Tale Of Daniella

Tale Of Daniella
Chapter 30


__ADS_3

Happy reading 📖


.


.


.


Sore itu, setelah mandi dan mengganti bajunya dengan pakaian yang baru, Daniella berniat mengunjungi rumah Kiel dan Revan untuk mengantarkan voucher yang dimaksud Revan. Astaga, mereka kan anak-anak keluarga konglomerat terpandang? Tapi kenapa sampai segitunya demi mengincar sesuatu yang gratis? Bisa ia simpulkan, Kiel dan Revan sama-sama menyukai sesuatu hal yang gratis. Tapi dia mengurungkan niatnya saat mengingat fakta bahwa dia tak tahu jalan menuju rumah Kiel. Dia belum pernah pergi kesana. Dia takut tersesat meskipun mereka tinggal di kompleks perumahan yang sama. Daniella juga bisa buta arah kalau dia masih baru di sebuah lingkungan.


"Lagipula buat apa sih buru-buru Daniella? Revan aja bilang mau ambil sendiri besok waktu pulang sekolah?" dia merutuki dirinya sendiri.


"Aduh biasanya kalau gabut gini aku main HP? Tapi sekarang... nggak bisa. Uwaahh, pengen punya HP baru," katanya mengingat keinginannya beberapa waktu lalu.


Dia memutuskan mengelilingi rumah besar itu dan mencari apa saja yang bisa ia kerjakan. Tapi hasilnya nihil.


"Kalau dipikir-pikir akhir-akhir ini aku jadi gampang bosan ya?" gumam Daniella. Dia menghela nafas dan memutuskan untuk melakukan apa saja sesuai mood-nya.


***


Sementara itu, di rumah Kiel, entah angin apa yang membawa kedua sahabatnya datang ke rumahnya, membuat Kiel sedikit tak rela saat ini. Ia tidak mau tidurnya di ganggu.


"Lo ngapain aja sih anjir? Gue manggil-manggil lo tapi malah nggak nyahut." kata Rivaldo berkacak pinggang.


Bukannya menjawab, Kiel malah menguap dan mengigau. Sepertinya dia masih setengah tidur dan setengah terjaga.


"Lo tahu nggak kedatangan lo berdua yang sekarang ini amat sangat mengganggu gue yang lagi pulas tidur?" protes Kiel.


"Akhirnya lo merasakan apa yang gue rasakan selama ini. Kedatangan lo mengganggu gue mulu kalau gue lagi pengen menyendiri." curhat Rivaldo.


"Lo tidur sampai sesore ini? Apa aja yang udah lo mimpiin Kiel?" celetuk Aksa yang dari tadi diam di sebelah Rivaldo.

__ADS_1


Kiel melebarkan matanya sebentar. Dia menatap Aksa sinis.


"Lo pikir aja sendiri sana? Penting banget buat lo tahu apa aja mimpi gue? Kan gue bodoh seperti yang lo bilang tadi siang," jawabnya ketus.


Rivaldo menatap keduanya dengan pandangan menyelidiki.


"Ada masalah apa sama lo berdua? Kenapa saling canggung gitu?"


"Gue malas ceritainnya. Cari tahu sendiri aja. Udah ya gue mau tidur?" kata Kiel dengan merasa tidak bersalahnya meninggalkan kedua orang itu yang tengah duduk di sofa ruang tamu rumahnya.


"Tamunya di layani aja nggak ada. Benar-benar tuh anak. Tawarin minum, makan apa buang air kecil apa besar?" kecam Rivaldo malah membandingkan bagaimana ia menerima tamu di rumahnya, apalagi saat ada sahabatnya.


"Lo nggak bakal cerita ke gue nih? Soal perselisihan lo sama Kiel? Nggak biasanya tuh anak bicara ketus kek gitu sama lo?" Rivaldo menyambung ucapannya lagi saat melihat reaksi Aksa yang hanya diam.


"Hm, dia emang lagi benar-benar marah sama gue." katanya kemudian.


"Tapi karena apa?"


Aksa menarik nafas panjang sebelum berniat menceritakan permasalahan apa yang membuat mereka menjadi saling canggung satu sama lain seperti tadi.


"Gue mau bicara kasar nih sama lo. Lo gak boleh tersinggung. Gue akui lo brengsek, kurang ajar dan sangat sangat bersalah di kasus ini."


"Tapi lo juga ngaca lah. Emangnya lo nggak gitu sama Daniella? Kan sama aja?" Aksa tak mau kalah dan mencari pembelaan untuk dirinya sendiri.


"Gue lagi ngomong jangan lo potong. Nggak nyangka juga gue lo sebrengsek ini. Gue sama lo sama-sama cowok. Nggak saling menghargai merasa saling terhina. Gue lagi malas gebukin orang sekarang." kata Rivaldo memberikan penekanan di setiap akhir kata yang ia ucapkan.


"Mumpung gue masih bilang secara baik-baik sama lo. Lo jangan pernah menyakiti cewek kayak Chelsea apalagi sebagai pelampiasan karena lo di tolak mulu sama Daniella. Karena... Chelsea itu cewek yang lemah fisiknya. Dia punya banyak penyakit."


"Chelsea yang kayak gitu bukan buat pura-pura atau mainan. Dan lo jangan terlalu overproud bilang Kiel bodoh. Tuh orang memang bukan pemarah. Tapi gue harap lo nggak lupa kayak gimana Kiel kalau udah marah. Lebih menakutkan."


Aksa menghela nafas gusar. Dia memang hanya menjadikan Chelsea sebagai pelarian. Dia masih memiliki perasaan yang sama pada Daniella. Sepertinya semua orang benar-benar membencinya sekarang. Dia hanya khilaf. Dia tahu dia bersalah dan dia tidak tersinggung saat dikatai kurang ajar oleh Rivaldo.

__ADS_1


"Gue... cuma galau dan yah, khilaf. Gue gak bermaksud sebrengsek itu sama Chelsea. Gue juga nggak tahu kenapa gue jadi sebodoh ini sekarang." dia menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal sama sekali dan gelisah sendiri sekarang.


"Baguslah lo sadar apa yang gue maksud. Gue benci orang kasar sama perempuan. Perempuan itu buat disayangi, bukan untuk dipermainkan atau dipukul, bahkan disakiti." Kiel mengatakannya dengan sangat tenang dan berwibawa. Sementara Rivaldo ikut tersindir seperti Aksa.


Apakah Kiel juga sedang mengatai dirinya? Apakah tindakannya kepada Daniella selama ini 'mempermainkan' cewek itu? Terserah lah, kali ini teman mereka yang bahkan berotak gesrek lebih bijak dari mereka.


Kiel melap rambutnya yang basah lagi dengan handuk kecil di tangannya. Dia memang tidak benar-benar tidur. Dia mandi diam-diam di kamarnya yang berada di lantai atas. Dia benar-benar lemah soal perempuan.


Kiel ikut duduk di sofa bersama kedua temannya dan terdiam sebentar. Dia selalu mengingat mamanya setiap kali melihat perempuan disakiti. Karena di masa lalu mamanya adalah korban kekerasan rumah tangga. Mamanya sampai terluka di sekujur tubuh bahkan mendapatkan luka di bagian kepala akibat pukulan botol miras dari papanya.


Dia benar-benar membenci papanya. Mamanya trauma dan dibawa ke psikolog. Psikolog yang menangani pengobatan mamanya memiliki perasaan cinta kepada mamanya dan mencoba membantu mamanya cepat-cepat keluar dari rasa takutnya terhadap laki-laki. Setahun setelah pertemuan mereka, mamanya dinikahi oleh psikolog yang menanganinya.


Awalnya Kiel tak setuju terhadap pernikahan itu namun akhirnya dia mencoba menerima keputusan mamanya yang ternyata menerima lamaran psikolog tersebut. Dia kira mamanya benar-benar ceroboh membuat keputusan itu sendiri. Namun ternyata tidak salah sama sekali. Tuhan sangat baik dan memberikan laki-laki yang bisa mencintai mamanya apa adanya.


Revan adalah adik tirinya yang ditinggalkan mamanya karena lebih memilih hidup bersama pria yang membuatnya bahagia.


Keduanya hanya saling diam-diam dan tidak berbicara satu sama lain. Namun melihat orangtua mereka hidup bahagia, membuat Kiel mulai yakin mengajak Revan berbicara. Dua hari pertama keduanya masih saling segan-segan namun hari selanjutnya mereka malah menampakkan sifat asli masing-masing yang ternyata sama-sama gesrek. Mereka sangat akrab sampai sekarang. Mamanya juga semakin bahagia dengan suami barunya. Papanya yang sekarang adalah sosok laki-laki bertanggungjawab dan sangat menyanyangi mamanya. Selain itu juga sangat di manjakan. Papanya yang sekarang tak pernah memukul mamanya. Jika saling marahan, papanya lebih memilih mengalah dan membiarkan mamanya membaik sampai ia meminta maaf keesokan harinya. Papa tirinya juga begitu romantis.


Setiap hari sabtu dan minggu, keluarga mereka berkumpul dan jalan-jalan ke mall atau tempat yang lain. Kiel bahagia sekarang bersama mamanya dan keluarga barunya.


Revan juga bahagia memilki mama tiri yang baik dan sangat perhatian kepadanya. Tak seperti mama kandungnya yang menelantarkan dirinya sejak kecil saat papanya bekerja. Mama kandungnya adalah ibu-ibu sosialita yang selalu ikut arisan ini itu dan akhirnya mengabaikan keberadaannya, atau bahkan lebih parahnya mama kandungnya dulu bersenang-senang bersama dengan selingkuhannya.


"Gara-gara bahas perkara ini, gue jadi ingat masa lalu gue sama mama gue." curhatnya kemudian dan pergi ke teras untuk menjemur handuknya.


"Maafin kita-kita udah ingatin lo soal itu." kata Rivaldo kemudian. Dia dan Aksa juga tahu betul bagaimana masa lalu Kiel.


"Kali ini gue gak apa-apa. Tapi tolong jangan buat gue ingat lagi hal itu." kata Kiel seperti memohon.


.


.

__ADS_1


.


👍, 📝 dan vote dari kalian menjadi penyemangat bagi author


__ADS_2