Tale Of Daniella

Tale Of Daniella
Chapter 20


__ADS_3

Happy reading 📖


.


.


.


"Dan," panggil suara itu terhenti. Daniella menoleh ke sumber suara. Itu adalah Aksa.


"Mau apalagi sih dia?" batin Daniella tak suka. Daniella heran kenapa cowok itu tidak mencari tahu sendiri alasan kenapa mereka harus jauh. Apakah Rivaldo temannya tidak memberitahu alasan kenapa mereka harus pisah?


Huft.


"Ternyata hanya berani bicara kayak gitu sama Aksa ya?" Daniella tertawa hambar.


"Ada apa ya?" kata Daniella ketus berjalan keluar dari kafetaria. Aksa menghampirinya sehabis makan dan mengikutinya dari belakang. Daniella tak memedulikan mereka menjadi perhatian murid-murid yang ada disana.


Aksa mengejar cewek itu dan memaksa Daniella berbalik. Dia menatap Daniella dalam dan akhirnya menarik tangan Daniella ke suatu tempat.


"Lo mau ngomong apa? Jangan sembarangan narik-narik gue. Gue bukan mainan lo ya?" Daniella menghempas tangan Aksa dan memberi jarak antara mereka.


"Plis kasih tahu alasan kenapa lo menjauh dari gue. Gue udah coba cari tahu dan gue tetap bingung. Gue gak tahu Dan." Aksa yang tadinya ngegas kini memelankan nada bicaranya ketika melihat Daniella menatapnya dengan tajam.


"Ok, pelan-pelan. Tolong kasih tahu gue Dan. Biar gue tebak duluan, lo menjauh dari gue karena risih? Gitu?"


Daniella memutar bola matanya malas. Dia tidak punya alasan untuk risih didekati oleh Aksa. Tentu saja karena perkataan Rivaldo beberapa waktu lalu. Dia menggeleng singkat dan akhirnya buka mulut.


"Lo mau tahu alasannya?" tanya Daniella mendekati Aksa yang lebih tinggi darinya.


"Karena teman lo beranggapan mereka terabaikan karena lo dekat sama gue. Merasa lo udah makin jauh dari mereka karena gue. Paham? Intinya gue simbol kehancuran pertemanan lo bagi mereka."


Aksa tidak terlalu kaget. Dia sempat berpikir itu adalah salah satu alasannya, tapi bisa saja karena alasan lain?


"Siapa teman gue yang bisa berpikiran gitu?" tanya Aksa.


"Lo mau tahu aja apa mau tahu banget?" Daniella sengaja berkata seperti itu untuk memainkan sedikit emosi Aksa. Yah walaupun dia tahu Aksa pasti menganggap semua temannya baik-baik saja tidak seperti kenyataannya.


"Mau tahu aja."

__ADS_1


Daniella tertegun. Kenapa bisa Aksa tetap cool dalam setiap masalah? Sekalipun dalam keadaan tegang antara keduanya.


"Ri, val, do. Rivaldo. Hmm, dia sahabat lo. Dia khawatir kalau lo udah lupain mereka." dustanya. Yah dia harus berbohong untuk memperingan masalah ini. Dia tahu akan seperti apa Aksa dan Rivaldo bertengkar. Tentu saja main keroyokan. Mereka kan cowok? Bagi rata-rata cowok, adu jotos dan keroyokan adalah cara menyelesaikan masalah secara jantan. Daniella merasa ngeri jika membayangkan itu terjadi pada Aksa dan Rivaldo.


Dia ingin jujur untuk mengungkapkan alasan yang sebenarnya. Tapi dia berpikir dua kali dan terpaksa berbohong. Huft, demi kedamaian.


Daniella melihat air wajah Aksa. Aksa tampak gusar dan seperti tidak percaya Rivaldo beranggapan seperti itu. Aksa sepertinya naik pitam dan ketika cowok itu pergi tanpa menghiraukannya, Daniella malah menahan langkah Aksa dan memperingatkannya.


"Jangan pernah menyerang sahabat lo demi gue yang orang baru. Gue minta tolong Aksa. Jangan. Atau... antara gue dan lo gak akan pernah saling mengenal setelah ini kalau gue tahu lo berantem sama Rivaldo."


"Daniella... " Aksa terperangah.


"Rivaldo itu mempertahankan persahabatannya sama lo. Jadi dia takut ada orang baru yang mengganggu. Tolong jangan berantem karena gue. Sekali lagi Aksa, gue benar-benar minta tolong sama lo."


Setelah mengatakan itu Daniella melepas tangannya dari lengan Aksa dan pergi dengan pikiran kosong. Aksa memanggilnya dan membuatnya berhenti lagi.


"Gue akan lakuin apa yang lo bilang. Tapi tolong peka. Gue suka sama lo dan jatuh cinta sama lo,"


Daniella membelalakkan matanya dan berbalik. Dia melihat Aksa.


"Gue juga pernah punya perasaan yang sama ke lo. Tapi gue sadar lebih baik kita tetap berteman aja." balasnya dengan lantang.


"Gue iri sama lo. Lo punya sahabat yang tetap mempertahankan sampai sekarang. Gue sempat iri gue akui. Gue berharap gue juga bisa punya sahabat kayak teman-teman lo tapi mustahil." kata Daniella sekali lagi sebelum akhirnya pergi dari sana.


Untuk kali ini Daniella tidak bisa menangis lagi seperti sebelum-sebelumnya. Dia berhasil, juga terkejut tidak bisa menangis dalam keadaan seperti ini.


Setelah dirasa cukup baginya untuk berbicara sekarang, Daniella benar-benar pergi dari tempat itu. Dia meninggalkan Aksa yang masih berdiri seperti patung.


"Gue juga lega hari ini bisa mengungkapkan perasaan gue ke lo walaupun akhirnya hanya sebatas teman. Bukan untuk memiliki. Gue gak akan menyerah sampai sini Dan. Biarkan gue memiliki lo seutuhnya."


***


Bel pulang sekolah sudah berbunyi sejak empat puluh menit lalu dan area sekolah juga mulai sepi. Langit sangat mendung di atas sana dan rintik gerimis mulai membasahi jalanan, menciptakan genangan air kecil di permukaan jalan.


Daniella pulang paling akhir karena masih harus mengikuti ekskul IPA-Fisika yang dia pilih sebagai ekstrakurikuler-nya di sekolah. Cewek itu baru melangkah keluar dari gerbang sekolah dan mencari tumpangan untuk dirinya. Dia lupa dia tidak punya HP untuk menghubungi Alin menjemputnya. Dia tidak sempat meminta nomor telepon Alin yang baru.


Sementara dia menguatkan hatinya saat melihat murid-murid yang satu ekskul dengannya pulang dengan dijemput oleh orangtuanya masing-masing dengan mobil mewah mereka.


Bahkan dia semakin cemburu saat melihat pemandangan antara anak yang beruntung karena di omeli oleh orangtuanya yang sepertinya over protective kepadanya.

__ADS_1


"Aduh Chelsea sayang kenapa gak langsung hubungi mama atau papa sih? Ini musim hujan loh, kamu, kan, jadi basah kuyup begini? Entar kamu sakit sayang. Cantiknya mama sama papa gak boleh sakit loh. Masuk yuk sayang."


"Iya ma, Chelsea juga baru pulang nih. Huft dinginnya." keluh Chelsea.


"Yaudah sekarang kita harus cepat balik rumah. Mama udah masak daging ayam panggang sama sup ayam kesukaan kamu. Kita makan sup biar gak kedinginan,"


"Iya ma, makasih mamaku sayang."


Meskipun hanya sebagai penonton, Daniella ikut merasakan bahagianya menjadi Chelsea. Bibirnya mengukir senyum ikut senang. Dia buang muka dan melangkah cepat-cepat saat Chelsea melihatnya.


"*Loh, Daniella?"


"Dan, Daniella... " mamanya Chelsea ikut mengulang nama Daniella.


"Daniella*!"


Sayang, Daniella sudah pergi lebih jauh sampai tidak kelihatan di hadapan mereka.


Sementara itu Daniella yang tengah berlari menembus hujan deras hampir terjatuh namun kedua tangannya berpegang pada tubuh seseorang yang menangkap dirinya, berusaha agar Daniella tidak terjatuh.


Dia melihat orang yang menolongnya tersebut. Ternyata bundanya, Alin.


"Daniella sayang," kata Alin merasa bersalah. Tentu saja dia juga menyaksikan apa yang dilihat Daniella tadi dari balik kaca mobil saat Shakila menyetir mobilnya.


Dia merasa sakit hati melihat Daniella yang seperti ini. Setetes partikel bening sukses jatuh dari sudut bola matanya. Dia memeluk Daniella sebentar dan melindungi tubuh itu untuk masuk ke dalam mobil.


Seorang gadis yatim piatu yang menyaksikan keharmonisan antara sang mama dan anak perempuannya. Alin tentu saja merasakan pedihnya perasaan Daniella.


"Terimakasih bunda, dan tante Shakila udah jemput Daniella secepat ini. Hihihi, padahal tadi Daniella udah bingung gimana caranya menghubungi bunda." ucap Daniella tulus.


Shakila tersenyum dan mengangguk, terlihat dari kaca mobil yang berada di depannya. Lalu mobil itu berjalan dengan kecepatan sedang di bawah gerimis yang berubah menjadi hujan deras.


.


.


.


👍, 📝 dan vote dari kalian menjadi penyemangat bagi author.

__ADS_1


__ADS_2