
Happy reading 📖
.
.
.
Daniella tiba di lingkungan sekolah dan melihat keributan kecil terjadi. Itu karena kejahilan Chelsea. Lagi-lagi cewek itu berulah. Kali ini entah apa yang diperbuatnya sampai-sampai ia dikejar keliling lapangan hingga beberapa kali oleh segerombolan murid yang menjadi korban jahilannya.
"Gak capek apa dikejar mulu tiap hari?" katanya menggelengkan kepala melihat ke arah Chelsea. Chelsea melihatnya dan nyengir hingga akhirnya dia terjatuh karena tidak fokus melihat ke depan. Sontak korban jahilannya langsung menyorakinya dengan ramai.
"Huuuuuuuuu syukurin tuh," sorak mereka. Chelsea tak menangis, dia hanya meringis dan nyengir tak bersalah di hadapan para korban jahilannya.
"Bantuin dong," katanya kemudian.
"Nggak ah. Lo udah jahil sama kita-kita. Tuh karma instan," jawab mereka ogah-ogahan dan meninggalkan Chelsea.
Daniella hendak menolong Chelsea karena merasa tak tega namun langkahnya terhenti saat melihat Aksa menolong cewek itu. Dia langsung mendengus kesal dan menarik nafas dalam-dalam. Dia mencoba menenangkan dirinya untuk tidak marah. Buat apa marah? Dia kan tidak punya hubungan apa-apa dengan Aksa? Tapi kenapa dia merasa tidak senang melihat pemandangan seperti itu? Apakah ia sedang cemburu? Tolong katakan tidak!
Aksa mengulurkan tangannya dan sialnya oh sialnya... Chelsea menerimanya dan berdiri dengan segera.
"Cieeee!" sorak murid-murid yang ada disana. Sangat ramai, membuat Chelsea yang ada di hadapan Aksa tegang. Jantungnya tidak bisa tenang. Antara karena takut dia diperlakukan seperti itu di hadapan orang banyak atau tak siap melihat Aksa ada di hadapannya untuk menolongnya.
Sementara Aksa merasa masa bodoh dengan semua tatapan dan cibiran yang tertuju kepada mereka. Dia merapikan almamater seragam Chelsea yang kotor oleh tanah.
"Lain kali hati-hati. Dikurangi jahilnya."
Chelsea menelan salivanya dan berusaha untuk tidak baper.
"I, iya Aksa. Makasih udah mau menolong Chelsea." balas Chelsea tersenyum tipis.
Saat Aksa dan Chelsea menyadari Daniella melihat ke arah mereka berdua, Daniella malah kicep dan linglung karena kepergok melihat keduanya. Aksa menatap dingin kepada Daniella dan merangkul Chelsea dengan tangannya.
"E, eh... Aksa, ini... "
"Stttt, menurut aja sama gue," kata Aksa melotot kepada Chelsea tajam.
Chelsea tak bisa melepas karena Aksa mempertahankan tangannya dengan kuat diatas pundaknya. Aksa melewati Daniella sementara cewek itu semakin linglung dengan perubahan sikap Aksa. Tunggu, tadi Aksa menatap dingin kepadanya kan? Apakah itu artinya cowok itu telah berubah perasaan kepadanya? Harusnya dia senang kan? Tapi kenapa sekarang yang ia rasakan berbeda? Apakah cowok itu telah pindah haluan?
__ADS_1
"Buat apa mikirin dia? Bagus buat mikirin yang lain. Buang-buang waktu aja." kata Daniella menguatkan dirinya sendiri.
Dia pergi ke arah yang berlawanan dengan keduanya dan lagi-lagi bertemu dengan musuhnya. Siapalagi kalau bukan Rivaldo? Tapi kali ini cowok itu sedang tidak bersama dengan Kiel.
"Mampus deh," keluhnya dalam hati. Teman Rivaldo yang satu itu memonopoli jalannya menuju kelas.
Daniella hendak menembus namun di cegat lagi oleh teman Rivaldo. Daniella membaca tag name-nya. Robin Stewart. Pantas saja dia merasa asing dengan cowok itu. Dia tak pernah melihat sosoknya di geng Rivaldo.
"Gue mau lewat. Minggir dong sedikit aja." kata Daniella tersenyum terpaksa.
"Aduh senyumnya paksa banget tuh, cantik." Robin malah menggodanya.
Senyum Daniella dalam sekejap memudar dan menatap Robin dan Rivaldo secara bergantian.
"Lo bawa dia cuma mau pojokin gue? Ck, lemah." ejek Daniella. Rivaldo tak terima dan mengatakan yang sebenarnya.
"Lo kata lemah banget gue sampai bawa-bawa dia buat jatuhin lo doang? Dia kesini atas kemauannya."
"Alasan. Minggir cepat!" bentak Daniella.
"Lo cantik-cantik gitu jangan galak deh. Padahal gue mau kencan sama lo."
"Jadi cuma itu alasan temen lo yang gila ini mau ketemu sama gue?" kata Daniella membuat Robin hendak memukul cewek itu namun dicegah dengan cepat oleh Rivaldo.
"Jangan sampai main tangan anjir. Ingat awal lo kesini cuma mau minta kencan sama dia dan lo udah ditolak tadi. Jelas?" kata Rivaldo.
Daniella melempar bukunya ke wajah Rivaldo.
"Lo..." kata Rivaldo dan Robin bersamaan.
"Lo dalang dibalik gue di gangguin mulu sama cowok selama ini. Lo sama temen-temen lo kecuali Kiel gak ada yang beres otaknya. Harus banget ya lo liat gue direndahin mulu sama teman-teman lo? Diantara banyaknya cewek gatel di sekolah ini, kenapa harus gue yang lo kenalin ke teman-teman lo yang kurang ajar hah? Gue gak bakal segan-segan tuntut lo semua sampai ke departemen pendidikan dan hukum?"
"Coba aja kalau bisa."
"Emang bisa. Apa yang nggak bisa sekalipun yang punya nih sekolah keluarga dia? Makanya rajin belajar. Lo kemana aja selama ada di sekolah? Cuma mau tebar pesona doang?"
"Dasar bodoh," sambung Daniella.
"Ck sombong banget lo mentang-mentang juara umum. Gilaaa," Daniella tahu itu hanya sebuah cibiran kepadanya.
__ADS_1
Daniella mengambil bukunya kembali di dekat kaki Rivaldo dan saat itulah tangan keduanya bersentuhan hendak mengambil barang yang sama.
"Gak usah pegang-pegang buku gue. Jadi virus di tangan lo." kecamnya lagi. Rivaldo memilih untuk diam. Dia tahu kali ini Daniella benar-benar marah kepadanya.
Daniella pergi dari sana. Sementara Rivaldo dan Robin masih berselisih kecil mengenai masalah yang baru saja terjadi di antara mereka.
"Udah gue bilang kan lo bakal ditolak sama tuh cewek? Makanya jangan nekat. Lo yang bermasalah, gue jadi ikut buat pelampiasannya."
"Ya gue mana tahu tuh cewek se songong itu? Gila, bangga benar pamer prestasinya."
"Sayangnya itu fakta. Udahlah lo nyerah aja. Yang sekelas Aksa aja suka sama dia mana ada peka-pekanya tuh cewek."
"Mimpi apa gue semalam ketemu sama cewek kayak gitu?"
Rivaldo tidak menjawab ocehan Robin.
***
Sementara itu di toilet cewek, Daniella meletakkan bukunya di wastafel sebelah dan mencuci wajahnya yang terlihat semakin hari semakin tua, mungkin.
Apalagi kalau bukan karena Rivaldo yang sangat menyebalkan?
Dia juga merapikan rambutnya dengan jari-jari tangannya karena kebetulan saat itu dia tidak membawa sisir kecil yang selalu ia gunakan dan biasa ia bawa ke mana saja.
"Makanya jangan mancing seorang Daniella benar-benar marah besar sama lo."
"Cowok sialan. Kalau lo gak tahu gue lagi benar-benar marah sama lo, mending lo enyah aja sana."
Dia terus berdialog sendirian sampai akhirnya ia selesai mencuci wajahnya dan melapnya dengan tisu yang tersedia di tembok toilet.
"Lama-lama bisa berkerut wajah cantik gue perkara berantem sama lo doang. Belum lagi sama nenek lampir Nadia, Tasya dan Jennifer." keluh Daniella sambil menatap wajahnya lagi di cermin.
"Semangat Daniella, lo gak boleh menyerah dan gak boleh gampang menangis di depan orang atau perkara gampangan doang."
.
.
.
__ADS_1
👍, 📝 dan vote dari kalian menjadi penyemangat bagi author