Tale Of Daniella

Tale Of Daniella
Chapter 14


__ADS_3

Happy reading๐Ÿ“–


.


.


.


Daniella yang baru saja terbangun dari tidur siangnya merasa aneh ketika melihat Alin berkemas-kemas memasukkan beberapa pakaian dan barang ke dalam sebuah koper besar. Dia masih setengah sadar dan mengigau.


"Hoamh...bunda, bunda. Kita masih harus waspada di dalam rumah ini kita tidak boleh keluar kan? Kita sedang dalam... " kalimat Daniella terpotong saat Alin malah menyela ucapannya. Wanita itu sepertinya sedang tidak baik-baik saja.


"Daniella? Nak? Kamu sudah bangun? Syukurlah. Ayo cepat bersiap-siap dan pergi dari sini. Ayo cepat... "


"Tapi kenapa bunda?" tanya Daniella langsung bangkit berdiri.


"Nadia sudah tahu kau masih ada di kota ini dan belum di jual ke tangan mucikari dan gawatnya sekarang dia sedang mengincar kita," jelas Alin memegang pundak Daniella yang refleks menutup mulutnya, seakan sangat shock dengan berita itu.


"Kamu tahu resikonya kalau kita tidak bergerak cepat dan lengah... kemungkinan kita,"


"Sudahlah bunda tidak mau memperpanjang ocehan ini lagi. Sekarang kamu mengerti kan sayang?"


"I, iya bunda... "


Dalam hati Daniella berharap semoga masih ada celah bagi mereka untuk selamat dari jerat Nadia.


***


Daniella dan Alin turun ke lantai bawah rumah Alin dan hendak keluar sambil mengintip suasana sekitar.


"Sebentar bunda," Daniella menghentikan langkah Alin ketika bundanya itu sudah memegang gagang pintu. Alin menurut. Daniella mengintip lewat jendela depan. Dia sangat kaget ketika melihat sebuah mobil hitam dan beberapa manusia misterius berpakaian serba hitam menatap rumah Alin lekat-lekat.


Daniella langsung berbalik ketika dia melihat seseorang dari mereka melirik curiga ke arah jendela yang ia gunakan untuk mengintip tadi.


"Ada apa Daniella?" bisik Alin lirih.


"Pelankan suara bunda..." balas Daniella sambil menempelkan telunjuknya ke bibir.


"Oh... maaf," Alin balik membalas dengan lirih.


"Mereka benar-benar gila... kenapa bisa mereka sampai ketempat ini? Mereka tahu darimana?" Daniella merasakan nafasnya sesak. Dia kesulitan bernafas karena takut terdengar oleh orang-orang itu.


TOK TOK TOK! Tiba-tiba terdengar jelas pintu depan rumah Alin digedor keras-keras.


Saat Daniella mengintip lagi ia melihat yang menggedor pintunya adalah orang-orang jahat tadi.


"Aneh, mereka sangat aneh... "


"Lebih baik kita pergi lewat pintu belakang."


"Ide yang bagus,"


Keduanya melangkah mengendap-endap menuju pintu belakang rumah Alin dan membukanya dengan sangat hati-hati.


"Berhasil," Alin berbisik lirih dan kemudian keduanya berjalan tak tentu arah, kemana saja asal tidak terpantau radar anak buah Nadia. Mereka terus berjalan mengendap-endap sampai akhirnya mereka kesialan. Daniella menginjak botol plastik.


"Astaga, habislah kita... " Alin sedikit kecewa.


Tiba-tiba berpasang-pasang mata komplotan Nadia menatap mereka dengan senyum penuh kemenangan karena berhasil menangkap kedua orang itu.


Daniella menarik tangan Alin untuk lari, tak peduli wanita itu mengeluh kesakitan karena tangannya yang membawa koper dan tas sambil berlari. Jantungnya berdegup kencang dan terpancar jelas kelelahan di wajahnya. Sampai akhirnya dirasa dia sudah berlari cukup jauh barulah Daniella masuk ke dalam sebuah gang untuk bersembunyi.


"Hosh... hosh... hosh," nafas Alin tak beraturan. Dia melap keringatnya.


"Maafin Daniella bunda," kata Daniella merasa bersalah. Alin hanya diam tanpa menjawab.


Daniella kaget saat melihat orang-orang jahat itu berhasil menemukannya.


"Ka, kalian... " teriak Alin kaget terjatuh.


"Ikut kami."

__ADS_1


Daniella dibawa paksa oleh orang-orang tersebut dan dimasukkan ke dalam mobilnya. Mereka hanya membawa Daniella dan Alin dipisahkan dari gadis malang itu.


"Daniella, semoga kita bertemu lagi... "


***


Sementara itu di mobil yang membawa kabur Daniella, gadis malang itu tampak tertekan. Mulutnya di lakban dan kedua tangannya di ikat kebelakang. Tak hanya itu matanya juga ditutup oleh kain pengikat.


"Lepaskan saya atau kalian akan berurusan dengan polisi. Kalian gila ya? Apakah kalian seorang ayah? Apakah kalian punya anak perempuan juga? Bagaimana jika kalian tahu putri kalian ada di posisi saya?" Daniella mengeluarkan kalimat andalannya namun ternyata itu tidak berguna.


"Diam, jangan berbicara satu kalimat pun." bentuknya.


"Kalian berurusan dengan cucu keluarga Calandra apa kalian tahu itu?"


"Oh ya? Apakah keluarga Calandra peduli cucunya? Tentu saja tidak, lihat.Tak ada yang memedulikanmu. Kamu bilang kemarin kamu ingin pergi menyusul kedua orangtuamu kan? Kami hanya membantumu mewujudkan impianmu loh, kenapa nangis?"


Daniella diam. Ia sangat cengeng dan wajahnya kini telah basah.


"Kenapa kalian bisa tahu hah? Kalian memata-mataiku?" sergah Daniella galak.


"Ya benar sekali. Sangat gampang dan simpel. Kamu membeli eskrim dan alat penyadap itu berhasil menempel di belakang bajumu. Mudah saja mengetahui dimana kau sedang berada. Hahaha!"


"Bius dia, dia sangat ribut."


"Tidak, berani... "


Terlambat, Daniella langsung tak sadarkan diri saat salah seorang penjahat itu menyergap mulutnya dengan tisu yang sudah dibubuhi obat bius.


***


Daerah ini dingin, sangat dingin. Selain itu tempat ini juga terlantar dan berbahaya untuk dijangkau. Disinilah gudang manusia malang berkumpul. Mereka diculik untuk dimanfaatkan organ tubuhnya. Tak peduli itu bayi, anak kecil sampai orang dewasa. Dokter gelap sering bertransaksi disini untuk membeli organ tubuh manusia yang masih muda.


"Keluarkan gadis itu. Hati-hati saat mengeluarkannya. Kita tidak akan mendapatkan komisi tambahan jika ada organ tubuhnya yang lecet. Mengerti?" perintahnya.


"Ya bos,"


Tubuh Daniella yang mereka ketahui telah lemah tak berdaya dimasukkan ke dalam sebuah koper besar. Nantinya tubuhnya akan didinginkan di dalam peti dingin.


Namun saat membuka koper tersebut tiba-tiba penjahat tersebut mendapat bogem mentah diwajahnya. Daniella meninju wajah penjahat tersebut dan keluar dari koper. Dia langsung lari dan mencari tempat yang aman namun sepertinya dia akan tersesat sekarang. Dia harus bersembunyi di dalam gedung dan mencari tempat tersembunyi.


***


Ruangan ini sepertinya masih berpenghuni, buktinya ada kepulan asap dari cerutu yang masih menyala dan ruangan yang sejuk penuh AC.


"Dasar manusia aneh," batin Daniella. Dia melihat ada banyak barang berserakan diatas sebuah meja kerja dan kursi kerja beroda.


"Aku harus menelepon polisi," pikirnya.


"Walaupun mustahil untuk selamat dari sini," katanya menguatkan dirinya sendiri.


"Mungkin sebentar lagi bakal bisa menyusul papa mama."


Dia nekat meraih sebuah HP dari atas meja tersebut dan bersembunyi ke dalam lemari paling belakang.


"Tahan nafas,"


Daniella menyalakan HP tersebut dan mengurangi cahaya HP-nya karena terlalu terang. Sepertinya HP tersebut adalah salah satu ponsel korban mucikari kejam di tempat ini. Dia menekan angka nomor darurat dan menelepon polisi.


"Halo dengan nomor ***, ada yang bisa kami bantu?" kata seseorang dari suara seberang.


Daniella memelankan volume panggilan HP tersebut dan tahan nafas sebentar sebelum berbicara.


"Tolong berbicara pelan nyonya... "


"Ah, baiklah."


"Aku... sedang dalam bahaya. Aku sedang berada di daerah perdangangan manusia dan mungkin sebentar lagi aku akan menjemput ajalku. Kecil kemungkinan selamat disini. Mohon maaf, tapi bisakah anda mengirimkan bantuan kesini. Disini sangat dingin dan... " suara Daniella gemetaran karena menggigil.


"Apakah anda baik-baik saja?"


"Aku akan membagikan lokasiku jika... "

__ADS_1


BRAK!!!


Terdengar suara pintu ruangan tempat dia bersembunyi sekarang ini di banting keras.


"Mphhh... "


"Hei, hei, halo..."


Daniella mematikan telepon tersebut dan langsung membungkam mulutnya. Dia menyembunyikan HP tersebut ke dalam saku hoodie-nya dan mengira-ngira ada orang di dalam ruangan ini.


"Sialan kenapa kalian tidak bisa mengamankan satu orang gadis saja hah? Kita membutuhkan gadis itu untuk menggenapkan target korban kita untuk para dokter gelap dasar manusia brengsek,"


"Maafkan kami tuan,"


"Dia pasti bersembunyi di salah satu ruangan di gedung ini. Cepat berpencar. Biarkan aku mencarinya di antara lemari-lemari tidak berguna ini,"


Daniella tegang. Jantungnya berdegup kencang. Mengucur deras keringat di wajahnya.


"Jangan sampai ketahuan," pikirnya.


"Baik tuan,"


Daniella terdiam seperti patung ketika mendengar suara derap sepatu menuju ke arah lemari tempat 9a bersembunyi.


"Dasar gadis nekat, bisa-bisanya kau masih ingin bermain petak umpet denganku sementara kau akan menjemput ajalmu. Arghhh, dimana kau?" dia meracau sambil menendang lemari di dekatnya.


Tunggu, sepertinya Daniella mengenal sosok bos mucikari tersebut dari penampilannya dan suaranya. Sangat identik dengan seseorang yang baru ditemuinya dalam waktu dekat ini.


Daniella menundukkan kepalanya ketika orang tersebut mengintip ke dalam lemari tempat ia bersembunyi.


"Ah gadis kecil aku menemukanmu hahaha!!!"


Daniella menangis karena dia ketahuan bersembunyi di dalam lemari ini dan ketika sosok itu mendobrak paksa lemari yang sudah ia kunci dari dalam.


"Gila, dasar gila!!!" umpat Daniella menangis sambil menjerit ketika melihat siapa yang menjadi bos mucikari di daerah ini.


DOKTER ALBERT!


"Hah? Ini kamu? Hahaha, aku memang sudah lama mengincarmu."


"Jadi anda kaya raya dengan cara ini?" wajah Daniella memerah.


"Hahaha, kenapa? Kau tidak menduga kan? Ngomong-ngomong Daniella, Nadia menitipkanmu padaku."


"Kalian semua serigala berbulu domba! Aku tidak akan berakhir disini huh, lepaskan aku!"


Dokter Albert menyeringai seram dan menahan Daniella di pelukannya.


"Dasar mesum, dokter gila! Kejam!" Daniella memijak-mijak sepatu dokter Albert dan menggigit tangan dokter tersebut sekuat tenaga.


"Anak kurang ajar!" Albert spontan melepas Daniella dan mengaduh kesakitan.


Daniella tak lengah. Dia memanfaatkan kesempatan tersebut dan berlari tak tentu arah.


Dia berlari sambil melihat ke arah belakang dan mempercepat larinya ketika melihat dokter Albert hampir saja berhasil menyusulnya.


Daniella terus berlari sampai akhirnya dia tersudutkan. Dia melihat ke arah bawah. Yang ia lihat hanya mesin penggilingan yang jika ia jatuh maka ia ikut mati tergiling ke dalam mesin tersebut.


Daniella berbalik dan melihat ke depan.


"Ajalmu ada di tanganku gadis kecil,"


Daniella menggeleng-gelengkan kepalanya dan seketika otaknya berhenti bekerja. Pikirannya kosong.


DOR DOR DOR! Tiba-tiba terdengar suara tembakan dari luar gedung.


"Apa itu?"


.


.

__ADS_1


.


๐Ÿ‘, ๐Ÿ“ dan vote dari kalian menjadi penyemangat bagi author.


__ADS_2