
Happy reading 📖
.
.
.
Daniella tengah berjalan sendirian seperti biasa dan saat tiba di kelasnya, ia langsung meletakkan tasnya. Ia tidak melihat Chelsea ada di kelasnya. Kelasnya dan kelas Chelsea memang beda namun bersebelahan. Biasanya Chelsea akan datang lebih pagi darinya.
"Cari Chelsea ya?" kata seseorang memastikan secara langsung. Dia menoleh dan mengangguk.
"Mungkin dia bakal datang terlambat tuh. Chelsea kalau ketakutan atau trauma pasti mengurung diri dan terlambat melakukan segalanya."
"Hm, kamu keluarga terdekatnya?"
"Bukan tapi gue tetangganya. Chelsea itu fisiknya lemah. Sejak lahir jantungnya lemah jadi kalau dia terkejut atau ketakutan pasti kayak gitu. Atau bahkan lebih parahnya sampai pingsan."
"Emangnya pernah sampai separah itu ya?" Daniella bertanya dengan antusias, turut iba dengan kelemahan Chelsea.
Cewek tomboi bernama Rebecca itu mengangguk. Daniella memang belum pernah berbicara seperti ini kepada Rebecca. Tapi dia cukup mengenal Rebecca dari fakta yang beredar.
Rebecca adalah salah satu atlet karate yang sudah mengenakan sabuk hitam dan merupakan kebanggaan sekolahnya. Cewek itu juga sering mengendarai skateboard setiap hari saat datang ke sekolah. Rambutnya tidak akan pernah rapi di tata jika saja guru kesiswaan tidak melakukan razia kepadanya.
"Chelsea pernah pingsan waktu guru bentak dia karena gagap menjawab pertanyaannya dan akhirnya dia pingsan di depan kelas."
"Selain jantung lemah, dia juga trauma sama orang-orang modelan Aksa yang pemaksa. Gue sumpahin tuh cowok dapat karma,"
"Cewek lemah kayak Chelsea kalau buat pelampiasan mending jangan deh. Gue juga nggak bisa lihat Chelsea digituin. Jujur gue kaget dengar pengakuan Chelsea kemarin karena gue gak lihat kejadian dia digituin sama Aksa karena gue dah keburu pulang dulu an." Daniella tahu Rebecca geram kepada Aksa. Terdengar dari nada bicaranya.
"Hm walaupun gue tahu Aksa akan minta maaf dalam waktu dekat tapi itu pasti gak mudah buat Chelsea." tambah Daniella.
"Benar," sahut Rebecca.
"Gue mau jenguk dia. Entar boleh kalau pulang gue ikut sama lo?" tanya Daniella hati-hati.
Rebecca tersenyum menahan tawa, dia langsung menepuk pundak Daniella pelan.
"Kenapa nanya lagi? Ya pasti boleh dong. Biar gue gak merasa sendiri aja jenguk Chelsea."
Daniella tertawa kecil sampai akhirnya dia melirik arlojinya dan pamit kepada Rebecca untuk masuk duluan ke dalam kelas. Rebecca mengiyakan saja sementara cewek itu juga ikut pergi dari sana.
***
"Gilaaaaa, Daniel keknya udah pindah haluan ke lo Kiel." celetuk Difran ketika melihat Daniella menghampiri Kiel yang terlihat sedang asyik bermain game di HP-nya.
Daniella mengabaikan ocehan mereka dan melihat Kiel. Masih sama seperti tadi. Dia tengah mengoceh saat memainkan game-nya.
"Kiel," panggil Daniella pelan. Kiel yang melihat kedatangan Daniella langsung meletakkan HP-nya. Tak biasanya Daniella menghampirinya secara langsung saat berada di sekolah.
Daniella memandang sebentar ke kumpulan teman-teman Kiel. Dia tak melihat Aksa ada disana. Dia menghela nafas pelan saat tatapannya bertemu dengan Rivaldo. Dia cepat-cepat buang wajah. Tak mau lama-lama memandang wajah cowok itu.
"Lo mau apa kemari Daniella?" tanya Kiel membuyarkan lamunan Daniella.
"Jangan salah paham dulu sekarang. Temen lo si Aksa mana?"
Setelah mendengar pertanyaan itu, Difran dan Gilden semakin heboh mendengarnya.
"Mau balikan nih keknya." tebak mereka sambil tertawa kecil.
Daniella melotot ke arah kedua cowok itu. Kenapa mulut mereka sangat berisik dan sampah sekali? Padahal dia sedang bertanya kepada Kiel, bukan kepada mereka.
"Bisa diam kan? Berisik banget. Gue nggak ngomong sama lo berdua. Bicara seperlunya aja." tandas Daniella.
Rivaldo ingin tertawa melihat ekpresi kesal yang tergambar jelas di wajah Daniella. Namun ditahannya. Dia tidak ingin kena semprot oleh Daniella. Cewek itu sekalinya ngomong begitu pedas dan ketus.
Dan benar saja dugaannya, Difran dan Gilden kicep. Mereka tak mengatakan apapun lagi saat Daniella mengatakan seperti itu.
"Aksa? Dia lagi menyendiri di rooftop. Seperti biasa lah kalau lagi galau. Dia jadi sadboy perkara lo tuh. Hahaha." candanya.
"Bukan gue. Gue gak merasa. Lo mau ikut sama gue entar ke rumah Chelsea? Menjenguk dia."
Kiel tampak berpikir sebentar. Sementara Daniella masih setia menunggu di depannya.
"Oke, oke. Tapi lo tahu ada murid yang tetanggaan sama dia?"
"Ada tuh. Rebecca."
Kiel manggut-manggut. "Tapi kalau Revan mau ikut boleh nggak nih?"
"Boleh. Makin ramai makin bagus."
__ADS_1
"Kalau Rivaldo?" satu nama itu sukses membuat Daniella terdiam. Dia harus jawab apa? Kalau dia bilang tidak, dia merasa tidak enak kalau melarang cowok itu. Sementara Rivaldo tak melihatnya meski ia mempertajam pendengarannya untuk mengetahui jawaban Daniella.
"Kalau dia mau terserah deh. Kalau gitu gue pergi dulu ya? See you later," pamitnya. Dia berjalan pelan dan mencoba mendengarkan keputusan Rivaldo.
"Gimana Riv? Lo mau ikut nggak nih? Gue sekalinya nawarin gak bisa lama-lama."
Sementara Daniella meremas roknya. Jangan ikut, jangan ikut. Cepetan tolak.
Sementara masih berpikir, Rivaldo menyadari Daniella masih menetap di tempatnya. Dia tahu Daniella tidak ingin dirinya ikut.
Salahkan saja Kiel yang ingin Rivaldo ikut. Huh. Harusnya tadi dia mengajak Kiel berbicara empat mata. Bukan langsung di hadapan teman-temannya. Senyum Rivaldo tertarik dan langsung berdehem untuk menetralkan perasaannya.
"Gue ikut." katanya memutuskan. Dia mengangkat sebelah alisnya ketika melihat sosok Daniella dan tersenyum penuh kemenangan.
Ingin rasanya Daniella berbalik dan berteriak, "Lo harusnya menolak kalau diajak."
Tapi ini di tengah lapangan. Dia juga tidak ingin mempermalukan dirinya, dan juga tidak ingin menghampiri Rivaldo hanya untuk memaksa agar cowok itu menolaknya.
"Ok berarti fix. Entar pulang sekolah langsung berangkat. Tapi kita harus siapin pemberian untuk dia. Mungkin buket bunga, coklat atau kue. Oi, Dan. Rivaldo ikut."
Daniella berbalik sebentar dan melihat Kiel. Dia tersenyum hambar dan meringis.
"Yah, ok." setelahnya dia langsung pergi tanpa berkata apapun lagi.
***
Daniella membuka pintu menuju rooftop sekolah. Dia mencari sosok Aksa dan akhirnya menemukan cowok itu sedang duduk dan yah... sedang melamun.
"Lo lagi merasa bersalah ya?" kata Daniella kepadanya. Dia tidak melihat Aksa, namun ikut duduk di kursi yang diduduki Aksa. Dia memberi jarak dan duduk di ujung bangku sebelah kiri.
"Lo... buat apa kesini?" tanyanya dengan nada penuh selidik.
"Gue... mau lo menebus rasa bersalah lo sama Chelsea. Dia hari ini nggak datang ke sekolah. Dia lemah dan jadi takut kalau lo kayak kemarin. Maksa-maksa dia."
"Gue... khilaf."
"Makanya itu tujuan gue kemari. Lo mau jenguk dia? Sekaligus minta maaf sama perbuatan lo kemarin."
Aksa tercengang. Kenapa cewek itu mau membantunya keluar dari rasa bersalah yang sekarang sedang ia alami? Tapi apa pun alasannya dia tidak boleh terlalu overthinking dan sampai melibatkan perasaannya.
"Gue gak mau lama-lama disini. Entar kalau lo mau tinggal temui Kiel aja. Dia juga ikut. Kalau gitu gue pergi dulu."
Aksa tak berdaya. Dia tidak mencegah kepergian Daniella dan kembali tenggelam dalam pikirannya.
"Oh, baguslah." katanya kemudian dan akhirnya menghilang di balik pintu.
***
Mereka telah berkumpul di titik kumpul yang telah ditetapkan Daniella. Di gerbang sekolah. Daniella, Kiel, Rebecca, Aksa, Revan dan Rivaldo. Rebecca meminjamkan HP-nya kepada Daniella untuk menghubungi orang-orang rumah Shakila.
"Gue pulangnya naik skateboard, kek biasa. Entar biar gue duluan buat nunjukin jalan di depan."
Sementara Daniella mengangguk.
"Itu harus. Hm, Revan gue nebeng sama lo ya?" kata Daniella. Sementara Aksa yang mendengar itu mendadak menatap Revan horor.
"Yaudah biar gue sama Aksa yang beli buket sama kue."
"Iya, buket bunga sama kue aja. Coklat nggak perlu." timpal Daniella.
Aksa keberatan pergi bersama Kiel namun akhirnya dia sadar tak ada gunanya berharap pergi bersama Daniella.
Sementara Rivaldo mendengus nafas kesal saat tahu dia sendirian.
"Gue ikut sama Aksa dan Kiel."
Rebecca mulai menaiki skateboard-nya dan menyalakannya dengan sebuah remote control. Dia tidak lagi mengenakan rok. Dia mengganti pakaian sekolahnya dengan pakaian yang baru. Setelan style oversize bepergian yang fashionable.
Daniella masuk ke dalam mobil sport Revan. Cowok itu memang bepergian dengan menggunakan kendaraan miliknya secara random. Bisa saja hari ini mobil dan besoknya menggunakan motor sport-nya.
Revan mengikuti Rebecca dari belakang disusul oleh mobil Rivaldo di belakang.
***
Mereka akhirnya tiba di sebuah rumah mewah dengan arsitektur klasik namun tetap terlihat elegan. Rumah itu berlantai empat. Dari cerita Rebecca, Chelsea memang anak satu-satunya di keluarganya sehingga gadis itu dijaga dengan sangat ketat. Apalagi dengan penyakit yang dimilikinya. Membuat kasih sayang kedua orangtuanya tercurah sepenuhnya kepadanya. Papa Chelsea adalah seorang direktur utama di sebuah perusahaan teknologi yang besar dan mamanya bekerja sebagai rektor sebuah universitas ternama di kotanya.
"Jam segini ada nggak orangtuanya dirumah? Maksud gue bisa aja kan lagi dirumah karena lagi merawat Chelsea?" tanya Rivaldo.
"Cuma mamanya sih kalau sekarang."
"Aman, gue takut Chelsea cepu trus cerita sama papanya."
__ADS_1
"Biarin dia cepu. Dia kan korban?!" kata Revan menaikkan sebelah alisnya ketika Rivaldo berbicara seperti itu. Daniella tersenyum mendengar Revan membela Chelsea.
Sementara Rivaldo melengos saat melihat senyum Daniella kepada Revan.
"Yaudah buru panggil orang rumahnya, Rebecca." suruh Kiel.
Rebecca meringis dan langsung melaksanakan perintah Kiel. Dia menekan bel rumah Chelsea dan memanggil orang rumah Chelsea.
Setelah beberapa saat barulah pintu rumahnya terbuka. Dibukakan oleh seorang wanita berusia kepala empat dan berpenampilan anggun dan elegan.
"Loh nak Daniella sama Rebecca disini? Mau jenguk Chelsea ya?" tebaknya.
"Iya tante." jawab mereka kompak.
"Ya udah masuk yuk. Pas banget Chelsea lagi makan."
Mereka pun masuk setelah dipersilahkan dan dituntun mamanya Chelsea sampai ke kamar Chelsea. Kamar Chelsea ada di lantai teratas sehingga mereka menggunakan lift.
"Chelsea yuhuuu!!! Teman kamu datang mau jenguk kamu sayang!" panggil mama Chelsea begitu lembut. Daniella sekali lagi iri melihatnya.
"Suruh masuk aja ma." balas Chelsea dengan suara pelan.
Mama Chelsea pun membukakan pintu kamar Chelsea. Mereka masuk mengikuti mama Chelsea dan melihat Chelsea sedang makan dengan sebuah meja makan kecil di depannya. Dia sedang menyuapkan sesendok bubur ayam ke mulutnya dan melotot saat melihat Aksa ada di antara mereka.
Dia langsung menutupi wajahnya dengan sebelah tangannya dan lanjut mengaduk buburnya. Aksa mengerti Chelsea takut kepadanya.
"Kalau gitu tante tinggal kalian dulu ya?" kata mama Chelsea pengertian.
"Iya tante." balas mereka lagi-lagi kompak.
Mama Chelsea pun beranjak pergi dan tersenyum simpul sebentar karena terharu masih ada teman-teman putrinya yang mau menjenguknya. Dia kira tak akan ada karena sikap jahil Chelsea di sekolah. Dia mengetahuinya.
"Chel lo udah gimana kabarnya? Udah baik-baik aja kan? Gue minta maaf sama lo." kata Aksa menjulurkan tangannya di depan Chelsea.
Chelsea tidak menjawab. Mereka iba melihat Chelsea yang seperti ini. Tidak ceria sama sekali seperti ketika di sekolah.
"Gue tahu betul kok kalau lo sakit hati sama dia. Udahlah Chel. Maafin aja yah?" bujuk Daniella pelan sambil mengelus bahu Chelsea. Cewek itu terkesiap saat mendengar Daniella membujuk dirinya.
"Iya Chel. Maafin aja. Entar kalau dia bohong gue patahin tulang-tulangnya." timpal Rebecca ikut lembut.
"Gue kira lo nggak bisa kalem." celetuk Kiel.
"Diem lo." kata Rebecca.
Chelsea merasa ucapan teman-temannya benar.
"Baiklah Chelsea maafin. Tapi kalau sampai Aksa kasar lagi Chelsea bakal cepu sama papa Chelsea." ancamnya.
Aksa menghela nafas lega.
"Terimakasih banyak." katanya.
Chelsea hanya mengangguk pelan.
"Aelah canggung amat lo semua. Nih Chel kita bawain buket bunga sama kue buat lo. Selera gue mungkin jelek. Gue nggak tahu pilih yang mana. Jadi buang aja kalau lo ogah liatnya." kata Kiel.
"Gak bakal dibuang kok. Letakin aja di situ." balas Chelsea ramah.
Mereka pun mulai banyak mengobrol untuk mencairkan suasana yang tadinya sempat tegang.
***
Dua jam kemudian barulah mereka ingat waktu dan pamit untuk pulang.
"Makasih ya udah mau jenguk Chelsea. Tolong berteman sama dia. Saya kadang-kadang ragu kalau dia memang benar punya teman seperti ceritanya. Tolong jaga dia untuk saya. Dia anak saya satu-satunya.
Mereka meyakinkan mama Chelsea yang tampak sedih dan cemas kepada Chelsea.
"Jangan khawatir sih Tan. Kalau gitu kita pulang dulu ya tante?"
Mama Chelsea mengangguk.
"Kalian semua hati-hati di perjalanan ya? Bawa mobilnya jangan kebut-kebutan." peringat mama Chelsea.
"Iya tante."
.
.
.
__ADS_1
👍, 📝 dan vote dari kalian menjadi penyemangat bagi author