Tale Of Daniella

Tale Of Daniella
Chapter 22


__ADS_3

Happy reading 📖


.


.


.


Keesokan harinya di sekolah saat jam istrahat!


"Daniella!" panggil seseorang dengan suara cempreng, membuat fokus Daniella yang tadinya sedang menggambar buyar. Alhasil sebuah coretan yang tak diinginkan tercipta di kertasnya. Padahal sedikit lagi, maka pasti akan selesai.


Dia menoleh dan menghembuskan nafasnya kesal.


"Manggil gue sih boleh aja. Tapi ini gue lagi menggambar loh Chelsea sayanggg, Jangan ngagetin gitu dah." omel Daniella. Dia berusaha sabar menghadapi Chelsea. Siapa yang tidak kenal Chelsea? Salah satu cewek paling jahil di sekolahnya. Terkadang kejahilannya sangat meresahkan murid-murid di sekolah. Chelsea tidak punya teman yang pasti, nomaden. Chelsea juga dikenal periang. Meski begitu cewek itu juga merupakan bintang sekolah. Bayangkan saja dia selalu


memenangkan olimpiade Fisika untuk sekolah sejak kelas satu dan selalu menang.


Walau terkadang ada saja yang membicarakan dirinya namun Chelsea seperti masa bodoh dengan itu semua.


Cewek itu hanya nyengir ketika Daniella menoleh padanya.


"Mau ap... "


"Woah... ini kamu yang gambar Dan? Cantik banget huhuhu. Tapi kenapa ada coretan kayak gini? Mengurangi nilai aesthetic-nya aja deh." serbu Chelsea heboh dengan ekpresi wajah yang kagum pada hasil tangan Daniella.


"Coretan itu ada karena lo ngagetin gue," balas Daniella.


"E, eh... karena Chelsea ya? Maaf ya?!" ekspresi wajah Chelsea memelas seketika.


"Hmmm." balasnya lagi.


"Ada apa datang kesini Chel? Gak biasanya. Tumben banget. Mau jahilin gue?" tebak Daniella.


"Gak jadi deh. Soalnya Daniella udah tahu. Eh kita temenan yuk?" ajak Chelsea dengan entengnya sambil memegang tangan Daniella. Persis seperti memohon.


Daniella terdiam sejenak. Dia memang kembali menggambar di bukunya namun pikirannya terngiang-ngiang oleh permintaan Chelsea. Segampang itu? Dia kan belum pernah berteman akrab dengan siapa pun. Apalagi di sekolah ini. Sepertinya dia tidak bisa mempercayai siapapun sekali pun orangnya seperti Chelsea yang notabene ramah dan periang.


"Kok diam aja? Daniella gak mau temenan sama Chelsea ya?" duga Chelsea menyipitkan matanya dan berlagak seperti menyelidiki Daniella.


"Chelsea,"


"Iya Daniella? Kenapa?"


"Kalau gue bilang gue gak mau temenan sama lo gimana?"


"Aish, Daniella jangan nething sama Chelsea kayak gitu deh."


"Gue bilang gue trauma temenan sama orang lain karena kebanyakan teman dekat gue pasti akhir-akhirnya menghilang satu persatu. Makanya gue bilang gak bisa. Takut kecewa lagi."


"Daniella lebay banget deh. Apa perlu trial sama Chelsea kayak orang pacaran? Nggak banget deh. Temenan sama Chelsea dijamin bahagia." bantah Chelsea berusaha meyakinkan Daniella.


"Bahagia apanya? Yang ada gue jadi buronan temenan sama lo karena ngejahilin orang mulu kerjaannya." cibir Daniella.


"Nah itu salah satunya." kata Chelsea cengengesan.


"Dasar," gumam Daniella pelan.


"Eh BTW kemarin Chelsea minta maaf ya kayak gitu kemarin di depan kamu? Kamu pasti sedih banget ya karena... "


"SSTT, jangan dibahas deh. Malas dengernya." potong Daniella cepat. Dia tidak suka membahas hal yang menyedihkan baginya dengan orang lain.

__ADS_1


"I, iya deh. Biar impas biar Chelsea gak bahas soal itu lagi, kita temenan hehehe!"


"Perasaan tadi gue bilang nggak tuh," kata Daniella.


"Gak mau tahu, pokoknya kita temenan. Oh iya bentar ya Chelsea mau ke kantin dulu mau beli makanan. Dah laper soalnya." pamit Chelsea sambil berlari. Saat Daniella menoleh, Chelsea sudah tidak ada di hadapannya lagi.


"Asal lo tahu gue juga pengen berteman sama lo Chel. Tapi gue takut teman gue bukan lo. Gue takut berteman sama orang yang salah lagi."


Sulit sekali ya jadi Daniella? Sampai memilih untuk tidak berteman dengan siapa pun karena takut di khianati lagi.


***


"Buat Daniella!" cetus Chelsea tiba-tiba. Tangan kanannya menyodorkan es krim kepada Daniella sementara tangan satunya lagi memegang es krim miliknya.


Daniella tidak langsung menerima pemberian Chelsea, namun memandang curiga kepada Chelsea. Sementara Chelsea bingung mendapat tatapan seperti itu dari Daniella. Karena Daniella tak kunjung menerima eskrim pemberiannya, dia akhirnya meletakkan eskrim itu di depan Daniella dan duduk di samping Daniella.


"Kenapa Daniella?"


"Dalam rangka apa lo beliin gue eskrim?" katanya.


"Gak dalam rangka apa-apa tuh. Hanya pengen beliin Daniella es krim aja. Anggap aja sebagai permintaan maaf buat kemarin kalau kamu mau."


"Chel, gak perlu. Lagipula bukan sepenuhnya salah lo. Tolong jangan baik ataupun berusaha dekat sama gue. Karena semua orang yang pernah dekat sama gue pernah bilang kayak gitu dan lo tahu ujungnya apa? Mereka pengkhianat dan ninggalin gue."


Chelsea terdiam.


"Tapi Chelsea gak gitu loh!"


"Mana gue tahu lo benar-benar tulus apa nggak. Gue bukan cenayang."


"Tebak pakai telepati dong!"


Daniella membereskan peralatan menggambarnya dan mengambil eskrim pemberian Chelsea yang tadinya diletakkan di mejanya.


"Gue bakal makan eskrim pemberian lo tapi setelah ini nggak lagi. Terimakasih banyak lo udah traktir gue." pesan Daniella dan akhirnya pergi dari kelasnya.


Chelsea tidak sakit hati, malah sebaliknya. Dia merasa senasib dengan Daniella. Terkadang dia juga ingin memiliki teman dekat yang tetap yang menyenangkan baginya. Tidak berpindah-pindah.


"Aku tahu kok apa yang kamu rasain sekarang. Tapi mungkin sesusah itu ya percaya sama orang seperti aku?"


Tapi Chelsea merasa bersyukur saat Daniella masih mau menerima pemberiannya. Dia berpikir sebentar, dan akhirnya berlari mencari Daniella yang pergi entah kemana.


"Duh Daniella ada dimana sih? Biasanya orang seperti Daniella itu cenderung penyendiri. Berarti harusnya bukan di antara keramaian kan? Harusnya carinya di tempat-tempat sepi dan tenang. Sekarang tempat yang tersisa antara gudang sekolah sama loteng sekolah. Iya benar. Sepertinya di loteng sekolah!" cetus Chelsea menyimpulkan. Karena dia sudah mencari Daniella diantara tempat-tempat yang biasanya sepi dikunjungi murid-murid SMA Athlanta International High School.


Dengan cepat Chelsea langsung berlari menghampiri lift sekolah untuk pergi menuju loteng sekolah. Lift menuju lantai teratas sekolah memang tidak langsung otomatis menghubungkan ke loteng namun setidaknya dia tidak melewati puluhan anak tangga untuk mencapai loteng sekolah.


Namun sayangnya semua lift sekolah sibuk dan dipenuhi para guru dan staf yang sibuk bekerja di sekolah ini.


"Aish, kalau gitu harus lewat puluhan anak tangga dong. Tapi it's ok lah,"


Chelsea putar balik. Dia langsung berlari menaiki puluhan anak tangga menuju loteng. Meski terbilang melelahkan.


"Hosh... hosh... hosh... lima lantai lagi," keluh Chelsea sambil menstabilkan pernafasannya. Dia pun memutuskan untuk berjalan santai. Tangan kirinya menyentuh pegangan tangga.


Chelsea melap keringatnya dan mengelus-elus dadanya. Dirasakannya jantungnya berdegup kencang. Kini seragam sekolahnya basah oleh keringatnya.


Akhirnya dia mencapai loteng sekolah dan membuka pintu loteng. Dia mengedarkan pandangannya dan melihat seseorang duduk di bangku sambil menggambar. Gadis itu memang benar Daniella saat ia menoleh.


"Ada perihal apa lo ngikutin gue lagi sampai sini?"


"Maaf kalau Daniella risih. Chelsea cuma mau bilang, Chelsea janji gak bakal kayak mereka yang kamu bilang."

__ADS_1


"Gue gak bisa Chel. Mohon maaf. Lo jangan kayak gini deh. Cari orang yang lebih baik lagi buat jadi teman lo. Yang pastinya bukan gue."


"Tapi Daniella, Chelsea... "


"Jujur gue lama-lama bisa risih sama lo kalau lo kayak gini terus. Gue gak minta lo dekat sama gue."


"Maaf Daniella."


Daniella sebenarnya tak tega dan merasa terlalu jahat kepada Chelsea. Namun sebaik-baiknya dia, dia juga akan merasa risih jika di dekati seperti itu terus menerus oleh Chelsea.


"Jangan minta maaf lagi." Setelah mengatakan itu, Daniella pergi lagi seperti sebelumnya.


"BTW eskrim pemberian lo enak banget."


Chelsea hanya bisa menahan senyumnya. Dia akhirnya berjalan pelan mengikuti Daniella yang telah pergi lebih dulu dari loteng sekolah. Daniella tak tampak lagi disana. Dia menuruni anak tangga dengan langkah lemas. Namun disaat-saat dia sedang sedihnya, tiba-tiba saja dia melihat Daniella dan Rivaldo bertengkar.


***


Sementara itu yang terjadi antara Daniella dan Rivaldo.


"Kyaaa!" teriak Daniella saat Rivaldo menghadang langkahnya dengan sepatunya. Daniella nyaris terjatuh dan ditangkap sendiri oleh Rivaldo. Mata keduanya bertemu pandang namun sesaat kemudian Daniella sadar.


"Hati-hati kalau jalan makanya!"


"Dasar gila! Lo penyebab gue hampir jatuh dan dengan seenaknya lo bilang gitu." balas Daniella sambil merapikan rambutnya yang berantakan.


"Marah-marah mulu entar cepat tua. Malu entar Aksa punya cewek wajahnya tua banget. Contohnya lo."


"Gak ada juga yang mau pacaran sama teman lo itu. PD banget." Daniella menabrak bahu Rivaldo dan pergi sambil mendengus kesal. Sementara senyum Rivaldo tertarik karena berhasil membuat Daniella marah.


"Gue suka liat wajah emosian lo itu. Biar tambah tua. Wkkk!" dia menatap punggung Daniella yang semakin menjauh dari pandangannya.


"Rivaldo!" panggil seseorang. Rivaldo menoleh dan menaikkan sebelah alis matanya. Tumben-tumbennya dia bertemu dengan Chelsea.


"Lo kenapa bisa ada disini?"


"Kamu gak perlu tahu apa alasannya aku ada disini. Tapi tolong jangan buat Daniella marah kayak tadi. Kasihan tahu?! Daniella itu baik banget loh sebenarnya."


"Oh."


"Jangan jahat gitu sama Daniella. Kamu itu udah termasuk membuli dia selama ini."


"Hmmmh."


"Chelsea cuma mau bilang itu sama kamu. Chelsea minta tolong banget sama kamu." kata Chelsea mengakhiri percakapan antara mereka sebelum akhirnya dia pergi.


Rivaldo terdiam seribu bahasa di tempatnya.


Cast Chelsea




.


.


.


👍, 📝 dan vote dari kalian menjadi penyemangat bagi author

__ADS_1


__ADS_2