Tale Of Daniella

Tale Of Daniella
Chapter 15


__ADS_3

Happy reading๐Ÿ“–


.


.


.


DOR DOR DOR! Suara tembakan itu terdengar untuk yang kedua kalinya. Terdengar sangat ribut ditambah dengan suara beberapa helikopter yang sepertinya mengelilingi tempat ini.


"Ada apa yang... "


"ANGKAT TANGAN KALIAN SEMUA!!!" gertak seseorang dengan galak dan berwibawa.


"Tempat ini sudah kami kepung. Sekarang menyerah kalian semua!"


Mendengar itu dokter Albert buru-buru kabur dan pergi dari sana. Namun sayang dia tak bisa berlari terlalu jauh karena polisi yang menggertak tadi sudah terlebih dahulu menembak bagian belakang kepala dokter Albert.


Seseorang tiba-tiba membawa Daniella pergi dari sana. Daniella terkejut dan berusaha menolak.


"Jangan manfaatkan kesempatan ini untuk membawaku kabur!" sergah Daniella galak.


"Bukan begitu gadis cantik. Saya ini bagian dari kepolisian." balas perempuan tersebut.


Daniella baru menyadari perempuan tersebut berseragam sama dengan para polisi lain dengan atribut lengkap di seragamnya.


"Ma, maaf." mata Daniella berkaca-kaca. Dia tak bisa lagi membedakan mana orang yang benar-benar baik dan mana yang berpura-pura karena terlalu banyak orang yang menipu dirinya.


Polisi perempuan itu membawa Daniella dengan hati-hati dan membawanya ke luar gedung tersebut. Daniella di suruh masuk ke dalam helikopter untuk dilarikan ke rumah sakit. Sebentar lagi dia pasti jatuh sakit karena telah berjam-jam berada di daerah sedingin ini.


"Lalu kenapa polisi bisa masuk kemari?" tanyanya pelan.


"Itu karena kami tidak menggunakan mobil polisi kemari, kami menggunakan kendaraan yang lebih kuat untuk menembus daerah hutan ini. Kami juga mengandalkan helikopter," jelas polisi perempuan tersebut.


"Jadi ini di daerah hutan?"


"Ya, hutan terlarang."


Tanpa banyak bertanya lagi Daniella langsung bersembunyi di belakang tubuh seorang polisi laki-laki. Dia merinding. Dia membayangkan kata 'hutan terlarang' itu adalah hutan yang angker karena kisah mistisnya.


"Jangan terlalu takut. Kami ada disini nak."


"Ya sudah silakan duduk di belakang kursi saya dan berdoa bersama-sama. Helikopter ini akan melewati tebing yang cukup terjal. Do'akan kita selamat sampai kota ya?"


Daniella akhirnya berhasil tenang meski sementara waktu. Dia teringat dengan bunda Alin-nya yang entah bagaimana kabarnya sekarang.


"Bunda Alin..." pikirannya kosong seketika.


Helikopter akhirnya naik ke udara secara perlahan sampai akhirnya Daniella merasa helikopter ini sudah terbang cukup tinggi.


Benar kata polisi tadi, helikopter ini melintas di atas daerah tebing yang terjal dan ekstrim. Pantas saja daerah tempat perdangangan manusia tadi sulit dijangkau. Mau tidak mau Daniella menutup matanya karena merasa ngeri jika menatap ke bawah. Di bawah sangat menakutkan.


Sedikit lebih lama kemudian Daniella mendengar mereka berhasil melewati daerah tebing yang menakutkan tersebut.

__ADS_1


"Kita berhasil, ini berkat doa kalian." kata pilot helikopter tersebut tersenyum lega. Termasuk mereka semua yang ada di dalam. Ada empat orang.


Daniella mengelus dadanya dan menghela nafas lega.


"Akhirnya,"


***


Setibanya di luar hutan di daerah yang sekitar di rasa aman, helikopter akhirnya mendarat dengan selamat. Daniella melihat ada beberapa mobil. Satu diantaranya mobil ambulan. Polisi perempuan tadi menopang tubuh Daniella yang sebentar lagi ambruk.


"Bertahanlah nak," dukung polisi tersebut ketika melihat Daniella mengerjapkan matanya beberapa kali.


"Tolong bertahan sebentar saja... "


Tapi Daniella tidak bisa bertahan lemari lama lagi. Rumah sakit telah dipenuhi oleh wartawan stasiun TV yang penasaran dengan korban selamat dari perdagangan manusia tersebut.


"Mohon untuk tidak mengganggu pekerjaan kami!"


"Tapi kami butuh informasi yang lengkap. Bagaimana bisa ratusan orang selamat dari perdagangan manusia itu?"


"Korban lebih membutuhkan penanganan sekarang. Minggir atau pekerjaan kalian juga terancam,"


Para wartawan itu tidak mau tahu dan terpaksa rumah sakit mengerahkan seluruh petugas keamanannya untuk mengusir para wartawan itu.


"Mereka pasti wartawan magang huh,"


Beberapa dokter mengiyakan opini dokter tersebut.


***


"Kamu selamat nak," puji dokter itu.


"Ah, ya..." Daniella hanya manggut-manggut saja.


Seorang suster kemudian merapikan rambutnya.


"Anda ingin istrahat atau makan dulu?" tanya suster tersebut.


"Rumah sakit? Lagi?" Daniella sontak bangun dari ranjangnya dan melihat ke sekitarnya.


"Saya memilih untuk pulang aja dok. Saya gak punya uang buat bayar rumah sakitnya. Saya juga harus cari bunda saya," Daniella melepas berbagai selang dan kabel yang berseliweran di tangannya.


Tapi sangat sulit bagi Daniella menembus pintu ruangan tersebut karena ditahan oleh sang dokter dan suster.


"Kondisi kamu masih belum pulih sepenuhnya. Ayolah tolong dengarkan kami nak. Jangan khawatir soal biaya, sudah ada gerakan donatur yang siap membayar biaya rumah sakit kalian."


"Hah? Kalian? Apakah ada korban selain aku di hutan perdagangan manusia itu?"


"Kami menyayangkan hal ini. Ratusan anak muda sepertimu hampir mati kedinginan disana. Berkat bantuan seorang wanita, lokasi hutan itu terlacak,"


"Nak bundamu pasti ada di rumah sakit ini. Tapi tolong dengarkan kami, istrahatlah disini sampai kamu sembuh,"


Daniella luluh dan kembali berbaring di ranjangnya. Dia merasa bersalah ketika suster tersebut kembali memasangkan kabel dan selang di tubuhnya. Itu semua demi kesembuhannya.

__ADS_1


"Apakah ada lagi dokter seperti dokter Albert diantara kalian?" tanya Daniella dengan wajah tanpa ekspresi.


Dokter tersebut tersenyum misterius.


"Di rumah sakit ini tentu saja tidak. Albert adalah dokter yang kelihatannya peduli dengan seluruh pasiennya, tapi siapa yang mengira seluruh pasien sebayamu selalu ia incar untuk memperbanyak uangnya."


"Tapi anda juga seperti Albert, kelihatan peduli dengan pasien anda." balas Daniella hati-hati.


"Itu tidak akan," kata dokter tersebut.


"Baiklah kalau begitu bawakan makanan untukku. Hehehe... " perintah Daniella berlagak seperti atasan.


"Tentu saja. Tunggu disini," balas sang suster.


Daniella tertawa kecil. Meski maksudnya bercanda dia juga merasa tidak enak berkata seperti tadi.


***


"Sudah dengar berita terbaru?" tanya miss Agni kepada beberapa guru.


"Berita apa?"


"Dokter rumah sakit sekolah kita adalah mucikari dan otak dibalik perdagangan manusia selama ini. Dia dokter Albert," jawab miss Agni. Dia tampak kecewa pada dokter Albert sosok yang tegas dan peduli selama ini ternyata menutupi sosok psikopat-nya.


Semua guru yang mendengarkan berita itu merasa shock.


"Dokter Albert... "


"Yah, dan yang lebih parah saya merasa ada beberapa murid dari sekolah kita yang hilang karena dia."


"Maksud anda kejadian hilangnya beberapa murid di sekolah ini adalah dia?" guru tersebut mencerna maksud perkataan miss Agni.


Miss Agni mengangguk.


"Yeah... "


"Saya lebih penasaran kasus menghilangnya si kembar Diva dan Diana adalah karena dokter Albert,"


"Benar juga. Mereka menghilang setahun lalu tanpa berita sampai sekarang. Dan entah kenapa feeling saya mengatakan Daniella juga menjadi korban dokter Albert kali ini."


Guru-guru yang ada disana tegang seketika karena ucapan miss Agni. Miss Agni memang seorang indigo dan memiliki feeling yang kuat.


"Kita harus menanyakan semua ini kepada dokter Albert,"


Guru-guru yang ada disana saling tukar pandang. Harapan mereka sekarang semoga Daniella baik-baik saja. Meski mereka belum mempercayai feeling miss Agni.


.


.


.


๐Ÿ‘, ๐Ÿ“ dan vote dari kalian menjadi penyemangat bagi author.

__ADS_1


__ADS_2