Tale Of Daniella

Tale Of Daniella
Chapter 05


__ADS_3

Pulang sekolah, Daniella menunggu Tasya namun ternyata Tasya sudah pulang dan membuatnya langsung menuju ke kelas Aksa. Aksa memang sekelas dengan semua teman-temannya. Mereka bisa meminta apa saja ke sekolah ini karena sekolah ini dikendalikan oleh keluarganya.


"Kak Aksa semoga cepat keluar dong," batin Daniella berharap.


Ketika Daniella mencoba mengintip ke dalam kelas Aksa, kepalanya menabrak dada bidang seseorang yang bisa dipastikan lebih tinggi darinya.


"Siap... oh," Daniella tak berbicara lagi. Dia mengusap-usap kepalanya. Siapa lagi kalau bukan Rivaldo. Huft.


"Lo lagi ck," sinis Rivaldo langsung pergi sambil memegang tali ransel tasnya dan langsung pergi.


Daniella tak ingin memperpanjang masalah lagi dengan Rivaldo.


Beberapa saat kemudian Aksa yang muncul di hadapannya.


"Daniella udah lama nunggu hm?" tanya Aksa. Ia merasa tak enak jika ternyata Daniella sudah lama menunggunya keluar kelas.


"Belum kak Aksa. Masih barusan banget." sela Daniella.


"Baguslah, Daniella makan bareng lagi yuk. Kali ini gak di kantin. Gue udah pesan paket makanan untuk kita berdua." tawar Aksa.


Daniella tersenyum manis ke arah Aksa. Dia juga sudah bosan jika terus memakan makanan kantin.


"Kak Aksa tahu banget sih soal ini." Daniella tiba-tiba lancang menggandeng lengan Aksa.


Sedangkan Aksa kaget dan merasa jantungnya tidak aman sekarang. Bisa kah dia berharap membahagiakan perempuan ini sebagai pacarnya? Dia akan senang jika itu takdirnya.


"Makan di lab deh heheh di jamin higienis," canda Aksa untuk mengurangi ketegangannya.


"Okey dokey, eh... " Daniella segera melepas gandengan tangannya begitu sadar.


"*Daniella gila, kamu bukan pacarnya. Bisa-bisa kak Aksa risih sama kamu," gumam Daniella.


"Kok dilepas sih Dan?" sedangkan Aksa berkata lain*.


***


"Ini kan paket makanan mahal yang sampai jutaan itu? Mahal banget loh kak Aksa. Ini pasti di pesan dari luar negeri kan?"


"Soalnya ini pre-order karena masih baru dan sementara hanya bisa di pesan dari luar negeri." tambah Daniella tak bisa berhenti mengagumi paket makanan mahal tersebut.


"Iya emang Dan. Dari Jepang lebih tepatnya. Om gue beli sampai seratus juta lebih. Dia dapat banyak jadi gue kebagian deh. Udah lah gak ada yang spesial. Paket makanan doang. Cus langsung santap." kata Aksa mengakhiri.


"Keluarga kak Aksa kaya banget." puji Daniella.


"Keluarga Rivaldo lebih kaya lagi Dan."


"Gak tetap kak Aksa di mata Daniella. Jangan omongin nama dia deh kak."


"Iya, iya. Hahah, langsung bad mood lo. Cuma lo sama Tasya yang gak suka sama Rivaldo di sekolah ini."


Daniella manggut-manggut.


Aksa membuka paket makanan bawaanya Dan menyuguhkan yang pertama untuk Daniella.


Paket makanan tersebut di kemas dengan bahan aluminium berkualitas. Terdapat nasi, topping daging yang banyak, sup ayam yang tetap panas, terdapat dua kotak bekal makanan berukuran besar yang berisi potongan berbagai buah, makanan pencuci mulut dan roti-rotian. Ada juga tumbler yang berisi air mineral. Dan masih banyak lagi. Liur Daniella telah terbit lebih cepat Dan setelah membaca doa, ia langsung lahap menyantap makanannya.


"Kapan lagi coba makan seenak dan sebanyak ini? Harus sampai habis," pikir Daniella.


***

__ADS_1


Daniella pulang. Setidaknya dia bahagia sampai rumah dan makan dengan kenyah hari ini. Begitu Daniella melepas sepatunya, Nadia membentaknya.


"Kemana aja baru pulang jam segini hah? Kamu pacaran?" duga Nadia sementara disana Tasya berdiri mengamati keduanya.


Daniella terhenyak dan hanya bisa diam menerima dirinya dibentak tanpa ampun.


"Daniella... "


"Diam kamu Tasya, pergi jangan ikut-ikutan."


"Lo yang diam bego. Dia gak apa-apain lo lah lo malah bentak dia. Waraskah? Stres lo lama-lama."


"Udah lah kak Tasya... " Daniella takut Tasya lepas kendali dan melemparkan sesuatu ke arah Nadia lagi.


"Cabut sekarang Dan. Biar gue yang hadapin."


Daniella menuruti Tasya dan berusaha untuk tidak memedulikan Nadia yang membentaknya. Tapi diam-diam dia mengintip apa yang terjadi antara ibu anak kandung itu.


"Tasya kamu jangan berpikir saya akan terus mengalah pada kamu," Nadia menampar Tasya sementara Tasya hanya terdiam.


Sementara Tasya mengepalkan kedua tangannya dan menggigit bibirnya.


"Lo benar-benar bukan ibu gue kan? Lo gak ada niatan sedikit pun mencintai papa gue."


"Saya ibu kandung kamu Tasya. Sejak awal saya memang tidak pernah mencintai ayahmu. Kami di jodohkan. Harusnya yang menjadi suami saya adalah ayahnya Daniella."


"Tega-teganya lo bilang gitu. Gara-gara lo papa gue menderita dan meninggal!" teriak Tasya naik pitam sementara Nadia menjauh dan merasa panik karena Tasya mulai mengambil barang di sekitarnya untuk melampiaskan amarahnya kepada Nadia.


Tasya menangis terpuruk. Terbayang kenangan masa kecilnya yang bahagia bersama papanya dan semua rusak karena Nadia hadir kembali.


"K, kak Tasya..." gumam Daniella pelan..


Tasya tak peduli dan melewati Daniella begitu saja.


Doa Daniella hanya satu dari dulu, semoga dia dan Tasya mendapat kebahagiaan dan bisa melewati semua ini.


***


Nadia lagi-lagi pergi meninggalkan rumah-rumah di jam seperti ini. Daripada tidak ada kerjaan, Daniella memilih membantu Alin membuat kue di dapur.


Dia dan Alin membuat kue brownies coklat. Keduanya sangat cekatan dan teliti dalam membuat kue itu sehingga pekerjaan membuat kue cepat selesai.


Keduanya mencicipi dan saling pandang karena merasa senang rasanya sesuai ekspetasi:


Tasya POV:


Ini ruangan yang paling berbeda dari seluruh rumah Daniella. Rumah ini bukan rumah milik orangtuaku ataupun keluargaku. Ini rumah milik Daniella. Aku hanya menumpang saja.


Di ruangan ini ada ratusan rak buku raksasa yang menurutku menampung sejuta buku lebih. Ada piano, meja baca, sofa dan masih banyak lagi.


Aku suka sekali bermain piano. Daniella tak pernah keberatan aku seenaknya memasuki ruangan ini pertama kali karena ketahuan olehnya. Dia hanya tersenyum. Daniella putri keluarga kaya raya dan aku dari latar belakang keluarga sederhana.


Dia sangat baik. Dulu orang kaya yang kukenal selalu menindas orang miskin seperti aku dan keluargaku.


Aku membuka pelan kain yang menutupi piano besar itu dan duduk lalu menekan tuts-tutsnya dengan hati-hati.


Hari ini hari ulang tahunku dan aku genap berusia 19 tahun. Tak ada yang mengingatnya. Dulu papa yang merayakan hari ulang tahunku tapi itu tak mungkin lagi. Sudah empat tahun papa meninggal. Dan wanita yang melahirkanku bahkan tidak mengingatnya. Aku kesepian. Mungkin hanya Vernon yang bisa kuharapkan untuk membuat surprise ulang tahunku kali ini. Tidak mungkin dia lupa kan?


Aku meneleponnya sejak tadi tapi ia tak mengangkatnya sama sekali. Daniella juga tidak mungkin tahu ini hari ulang tahunku. Dia tak akan berani bertanya seperti itu padaku.

__ADS_1


"Happy birthday to me.... happy birthday to me.... hap... " Jari tanganku berhenti menekan tuts piano. Aku menangis di hari yang seharusnya membuatku berbahagia.


Tapi tiba-tiba saja aku mendengar nyanyianku disahut oleh orang lain.


"Happy birthday to you, happy birthday to you, happy birthday to you, happy birthday, happy birthday, happy birthday to you... "


Aku tersenyum terharu melihat ketiga orang yang berada di hadapanku ini.


Vernon kekasihku, Daniella yang baik hati dan Alin wanita dewasa yang tulus.


Mereka bertiga tersenyum manis dan bernyanyi dengan semangat. Daniella memegang kue ulang tahunku dan akhirnya tiba momen dimana aku meniup lilin.


Aku meniup lilin hingga padam dan tersenyum lega.


Daniella memberiku pisau kue untuk memotong kue ulang tahunku tersebut.


"Suapan pertamanya untuk siapa nih kak?" tanya Daniella.


Aku tersenyum simpul dan melirik Vernon. Vernon tersenyum melihatku. Dia akhirnya membuka mulut dan menerima suapan kue dariku. Kemudian menyusul Daniella dan bibi Alin.


"Selamat ulang tahun sekali lagi sayang. Semoga kamu selalu mendapat kebahagiaan dan aku bersamamu sampai selamanya."


"Vernon bawa hadiah apa?" celetuk bibi Alin tertawa.


"Yang pastinya sangat berharga untuk Tasya seorang." Vernon lalu mengeluarkan sebuah kalung emas dengan mata kalung bertuliskan, 'Tasya' dari kotak perhiasan.


Daniella dan bibi Alin menatap takjub pada Vernon.


"Kalian berdua pasangan yang serasi. Pasti bertahan selamanya," puji Daniella.


"Iya benar." timpal bibi Alin. Kami berdua tersenyum kemudian Vernon mencium keningku.


"Oh ya Daniella? Darimana kau tahu tanggal ulang tahunku?"


"Maaf kak aku pernah melihatnya di buku rapor kakak waktu mama Nadia nyuruh aku beresin kamar kakak."


"Gak apa-apa,"


Kemudian Daniella memberiku hadiah lain lagi. Aku memeluk Daniella dan bibi Alin.


Hari ini bukan hari sedih lagi. Aku sangat bahagia.


Momen terakhir hari itu, kami berpose saat Vernon mengambil gambar selfie dengan kamera HP-nya.


Dia mengunggah momen hari ulang tahunku di akun instagram-nya.


.


.


.


Cast ruangan



Ramaikan lapak ini ya🤧


Jangan lupa👍📝dan vote-nya yah

__ADS_1


Jangan lupa share/rekomendasikan cerita ini ke teman-teman kalian yang sesama pembaca Mangatoon/Noveltoon🤧


__ADS_2