Tale Of Daniella

Tale Of Daniella
Chapter 27


__ADS_3

Happy reading 📖


.


.


.


Pemuda gagap itu masih menahan rasa sakit yang membekasi di pipinya. Wanita bernama Nadia itu harus diberikan pelajaran dan mendapatkan karma yang setimpal. Dia merasa sangat terpuruk sebagai seorang laki-laki. Dimana harga dirinya sebagai seorang laki-laki di depan anak buah Nadia yang lain? Dia baru menyadari Nadia hanya memanfaatkannya selagi masih berguna dan akan dibuang pada waktunya jika wanita itu sudah bosan melihatnya.


Dia melukai dirinya sendiri dan menggoreskan batu tumpul itu ke tangannya dan menekannya kuat-kuat. Dia ketakutan, tak bisa keluar dari tempat menakutkan seperti ini. Dia mengesot mengambil sendok logam dan menggores-gores dinding tempat dia dikurung. Dia layaknya seperti narapidana yang ditempatkan di rutan tak layak.


Nadia tak akan membiarkannya bebas begitu saja atau dia akan melaporkan Nadia ke polisi. Oleh karena itulah dia dikurung dalam ruangan sempit dan gelap ini karena dianggap memberontak kepada Nadia.


"Dasar wanita tua tak ingat umur. Mantan pembantu dan hasil merampok saja dirimu bangga menjadi seperti seorang nyonya sekarang. Kau pantas mati, pantas punah untuk selamanya. Pantas menderita selamanya." pemuda itu bersumpah serapah atas Nadia. Dia tak tahu jam berapa sekarang. Yang pasti dia merasa lemas karena tak diberi makan sedikitpun oleh Nadia. Dia terus memohon kepada temannya yang sesama anak buah Nadia yang menjaga ruang tempat dia dikurung dari luar, namun percuma.


"Kalian tak punya hati. Kalian pantas mati bersamanya."


"Kau meminta tolong dan kau juga menyumpahi kami? Dasar gagap tak tahu diri." bentak seorang laki-laki paruh baya yang paling dipercayai Nadia.


"Ayo tinggalkan dia disini. Tak perlu mempedulikannya."


Saat semua orang-orang yang ada di luar ruangan gelap itu hendak keluar, seorang temannya melemparkan sebungkus nasi dan sebotol air mineral ke dalam ruangan tempat dia ditahan.


"Te, te, terimakasih..."


"Makanlah. Aku akan datang kesini secara pribadi mengunjungimu. Percayalah kita bisa keluar dari sini."


"Aku pergi dulu. Selamat tinggal."


Tanpa memedulikan ucapannya lebih panjang, dia keluar dengan langkah berat. Seperti tak tega dan merasa jahat meninggalkan pemuda yang sekarat itu.


Meskipun gagap pemuda itu tetap berucap syukur dan menangisi makanan itu sebelum memakannya. Dia membuka bungkusan nasi tersebut dan memakannya hingga habis dengan sendok yang telah tersedia di dalam. Pemuda itu terlihat sangat menikmati makanannya.


Lihat? Ada banyak orang-orang yang sebenarnya baik namun dipaksa jahat oleh Nadia.


***


Daniella lagi-lagi menjadi pusat perhatian saat ia keluar dari gerbang sekolah untuk mengkopi tugasnya ke supermarket terdekat karena seluruh mesin fotokopi di sekolah telah digunakan.


Dia tak mau menghabiskan waktunya hanya karena antri panjang tak jelas demi mengkopi tugasnya. Biar saja nanti petugas gerbang sekolah memarahinya.


"Daniella ikut dong." celetuk Chelsea secara tiba-tiba.


"Kenapa harus lo lagi astaga?" Daniella kaget ketika tahu Chelsea ternyata menyusulnya dari belakang.


"Ya karena tujuan kita sama. Mau mengkopi nih buku sementara lagi jam istrahat,"


"Beda kelas ya beda kepentingan lah. Jarang bisa bersamaan."


"Kan jarang bukan nggak mungkin? Kamu mah," balas Chelsea.


"Terserah," Daniella berlari lebih cepat dari sebelumnya dan meninggalkan Chelsea di belakang.

__ADS_1


"Daniella tunggu dong. Kamu mah jahat banget,"


Daniella tak memedulikan ocehan Chelsea dan sibuk berlari sampai akhirnya tiba di supermarket yang ia tuju.


Daniella mengintip ke dalam supermarket. Dia menghampiri kasir.


"Kak nggak ada yang pakai mesin fotokopi kan? Daniella mau mengkopi buku. Mau cepat-cepat. Malas ngantri,"


"Ada tuh. Gak terlalu banyak yang pakai tapi,"


Mendengar jawaban seperti itu Daniella kecewa berat.


"Benar-benar dia orang yang menyebalkan. Arghhhh!" Daniella terlihat frustasi.


"Maksud kamu siapa?"


"Itu yang pakai mesin fotokopinya. Hishhh,"


Kasir tersebut tertawa mendengarkan keluhan yang dimaksud Daniella.


"Daniella, Daniella. Toh mereka juga kemari lebih dulu dibandingkan kamu."


"Sama aja deh. Sama-sama menyebalkan. Apa bedanya? Yang mana sih orangnya?" protes cewek itu menghampiri mesin fotokopi. Daniella tak segan-segan memarahi murid mana pun yang memakainya.


Sementara kasir tersebut semakin tertawa geli melihat tingkah Daniella yang sedang marah besar.


Daniella melihat siapa murid-murid yang berhasil membuatnya kesal saat ini.


"Orangnya aja dah ketebak ngeselin. Apalagi wajahnya yang punya sekolah,"


Kiel melihat Daniella menghampiri mereka.


"Lah Daniella kesambet setan apa datang kemari? Wah nakal banget ya lo sekarang main sama cowok?" tuduh Kiel tanpa memfilter kalimatnya.


"Hah? Apa sih? Gue gak segatal itu. Gue mau mengkopi tugas gue. Gue kan rajin? Gak kek lo pada ngerjain tugas waktu ada ancaman serius dari guru. Ck, buat apa? Gak guna!"


Rivaldo melihat Daniella yang menggantikan buku yang hendak difotokopi dengan buku miliknya.


"Gue yang duluan disini. Gak sopan banget lo nyolot dan ganti seenaknya."


Daniella melirik Rivaldo dengan tatapan datar khasnya.


"Mengalah aja Riv. Lagipula dia benar loh. Kita ngerjain tugas waktu ada ancaman serius doang,"


"Lo diem Kiel. Gue tahu lo gak bakal bela gue. Lo jangan terlalu gampang mengalah sama dia." titah cowok itu kesal.


"Aduh merasa tersaingi banget ya sama cewek ambis kek gue?"


"Lo kenapa? Ada masalah hidup apa sama gue hah?" bentak Rivaldo.


Daniella mendekat dan berjinjit. Dia berbisik tepat di daun telinga Rivaldo.


"Ada banyak boy. Yakali gue sebutin satu persatu. Gak bakal kelar. Lo juga kan benci sama gue? Impas dong,"

__ADS_1


Sementara Kiel, cowok itu bingung apa yang terjadi antara kedua orang itu.


Daniella tertawa kecil dan kemudian berhadapan kembali dengan Rivaldo.


"Sebutin satu persatu sekarang juga," suruh Rivaldo.


"Nggak. Ngapain juga? Kayak setor hafalan gue sama lo sementara lo juga bukan guru gue."


"Savage!" kata Kiel refleks saat mendengar jawaban Daniella kepada Rivaldo.


"Lo," Rivaldo menatap Kiel sinis. Dia sangat salah menyeret Kiel sampai kemari. Kiel jarang membelanya. Kiel pasti selalu membela cewek, cewek dan cewek. Cowok itu tak bisa diajak bekerja sama. Huh!


"Kiel yang rada-rada aja lebih pintar dari lo soal attitude sama cewek. Masa lo yang katanya waras dan keren kalah sih?" ledek Daniella.


Saat itu juga tugas mengkopinya sudah selesai dan dia mengambil buku aslinya kembali.


"Thanks ya Kiel. Lo pengertian banget sih sama cewek. Nih buat lo." kata Daniella sembari menyerahkan sebuah voucher gratis makan di seluruh restoran di kotanya. Dia menyelipkan voucher itu tadi di antara lembaran buku asli miliknya.


"Gilaaaa!!! Makasih banget Daniella. Lo gak rugi ngasih kayak gini sama gue? Ini kan susah banget dapatnya?"


"Nggak. Gue punya banyak di rumah tuh. Gue udah sering menangin voucher kayak gini. Tapi karena nggak ada waktu, ya jadinya jarang banget lah. Ini voucher yang terbaru. Jadi belum hangus."


"Hiya hiya makasih banget Daniella cantik!"


"Sama-sama. Gue emang cantik. Oh iya tanya ke teman lo yang ini. Dia mau nggak?"


"Riv, lo mau dikasih... "


"Nggak. Buat apa? Uang gue banyak."


Daniella tersenyum kecut ketika mendengar jawaban itu.


"Aelah nyolot mulu lo kalau gue lagi ngomong."


"Oh iya lo kan orang kaya? Lupa gue. Lo kan gak suka yang gratisan ya?"


"Kalau gitu gue duluan ya Kiel?" kata Daniella memotong ucapan Rivaldo saat cowok itu hendak berbicara lagi.


"Iya Dan," balas Kiel masih dengan senyum sumringahnya. Daniella membayar biaya fotokopinya ke kasir dan keluar dari supermarket.


"Riv bolos ke restoran yuk. Selagi ada nih voucher,"


"Serah lo."


Rivaldo pergi dengan mood yang berantakan karena pertengkarannya dengan Daniella tadi. Daniella memang paling bisa membuatnya kesal setengah mati.


.


.


.


👍, 📝 dan vote dari kalian menjadi penyemangat bagi author

__ADS_1


__ADS_2