
Sementara itu Alin yang tengah berada di kantor polisi untuk dimintai keterangan merasa takut Daniella... ah tidak! Dia merasa takut tidak bisa bertemu lagi dengan Daniella. Mereka telah berpisah sejak kemarin dan ia tak tahu gadis itu masih hidup atau tidak.
"Daniella... "
Dia memang telah mempersiapkan jawaban apa adanya untuk menjawab semua pertanyaan polisi nanti.
"Tersangka Alin silahkan ikut saya untuk interogasi lebih lanjut,"
Para polisi tersebut mengira Alin adalah salah satu dari komplotan tersebut. Padahal sudah dari tadi dia meyakinkan para polisi tadi namun tidak seorang pun memercayainya. Meski belum ada bukti dan alasan yang kuat untuk menjadikannya sebagai salah satu seorang tersangka.
Kini dia berhadapan dengan seorang polisi yang siap menginterogasinya. Mereka memang berbicara empat mata di ruangan ini tapi di sisi kanan dan kirinya ada sebuah ruangan pembatas dilapisi kaca untuk mengawasi pergerakan Alin.
"Jadi aku hanya akan berbicara apa adanya. Aku bukan anak buah dokter Albert maupun pihak yang terlibat dalam perdagangan manusia itu. Malah aku kehilangan putriku... dia bukan putri kandungku tapi dia adalah putri almarhum majikanku."
"Bisa saja itu menjadi alasan... "
"Tidak! Aku tak punya alasan apa pun untuk menjualnya ke mucikari gila seperti dokter Albert, ah bukan. Psikopat Albert,"
"Tapi anda tidak akan memercayai orang sepertiku kan? Ck," kata Alin tersenyum smirk.
"Tapi dibalik ini semua ada orang dengan motif kuat yang menjerumuskan Daniella ke dalam perdagangan manusia. Dia adalah mantan kepala pelayan rumah tuan Dilan. Setelah tuan dan nyonya meninggal, Nadia merampas semua harta kekayaan yang seharusnya menjadi milik nyonya kecil."
"Kenapa kalian malah mencurigaiku? Aku juga korban sama seperti Daniella. Sekarang dimana dia? Aku ingin bertemu dengannya sebelum pasrah. Pastinya kalian akan memenjarakanku kan?"
Polisi tersebut tercengang.
"Aku tidak punya uang ataupun bukti lagi kalau kalian mempercayai kejujuran Daniella."
"Aku tidak setega itu padanya,"
"Daniella, hm... maksudku putri anda selamat. Anda tak perlu khawatir soal ini. Dia bukan satu-satunya korban, ada banyak murid sebayanya yang dilarikan ke rumah sakit,"
Mata Alin berkaca-kaca.
"Kalau memang kalian ingin terus mencurigaiku dan tidak mau mencari bukti lagi, silahkan penjara saja aku. Ini sebagai bentuk rasa bersalahku kepadanya. Tidak bisa menjaganya dengan baik," perkataan yang sangat tiba-tiba itu tentu saja membuat para polisi yang ada di ruangan itu terkejut, apalagi saat Alin menyerahkan kedua tangannya.
"Baiklah kalau memang anda menginginkan ini."
Alin memejamkan matanya. Apakah hari ini hidupnya dimulai dari mendekam di balik jeruji besi?
"Tapi pastikan Daniella baik-baik saja disana,"
"Tentu saja,"
"Tunggu dulu! Dia tidak bersalah sama sekali! Kenapa anda sangat bodoh? Apakah secepat itu bagi anda memenjarakan orang? Hah?"
Itu adalah Agni. Dia dan seorang wanita lainnya menghentikan aksi polisi tersebut.
"Apalagi? Apakah anda punya hak? Anda tidak mengenal orang ini kan? Lantas buat apa membelanya?" polisi tersebut tak mau kalah.
"Dan kalian juga tidak kenal bagaimana dia sebenarnya. Kalian polisi penyamar, huh!"
Agni melayangkan jurus karatenya dengan cepat dan cekatan ke wajah para polisi penyamar tersebut. Alin yang tak mengetahui hal itu sama sekali dengan cepat ikut meringkus seluruh polisi penyamar yang ada di ruangan itu.
Meski Agni dan Alin seorang wanita, namun skill bela diri mereka tak perlu diragukan. Dalam waktu sekejap, para polisi penyamar tersebut berhasil di taklukkan dan diringkus oleh polisi yang sebenarnya.
__ADS_1
"Aku benar-benar tidak tahu orang-orang ini senekat ini. Tidak puaskah kalian menyakiti putriku? Jawab! Kalian pasti suruhan Nadia kan? Katakan yang sejujurnya di depanku sekarang!?!" Alin emosi dan menampar wajah salah seorang penyamar tersebut.
Wajah penyamar yang ditampar tersebut terpaksa mengiyakan dugaan Alin. Wajahnya sudah babak belur. Ditambah lagi dengan tamparan Alin membuat wajahnya sejak terasa panas dan pedih.
"Iy, iyya... kami disuruh olehnya."
Alin ingin mendaratkan pukulannya lagi namun keburu ditenangkan oleh polisi yang ada disana.
"Tolong tenang nyonya," kata seorang polisi tersebut menyimpan kedua tangan Alin ke belakang dan menahan gerak tubuh Alin. Karena kewalahan terpaksa Alin harus mendorong wajah polisi penyamar tersebut dengan kakinya.
Tidak terlalu kuat namun itu cukup membuat korban Alin kesakitan.
"Kalian hanya merasakan secuil rasa sakit saja!" bentuknya lagi.
Melihat Alin akan lebih ganas lagi dan menyerang para polisi penyamar tersebut, dengan cepat polisi yang sebenarnya meringkus mereka dan Alin? Wanita itu ditenangkan oleh wanita lainnya.
"Anda siapa? Jangan sok kenal dengan saya. Saya tak mau tertipu lagi." kata Alin ketus sambil menatap perempuan itu dari ujung rambut hingga ujung kaki
"Anu... saya tidak seperti yang anda pikirkan. Saya calon istri Albert. Tapi saya tidak akan menikahinya. Saya juga menjadi korbannya,"
Alin tercengang. Ia baru ingat wanita yang berada di hadapannya ini adalah wanita yang ia lihat beberapa waktu lalu. Wanita cantik dengan penampilannya yang serba mewah.
"Kamu... korbannya?" Alin masih tak percaya.
"Ya. Boleh minta waktumu selama dua jam ke depan? Saya akan menjelaskan semuanya. Setelah itu kita akan menjenguk Daniella. Gadis itu sedang istrahat saat saya melihatnya di rumah sakit tadi."
"Asal Daniella baik-baik saja sekarang, saya bisa."
"Tentu saja. Mari ikut dengan saya nyonya Alin."
"Jangan sebut saya nyonya. Cukup panggil nama saja. Kita sebaya bukan?"
"Ah, ya Alin."
Kedua orang itu kemudian menatap Agni yang hanya menyimak pembicaraan antara keduanya sejak tadi.
"Miss Agni kami pamit dulu ya?" kata Alin.
"Ya baiklah." balas miss Agni mengangguk-anggukkan kepalanya.
Alin pun mengikuti langkah wanita yang mengaku pacar dokter Albert tersebut.
***
"Oh iya anda belum tahu nama saya. Saya Shakila, Alin." kata wanita bernama Shakila tersebut sambil mempersilahkan Alin duduk di depannya yang dibatasi oleh meja bundar di depannya. Shakila mengajar Alin berbicara di restoran semewah ini.
"Pasti yang datang kesini adalah orang kaya raya, huft."
Alin melirik kesana kemari.
"Kita akan bicara santai disini supaya tidak saling tegang. Anda mau minum apa? Restoran ini menyediakan paket menu lain. Kita pilih paket menu B saja ya?"
"Paket menu B berarti variasinya teh, sepiring pai apel dan sepiring kue brownies kan? Ini saja. Lebih hemat," kata Alin ketika melihat sebuah pancaran hologram yang memperlihatkan tiap paket menu.
"Baiklah,"
__ADS_1
Kemudian Shakila menekan sebuah layar di meja bundar itu dan menuliskan paket menu pilihan mereka.
"Pesanannya akan datang otomatis setelah tujuh menit." kata Shakila. Alin manggut-manggut.
***
Tujuh menit kemudian seorang pelayan restoran datang dan meletakkan pesanan mereka di meja.
"Silakan bersantai di restoran kami. Selamat menikmati," kata pelayan restoran tersebut sambil tersenyum ramah dan kemudian berlalu.
Shakila menyesap tehnya dan mulai berbicara.
"Katakan saja." kata Alin.
"Baiklah. Jadi begini aku juga adalah korbannya Albert. Kami berpacaran empat tahun lalu dan selama itu pulalah aku tidak mengetahui sifat aslinya. Dia mulai menunjukkan sesuatu yang mencurigakan setelah kami berpacaran tiga tahun. Dia pembunuh. Dia membunuh kedua adikku. Kedua adikku kembar. Aku tahu itu semua berkat menyelidikinya dan mendapatkan banyak informasi. Diva dan Diana... mereka hilang berbulan-bulan tanpa kabar..." Alin tak tega saat melihat mata coklat Shakila yang terang berkaca-kaca ketika menceritakan kematian adik kembarnya.
"Aku menangis dihadapan laki-laki bajingan itu karena mereka hilang. Dia menghiburku tapi ternyata dialah yang tega membunuh Diva dan Diana." cerita Shakila sambil menutup mulutnya dan memejamkan matanya.
"Aku menyesal aku pernah menangis di hadapannya. Bahkan aku tak percaya ketika Diva dan Diana pernah melaporkan kelakuan Albert pada mereka. Albert memasang CCTV di dalam kamar mandi untuk merekam mereka berdua saat mandi. Mereka menceritakannya kepadaku dan aku mengabaikannya."
"Aku lebih memilih percaya kepada laki-laki penuh tipu muslihat itu. Mereka menceritakannya kepadaku dan besoknya mereka menghilang tanpa kabar."
"Adikku tidak berdaya dan aku tahu... mereka telah meninggal setahun lalu. Mereka menghilang dan pergi untuk selamanya. Yang paling mengerikan adalah mayat mereka tidak utuh. Organ mereka dicuri oleh Albert." lanjut Shakila. Wajah wanita itu telah basah dan memerah.
Alin tak bisa berkata apa-apa setelah mendengar cerita Shakila. Dia bisa merasakan bagaimana hancurnya hati seorang Shakila ketika mengetahui kedua adiknya meninggal dengan cara yang sangat mengerikan. Dia bersyukur mengingat Daniella selamat dan masih hidup meski belum melihat keadaannya.
"Mau bagaimana lagi, semuanya sudah terjadi. Dan... aku tahu persis apa yang kamu rasakan. Kamu berhasil balas dendam sekarang kepadanya. Itu hebat." kata Alin sambil menyodorkan tisu kepada Shakila.
"Ya aku akan membuat laki-laki bajingan itu membusuk di penjara selamanya. Dia akan terkena pasal berlapis karena semua kejahatannya." kata Shakila menekankan nada bicaranya.
Alin menyesap tehnya lagi dengan perasaan berkecamuk. Sebenarnya dia ingin cepat bertemu dengan Daniella tapi dia merasa tak enak dengan Shakila.
"Bagaimana denganmu? Kalian sepertinya tampak dekat. Maksudku kalian sangat dekat sampai dia memanggilmu bunda." kata Shakila hati-hati takut Alin tersinggung.
"Kamu tahu?"
"Tentu saja." Shakila menganggukkan kepalanya.
"Dia sangat menderita selama ini. Mantan kepala pelayan rumahnya, tempat aku bekerja dulu menguasai seluruh kekayaannya yang seharusnya menjadi miliknya."
"Dia Nadia. Dan anak perempuannya juga sama penipunya dengan dirinya. Dia adalah alasan Daniella sampai ke tempat perdagangan manusia itu."
"Aku akan membantumu mencarinya." janji Shakila.
"Benarkah? Terimakasih. Wanita itu sangat licik. Dia sepertinya telah kabur lebih dulu. Tapi aku bertekad mengumpulkan semua bukti kejahatannya, mencarinya sampai dapat dan menjebloskannya ke penjara."
Kedua wanita itu kemudian asyik berbicara seperti dua orang yang sudah berkenalan lama. Pembicaraannya tampak akrab.
.
.
.
👍, 📝 dan vote dari kalian menjadi penyemangat bagi author.
__ADS_1