Tale Of Daniella

Tale Of Daniella
Chapter 10


__ADS_3

Ini masih di sekolah. Daniella berusaha menjauh dari semua orang agar dia tak merepotkan siapa pun lagi. Dia benar-benar tidak menyangka Rivaldo benar-benar sangat benci padanya. Tadinya ia kira Rivaldo benci padanya karena dia dan Aksa dekat. Tapi ternyata lebih dari itu. Kenapa Daniella bisa tahu semuanya? Tentu saja ia tahu. Dia kemarin hanya pura-pura tidur lagi. Sebenarnya dia pingsan hanya sebentar saja, tapi dia mendengar gumaman Rivaldo. Ingin menangis? Tidak boleh. Dia menahan diri untuk tidak menangis. Sehingga Daniella tertidur lagi.


Sial, semua ucapan Rivaldo terngiang-ngiang di pikirannya.


"Sejak gue kenal lo, lo tau gak hidup gue amat sangat membosankan? Aksa juga jadi menomorduakan pertemanannya. Siapa sih lo? Gue sebenarnya gak suka liat lo di sekolah ini. Lo nyusahin tau gak?"


"Kalau lo merasa gak enak nyusahin gue sama temen-temen gue, silahkan jaga diri lo sendiri baik-baik."


"Kalau begini lo nyusahin orangtua lo juga kan?"


"Cepat sadar lo. Jaga kesehatan sendiri. Anak gadis udah besar kok gak tahu jaga kesehatan?"


"Tau gak? Lo bukan siapa-siapanya Aksa yang harus diperhatiin 24 jam setiap hari. Udah kek ngurus anak aja si Aksa sementara teman gue suka sama lo tanpa dikasih kepastian sama lo. Lo peka dikit napa?"


"Aksa aja gak pernah seperhatian itu sama keluarganya sendiri. Dia benci keluarganya. Dan lo bisa merebut perhatian Aksa."


"Gue berharap Aksa ilfeel sama lo biar semuanya kelar. Urusan lo mau sakit gak, sehat apa nggak. Wajah lo dan prestasi lo emang mendukung buat disukai banyak cowok, tapi itu gak berlaku buat teman-teman gue. Lo hanya bermain-main sama Aksa."


"Semoga lo gak deketin Aksa lagi. Cukup sampai hari ini."


Daniella juga tidak tahu Aksa seperti itu karena suka padanya. Dia mengais-ngaiskan pasir di tanah dengan sepatunya.


"Emang kayaknya aku gak bisa bersahabat sama orang yang punya sahabat lebih dekat samanya. Ya udah sih emang dari dulu susah banget dapat teman yang awet hahaha," tawa Daniella pelan.


Baru saja Daniella akan pergi, seseorang menghadangnya di depan. Daniella menghela nafas kesal. Itu Aksa.


"Ada apa?" tanya Daniella ketus.


"Dan, lo kenapa berubah jadi kayak gini sih? Kepala lo terbentur juga kemarin?" Jelas Daniella tahu Aksa hanya basa-basi.


Daniella menggeleng. Dia menatap tajam manik mata berwarna coklat terang milik cowok itu sampai akhirnya dia menghela nafas untuk berbicara lagi.


"Maaf kalau aku udah ngerepotin kamu." kata Daniella.


"Kamu? Biasanya lo panggil gue kakak? Kenapa berubah? Cerita sama gue apa yang buat lo berubah."


"Kamu gak perlu tahu apa alasannya. Yang pasti aku cuman mau bilang mulai sekarang kita jaga jarak. Kalau ketemu terserah mau buang muka apa bagaimana, anggap kita musuhan atau pura-pura gak pernah kenal."


"Dan, berhenti bicara lo!" sergah Aksa galak. Itulah pertama kalinya Aksa memarahi Daniella. Cowok itu sudah keburu kesal dengan alasan Daniella yang ingin memutuskan hubungan antara mereka tanpa alasan yang jelas.


"Ok, aku diam. Aku cuma mau bilang itu. Kamu bisa bareng lagi sama teman-temanmu kayak dulu."


Aksa memegang dahinya dan mengusap wajahnya frustasi. Sebenarnya apa yang salah dengan Daniella? Padahal sedikit lagi cowok itu mendekatkan hubungan mereka berdua, maka dia pasti bisa menyatakan perasannya semakin cepat. Tapi sekarang tak sesuai ekspetasinya.


"Teman-temanmu lebih berharga dibanding aku." setelah mengatakan itu, Daniella pergi dari hadapan Aksa.


***


Daniella mencari tempat yang sepi untuk melampiaskan kekecewaannya.


"Padahal sedikit lagi aku bisa punya sahabat kayak kak Aksa, tapi jadi kayak gini sekarang. Harusnya aku jangan terlalu senang sejak awal, gak terlalu berharap sejak awal." tangis Daniella terisak.


"Sama siapa lagi aku bisa bersama di sekolah ini kalau harus menjauhi kak Aksa?"


Daniella bersandar di tembok dan membenamkan kepalanya sambil menangis.


"Kapan aku punya kehidupan yang bahagia? Kapan hidupku tenang? Kapan aku bisa punya sahabat dan teman? Aku udah selalu sabar tapi sampai kapan? Pa, ma. Jemput Daniella sekarang hiks... " tangisnya pelan.

__ADS_1


"Biarin Daniella ikut sama kalian pa, ma."


"Daniella pengen mati aja sekarang."


Sementara itu di markas yang hanya bisa di tempati oleh Rivaldo dan keenam teman-temannya.


"Aksa wajah lu kecewa gitu ya karena di jauhin sama Daniella? Udah gue bilang jangan terlalu berharap sih sama ekspetasi lo."


Aksa tak mempedulikannya. Meski tadi sempat marah tapi dia masih kepikiran dengan alasan Daniella menjauhinya.


Rivaldo yang hanya diam semenjak tadi diam-diam merasa senang karena ternyata harapannya kemarin terkabul. Sekarang Aksa bisa lebih sering bergabung dengan mereka tanpa memikirkan perempuan.


"Udahlah. Ngapain di ambil pusing? Lagipula kita masih sekolah. Buat apa mikirin cewek? Yang ada entar malah kelupaan sama teman." hibur Rivaldo.


"Lo gak tau rasanya cepat jatuh cinta sama orang yang kita suka Riv. Entahlah kenapa gue gak senang rasanya musuhan sama Daniella. Padahal pertemanan kemarin itu bagian dari PDKT gue."


"Udah dijauhin pun masih tetap aja kepikiran, ck." batin Rivaldo.


***


Daniella merasa sangat bosan. Selain tidak punya teman, ia juga kelaparan karena tidak punya uang.


"Biasanya kak Aksa yang traktir aku... " gumamnya pelan.


Sedetik kemudian, Daniella menggeleng-gelengkan kepalanya dan mengedipkan matanya.


"Jangan di ingat-ingat lagi. Harus bisa lupain kak Aksa. Padahal pengen sahabatan tapi ternyata dia suka lebih dari itu. Emangnya aku gak bisa punya teman walaupun cuma satu ya?"


Lama berdialog sendirian, mata Daniella kemudian melihat sepasang remaja sebayanya yang berpacaran dan tampak mesra.


"Itu kak Tasya?"


"Hai kak," sapa Daniella dengan senyum khasnya.


Sementara Vernon dan Tasya menatap aneh kepada Daniella.


"Ada apa sih Dan?" tanya Tasya kesal dengan nada ketus, seperti biasanya.


"Aku rindu banget sama kakak. Kakak kemana aja dua hari kemarin?" tanya Daniella sambil memegang tangan Tasya.


Diluar dugaan Daniella, Vernon malah menghempaskan tangan Daniella dari Tasya. Senyum Daniella hilang seketika.


"Kalian kenapa?" tanyanya berusaha sabar.


"Jangan dekat-dekat sama Tasya mulai sekarang. Gara-gara lo, Tasya dapat nilai jelek. Lo siapa sih malah menjauh-jauhkan Tasya dari mamanya? Tasya itu udah kehilangan papanya sejak kecil ditambah lagi lo mau caper ke mamanya dengan menghasut supaya Tasya kerja banyak terus gak dikasih makan?"


"Ap... apa? Kak Tasya bilang gitu? Kakak bohong kan kak? Itu fitnah kak Vernon. Aku gak pernah seperti itu. Malah akulah yang selalu seperti itu." Daniella mencoba mencari pembelaan namun sepertinya itu tidak berguna. Tasya tersenyum jahat kepadanya.


"Banyak bicara." kecam Vernon sambil mengajak Tasya untuk segera pergi dari sana.


"Jangan pernah temui gue lagi Dan. Ingat kita cuma saudara. Dan lo gak lebih dari gadis bodoh dan lusuh. Aduh-aduh, akting gue mulus banget ya sampai-sampai lo baru sadar sekarang."


Daniella sekarang seperti patung di tempatnya.


"Sebenarnya aku ada salah apa sama kalian semua hah? Kalian semua selalu benci aku padahal aku gak pernah ganggu hidup kalian, gak pernah mengusik ketenangan kalian sekali pun. Aku tulus dekat sama kalian gak ada maksud lain! Jawab!" bentak Daniella. Amarahnya memuncak, membuat semua murid-murid menatap ke arahnya.


Daniella bernafas terburu-buru. Wajahnya memerah dan partikel bening terus membasahi wajahnya.

__ADS_1


"Awas Daniella!" teriak seseorang.


BUGH! Bola kaki meleset ke kepalanya dan membuatnya hampir jatuh.


"Ma, maaf Daniella. Gak sengaja... "


"AAAAAAAAAAA!" jerit Daniella putus asa memegang kepalanya dan segera pergi dari sana. Dia menangis dan berhenti ketika melihat sebuah kursi. Dia mengangkat kursi itu dan memukulkannya ke kaca jendela kelas 10-2 hingga pecah berkeping-keping. Semua yang ada disana kaget dan mencoba menghentikan Daniella ketika gadis itu meremas-remas pecahan kaca itu di tangannya dan membuat tangannya berdarah.


"Jangan gitu Dan plis!"


"Diam!" bentak Daniella emosi sambil meremas-remas pecahan kaca itu lagi sampai akhirnya dia merintih kesakitan dan pergi dari sana.


"Daniella!"


***


"Tadi parah banget sih. Sampai-sampai Daniella senekat itu," bisik teman-teman sekelas Aksa.


Aksa yang mencoba tidak peduli, semakin penasaran ketika mendengar Daniella menjadi trending topik di sekolahnya.


"Daniella kenapa?"


"Duh masa gak liat sih? Tadi dia berantem sama Tasya, Daniella bilang kenapa orang-orang pada benci sama dia. Tapi bukan itu bagian intinya."


"Jadi apa?" desak Aksa tidak sabaran.


"Daniella pecahin kaca jendela kelas 10-2 sampai hancur berkeping-keping pakai kursi tanpa sisa trus dia pegang pecahan kacanya sampai tangannya robek sama berdarah semua."


Aksa kaget luar biasa. Begitu juga dengan Rivaldo dan Kiel.


"Anjir," umpat Kiel.


Aksa ingin menghampiri cewek itu sekarang tapi ini adalah jam pelajaran Matematika karena hari ini mereka ulangan harian.


***


Rivaldo, Aksa dan Kiel menghampiri kelas Daniella dan mencari cewek itu. Tapi cewek itu tak kunjung keluar dari kelasnya.


"Daniella mana?" tanya Aksa pada ketua kelas Daniella, Edwin.


"Daniella udah dipulangin sama guru lebih awal. Katanya Daniella depresi dan yah... mungkin kalau Daniella mau istrahat ambil cuti, guru juga bakal izinin."


Ketiga cowok itu terdiam.


"Tadi siapa yang jemput Daniella?"


"Perempuan. Dia masih muda dan sangat cantik. Itu mamanya Daniella?"


"Gue gak tahu."


"Sebenarnya lo kenapa Dan?" tanya Aksa dalam hati.


.


.


.

__ADS_1


Ramaikan lapak ini ya, jangan lupa share dan rekomendasikan ke teman-teman kalian yang sesama pembaca Mangatoon/Noveltoon.


👍📝 dan vote dari kalian menjadi penyemangat bagi author🤧


__ADS_2