Tale Of Daniella

Tale Of Daniella
Chapter 12


__ADS_3

Rivaldo sudah menghubungi anak buah papanya yang menunggunya di bawah untuk menunggu sebentar lagi meskipun terselip perasaan tidak enak di hatinya. Apa boleh buat? Rivaldo sangat rindu bertemu adiknya ini. Rivaldo menatap ke sekitar. Suasana bukit ini cukup sepi hanya ada beberapa orang yang ziarah dan bisa dihitung jari. Mungkin sekitar lima orang. Akan tetapi pandangan cowok itu tertuju pada seorang gadis sebayanya yang juga ikut ziarah. Malah, cewek itu menangis sebebas-bebasnya tanpa memedulikan peziarah yang menatap ke arahnya. Dan sekarang cewek itu tengah duduk di antara dua makam. Rivaldo merasa familiar dengan postur tubuh itu. Daniella. Mungkinkah itu dia?


"Mana mungkin." katanya menepis pikiran mustahilnya.


Cowok itu ingin memastikan keyakinannya namun terhambat karena cewek itu menangis tertunduk. Sesaat kemudian cewek itu mengiris-iris bunga dan menaburnya diatas gundukan tanah pusara kedua makam tersebut.


Ingin rasanya Rivaldo menghampiri cewek itu dan menenangkannya, tapi dia saja tak kenal dan tentu saja tidak suka dicap sok kenal.


Tapi saat cewek itu mengangkat wajahnya dan melepas kacamatanya, Rivaldo tidak terlalu terkejut. Rivaldo sudah menduga itu Daniella. Hanya saja dia ragu. Apakah dua makam itu adalah makam orangtuanya? Tidak, jangan berpikiran seperti itu.


"Lo disini juga?" Rivaldo basa-basi. Sedangkan Daniella langsung menoleh dan berteriak kaget sampai jatuh terjungkal ke belakang.


Rivaldo juga sudah menduga cewek itu akan kaget seperti sekarang ini.


"Bisa gak kalau kaget mau teriak itu tahu tempat dulu? Ini di pemakaman," tegur Rivaldo.


"Hah? Eumhhh, maaf... " sekarang Daniella terlihat linglung.


"Ad, ada hantu disini rupanya... ak, aku harus pergi. Tolong jangan hantui aku. Niatku baik kesini. Aku hanya ingin bertemu dengan orangtuaku," Daniella malah berhalusinasi Rivaldo adalah sosok hantu yang menyamar menjadi Rivaldo. Cewek itu ketakutan dan mundur beberapa langkah ke belakang.


"Gue Rivaldo asli, bukan hantu." Rivaldo menghaluskan nada bicaranya. Namun juga terselip rasa kaget karena pengakuan Daniella. Jadi dua makam itu adalah makam kedua orangtuanya? Entahlah Rivaldo merasa semakin tahu banyak soal kehidupan cewek itu.


"Ng.. nggak mungkin."


"Buktinya gue mijak tanah," kata Rivaldo lagi berusaha sabar.


Daniella segera berlari tanpa berpikir panjang. Dia masih tidak percaya. Sementara Rivaldo membiarkan cewek itu dengan halusinasinya.


***


Daniella masih shock ketika sudah tiba di bawah bukit tersebut. Dia memang merasa trauma dan ketakutan semenjak pulang dari sekolah tadi. Dia tidak ingin bertemu dengan orang-orang yang selalu menyakitinya tapi kenapa rasanya dunia ini sempit sekali? Untuk menenangkan pikirannya Daniella memasuki sebuah supermarket kecil dan membeli eskrim dan beberapa bungkus makanan ringan. Dia kemudian keluar dari sana setelah membayar pesanannya sendiri dan melangkah pulang. Dia menikmati eskrimnya terlebih dahulu sebelum lumer.


"Udah lama banget gak makan es krim." katanya senang. Akan tetapi dia tak melupakan peringatan bahwa ia harus hati-hati dengan anak buah Nadia. Tadi Daniella memaksa Alin untuk ziarah sendiri. Dia berhasil membujuk Alin dengan meyakinkannya. Yah meskipun Alin sudah menerima permintaannya, tapi bunda barunya itu juga masih merasa was-was.


Dia melirik ke kanan dan kiri, mengedarkan pandangannya. Tidak ada tampang orang mencurigakan disekitarnya.


"Bisa saja mereka menyamar menjadi orang biasa." katanya.


Tapi kemudian dia kepikiran dengan pertemuannya tadi bersama Rivaldo. Musnah sudah harapannya untuk merahasiakan identitasnya.


"Harusnya gak ada yang boleh tahu soal kehidupanku. Tapi kali ini...masa aku harus pasrah dibuli lagi?" wajahnya kembali murung.

__ADS_1


"Kenapa aku selalu bertemu dengan orang-orang yang membenciku ya? Atau orang-orang yang ingin menghancurkan kehidupanku?"


Daniella berhenti memakan eskrimnya dan duduk di sebuah tangga. Dia merenungi nasibnya.


"Seperti ini ya rasanya hidup tidak tenang?"


"Sudahlah pindah sekolah juga gak ada gunanya. Tetap di sekolah lama aja sampai tamat dan lulus. Setelah itu mungkin... kuliah atau cari pekerjaan. Aku bukan Alana kedua. Intinya aku gak boleh lemah dan menyerah." Daniella bergumam mendukung dirinya sendiri.


"Mungkin emang takdirku gak punya teman satupun sampai hari ini ya? Dulu aku berharap aku bisa bersahabat baik dengan kak Aksa. Baiklah, Daniella.. mari kembali ke dirimu yang lama. Tertutup dengan semua orang. Kurasa itu lebih baik,"


Daniella menghembuskan nafas kasar dan bangkit berdiri.


Dia melangkah untuk pulang dan berdiri di pinggir jalan untuk menyeberang.


Sementara itu Rivaldo yang sedang duduk di dalam mobil ketika perjalanan pulang bersama supir dan anak buah papanya melihat sosok yang tengah menyeberang di tengah jalan dan hampir menabraknya.


BRAK!


Supir tersebut merem secara mendadak dan kaget karena menabrak seseorang.


"Sudah kukatakan sejak tadi jangan terlalu kencang, argghhh..." Rivaldo terlihat kesal kepada supir tersebut dan melepas sealtbeat-nya lalu turun untuk mengecek kondisi korban yang ditabrak supirnya.


Dia masih sadar namun wajahnya pucat. Itulah kelemahan Daniella. Tubuhnya terasa sangat sakit jika terjatuh karena luka lebam di badannya beradu dengan kekerasan aspal. Rasanya pedih sekali.


"Kenapa lo lagi? Lo pengen banget ya ketemu sama gue?" kata Rivaldo memandang remeh pada cewek itu.


Rok panjang cewek itu kotor dan robek sedikit, dapat dipastikan lututnya lecet.


Daniella mengepalkan tangannya. Ada sejuta dendam dirasakannya ketika bertemu dengan cowok itu. Pembuli akut, kejam dan salah satu orang yang ingin dia balas kejahatannya kepada dirinya.


"Ck, dasar cape... "


PLAK! Sebuat tamparan keras mendarat telak diwajah Rivaldo.


Daniella tidak ingin basa-basi lagi.


"Cewek sialan..."


"Apa hah? Lo seneng kan lihat orang lemah kayak gue menderita? Lo gak ada bedanya sama mereka-mereka yang pernah dekat sama gue. Sama-sama ingin menghancurkan hidup gue dan mengkhianati gue. Lo pasti udah tahu kalau gue pernah depresi kan? Kenapa lo masih pengen nyakitin gue? Lo pengen gue berakhir bunuh diri kayak Alana hah?"


Wajah Daniella telah basah dan memerah sekarang.

__ADS_1


Rivaldo terdiam.


"Gue gak pernah bahagia sekolah di sekolah keluarga lo, arghhh.." Cewek malang itu memberontak ketika anak buah dan supir Rivaldo menghentikannya menyerang tuan muda mereka.


"Lepasin gue. Urusan gue cuma sama majikan lo. Bukan lo. Lo semua gak ngerti gimana rasanya jadi gue bangsat!"


Kedua orang itu tercengang.


"Jangan berpikir gue gak berani menyerang lo hanya karena lo pemilik sekolah terbesar itu, sekolah impian semua orang. Gue malah senang kalau lo keluarin dari sekolah lo itu. Gue juga udah gak tahan dibuli sama lo semua. Gue orang miskin tapi gue gak hina kayak lo."


"Supir dan anak buah keluarga lo yang bersalah. Kecepatan mobil lo terlalu tinggi. Tapi entah kenapa gue pasrah-pasrah aja berharap gue cepat mati sekarang juga."


"Tapi itu gak terjadi, camkan ucapan gue."


"Silahkan keluarkan gue dari sekolah besok. Gue udah siap." kecam Daniella sambil berjalan sempoyongan meninggalkan ketiganya.


Meski rasa sakit di tubuhnya terus menggebu, Daniella tersenyum smirk karena merasa puas bisa membalas Rivaldo. Itu belum setara dengan apa yang ia alami selama ini.


Rivaldo kembali ke mobilnya, diikuti supir dan anak buahnya tersebut.


"Jangan beritahu soal ini ke siapapun. Ketahuan gue bantai lo semua. Paham gak?" ancam Rivaldo dengan nada membentak.


"Paham tuan muda." balas mereka kikuk.


Mereka ikut pulang tanpa menolong korban yang mereka tabrak.


.


.


.


Daniella



Rivaldo



Ramaikan lapak ini ya, jangan lupa share dan rekomendasikan ke teman-teman kalian yang sesama pembaca Mangatoon/Noveltoon.

__ADS_1


👍📝 dan vote dari kalian menjadi penyemangat bagi author🤧


__ADS_2