Tale Of Daniella

Tale Of Daniella
Chapter 21


__ADS_3

Happy reading 📖


.


.


.


Daniella tiba di rumah bersama Alin dan Shakila. Dia melepas sepatunya yang basah dan menjemurnya sementara seorang pekerja di rumah Shakila membawakan handuk untuk mengeringkan rambut dan bagian tubuh Daniella yang basah karena berusaha menembus hujan tadi.


"Kaki kamu di lap dulu deh Dan." titah Alin.


"Iya bunda." Daniella mengangguk.


"Setelah ganti baju langsung turun ke bawah ya sayang biar kita makan bersama."


Sekali lagi Daniella menganggukkan kepalanya. Dia pun bergegas ke lantai dua untuk berganti pakaian di kamarnya.


***


"Woah," mulut Daniella menganga lebar begitu melihat banyaknya makanan yang tersedia di atas meja. Saat itu juga air liurnya terbit untuk menyantap semua makanan yang ada di depannya.


"Eits, bentar dulu Daniella. Tante undang tamu kemari. Gak banyak sih, cuma dua orang."


"Siapa tante?"


"Kakak dan Jennifer, kemari. Kita mau makan siang nih loh."


Kening Daniella mengerut. Jennifer? Apakah yang dimaksud tante Shakila adalah Jennifer yang ada di sekolahnya? Si queen of bullying?


Jantung Daniella berpacu cepat. Ia sangat berharap itu bukan Jennifer yang dia pikirkan. Tak sesuai harapannya. Dia melihat Jennifer yang datang bersama seorang wanita paruh baya. Mungkin itu adalah mamanya Jennifer.


Penampilan mama Jennifer sangat berkelas dan tampak seperti ibu-ibu sosialita namun positive vibes terpancar dari dirinya.


Seperti Daniella, Jennifer juga kaget melihat adanya Daniella di hadapannya. Dia langsung gusar dan tidak tenang. Mama Jennifer menyapa mereka semua dengan ramah.


"Hai, saya Jessie, tante Shakila dan ini putri saya. Namanya Jennifer," sapa wanita bernama Jessie itu kepada Alin.


"Saya Theialine Carissa nyonya, panggil saja Alin."


"Saya Daniella Calandra nyonya." sambung Daniella sopan.


"Ya nak. Kamu satu sekolah dengan Jennifer kan? Pasti kalian akrab."


"Ma, plis deh." ketus Jennifer tak suka mendengar ucapan mamanya. Mamanya ini sangat cepat menanggapi sesuatu. Sejak kapan dia akrab dengan Daniella? Mimpi. Itu tidak akan pernah terjadi. Dia tidak suka dicap akrab dengan orang yang ia benci.

__ADS_1


"Kenapa Jennifer sayang? Kalian bermusuhan kah?" tanya Jessie ingin tahu.


"Udah deh, mama gak bakal paham. Huh, dasar banyak tanya. Hm, jadinya kita mau makan apa ngobrol terus sih? Aku sangat lapar!" sentak Jennifer, membuat Jessie harus bersabar menghadapi putrinya itu. Sementara Shakila memelototinya tajam.


"Aku tidak suka sikapmu yang seperti itu Jennifer. Kamu hanya sekali-kali datang kesini dan jangan membuatku marah dengan tingkahmu."


Jennifer melengos tidak suka dan langsung makan tanpa menunggu orang-orang yang ada di sekitarnya.


Shakila muak dengan sikap Jennifer yang terus membangkang dan memarahi mamanya sendiri.


"Maafkan sikap Jennifer ya semuanya." kata Jessie merasa bersalah.


"Cih," lagi-lagi Jennifer berdecih.


Daniella merasa kasihan dengan mamanya Jennifer yang seperti tidak ada harga dirinya dibuat oleh Jennifer dihadapan orang lain.


"Gak apa-apa nyonya."


Sementara Alin mengelus dada dan berusaha sabar melihat pemandangan antara ibu dan anak yang sepertinya tidak akur itu.


"Mama lo masih hidup dan sesabar itu menghadapi lo yang gak pantas untuk diperlakukan dengan baik." batin Daniella geram saat sedang minum dari gelasnya. Dia mengepalkan kedua tangannya. Raut wajah Jessie tak bisa berbohong. Pasti sakit hati jika di marahi oleh putrinya sendiri.


Andai saja ini bukan di rumah keluarga Jennifer, ingin sekali rasanya dia memberi pelajaran yang setimpal kepada Jennifer. Huft, gadis itu sudah keterlaluan.


Sehabis makan siang Alin, Shakila dan Jessie sibuk mengobrol bertiga sementara Daniella menghampiri Jennifer yang sudah keluar lebih dulu sejak tadi.


"Dasar orang gak mampu. Emangnya siapa lo berani bicara kayak gitu sama gue. Sadar diri sana!" bentak Jennifer.


Sementara Daniella tersenyum kecil.


"Kenapa bukan lo yang ada di posisi gue sih? Biar lo tahu rasanya jadi yatim piatu." kecam Daniella.


"Hah? Gak salah dengar? Belagu banget lo adu nasib sama gue. Lo juga cuma numpang di rumah keluarga gue. Bangga lo?"


"Gue bisa aja nyuruh sepupu gue buat keluarin lo dari rumahnya. Lagipula lo harusnya sadar kasta lo sama kasta gue beda jauh. Euwh," sambung Jennifer dengan gaya bicara yang semakin menjadi-jadi.


"Oh ya? Berusahalah sebaik mungkin teman. Karena tante Shakila sayang sama gue loh." bisik Daniella menyeringai di telinga Jennifer.


Jennifer tampak panas di tempatnya. Ia menggenggam celananya kuat-kuat. Daniella sepertinya berhasil memancing emosi gadis itu dan tersenyum smirk lagi.


"Yang ditunggu-tunggu akhirnya, hahaha!"


"Maksud lo apa sih? Berantem sama gue sini."


"Ups, maaf. Gue buat lo marah ya?" kata Daniella lagi sambil menutup mulutnya, seperti pura-pura keceplosan.

__ADS_1


Jennifer hendak menampar Daniella namun dia kalah cepat. Tangannya telah ditangkap oleh Daniella dan mendapatkan tatapan tajam dari Daniella.


"Lo curang banget sih nyerang gue pake circle. Kenapa gak sendiri aja ya labrak gue? Gak berani ya? Jiah, dasar nyali patungan." ucap Daniella sambil tertawa jahat.


Jennifer memberontak dan menghempas tangan Daniella. Daniella santai saja menghadapi musuhnya ini.


"AAA!!!!!!!! BISA GAK SIH JANGAN GANGGU GUE!!!" Jennifer menjerit histeris.


"Heh, lo jangan kayak orang gila menjerit kek gitu. Dasar nenek lampir." timpal Daniella lagi sambil mendorong kepala Jennifer dengan jari telunjuknya.


"Lo... "


"Ada apa ini? Kenapa pada teriak-teriak?" ucap seseorang memotong percakapan antara keduanya. Itu adalah Jessie. Di ikuti oleh Alin dan Shakila yang sepertinya penasaran apa yang terjadi antara keduanya barusan.


"Gak ada apa-apa nyonya. Kita berdua lagi latihan akting. Siapa tahu suatu hari nanti bisa jadi aktris profesional. Ya, kan Jennifer?" balas Daniella menyengir, sementara Jennifer masih dengan amarahnya.


"Itu benar ya Jennifer?" tanya Jessie kepada putrinya.


"Gak tahu. Lo cari tahu aja sendiri."


"Jennifer!" bentak Shakila.


"Jangan sebut 'lo' ke mama kamu. Kamu makin hari makin minus akhlak ya? Saya akan bilang ke om entar supaya kamu pindah sekolah. Yayasan Athlanta tidak memiliki murid seperti kamu."


"Tenanglah Shakila. Saya mamanya. Saya yang akan menenangkan dia di rumah nanti. Tidak perlu memarahinya disini." timpal Jessie menenangkan Shakila.


"BTW tadi akting antagonis kamu keren loh Jennifer sayang. Menghayati sekali seperti kamu yang ada di dunia nyata sekarang ini." puji Jessie.


Mata Jennifer membelalak tak percaya. Mamanya percaya dia sedang akting bersama Daniella? Sementara Daniella menahan tawanya. Dia benci melihat senyum Daniella yang penuh kemenangan karena telah berhasil menyudutkannya.


Jennifer tak merespon apa pun lagi dan langsung kembali ke mobilnya. Diikuti oleh Jessie yang tentu saja kaget karena melihat putrinya berlinang air mata.


"Sepertinya Jennifer terlalu menghayati peran antagonisnya. Maafkan saya semuanya, saya harus pamit dulu."


"Ya tante. Hati-hati di perjalanan."


Daniella tersenyum puas sambil menaikkan sebelah alis matanya dengan sudut bibir yang tertarik. Semua orang di sekitarnya mempercayai apa yang ia katakan.


"Bersandiwara memang lebay sekali ya? Tapi kali ini sangat menyenangkan." gumamnya.


.


.


.

__ADS_1


👍, 📝 dan vote dari kalian menjadi penyemangat bagi author


__ADS_2