Tale Of Daniella

Tale Of Daniella
Chapter 23


__ADS_3

Happy reading 📖


.


.


.


"Disini lo rupanya." celetuk seseorang sambil menepuk bahu Aksa. Itu adalah Kiel. Kiel tahu sahabatnya ini tengah menunggu Daniella. Memangnya apa lagi?


"Buset, gak ada kerjaan lo nunggu cewek yang bahkan gak suka sama lo sama sekali." bukan maksud Kiel memanas-manasi, tapi memang mengejek dalam kesempitan adalah kebiasaannya sejak dulu. Susah untuk dihilangkan.


"Berisik lo ah." Aksa bergeser sedikit dari tempat duduknya dan memasang wajah datarnya.


"Sensi amat aelah. Rivaldo mana?" tanya Kiel mengalihkan topik pembicaraan.


"Gue gak sama dia sejak istrahat tadi."


"Aelah... tuh orang... "


Belum sempat Kiel menyelesaikan omongannya, Aksa langsung menempatkan telunjuknya di antara bibir Kiel.


"Kiel selama ini gue biarin lo ngoceh gak jelas di hadapan gue walaupun gue lagi badmood. Kali ini aja lo tenang ya? Jangan basa-basi sama gue." kata Aksa kemudian menurunkan jarinya.


"Iya bang Aksa, iya. Gue diem nih. Tapi biasanya kalau orang lagi badmood tuh enaknya kan dihibur sahabat? Jadi izinin gue buat hibur lo. Dengar nih ya gue mau nyanyi. Dengan suara indah delapan oktaf gue. Dengerin nih ya... "


Benar saja, perasaan Aksa sudah tidak enak sejak awal. Kiel memang berotak gesrek dan tidak mengerti bahasa. Sedetail apapun orang itu berbicara padanya.


Aksa menutup kedua telinganya saat Kiel mulai menyanyikan lagu *Hanya Satu.


"Hanya satu pintaku, tuk memandang langit biru, dalam dekap seorang ibu*,"


Murid-murid yang mendengar suara Kiel sama halnya dengan Aksa. Mereka juga ikut menutup telinganya masing-masing. Suara Kiel terlalu dipaksakan dan juga fals.


"Lo ada masalah hidup apa sih njir? Ini bukan hari ibu dan tadi lo bilang lo mau hibur gue. Astaga, salah apa gue dapat teman kayak lo?"


Kiel terus menyanyi dan membuka sebelah matanya, mengintip suasana sekitar. Orang-orang jengah mendengarkannya bernyanyi. Namun bukannya berhenti dengan bangganya dia melanjutkan aktivitasnya. Beberapa saat kemudian dia mulai berpose sambil terus bernyanyi.


Dia mengelilingi Aksa dengan pose gilanya dan berhasil membuat Aksa risih dengan tingkahnya.


"Ganda putra jadinya anjir," Aksa merasa geli sendiri saat Kiel mengalungkan kedua tangannya di leher Aksa dari belakang.


"Woah," celetuk murid-murid yang melihat keduanya. Aksa berusaha melepaskan diri dari Kiel dan mendorong kepala Kiel hingga cowok yang masih terus menyanyi itu terdorong beberapa langkah ke belakang dan menabrak Chelsea yang kebetulan sedang melintas saat itu di belakangnya.


"Huwaaaa!" teriak Chelsea heboh. Dia sedang membantu pegawai kafetaria membuang saus sisa atas kemauannya saat itu dan alhasil... wajah dan rambutnya terkena tumpahan saus.


Saus itu adalah saus cabe dan membuat Chelsea menangis histeris.


"Chelsea!" kata Aksa dan Kiel secara bersamaan.


"Hiks, perih, huwaaaa!"


Semua yang ada di sana panik melihat Chelsea. Cewek itu menangis tertahan, membuat Kiel iba dan menghembus mata Chelsea.


"Huwaaaa, nafas Kiel bau banget sih. Kamu jarang sikat gigi ya? Bau banget. Bau bangkai." kata Chelsea tambah menangis. Sontak hal itu mengundang gelak tawa murid-murid yang ada disana.


"Sialan lo jangan terlalu jujur napa Chel?" Kiel tak melanjutkan kegiatannya.


"Buru hembus mata Chelsea. Perih banget ini." protes Chelsea sambil memukul bahu Kiel.


"Kiel, Kiel. Geser sana." Aksa tak habis pikir melihat Kiel. Cowok itu menghembus mata Chelsea dan sesaat kemudian...

__ADS_1


"Udah mendingan?" tanya Aksa. Chelsea mengedipkan matanya beberapa kali dan menganggukkan kepalanya.


Aksa kemudian menyerahkan botol minuman dingin yang belum sempat di minumnya tadi kepada Chelsea.


"Cuci lagi pakai ini biar tambah mendingan." katanya.


"Terimakasih banyak ya Aksa." kata Chelsea tersenyum manis.


Aksa mengangguk. Sementara Kiel dan Chelsea kembali bertengkar.


"Makanya jadi cowok jangan banyak bertingkah huu!" ledek Chelsea.


"Tapi gimana sama nasib baju Chelsea... " tatapan Chelsea tampak memelas.


"Ikut gue Chel," kata seseorang tiba-tiba menarik tangan Chelsea.


"Kemana, Daniella?"


"Ke kamar mandi buat bersihin baju sama buat ganti pakaian lo. Apalagi emangnya?" Tanpa mendengarkan alasan Chelsea lagi Daniella membawanya pergi dari tempat itu.


"Eh, i, iya."


Chelsea hanya bisa pasrah ditarik oleh Daniella ke toilet khusus murid perempuan.


"Cewek lo Aksa lo nggak... "


Tanpa memedulikan Kiel, Aksa pergi mengikuti Daniella.


***


"Daniella biasa ya bawa baju ganti buat jaga-jaga?" tanya Chelsea kepo.


"Iya kalau gitu Chelsea mau mandi dulu. Tungguin Chelsea sampai selesai mandi ya Daniella!" kata Chelsea tersenyum ramah.


"Hmm," balas Daniella.


Chelsea pun masuk ke dalam toilet sementara Daniella menunggu di luar. Tak apa dia pulang terlambat sekali ini saja.


"Daniella," panggil Aksa.


"Hah? Lo ngapain... " tentu saja Daniella kaget.


"Tolong jangan hindari gue lagi Dan. Gue merasa gak tenang. Ok, gue akan jaga jarak sama lo tapi tolong jangan diamin gue. Lo tahu? Gue jadi merasa bersalah."


Daniella akhirnya mau melirik Aksa. Cowok itu terdengar sungguh-sungguh dengan ucapannya.


"Apa yang bikin lo merasa nggak tenang? BTW lo gak perlu merasa bersalah karena gue duluan yang jauhin lo kan?"


"Tapi tetap aja Dan."


"Udah selesai kan urusan antara kita? Gue gak menghindar dan gue juga udah liat lo lagi bicara tadi."


Mendengar ucapan Daniella yang lebih mirip mengusir dirinya sekarang, Aksa mengalah.


"Habis nungguin Chelsea selesai mandi jangan pulang telat."


Daniella tak menghiraukan ucapan Aksa lagi dan menyumpal telinganya dengan kedua tangannya. Aksa pasrah saja dan pergi dari sana.


Kiel yang ternyata melihat itu semua langsung berteriak heboh.


"Gilaaaa!!! Bentar lagi gue punya teman calon sadboy nih. Asik!"

__ADS_1


Aksa memelototinya dengan penglihatan tak suka.


"Lo jangan ngomong lagi depan gue sekarang!" Aksa ikut mengusir Kiel.


"Gara-gara tingkah lo gue juga ikut bertanggungjawab. Bercandaan lo kadang kelewatan Kiel. Gue sedikit kecewa sama lo. Sekali aja lo serius kalau gue lagi badmood." setelah memarahi Kiel sebentar, Aksa pergi dan meninggalkan Kiel.


"Ya elah bang Aksa mah kita gak lagi main di drama TV tuh. Ini di kehidupan nyata. Sensi amat dah."


Sudah dibilang Kiel tak akan pernah serius dalam masalah. Seserius apa pun itu. Cowok itu selalu bercanda berlebihan, menurut Aksa.


Daniella merasa terganggu dengan keributan yang tercipta antara kedua cowok itu.


"Ribut, Kiel." omel Daniella berusaha sabar.


"Lo juga sih Dan."


"Hah?" alis mata Daniella bertaut.


"Gara-gara lo Aksa temen gue jadi sadboy noh. Lo mah jahat."


"Oh iya? Gue jahat? Apa kabar sama teman-teman lo? Otaknya rata-rata gesrek. Apalagi cowok yang inisialnya Rivaldo Heindrick itu. Sok iya!" sindir Daniella.


"Terserah lo Dan. Lo menang. Semua cewek emang selalu benar."


"Itu lo tahu! Baguslah. Pinteran lo soal akhlak dibanding bos lo itu."


"Tapi Daniella, daripada lo jomblo kan sayang sama wajah cantik lo itu? Yuk pacaran sama gue aja." lagi-lagi Kiel berulah.


"KIEL!!!" teriak Daniella gemas, membuat cowok itu tertawa terpingkal-pingkal dan berlari untuk menjauh.


"Maaf Dan. Gue juga berotak gesrek,"


Daniella tak menyangka ada seorang cowok yang mengakui dirinya seperti itu. Contohnya Kiel.


"Up to you!"


Daniella memilih mengakhiri daripada terus berseteru tanpa ujung dengan Kiel.


Tak lama kemudian Chelsea keluar dari kamar mandi. Dia menghampiri Daniella.


"Sepertinya tadi Chelsea dengar suara Kiel deh!"


"Emang. Dia kesini mancing emosi gue."


"Ada cowok sakit jiwa kayak Kiel." Chelsea ikut kesal saat mendengar nama Kiel.


"Daniella pulang sama Chelsea ya?"


"Hah? Gue kan gak minta?"


"Iya tapi Chelsea udah keburu telepon papa mama Chelsea tadi buat jemput Chelsea. Jadi gak apa-apa kalau kamu sekalian ikut."


"Iya deh." Daniella terpaksa mengiyakan perkataan Chelsea.


.


.


.


👍, 📝 dan vote dari kalian menjadi penyemangat bagi author

__ADS_1


__ADS_2