Tale Of Daniella

Tale Of Daniella
Chapter 08


__ADS_3

Daniella tersadar. Dia memegang kepalanya dan duduk. Cahaya matahari pagi mengarah seluruhnya ke arahnya membuatnya menutupi wajahnya yang tertimpa cahaya karena silau.


Dia menatap ke sekitarnya dan melihat sesuatu yang asing. Seketika dia merasa was-was. Dia tahu ini bukan di rumahnya. Tapi siapa yang membawanya kemari? Dia tak ingat apa-apa lagi selain dirinya di sekap paksa oleh anak buah Nadia dan dimasukkan ke dalam mobil.


"Jangan takut Daniella. Kau sedang bersamaku di sini." kata suara itu dengan nada yang tenang dan lembut.


Daniella menoleh, itu Alin. Dia kaget luar biasa dan kedua mencoba memastikan apa yang ia lihat dan dengar. Wanita itu benar-benar Alin. Tapi bagaimana bisa Alin kabur dengan mudahnya? Sekarang itu yang menjadi pertanyaannya.


"Bibi Alin kenapa kamu bisa kabur dan kenapa banyak luka bakar di badanmu?" Daniella menatap tubuh Alin dengan perasaan ngeri dan kasihan. Tatapan Alin tak bisa bohong, tentu saja ia merasa sesak dan sedih.


"Jangan nekat seperti aku demi bisa kabur dari Nadia. Aku sengaja membakar dapur rumahmu dan melukai tubuhku sendiri."


"Me, membakar dapur rumahku? Setidaknya jangan lakukan itu. Apa bibi tidak kasihan dengan wajah cantik bibi?"


"Sudah terlanjur Daniella. Bukan hidup seperti ini yang ku inginkan dari dulu, sekarang aku sangat menyesali semuanya!"


Daniella terdiam.


"Aku juga merasa seperti itu bibi Alin. Tak kusangka Liza dan anak buah papa yang lainnya mengkhianati keluargaku."


"Ekhemm, Daniella soal itu tolong dengarkan aku dulu sampai selesai."


Daniella mengerutkan keningnya, lalu bertanya.


"Bibi Alin gak percaya sama Daniella?"


"Bukan itu Daniella sayang. Liza dan yang lainnya tidak mengkhianati kamu dan keluarga Calandra. Malah mereka melanggar perintah Nadia untuk menjualmu keluar negeri. Mereka bilang minta maaf karena telah membuatmu seperti ini."


"Mama Nadia akan menjualku keluar negeri? Kenapa dia tega?"


"Itulah alasan Liza dan yang lain bukan pengkhianat. Mereka terpaksa menyekapmu seperti perintah Nadia."


"Selain itu Liza bilang apa lagi sama bibi?"


"Dia bilang dia minta maaf tentang semuanya dan dia berharap semoga ketemu suatu saat nanti denganmu."


Daniella yang tadinya dibakar api amarah karena pengkhianatan Liza, luluh dan merenung sebentar.


"Ah iya ini rumahku. Di pinggiran kota. Maaf kalau kurang nyaman, aku takut kau tidak betah tinggal disini bersamaku."


Daniella menggelengkan kepalanya cepat.


"Tidak apa-apa bi." balasnya singkat.


"Ini, sarapan lah dulu. Kamu udah pingsan selama hampir seharian." Alin menyodorkan nampan berisi ikan panggang dan mi kuah. Daniella yang merasa sangat kelaparan tanpa pikir panjang langsung menyantapnya.


Alin tersenyum melihat Daniella lahap makan. Beberapa minggu ini pola makan Daniella kacau dan tidak lahap. Dia takut nyonya kecilnya itu mengidap maag.


"Ini hari selasa. Kamu mau sekolah hari ini?"


"Tapi seragamku... "


"Tadi malam Liza mengantarkan koper pakaianmu kemari. Agak banyak. Dia memang pengertian. Sepertinya cukup sampai aku bisa membelikanmu baju baru yang layak pakai."


"Terimakasih bibi Alin."

__ADS_1


Daniella menyeret koper itu ke arahnya dan membukanya. Sepertinya Liza paham benar model pakaian yang nyaman digunakan oleh Daniella.


"Aku akan mengantarmu mulai hari ini ke sekolah," cetus Alin membuat Daniella terkejut.


"Kenapa? Aku bisa jaga diri bibi gak usah khawatir."


"Mulai sekarang aku gak yakin kamu sendirian ke sekolah. Mafia dan mata-mata Nadia harus selalu kita waspadai agar mereka tidak tahu kita masih ada di sini."


Perasaan Daniella dibuat merinding. Jika saja mereka ketahuan, maka kemungkinan besar mafia itu akan menjual mereka ke perdagangan manusia.


"Benar juga. Baiklah."


Daniella menghirup udara sedalam-dalamnya.


"Tapi dari sini ke sekolah jauh banget."


Alin terdiam sejenak, lalu buka mulut lagi. "Soal itu bisa dibicarakan belakangan... "


Daniella menatap Alin ragu.


"Udahlah, mandi dulu sana. Kamu juga bisa ke sekolah tanpa terlambat hari ini."


Daniella menurut, ia menghabiskan makanannya dengan cepat dan turun dari ranjangnya. Sementara Alin menyodorkan handuk putih lembut kepada Daniella.


Daniella pergi ke kamar mandi yang merangkap di dalam kamar tidur itu. Tidak terlalu besar, tapi bersih dan wangi. Sementara itu Alin lanjut menyiapkan seragam sekolah Daniella.


***


Lima menit lagi bel pelajaran pertama dimulai dan Daniella masih belum sampai di sekolah. Alin buru-buru menancap gas sepeda motornya dan membuat Daniella harus berpegangan kuat ke jaket Alin.


"Maaf ya Dan. Sekali ini aja bibi gini. Bibi takut kamu terlambat dan di hukum."


"Udah pasti terlambat kan?" batin Daniella.


Tapi Daniella tidak ingin menyalahkan Alin dan kemudian menjawab dengan nada yang berusaha santai.


"Hm iya deh bi. Tapi jangan sampai jatuh nih?"


Dari kaca spion sepeda motor, Daniella dapat melihat Alin menahan tawanya karena terlalu takut.


"Gak akan deh."


CIIIIIIIIIIIT! Alin mengerem sepeda motornya secara mendadak dan membuat tubuh Daniella terbentur ke tubuhnya.


"Aduh," keluh Daniella sambil turun dan melepas helm-nya. Ia kemudian merapikan rambutnya yang berantakan.


"Ahahahah, maafin bibi ya,"


Daniella mengangguk.


"Kalau begitu aku pergi dulu ya bi," Daniella melambaikan tangannya membuat Alin mengangguk dan kembali menjalankan sepeda motornya.


"Hah, lagi-lagi aku gak beruntung." Daniella merasa kecewa saat melihat siapa guru piket dan petugas yang mengawasi murid yang terlambat hari ini.


Guru-guru itu langsung menatap horor kepadanya. Daniella menundukkan kepalanya karena tak berani menatap mereka satu persatu.

__ADS_1


"Kamu? Murid kebanggaan Athlanta Internasional High School ini terlambat? Murid teladan macam apa kamu?" bentak guru tersebut.


Kenapa guru-guru ini begitu pemaksa? Tentu saja semua yang menjadi teladan pun pasti bisa melakukan kesalahan. Tapi Daniella hanya bisa mengumpat dalam hati.


"Jawab!" bentak guru tersebut lagi.


"Maaf sir. Rumah saya yang sekarang jauh dari sekolah. Saya terpaksa pindah ke sana." balas Daniella seadanya.


"Apa kamu tidak berpikir apa dampaknya? Tentu saja terlambat seperti sekarang ini."


Mata Daniella berkaca-kaca. Apakah ia harus selalu tegar saat di marahi di rumahnya sendiri bahkan di sekolah ini?


"Jangan menangis!" bentak guru itu.


Daniella mengerjapkan matanya beberapa kali dan melap airmatanya.


"Dasar cengeng! Kamu sudah dewasa! Lihat temanmu yang lain saja tidak menangis seperti anak kecil."


"I, iya sir... "


"Sekarang kamu dan semua yang terlambat pagi ini jalan jongkok keliling lapangan sepuluh kali dan kamu pengecualian. Kamu dua puluh kali. Mengerti?"


"Tapi sir kita masih bisa memberikan kelonggaran untuk Daniella. Dia baru kali ini terlambat." bujuk guru lain.


"Tidak ada yang bisa menggangu gugat keputusan saya." balas guru itu menegaskan ucapannya.


"Saya gak apa-apa miss." jawab Daniella. Dia akhirnya memimpin hukuman berjamaah itu di depan, jalan jongkok sepuluh kali. Ada yang menatap iba padanya dan hanya bisa mendukung lewat tatapan. Daniella masih menjalankan hukuman itu ketika yang lain sudah selesai menjalani hukumannya.


"Semangat ya Dan," bisik mereka dari kejauhan.


Sementara itu Rivaldo yang sedang berjalan sendirian dan melihat Daniella tampak menunduk sambil menangis dan terkadang menatap ke depan dengan tatapan kosong, menaikkan sebelah alis matanya.


"Siapa yang kasih hukuman seberat itu?" batinnya.


Ketika Daniella sudah berjalan jongkok keliling lapangan selama lima belas kali, alhasil di putaran yang ke delapan belas Daniella tidak kuat lagi. Wajahnya semakin pucat dan membuat beberapa orang berteriak histeris ketika Daniella kejang-kejang di pinggir lapangan.


Rivaldo yang tak percaya dengan penglihatannya segera berlari menghampiri Daniella dan akhirnya Daniella dikerumuni oleh murid-murid yang berusaha memberikan pertolongan pertama kepadanya. Disusul oleh beberapa guru dan dokter muda di sekolah mereka.


"Wajahnya pucat banget astaga!" keluh guru yang ada disana.


"Harusnya anda tidak memberikan hukuman seperti tadi ke Daniella."


Guru yang menghukum Daniella langsung terperanjat kaget.


"Saya tidak menyangka akan seperti ini jadinya," guru tersebut terlihat menyesalinya.


Rivaldo yang juga merupakan bagian dari komunitas dokter muda di sekolahnya menandu tubuh Daniella ke klinik sekolah bersama ketiga dokter muda lainnya untuk diberikan pertolongan lebih lanjut.


.


.


.


Ramaikan lapak ini ya, jangan lupa share dan rekomendasikan ke teman-teman kalian yang sesama pembaca Mangatoon/Noveltoon.

__ADS_1


👍📝 dan vote dari kalian menjadi penyemangat bagi author🤧


__ADS_2