
Sorenya, Daniella yang telah bersih dan wangi sehabis mandi menatap kosong keluar jendela rumah Alin dengan ditemani Alin duduk di sampingnya.
"Bi Alin, kapan ya aku punya teman yang awet? Kukira kak Tasya bisa jadi kakak sekaligus teman baik untukku rupanya nggak." ceritanya. Daniella sakit hati dengan pengkhianatan Tasya. Orang yang ia anggap baik dan seperti pahlawan baginya ternyata mengkhianatinya dan menyakitinya lebih dari apa pun.
Ternyata sekali lagi benar bahwa orang-orang yang dekat dan akrab dengan kita justru orang-orang yang berpotensi besar mengkhianati kita. Daniella membenarkan fakta itu sekarang.
"Cuma di sekolah doang kan? Kalau di rumah ada bibi tuh."
"Tapi Daniella merasa gak enak kalau curhat terus ke bibi soal masalah Daniella di sekolah."
Alin tak bisa berkata apa-apa. Dia ikut terdiam seperti patung.
"Terlalu banyak masalah Daniella di sekolah," ceritanya lagi.
"Bibi juga gak suka kamu digituin terus sama mereka. Gimana kalau kamu pindah sekolah aja?"
Daniella kaget. Ternyata bibi Alin memiliki pemikiran yang sama dengannya saat ini.
"Percuma bi. Sama aja lari dari masalah. Mereka orang-orang berduit dan punya kekuasaan, murid kayak Daniella pun akan tetap dibuli dan diincar walaupun udah ada di sekolah baru."
Alin mengerutkan keningnya, tak percaya dengan yang di ucapkan Daniella barusan.
"Kamu tahu dari mana? Jangan bilang kayak gitu. Gak mungkin lah,"
"Daniella gak bohong bi karena Daniella dulu punya teman sekelas yang dekat sama Rivaldo dan teman-temannya, Namanya Alana. Jennifer suka sama Rivaldo. Geng Jennifer membuli dia sampai ketakutan dan akhirnya pindah sekolah. Walaupun dia udah pindah sekolah, Jennifer tetap benci dia dan dia didatangi disekolah barunya. Dia dibuli lagi, dijelek-jelekkin sampai main fisik. Sekarang dia udah meninggal."
Biarpun Alin tidak mengenal sosok teman sekelas Daniella itu, tapi dari cerita Daniella bisa dikatakan bahwa temannya sangat menderita.
"Kalaupun kamu seperti dia, jangan sampai separah itu. Jangan pernah memendam apapun sayang cerita ke bibi. Bibi gak mau kamu memendam apapun secara sendirian."
Daniella spontan memeluk Alin dan membuat Alin membalas pelukannya.
"Semoga Daniella bukan Alana kedua,"
"Jangan bilang gitu sayang, itu gak akan terjadi."
Kedua perempuan itu menangis bahagia dan melepas pelukannya setelah beberapa saat.
"Hm, ngomong-ngomong bibi udah bayar biaya pengobatan Daniella kemarin belum?"
"Udah, tapi bibi harus ketemu sama dokter bedah aneh. Huft, dia sepertinya kaya raya."
Daniella tertawa kecil.
"Maksud bibi dokter Albert? Dia memang dokter yang cerdas. Bibi suka sama dia ya?" goda Daniella.
"Gak mungkin lah bibi suka sama laki-laki sombong kayak gitu. Lagipula dia udah punya pacar kayaknya. Pacarnya model tuh hahaha. Mereka serasi."
"Aku penasaran kapan bibi Alin jatuh cinta dan menikah? Bibi udah mau menjalani umur dua puluh enam tahun loh. Bibi belum berencana ya?"
"Belum Dan. Bibi mau fokus melewati semua masalah dulu baru menikah."
"Okey, hahaha. BTW Daniella merasa gak enak manggil bibi terus. Panggil apa nih ya?"
"Gapapa tetap panggil bibi. Kok kamu jadi merasa asing gitu sih? Hahhaha,"
"Ya masa udah dekat banget panggil bibi. Bibi bukan pembantu lagi. Tapi seperti pahlawan yang selalu ada untuk Daniella. Gimana kalau manggil Bunda aja?" usul Daniella.
__ADS_1
" Bunda? Boleh juga tuh. Panggilannya keren."
"Ok bunda. Bunda Theialine Carissa hihihi," kata Daniella menyebutkan nama panjang Alin.
Alin tersenyum penuh arti dan mengelus kepala Daniella.
***
Sementara itu di sebuah bar, Tasya yang sedang melepaskan kelemahannya sambil meminum-minum bir mulai merasa pusing ketika dia mendengar suara Vernon memanggilnya.
"Tasya sayang tolong jangan minum-minum lagi deh. Kamu udah minum berapa gelas sejak tadi? Ayo pulang," ajak Vernon sambil berusaha menopang tubuh kekasihnya tersebut.
Vernon menatap malang pada pacarnya itu dan berbisik sesuatu.
"Aku kira Daniella orang yang baik buat kamu selama ini, ternyata enggak. Lain kali aku akan lebih memperhatikan kamu. Mulai sekarang kamu tinggal sama aku aja ya? Kamu udah cukup menderita selama ini." kata Vernon dengan nada kebencian yang mendalam ketika menyebut nama Daniella.
Seandainya laki-laki itu tahu yang sebenarnya.
Vernon berdiri dan membopong tubuh Tasya keluar bar.
***
Rivaldo yang sedang mendribel bola basketnya asal-asalan merasa tidak tenang ketika mengingat omongan dokter di rumah sakit dan guru di sekolahnya tentang Daniella. Dari yang ia dengar, beberapa guru juga pernah mendapati Daniella menangis sendirian tanpa teman di sampingnya. Biasanya cewek itu akan menangis sendirian di toilet cewek. Saat ditanya ada apa, Daniella akan melap airmatanya cepat-cepat dan bilang hanya terjatuh. Padahal dari raut wajahnya jelas dia tidak sedang baik-baik saja.
Yang paling mencurigakan adalah cewek itu selalu mengenakan lengan panjang setiap hari. Yah, untuk kali ini dia merasa bersalah. Lalu satu pertanyaan yang belum terjawab, kenapa bisa Daniella mempunyai mama yang masih cantik dan muda? Dilihat-lihat seperti wanita berusia tiga puluh tahun ke bawah.
"Tuan muda, nyonya memanggil anda ke kamarnya."
"Mama udah pulang?"
Kepala asisten rumah tangga Rivaldo menganggukkan kepalanya pelan.
Setibanya di kamar, ia sedang melihat papa dan mamanya sedang berciuman pertanda cinta yang sangat dalam antara keduanya, membuat Rivaldo menghela nafasnya kasar.
Sementara Rafael yang menyadari putranya telah melihat mereka sejak tadi, langsung menghentikan kegiatan mereka dan berusaha menahan malu di wajahnya yang kini telah memerah.
"Kenapa kau muncul tiba-tiba?" kata Rafael berusaha sabar.
Sementara Zesya tersipu malu dan menyuruh suaminya tetap tenang.
"Kamu gak rindu sama papa mama ya? Susah banget dihubungi huh!? Kamu gak mungkin lupa ini hari apa kan?"
Rivaldo mengerutkan keningnya dan kemudian mengedikkan bahunya.
"Kamu emang anak keluarga ini bukan sih? Astaga anak satu ini. Ini hari dimana empat tahun adik kamu meninggal, Reica. Ayo ziarah."
Rivaldo mengutuk dirinya sendiri. Bagaimana mungkin dia bisa lupa hari kepergian almarhum adik perempuannya?
"Maaf ma," kata Rivaldo meminta maaf dengan tulus.
Zesya mengangguk seadanya.
"Ayo pergi. Pasti kakak kamu udah nunggu."
Rivaldo mengangguk. Dia berjalan disamping mamanya menyusul Rafael yang telah berjalan lebih dulu. Saat tiba di halaman rumah Rivaldo yang terbilang luas, kedua kakaknya, Revan dan Zivanna langsung menyambut kedatangan Rivaldo.
"Lama banget lo mau turun doang Riv. Gimana kabar lo setelah keluarga tercinta lo ini di Amerika selama dua bulan kemarin?" celetuk Revan langsung menepuk bahu Rivaldo keras-keras. Rivaldo berusaha sabar. Kalau ini bukan dirumah dan didepan papa mamanya, maka Rivaldo akan membalas kejahilan Revan.
__ADS_1
Rivaldo terdiam sebentar, lalu berkata, "Baik-baik aja. Gue yakin kalian aman dan nyaman di sana." sindir Rivaldo.
"Apa sih Riv? Kan kemarin mama udah nawarin lo buat ikut bareng kita? Sekarang malah nyindir." balas Zivanna tak mau kalah.
"Iya emang. Yaudah kakak emang selalu benar."
"Gitu dong,"
Kini keluarga bahagia itu telah berkumpul dalam satu mobil dan dibelakang mereka terdapat mobil anak buah yang mengawasi keamanan keluarga Heindrick tersebut.
"Berangkat sekarang pa." kata Zesya. Rafael mengangguk dan menjalankan mobilnya.
***
Reica Angelista Heindrick, gadis kecil itu meninggal empat tahun lalu karena penyakit kanker darah yang dideritanya. Saat itu ia telah berusia tiga belas tahun. Kepergiannya meninggalkan duka yang sangat mendalam kepada keluarga besar Heindrick.
Reica dimakamkan di daerah perbukitan yang menjadi tempat pilihannya sebelum ia meninggal. Bukit ini adalah tempat favoritnya dulu.
"Aku mau istrahat disini setelah aku pergi nanti pa, ma." perkataan itu sangat menyayat hati Rafael dan Zesya. Seminggu kemudian Reica menghembuskan nafas terakhirnya dan dimakamkan di bukit ini.
Tidak melelahkan bagi keluarga Rivaldo untuk mendaki bukit ini karena tidak terlalu tinggi. Angin sepoi-sepoi menyelimuti daerah perbukitan itu dan membuat rambut siapa saja yang ada disana berkibar. Pepohonan yang bergerak lambat menghasilkan suatu irama yang menyeramkan.
Airmata Zesya menetes begitu melihat foto almarhum Reica yang terlihat pucat dan tirus saat di foto.
"Hai sayang, ini keluarga kita lagi mengunjungi kamu. Gimana kabar kamu disana? Udah tenang? Kamu udah gak merasakan sakit apapun lagi." isak Zesya sambil memeluk nisan Reica.
Rafael berusaha menenangkan Zesya di sampingnya. Zesya yang sangat keibuan, tentu saja lemah soal hal seperti ini. Sementara Revan dan Zivanna mulai mencabut rerumputan liar yang tumbuh di tembok makam Reica. Mereka juga tidak bisa menahan airmatanya. Sementara Rivaldo, matanya mulai berkaca-kaca namun ia tetap tabah seperti Rafael papanya.
"Gue rindu banget sama lo Rei. Lo adek gue satu-satunya. Gue cuma bisa berdoa semoga lo senang diatas sana." batin Rivaldo.
Cowok itu juga ikut membersihkan makam almarhum Reica dan meletakkan bunga baru di makamnya menggantikan bunga yang telah layu.
Setelah melakukan kegiatan ziarah seperti biasanya mereka pun beranjak untuk kembali pulang.
"Papa sama yang lain pulang duluan aja. Rivaldo masih pengen disini."
"Loh kenapa gak pulang bareng?"
"Rivaldo lagi pengen aja ma lama-lama disini." jawab Rivaldo jujur.
"Oh ya udah sih! Awas ketemu sama yang nggak-nggak Riv," Zivanna berusaha menakuti Rivaldo.
"Ya," balas Rivaldo cuek.
"Kamu salah nakutin orang Zivanna sayang. Adik kamu ini pemberani, kayaknya gak takut sama apapun." Zesya tertawa kecil.
"Yaudah Riv, papa mama sama kakak kamu balik duluan. Anak buah papa bakal tunggu kamu dibawah. Jangan terlalu lama." kata Rafael mengakhiri. Mereka pun pergi meninggalkan Rivaldo.
Sementara Rivaldo kembali duduk di dekat makam adiknya itu. Mengelus-elus nisan Reica dan berdialog sendirian.
"Kakak menyayangi kamu lebih dari apapun." batin Rivaldo sambil mengenang kembali saat-saat menyenangkan bersama Reica ketika Reica masih hidup.
.
.
.
__ADS_1
Ramaikan lapak ini ya, jangan lupa share dan rekomendasikan ke teman-teman kalian yang sesama pembaca Mangatoon/Noveltoon.
👍📝 dan vote dari kalian menjadi penyemangat bagi author🤧