Tale Of Daniella

Tale Of Daniella
Chapter 26


__ADS_3

Happy reading 📖


.


.


.


Disebuah tempat yang jauh dari keramaian kota, Nadia tengah menikmati kopinya dengan beberapa anak buah yang berjaga-jaga di belakang kursi yang ia duduki.


"Tempat ini semakin tidak aman untuk kita untuk melancarkan semua rencanaku. Ini semua karena dua orang itu, Daniella dan Alin. Huft. Katakan kepada anak buah Albert yang tersisa bahwa aku tidak akan membayarnya. Dia telah gagal untuk tugasnya."


"Ta, tapi nyonya... " seorang anak buah Nadia gagap untuk menjawab tuannya itu. Dia masih tetap anak buah Nadia yang gagap waktu itu, masih orang yang sama. Sebenarnya Nadia tidak ingin mempertahankannya lebih lama lagi. Pasalnya ia geram jika harus mendengar laporan yang tak jelas karena kegagapannya. Namun karena dia cukup lihai dan bertanggungjawab dalam melaksanakan tugas-tugasnya, maka Nadia berpikir tak apa memanfaatkan kepintarannya.


BRAK! Nadia menggebrak meja di hadapannya dan berbalik. Sudah cukup! Dia kini naik pitam sekarang. Sehingga beberapa anak buahnya hanya bisa menahan kekagetannya dan masih berdiri tegak di tempatnya.


"Kenapa kau tidak bisa berbicara lebih lancar lagi hah? Aku bisa gila jika mendengarkanmu yang gagap." katanya dengan tatapan mata yang nyalang dan siap memangsa siapa saja yang ada disana.


"Ma, maafkan aku nyonya,"


"Aku sudah bosan mendengarkan permintaan maafmu setiap kali kau gagap dan berhasil membuatku emosi!" Nadia menampar wajah anak buahnya yang gagap itu. Itulah pertama kalinya dia melakukan kekerasan fisik kepada anak buahnya. Pemuda itu, yang merupakan anak buah Nadia yang gagap hanya bisa menahan sakit dan perihnya. Nadia juga mendorong tubuhnya hingga jatuh terkapar di lantai.


Tak ada anak buah Nadia yang berani berkutik satu pun melihat kejadian yang ada di depan mata mereka semua.


Pemuda itu telah tertekan secara fisik dan mental. Bukan kemauannya bekerja menjadi orang jahat dibawah kendali Nadia. Namun dia diculik dan dicuci otaknya oleh anak buah Nadia yang lain atas perintah wanita kejam itu. Saat ia sadar bagaiamana ia bisa sampai kemari dan melakukan kejahatan, ia langsung diancam oleh Nadia. Sialnya wanita itu bahkan tahu detail kehidupannya. Keluarganya juga dalam bahaya jika ia melaporkan Nadia.


Pemuda itu ketakutan melihat Nadia. Tolong jangan katakan dirinya cupu, karena dia tak berdaya melakukan apapun sekarang.

__ADS_1


"Apakah dirimu benar-benar dikutuk tidak bisa berbicara dengan lancar untuk selamanya?!" kata Nadia dengan lantangnya. Percayalah dia menaruh perasaan dendam kepada Nadia.


Pemuda itu menatap Nadia dengan tatapan menantang.


"Dasar laki-laki muda pemalas. Lebih baik kau ganti gender saja menjadi wanita. Jika gagap maka tidak pantas disebut laki-laki. Ck, camkan ucapanku."


Ucapan Nadia yang seperti itu membuat perasaan pemuda itu semakin tertusuk dan bangkit berdiri.


"Anda bisa memarahi saya karena kegagapan saya namun jangan pernah menyumpahi hidup saya!" dia balik marah dan membuat Nadia berbalik saat hendak pergi.


"Sadar diri sana. Berbicara lancar saja dirimu tidak sanggup. Hahaha!" Nadia tertawa jahat.


"Suatu saat nanti anda akan penuh penyesalan dan meminta maaf sampai menangis di hadapan saya." ancaman pemuda itu tak membuat Nadia gemeteran, malah wanita itu semakin menertawakan impiannya.


"Hahaha, impian yang cukup bagus dan terlalu berekspetasi ya. Tapi itu tidak akan pernah terjadi. Bagaimana dong?"


"Tetaplah bermimpi. Saat kau kehilangan akalmu untuk mengenal siapa dirimu, maka saat itu jugakah kau juga kehilangan nyawamu. Kau beruntung aku tidak ingin melihat mayat orang hari ini di hadapanku." balas Nadia tak kalah seram. Suasana ruangan itu semakin menegangkan sejak Nadia berkata seperti itu.


Setelah itu Nadia pergi entah kemana dan tak jadi mendengarkan laporan yang hendak ia dengar dari si pemuda gagap. Dia berencana mendengarkan laporan itu dari anak buahnya yang lain saja.


Namun Nadia tak pernah tahu dan tak akan pernah menyadari hidupnya dalam bahaya sejak itu. Pemuda itu telah menyumpahinya karena dendam kesumat dalam dirinya.


***


Tasya tengah duduk sambil meneguk segelas wiski lagi di bar. Entah sudah berapa gelas wiski yang ia minum. Yang pasti ia sudah tak peduli akan kesehatannya Dia sudah sering mengonsumsi wiski di usianya yang masih berusia 19 tahun. Dia juga sudah tidak pernah masuk sekolah lagi.


Dia menatap samar-samar pada Vernon yang tengah berbicara pada seseorang di kejauhan sana. Entah apa yang mereka bicarakan tapi dia jelas tak suka Vernon berbicara dengan wanita yang menjadi lawan bicaranya. Wanita itu tampak sangat genit dan cari perhatian di depan Vernon meski ia bisa melihat Vernon tak terlalu tertarik dengan wanita itu. Vernon masih ingat ada Tasya kekasihnya.

__ADS_1


Dan saat Vernon kembali ke sampingnya gadis itu medekatinya dan menepuk-nepuk pundaknya karena kewarasannya mulai hilang. Ya, Tasya mabuk.


"Vernon sepertinya kau tak menyayangiku. Ya kan?" tanya Tasya secara tiba-tiba. Vernon menyemburkan wiski yang baru saja ia minum.


"Apa? Kenapa kau berkata seperti itu Tasya sayang?" Vernon mulai menyiapkan pendengarannya secara baik-baik untuk menyimak jawaban Tasya.


"Kenapa kau harus bekerja di bar seperti ini hah? Aku tidak suka gadis-gadis jalang itu mencoba mencuri perhatianmu. Dan lagi kenapa kau tak mencegahku minum wiski yang banyak? Apakah kau mulai bosan denganku? Jawab sejujurnya." kata Tasya meracau.


"Kau tidak suka aku bekerja di bar? Baiklah aku bisa cari pekerjaan lain. Tapi tak mudah sayang. Dan juga untuk sementara aku harus ada di bar ini. Suatu saat nanti aku tak akan kerja di tempat seperti ini lagi. Kedua kau bilang aku tidak sayang kepadamu karena tidak mencegahmu meminum wiski yang banyak? Kau salah. Aku tidak pernah berhasil mencegahmu meminum minuman seperti ini. Kau selalu mencakarku jika melarang kesenanganmu. Tapi terlepsas dari itu semua, aku merasa gagal sebagai cowok. Aku tidak bisa menjagamu dengan baik." balas Vernon panjang lebar.


"Bohong!" kata Tasya.


"Kau selalu saja seperti ini. Mengatakan aku bohong. Terserahmu saja. Sekarang sudah malam. Terlalu dingin untukmu. Biar aku antar kau pulang ke apartemenmu." Vernon mengenakan jaket yang ia pakai ke tubuh Tasya dan menggendongnya keluar bar.


Meski Tasya tidak lagi tinggal di rumah Daniella, namun ia kini punya apartemen sendiri yang disewa dan dibiayai oleh Vernon untuknya. Vernon bukanlah salah satu cowok yang dengan kurang ajarnya tinggal seatap bersama kekasihnya jika belum menikah. Dia tak pernah memanfaatkan kesempatan dalam kesempitan. Cowok itu benar-benar sangat menyayangi Tasya dan menjaganya. Bahkan ia melunasi sewa apartemen Tasya untuk setahun penuh. Dengan susah payah cowok itu menopang tubuh Tasya yang sempoyongan karena kondisinya yang mabuk parah menuju motor sport miliknya.


Dia memasang helm di kepala Tasya dan menyandarkan kepala Tasya dibahunya agar cewek itu bisa tertidur dengan nyaman sepanjang jalan.


"Aku berharap bisa terus menjagamu sampai suatu saat nanti aku bisa menikahimu." kata Vernon samar-samar sambil tersenyum penuh arti, sengaja agar Tasya tidak terlalu mengingat ucapannya. Biarlah hal itu tetap menjadi rahasia kecilnya walau dia telah berbagi impiannya malam itu dengan Tasya.


.


.


.


👍, 📝 dan vote dari kalian menjadi penyemangat bagi author

__ADS_1


__ADS_2