
Aksa memasuki klinik sekolah dan mencari kamar dimana Daniella dirawat. Tak terlalu susah menemukannya karena petunjuk aneh dari suara game yang berisik. Aksa sudah tahu itu suara game siapa. Itu suara game Kiel.
"Minim akhlak emang lo Ki. Bisa-bisanya lo masih main game sementara di samping lo ada orang pingsan. Berisik Ki." Aksa mengutarakan ketidaksukaannya kepada Kiel secara terang-terangan.
"Apa sih Aksa? Udah gue obatin juga. Tinggal nunggu dia sadar aja." Kiel tak mau kalah dan membela dirinya sendiri.
"Cabut sana. Biar gue yang jagain," Aksa merebut posisi duduk Kiel dan dengan terpaksa Kiel menurutinya.
"Ya udah sih Aksa. Gue juga gak mau lama-lama jaga bidadari lo. Entar gue yang diamuk. Dah, gue nyusul yang lain ke kantin. Dah lapar nih,"
"Hm," Aksa malas melanjut.
Sepeninggalan Kiel, Aksa akhirnya bernafas lega dan melihat wajah Daniella yang pucat.
"Kasian lo Dan. Mau melawan balik tapi jadi lo yang balik di curangi."
Tangan Aksa gemetaran ingin melap keringat dingin yang membanjiri wajah Daniella, takut salah sentuh.
"Akhirnya," Aksa senang bisa melap keringat dingin Daniella.
Beberapa saat kemudian jari tangan Daniella bergerak beberapa kali sehingga membuat Aksa kaget.
"Aku... dimana? Ini dimana?" kata Daniella pelan sambil melihat ke sekelilingnya.
"Di klinik sekolah Dan. Tadi lo pingsan karena berantem sama Jennifer."
"Hah? Oh iya? Udah lama banget. Tadi aku hanya izin mau ke toilet. Duh pasti dicariin sama miss Agni nih. Aku ke kelas dulu yah kak Aksa?" Daniella melepas selimut berwarna abu-abu kelam yang menutupi tubuhnya sejak tadi.
"Gak perlu panik sih Dan. Kamu pingsan trus wajah kamu pucat banget. Udah istrahat aja dulu. Nanti habis jam istrahat pertama baru balik ke kelas lagi, ok?"
"Tapi kan kak... "
"Entar biar gue yang bicara sama miss Agni. Udah istrahat sana." Aksa menyela perkataan Daniella.
Masih bengong, tiba-tiba suara perut Daniella yang kelaparan memecah keheningan antara mereka.
"Gak sarapan hm?" Aksa bertanya. Daniella tak bisa mengelak lagi. Dia mengangguk seadanya dan kaget karena merasakan tangan Aksa mengelus puncak kepalanya sebentar.
"Ya udah yuk makan dulu bareng kak Aksa." ajak Aksa yang langsung di setujui oleh Daniella.
Daniella turun dan mengikuti Aksa yang berjalan lebih dulu di depannya. Persetan dengan rasa malunya sekarang, dia sudah sangat kelaparan.
***
"Eh Riv itu kan si Aksa sama si Daniella? Wah keren langsung berdua. Berasa menikmati kisah novel gue." celetuk Kiel yang sedang membubuhka n banyak-banyak saus tomat diatas roti burgernya.
Rivaldo memandang kedua orang itu tak berminat. Lebih tepatnya ke wajah Daniella.
"Av, so. sweet banget bang langsung di ajak berasa punya pacar." tambah Gilden.
Aksa tak menanggapi ocehan mereka dan mempersilakan Daniella duduk di bangku kantin yang bersebelahan dengan Rivaldo cs.
__ADS_1
"Daniella mau makan apa?" tanya Aksa lembut.
"Em, bubur ayam aja deh kak Aksa kalau minumannya teh manis hangat."
Sejujurnya Daniella merasa tak enak mengatakannya di depan Rivaldo cs. Dia seolah-olah memerintah Aksa seenaknya yang merupakan teman mereka.
"Ya udah tunggu disini ya."
Aksa masuk ke dalam kantin dan mengambil pesanan mereka berdua.
"Gimana rasanya disayangi sama Aksa Dan? Gue gak pernah soalnya. Gue selalu di kasari layaknya ibu tiri. Huhu," kata Kiel sok dramatis.
"Jangan dijawab Dan. Dia emang gesrek banget otaknya."
"Apaan sih lo Dif? Gue mulu yang kena ceramah. Heran. Iya gue tau gue terlalu alim." tambah Kiel dengan tingkat PD yang luar biasa.
"Ahahahah!" Daniella akhirnya bisa tertawa sedikit sambil menutup mulutnya.
"Lo mau gimana pun cantik ya Dan?" kata teman-teman Rivaldo kagum melihat wajah cantik Daniella saat tertawa. Sedangkan Rivaldo yang dari tadi tak sudi menatap Daniella dan mengalihkan pandangannnya ke arah lain melirik cewek itu yang takut melihatnya dan malah menatap Kiel.
"Belum juga jadi pacar Aksa dia udah di bikin ribet sama lo," sinis Rivaldo ketus sambil merentangkan kedua tangannya di udara tinggi-tinggi.
"Ma, maaf kak Rivaldo. Bukan maksud Daniella gitu." Daniella merasa Rivaldo menggariskan aura permusuhan antara mereka.
"Ck, banyak alasan. Mana wajahnya dibuat kasihan gitu,"
"Ada masalah apa sih lo Riv? Sinis mulu lo sama Daniella." kata Difran.
Tak lama kemudian Aksa datang dengan nampan berukuran lumayan besar di tangannya.
"Ayo makan Dan," kata Aksa menyodorkan langsung bubur ayam ke depan Daniella dari nampan yang dibawanya.
Daniella menjadi diam dan tak banyak bicara. Dia semakin segan mengganggu Rivaldo cs.
"Kak Aksa Daniella makan disana aja ya? Gak enak sama teman-teman kakak yang lain. Kakak jadi gak bisa gabung sama mereka."
Aksa yang mendengar itu mengernyitkan keningnya.
"Kenapa emangnya Dan? Jangan merasa gak enak gitu sama kak Aksa. Kan kak Aksa yang nawarin?"
"Iya tapi..."
"Ssstt diam aja deh Dan. Tadi katanya lapar. Jangan ngomel mulu. Makan!" potong Aksa.
Daniella makan dan berusaha untuk tidak menatap ke arah Rivaldo.
"Salah apa sih aku di giniin mulu?"
***
"Lahap juga makannya." puji Aksa sambil melemparkan senyuman manis ke arah Daniella.
__ADS_1
Bubur mangkuk ayam Daniella bersih tentu saja karena Daniella yang tak sabaran melahapnya hingga habis. Cewek itu kini tengah meliriknya sambil meminum teh manis hangat dari gelas hingga habis setengah.
"Hm iya. Habisnya lapar tingkat dewa." Daniella tersenyum kecil.
"Ya udah bentar lagi udah istrahat gak usah ke kelas dulu."
Daniella mengangguk dan beranjak berdiri di ikuti oleh Aksa.
"Daniella duluan ya semua kak Kiel, Gilden, Difran, Adelfo sama kak Rival..."
"Tinggal pergi aja kok susah. Jangan sok sopan lo di hadapan teman-teman gue," celetuk Rivaldo ngegas. Senyum Daniella langsung sirna seketika. Padahal dia sudah mempersiapkan mentalnya untuk ini tapi kenapa rasanya sakit sekali?
"Riv, dia cuma mau pamit apa salahnya?" bela Aksa.
"Oh,"
Daniella langsung pergi tanpa memedulikan Aksa yang berteriak memanggilnya. Bayang-bayang semua orang di sekolahnya yang selalu menganggapnya sebagai PHO, murahan dan mudah diremehkan membuatnya kecewa dan menangis tanpa suara. Ia sudah tak peduli kemana otaknya dan langkah kakinya menuntunnya.
"Kenapa semenyedihkan ini Tuhan? Didiamin dianggap lemah, gak bisa melawan, cupu dan gak ada kapok-kapoknya menekan aku. Dilawan balik gak terima, dicurangi, diserang, dilabrak beramai-ramai. Jadi aku harus apa sebenarnya?" Daniella menutupi wajahnya dengan kedua tangannya.
"Daniella," suara itu terdengar begitu teduh dan lembut.
Daniella mengangkat wajahnya dan melihat siapa yang datang.
"Kak, kak Aksa... " buru-buru Daniella melap airmatanya.
"Jangan pura-pura kuat Dan. Lepasin aja semua. Gue siap dengar semuanya. Pukul-pukul gue kalo itu buat lo lega."
Mata Daniella kembali berkaca-kaca menatap wajah tampan Aksa dalam beberapa detik tapi akhirnya Daniella kalah, ia tak bisa menahannya lebih lama lagi dan menangis di hadapan Aksa. Sedangkan Aksa cowok itu tak kuat menatap wajah Daniella.
"Semua orang benci sama aku kak Aksa, hiks, hiks... aku emang gak pantas banget ya ada di sini? Selemah itu ya aku gampang dipijak-pijak hiks... "
Aksa memeluk Daniella dan mengelus kepalanya.
"Gak, itu gak benar. Masih ada gue sama Tasya Daniella. Gak selamanya lo dibenci." kata Aksa bijak.
Daniella masih menangis di pelukan Aksa.
Terkadang perempuan akan merasa tenang jika berada di pelukan seseorang. Aksa tahu itu.
"Jangan nangis lagi. Mata lo udah sembab tuh. Entar makin jelek." ledek Aksa dengan maksud bercanda.
.
.
.
Jangan lupa👍📝dan vote-nya yah
Jangan lupa share/rekomendasikan cerita ini ke teman-teman kalian yang sesama pembaca Mangatoon/Noveltoon🤧
__ADS_1
Kalian salut gak sama Aksa yang peka sama perempuan? Atau geram gak sama Rivaldo yang selalu ngegas sama Daniella?