenyang bi. Tadi di sekolah Daniella makan es krim banyak-banyak."


"Tapi itu kan tadi nak? Apalagi makan eskrim aja gak cukup buat bikin kenyang,"


"Siapa bilang gak bisa bi? Daniella contohnya."


Telat. Daniella keburu pergi dan berlari tanpa menghiraukan perkataan bibi ART tersebut yang hendak bicara lagi.


"Hati-hati di perjalanan ya nak," pesannya sebelum akhirnya masuk kembali ke dalam rumah.

__ADS_1


Daniella mengangguk saja sebagai jawabannya. Dia mulai berjalan menelusuri lingkungan sekitar rumah Shakila. Memang ini adalah salah satu komplek perumahan terbaik yang pernah ia temui. Bagaimana tidak? Penduduk disini notabene sibuk bekerja namun masih menyempatkan diri untuk menanam bunga-bungaan dan juga pohon sebagai sumber tanaman. Dia juga masih menemukan kolam ikan buatan di beberapa rumah bagian depan penduduk. Selain itu jarak bersebelahan antara rumah sangat lebar dan luas, tidak sempit seperti yang pada umumnya ditemukan jika soal perumahan yang terletak di komplek.


Sambil berjalan, ia sambil melantunkan beberapa lagu dengan suaranya.


"Aish sayang banget gak sih aku gak punya kamera ataupun HP sekarang? Aku juga pengen punya HP baru lagi tapi gimana caranya... "


"Gak mungkin minta sama tante Shakila atau bunda Alin,"


Daniella menepis rasa kekecewaannya tadi dan meneruskan langkahnya. Dia cukup menikmati perjalanannya di luar rumah kali ini meski tak bisa mengabadikannya lewat HP.


Dia semakin jauh dari rumah Shakila dan menemukan sebuah taman indah yang tidak terlalu banyak dikunjungi orang-orang saat ini. Ada beberapa wahana disana dan salah satunya adalah ayunan. Daniella setengah terburu-buru memasuki taman tersebut dan menyerbu ayunan sasarannya.


"Huwaaaa.... udah lama nggak pernah sebebas ini. Akhirnya bisa main ayunan lagi setelah sekian lama." Daniella bernostalgia sendirian. Dia terus keasyikan bermain ayunan sampai akhirnya tak sadar jika seseorang sedang memanggilnya dari tadi.


"Permisi!" panggil seorang cowok dengan suara beratnya. Daniella tersentak dan menoleh ke belakang.


"Tolong jangan ngagetin argghhh,"


Cowok itu menaikkan sebelah alisnya.


"Segitunya aja udah kaget banget."


"Hah? Maksud lo apa?"


"Nggak ada." cowok itu ngeless dan menyerahkan sebuah tas kepada Daniella.


"Hah? Ini apa? Racun ya?"


"Lo, akh... "


"Ah iya Daniella ini makan siang buat lo dititipin sama bibi ART di rumah lo. Katanya harus habis sebelum nyampe di rumah." Daniella melongo menatap tas pemberian cowok itu.


" Hah? Ta, tapi tadi kan gue bilang gue nggak mau,"


"Dasar." umpatnya.


"Makan cepetan sebelum lo


kelaparan."


"Iya deh. Nama lo siapa?"


"Gue Revan. Panggil namanya aja langsung atau mau." jawabnya percaya diri. Dia cowok tadi yang berjaga disini sejak tadi. Kenapa Daniella baru menyadarinya sekarang sih?


"Oh Revan. Makasih banyak deh."


"Kalau begitu gue pamit dulu."


"Eits tunggu!" jawab Daniella menahan kepergian cowok tersebut.


"Apalagi?" kata cowok itu berusaha sabar. Sepertinya dia terlihat terburu-buru.


"Lo juga tinggal disini?" tanya Daniella basa-basi. Sepertinya dia ingin mengenal Revan lebih jauh. Wajah Revan, sangat tipenya. Sepertinya dia akan menyukai cowok itu. Entah sebagai teman atau lebih.


"Ya. Rumah gue di sekitar sini juga."


"Berarti lo juga orang kaya kan?" entah kenapa Daniella tiba-tiba menjadi suka berbasa-basi seperti sekarang. Daniella yang tak kunjung melepas tangannya dari kemeja lengan panjangnya, membuat Revan mendekatkan wajahnya ke wajah Daniella. Jika saja Daniella memajukan wajahnya sedikit lagi, maka bibir mereka akan saling bersentuhan.

__ADS_1


Daniella gugup. Tidak tahu harus apa. Dia akhirnya hanya bisa menatap wajah tampan milik Revan. Revan masih terus menatapnya.


"Lo cewek dan gue cowok. Jangan terlalu suka ikut campur sama orang yang baru lo kenal apalagi sampai mendalami kehidupannya. Kita masih sama-sama orang asing. Gue normal... dan gue, pokoknya lo jangan terlalu dekat. Bisa aja gue kepancing melakukan sesuatu yang lebih." Revan terlihat lupa dengan apa kalimat yang ingin ia ucapkan kepada Daniella. Membuat cewek itu refleks menjauhkan wajahnya dan mendorong Revan dari hadapannya.


"Apa sih? Gue cuma refleks narik kemeja lo tadi. Gak lebih. Kenapa sih semua cowok berlebihan banget? Refleks tarik kemejanya aja dikit dibilang berlebihan. Maksud lo gue mancing lo untuk melakukan hal yang berlebihan gitu? Contohnya apa hah?" sentak Daniella.


Revan memandang cewek itu bingung.


"Lo tahu sendiri lah."


"Aish," Daniella bangkit dari ayunannya dan pergi sambil membawa tas berisi bekal makan siang yang dititipkan tadi untuknya.


"Ya udah kita sama-sama salah. Jangan ngambek gitu. Lo basa-basi dan gue berpikir berlebihan sama tindakan lo tadi. Impas?"


Daniella tercengang dan menatap Revan tajam. Bukan karena Revan yang ikut menyalahkannya. Bukan! Tetapi karena nada bicara Revan sama seperti Kiel, apalagi ucapannya juga sama artinya.


"Jangan-jangan lo adiknya Kiel ya?" Daniella memicingkan matanya.


"Lo kenal kakak gue?"


"Eh benar ya?"


"Ya, lo benar. Dia kakak tiri gue. Tapi gue sama dia tetap akrab. Gue sama dia beda beberapa bulan doang. Dia Januari dan gue Juni. Sama-sama gak suka kurang ajar sama perempuan. Mengalah walaupun salah selagi wajar."


Daniella menahan tawanya. Astaga! Saudara tiri tetapi sifatnya sama saja. PD berlebihan dan yah... walaupun benar.


"Lo makan disini aja. Gue gak enak udah ganggu lo. Gue temani."


"Tadi lo bilang lo buru-buru."


"Gak jadi." Revan menggelengkan kepalanya yakin.


"Ya udah nih ya gue makan tapi awas kalau lo macam-macam. Gue teriak. Sama satu lagi. Jangan minta-minta makanan gue." ancam Daniella.


"Kurang kerjaan banget gue minta makanan sama lo." balas Revan memutar bola matanya malas.


Akhirnya Daniella tetap di taman itu sambil menyantap makan siangnya dan sesekali mencuri pandang kepada Revan yang sedang men-dribel bola basketnya. Tadi memang Revan membawa bola basketnya saat datang kemari.


Dan sialnya beberapa kali Daniella ketahuan curi pandang kepada Kiel membuat cewek itu mendengus nafas kesal dan kembali tertawa karena saat melihat Kiel terjatuh di tanah.


"Rasain lo!"


Satu hari ini segalanya berjalan baik-baik saja. Dia bisa mengenal cowok sebaik Revan meskipun sedikit gesrek seperti Kiel, kakak tirinya.


Cast Revan




.


.


.


👍, 📝 dan vote dari kalian menjadi penyemangat bagi author

__ADS_1


__ADS_2