Tale Of Daniella

Tale Of Daniella
Chapter 09


__ADS_3

Pertolongan pertama untuk Daniella telah gagal. Terpaksa ia dibawa ke rumah sakit yayasan sekolah untuk di rawat lebih lanjut. Hanya dua orang yang diperbolehkan menjaganya, yaitu Rivaldo dan miss Agni, mewakili guru.


"Pasien sepertinya benar-benar lelah dan ada yang membuat keadannya tertekan, ada keluarga pasien yang bisa kami hubungi?" tanya dokter tersebut.


"Sepertinya ada dokter," balas Rivaldo. Dia membawa ransel Daniella tadi dan mencari ponsel disana. Namun hasilnya nihil.


"Dia gak punya HP? Kok bisa? Jadi gimana kita bisa menghubungi keluarga pasien?"


"Sangat di sayangkan dia butuh keluarganya. Dulu sewaktu kelas satu semester dua, dia pernah datang ke sini dan konsultasi karena depresi." cerita dokter itu merenung sebentar.


"Sepertinya dia datang diam-diam karena tidak diperbolehkan oleh orangtuanya. Suruhan mamanya langsung membawanya paksa ke dalam mobil. Dia menangis sangat menyedihkan, dokter tidak bisa bantu karena tidak bisa ikut campur kehidupan pribadi orang-orang."


"Saya dokter yang dia lihat pertama kali, dia bilang 'Ma, aku depresi. Boleh ya gak sekolah hari ini?"


"Mamanya bilang, 'Jangan lebay, kamu harus sekolah, cepat pergi sana,"


"Itulah alasan saya mengaitkan kesehatannya ini dengan kesehatan mentalnya."


Rivaldo dan miss Agni terdiam. Tidak menyangka gadis yang biasanya di kenal periang di sekolah itu depresi dan ingin konsultasi ke dokter.


"Ah, maaf saya lancang. Kalau begitu saya pamit dulu. Usahakan sekolah menghubungi pihak keluarganya." pamit dokter tersebut ketika menatap arloji hitam yang melingkar di tangan kirinya.


"Ya dokter, sukses selalu." dokter itu mengangguk pelan dan akhirnya menghilang dari pandangan mereka.


"Rivaldo, Tasya tinggal bersama dengan Daniella kan? Coba hubungi dia." saran miss Agni.


"Saya gak punya nomor HP-nya miss." balas Rivaldo seadanya.


"Kalau begitu coba hubungi temanmu untuk menyuruh Tasya kemari." usul miss Agni lagi.


"Iya miss," Rivaldo menjauh sedikit dan merogoh HP-nya dari dalam saku celana sekolahnya sambil sesekali melirik Daniella yang masih keringatan dan belum sadar.


Beberapa saat kemudian barulah telepon Rivaldo tersambung ke telepon Aksa. Dia malas untuk menelepon Kiel yang over hiperbola dalam setiap situasi.


"*Halo," sapa Rivaldo.


"Apaan Riv? Sepuluh menit lagi udah mau bel nih, lu diman..."


"Itu gak penting sekarang. Plis temui Tasya terus bilang adiknya lagi di rumah sakit sekolah,"


"Hah? Kok bisa masuk rumah sakit?"


"Panjang ceritanya. Cepat suruh dia kemari gue gak bisa lama-lama di sini lah. Gue juga hargain elu yang suka sama dia." kata Rivaldo.


"Santai. Gue yakin lu gak sebrengsek itu. Entar gue telepon lagi kalau udah ketemu sama Tasya."


"Ok." Rivaldo mematikan teleponnya dan kembali ke samping ranjang Daniella.


"Gimana? Tasya nya bisa datang gak?"


"Belum tentu miss. Saya udah suruh Aksa temui Tasya kemari."


"Bisa kamu jaga dia sampai Tasya datang? Saya masih harus rapat dengan guru lain,"


Rivaldo mengangguk pasti. Miss Agni pun beranjak dari duduknya dan membelai wajah Daniella sebelum pergi.


"Semoga cepat sembuh nak."


Sepeninggalan miss Agni, Rivaldo merasa kesepian karena hanya dia yang sadar di ruangan ini sementara tidak dengan Daniella.


"Lu bikin gue sama temen gue yang lain repot mulu ya? Sadar woi! Lu kira gak bosan gue nungguin lu?" Rivaldo menjentikkan jarinya tepat di wajah Daniella, tapi gadis itu masih bergeming di tempatnya. Diam dengan mata yang masih tertutup.


"Sebenarnya lu kenapa dah?" kata Rivaldo tanpa ekspresi sambil tangannya melap keringat Daniella yang bercucuran tanpa henti.


Tiba-tiba saja Rivaldo melihat bekas lebam berwarna coklat di tangan Daniella. Tak hanya satu tapi ada banyak.


"Mungkin karena sering dibuli sama Jennifer."


Tak lama kemudian telepon Rivaldo kembali berbunyi dan membuat Rivaldo segera menjauh dari Daniella, takut istrahat cewek itu terganggu.

__ADS_1


"*Gimana sa? Tasya bisa datang kan?"


"Tasya katanya gak nampak sejak jam istrahat kedua kemarin Riv, kayaknya lagi sama Vernon tuh cewek," Rivaldo terdiam mendengar perempuan yang ia suka berjalan bersama dengan Vernon.


Tapi mau bagaimana pun juga ia tidak harus bisa merelakan cewek itu bersama orang yang bisa membuatnya bahagia.


Rivaldo mengacak-acak wajahnya frustasi. Terpaksa dia harus menjaga Daniella sampai pulang sekolah.


"Cepat sadar lo, nyusahin bener. Arghhh, harusnya gue gak keluar kelas tadi." Rivaldo mengatakannya dengan sangat menyesal. Agar tidak bosan, dia memilih memainkan game di HP-nya.


Dia sengaja mengoceh saat bermain game agar Daniella cepat sadar dari pingsannya.


"Tuan muda Rivaldo, pasien sedang beristirahat, harap tenang." tegur dokter yang tadinya sempat menangani Daniella. Dokter itu kebetulan lewat dan melihat Rivaldo yang sengaja mengoceh dan bisa mengganggu istrahat pasien.


"Ck, iya dok." balas cowok itu ogah-ogahan dan kembali tenang seperti semula. Dokter itu telah pergi, sekarang Rivaldo menyalakan HP-nya dan memutar video tentang koleksi mobil sport dengan volume yang cukup pelan.


Tapi itu tidak berhasil mengobati rasa bosannya. Dia pun mematikan HP-nya dan kembali duduk di kursi jaga dekat ranjang pasien.


"Sejak gue kenal lo, lo tau gak hidup gue amat sangat membosankan? Aksa juga jadi menomorduakan pertemanannya. Siapa sih lo? Gue sebenarnya gak suka liat lo di sekolah ini. Lo nyusahin tau gak?" umpat Rivaldo.


"Kalau lo merasa gak enak nyusahin gue sama temen-temen gue, silahkan jaga diri lo sendiri baik-baik."


"Kalau begini lo nyusahin orangtua lo juga kan?" katanya lagi.


"Cepat sadar lo. Jaga kesehatan sendiri. Anak gadis udah besar kok gak tahu jaga kesehatan?"


"Tau gak? Lo bukan siapa-siapanya Aksa yang harus diperhatiin 24 jam setiap hari. Udah kek ngurus anak aja si Aksa sementara teman gue suka sama lo tanpa dikasih kepastian sama lo. Lo peka dikit napa?"


"Aksa aja gak pernah seperhatian itu sama keluarganya sendiri. Dia benci keluarganya. Dan lo bisa merebut perhatian Aksa."


"Gue berharap Aksa ilfeel sama lo biar semuanya kelar. Urusan lo mau sakit gak, sehat apa nggak. Wajah lo dan prestasi lo emang mendukung buat disukai banyak cowok, tapi itu gak berlaku buat teman-teman gue. Lo hanya bermain-main sama Aksa."


"Semoga lo gak deketin Aksa lagi. Cukup sampai hari ini."


***


"Semoga cepat ketemu sama Daniella." batinnya.


Ini memang sudah jam pulang sekolah. Alin sengaja cepat menjemput Daniella agar mereka berdua aman untuk sementara.


Seperti pepatah yang mengatakan sepandai-pandainya tupai melompat, pasti akan jatuh juga. Alin tahu itu. Cepat atau lambat persembunyian mereka juga akan diketahui oleh mata-mata tersembunyi Nadia. Entah sampai kapan mereka harus sembunyi-sembunyi seperti ini.


Alin bertanya kepada beberapa guru yang kebetulan sedang berkumpul dan mengobrol.


"Permisi, sir and miss, saya mau mencari keponakan saya yang bersekolah disini. Saya tidak tahu letak kelasnya ada dimana. Namanya Daniella. Barangkali diantara anda semua ada yang tahu."


Mereka semua kaget dan saling tukar pandang.


"Anda tantenya Daniella ya? Maaf kami tidak bisa menghubungi anda karena Daniella tadi sempat kejang-kejang dan akhirnya dirawat di rumah sakit sekolah."


"Ap, apa? Bagaimana bisa? Dia baru saja pulih dari sakitnya kemarin!"


"Maafkan kami nyonya. Ini kesalahan oknum guru kami yang terkadang memberikan hukuman di luar batas."


"Itu tidak penting asal kalian tahu saja! Guru sekolah internasional macam apa kalian ini? Sekarang dimana keponakan saya hah?" bentak Alin.


"Tenang nyonya. Mari saya antar,"


"Tidak perlu. Sebut saja alamat rumah sakitnya." tolak Alin tegas.


"Ba, baiklah. Huft, Daniella di rawat di rumah sakit Athlanta Education, komplek Dreamland Evil. Sekitar satu kilometer dari sini."


Tanpa berpikir panjang, Alin segera berlari ke jalan dan menyetop taksi.


***


Alin tiba di rumah sakit dan menghampiri meja resepsionis.


"Permisi suster saya mau bertanya. Pasien atas nama Daniella Calandra di rawat dimana ya?"

__ADS_1


"Daniella Calandra? Sebentar nyonya. Akan saya proses."


Alin mengangguk dan berharap-harap cemas.


"Pasien atas nama Daniella Calandra dirawat di ruang opname Rose kelas 1, lantai dasar. Guru terpaksa mengopnamenya karena kondisinya cukup parah tadi... "


"Terimakasih sus," Alin tidak mengatakan apa-apa lagi dan segera pergi mencari ruangan yang dimaksud.


***


Alin sangat terburu-buru saat ingin memasuki ruangan opname Daniella sampai dia akhirnya menabrak seorang dokter dengan pakaian bedah yang berjalan bersama dokter lainnya.


"Tolong hati-hati nyonya." kata dokter itu dingin. Alin sama sekali tak menjawab dan masuk ke dalam ruangan opname Daniella.


Rivaldo yang sedang mengobrol bersama Aksa dan Kiel kaget ketika melihat Alin masuk.


"Daniella, kok bisa gini sih sayang? Harusnya tadi waktu dihukum bilang aja kamu baru sembuh," ratap Alin. Matanya berkaca-kaca sambil membenamkan kepalanya dan kedua tangan yang memeluk tubuh Daniella yang terbaring lemas.


Rivaldo, Aksa dan Kiel menatap aneh pada Alin. Perempuan itu apakah ibunya Daniella? Kalau iya, mereka tak percaya ibunya masih awet muda dan sangat cantik, namun tidak mirip dengan Daniella.


"Maaf, anda ibunya Daniella?" tanya Aksa hati-hati.


"Bi, bibi Alin... " rintihan itu keluar dari mulut Daniella pelan, nyaris tak terdengar.


"Akhirnya kamu sadar sayang. Bibi... eh mama khawatir sama kamu," Alin ikut memelankan suaranya.


"Kamu baru aja sembuh sayang, kenapa guru kamu tega seperti ini kepadamu?"


"Maafkan guru kami bu." kata Kiel ikut merasa bersalah.


Alin menatap sebentar ke arah ketiga cowok tersebut.


"Daniella emang gak punya teman perempuan ya? Pantas... hahahah!" kata Alin tertawa hambar.


Sementara Alin tiba-tiba kaget ketika melihat Daniella melepas infus dari tangannya dan bangkit dari ranjangnya.


"Ma ayo pergi dari sini." kata Daniella pelan.


Alin bimbang.


"Tapi Dan lo masih belum sembuh," kata Aksa khawatir.


Daniella melirik Aksa dan menatap cowok itu nanar.


"Gak apa-apa. Makasih perhatiannya." Daniella menjawabnya dingin tanpa ekspresi.


"Ayo ma," Daniella menarik tangan Alin keluar dari sana sambil membawa tasnya.


Semuanya bingung. Apa yang terjadi dengan Daniella? Kenapa bisa tiba-tiba seperti tadi?


Meski bingung, Alin menurut saja.


Ketika mereka keluar, mereka berpapasan dengan dokter bedah yang ditabrak Alin tadi.


"Kenapa dokter itu masih disini? Aneh," batin Alin.


"Dokter keluarga saya akan membayar semuanya besok." kata Daniella tegas.


Dokter bedah itu kebingungan di tempatnya.


.


.


.


Ramaikan lapak ini ya, jangan lupa share dan rekomendasikan ke teman-teman kalian yang sesama pembaca Mangatoon/Noveltoon.


👍📝 dan vote dari kalian menjadi penyemangat bagi author🤧

__ADS_1


__ADS_2