Tale Of Daniella

Tale Of Daniella
Chapter 07


__ADS_3

Rumah besar dan megah bak kastil seperti dongeng itu terlihat sangat tenang meski banyak ratusan pelayan dengan seragam khas tampak sibuk membersihkan rumah megah itu.


Itu adalah rumah keluarga Heindrick yang terpandang dan disegani. Salah satu cucu keluarga Heindrick adalah Rivaldo Heindrick. Cowok itu kini tengah sibuk memainkan game mobile yang cukup populer sekarang. Dia tak sendiri ada Aksa dan Kiel yang menemaninya.


Jika Rivaldo dan Aksa sangat tenang bermain game, maka tidak dengan Kiel. Cowok itu heboh dan kadang-kadang toxic.


"Susah... game MOBA-nya... dahlah nyerah gue," keluh Kiel.


"Ah gak cowok banget lo Kiel," ejek Aksa. Kiel yang mendengarnya langsung kesal.


"Kenapa jadi lo yang ngatur gue sih Aksa?" balas Kiel.


"Tapi Aksa bener sih heheh. Gak cowok namanya kalau berhenti di tengah jalan yang baru saja di mulai." timpal Rivaldo menyengir kecil. Dia masih fokus dengan PS 4-nya.


Kiel mengedikkan bahunya dan memilih untuk berhenti bermain game lalu meneguk minuman bersoda yang tersedia beberapa di atas meja.


"LOL, itu cuma berlaku buat yang high IQ, lo sama Aksa contohnya,"


Rivaldo dan Aksa tidak menjawab lagi.


"Kiel, kira-kira kalau gue pacaran sama Daniella lu dukung gak?" pertanyaan Aksa lolos membuat Kiel menyemburkan minumannya.


"Jorok banget sih," keluh Rivaldo karena wajahnya yang terkena semburan minuman dari mulut Kiel. Kiel akhirnya tersedak.


"Hah, udah gue duga. Lebay lo. Diceritain gitu aja shock akut!"


Aksa merasa dirinya sangat bodoh bertanya sesuatu hal kepada Kiel. Sudah tahu Kiel akan lebay seperti ini tapi dia masih bisa bertanya kepada cowok itu.


"Iya minta maaf dah."


"Gak usah di perpanjang lagi."


Kiel pun berusaha serius dan berpikir sebentar.


"Hah, lu sama Daniella? Ya iya dong."


"Lu bilang apa barusan Ki?" Rivaldo kaget Kiel setuju dengan pertanyaan Aksa.


Meski tak melihat Kiel, Aksa merasa puas dengan jawabannya.


"Dia milik gue gak akan ada yang bisa ganggu dia lagi. Dan lo Riv, jangan terlalu sering berantem sama Daniella."


"Ya gimana ya? Masa lu gak tahu gue suka usilin cewek kayak Daniella?" kata Rivaldo hati-hati meski dalam hatinya dia ingin menjauhkan Aksa dari Daniella. Karena Daniella, Aksa berubah menjadi bucin.

__ADS_1


"Sial, cewek satu itu,"


"Kalau udah tiba waktunya gue mau lamar dia."


"Udah kek mau nikah aja bahasa lo. Ya selamat sih. Semoga dia 24/7 lo selamanya!"


Aksa mengangguk setuju.


"Bang Aksa ganteng siapa cewek yang gak naksir? Tapi di banding semua cewek yang deketin lo lebih goals Daniella lah."


"Kalau gue bayangin Rivaldo sama Daniella, beuh berantem terus. Rivaldo predator dan Daniella plankton-nya."


Aksa memelototi Kiel tajam dan menghembuskan nafas kasar.


"Jangan marah. Gitu doang lagi pula gue gak suka sama cewek lu Aksa. Ya kali demen sama punya teman." kata Kiel dan Rivaldo bersamaan.


***


"Ma tolong jangan kayak gini ma." lagi-lagi Daniella harus menangisi nasibnya yang malang. Nadia merusak kerapian kamarnya dan hendak merusak biola kesayangannya. Satu-satunya peninggalan ayahnya yang masih bisa dia ingat.


"Kau masih mau menyimpan barang yang bahkan udah gak bisa kamu pakai lagi? Kenapa kau hobi menyimpan barang rongsokan seperti ini?"


JLEB! 'Barang rongsokan' katanya. Daniella merebut biola itu dan mendorong Nadia. Dia tidak bermaksud melawan seperti itu. Daniella kalang kabut. Perasaannya tidak tenang, nampak dari wajahnya yang keringatan dan nafasnya yang terburu-buru.


Daniella berteriak dan melempar beberapa benda yang berserakan di sekitarnya.


"Jangan mendekat kalau mama gak mau ikut campur sama polisi," ancam Daniella gemetaran.


"Anak sialan," umpat Nadia.


Nadia mundur perlahan dan Daniella menggunakan kesempatan itu untuk menelepon polisi. Baru saja jarinya menekan beberapa tombol di telepon rumah, Nadia sudah menjambak rambutnya dan membuat Daniella menyesal karena khilaf.


"Papa mamamu sudah meninggal tak ada lagi yang bisa membantumu. Gadis malang, maafkan aku karena telah membuatmu menderita sejak kecil, tapi kamu pantas mendapatkannya."


"Ini rumah papa mama Daniella dan juga Tasya. Mama bahkan bukan orangtuaku. Pergi dari sini," usir Daniella takut-takut.


"Hah, sepertinya Tasya benar-benar mendapatkan tempat yang spesial di hatimu. Tapi aku adalah ibu kandung Tasya, jadi aku juga bisa memilih untuk tinggal di rumah ini."


"Kau tak pantas menjadi ibu untuk Tasya." Daniella meneriakkan kalimat itu dan membuat Nadia tertawa jahat.


"Anak buahku, bantu aku memindahkan gadis itu dari sini. Mataku jijik melihatnya,"


Daniella tak percaya anak buah papanya malah mengkhianatinya.

__ADS_1


"Kalian bekerja untuk mama Nadia? Kalian mengkhianati papaku. Aku akan membuat kakek tahu siapa kalian sebenarnya dan membuat orang tahu kalian adalah orang buangan yang tak pantas untuk dibaiki. Padahal dulu kalian sangat baik. Kenapa kalian tak melaporkan mama Nadia ke polisi?" tangis Daniella.


"Lihatlah, cucu keluarga Calandra memandang orang-orang seperti kalian dengan seenaknya. Lagipula apa kau tidak tahu keluargamu pindah ke kota lain? Tak akan kuberitahukan hahaha!" balas Nadia licik.


"Kalian mengkhianati papa mamaku. Hiks, hiks, hiks... " tangisan Daniella terdengar menyedihkan membuat pekerja yang ada di rumah itu merasa pengecut, tak bisa melindungi putri almarhum tuan dan nyonya mereka yang baik hati.


"Nyonya Nadia, tolong lepaskan Daniella. Dia masih muda setidaknya... "


"Diam kau hanya pembantu. Tutup mulutmu."


Sementara tangisan Daniella makin menggema seiring meninggalkan kamarnya.


***


Daniella di sekap oleh anak buah Nadia dan membawa gadis malang itu dengan menggunakan mobil hitam. Mereka membawanya ke sebuah tempat misterius.


Seorang anak buah wanita yang juga berpakaian sama dengan anak buah pria lainnya menghentikan mobil.


"Lepas ikatannya atau nyonya Daniella akan kesakitan."


Seorang pria berkaca mata hitam itu mengangguk dan langsung melepas ikatan tangan Daniella.


"Alin, jagalah dia. Kami akan pergi. Aku tak pernah menyangka kita semua akan menyakiti nyonya Daniella, cucu keluarga Calandra. Meskipun hanya sandiwara bodoh seperti ini, aku merasa menjadi seperti seorang pengkhianat dan tidak tahu diri kepada keluarga Calandra."


Alin yang ternyata telah kabur dari rumah Daniella menganggukkan kepalanya.


Sebelum itu anak buah wanita bernama Liza itu membelai rambut panjang Daniella. Dia menatap wajah lelah dan pucat itu dengan nanar dan sakit hati.


"Maafkan aku. Aku dan yang lain terpaksa seperti ini Daniella. Kami memang tidak akan pernah termaafkan. Selamat tinggal nyonya kecil. Semoga kami semua bisa berjumpa lagi denganmu suatu hari nanti. Tapi bukan sekarang." kalimat itu sukses membuat semua anak buah Nadia yang lainnya merasa kecewa karena telah mengkhianati Daniella.


Alin sesak mendengarnya. Tak hanya hidupnya yang dalam bahaya, tapi juga Daniella.


"Kami harus pergi. Kalian juga pergilah yang jauh dari tempat ini. Jangan sekali-kali suruhan Nadia bisa mengetahui kalian."


Alin mengangguk pasrah. Anak buah Nadia kembali ke mobil. Suara mesin mobil itu semakin pelan dan menjauh.


Alin bangkit berdiri dan menggendong Daniella di punggungnya. Kini Daniella harus menderita bersamanya.


.


.


.

__ADS_1


Jangan lupa share/rekomendasikan cerita ini ke teman-teman kalian yang sesama pembaca Mangatoon/Noveltoon🤧


__ADS_2