Tale Of Daniella

Tale Of Daniella
Chapter 17


__ADS_3

Setelah memakan waktu yang cukup lama untuk mengobrol waktu di restoran, kini Alin dan Shakila pergi ke rumah sakit untuk menjenguk Daniella.


"Daniella itu anak yang bagaimana sih?" tanya Shakila sambil fokus menyetir. Alin tercengang mendengar pertanyaan Shakila. Namun kemudian dia menjawab meski Shakila bilang tak penting dijawab jika dia merasa tidak nyaman.


"Dia... anak yang baik. Dia pantas bahagia. Selama ini dia selalu menderita dan yah... dia juga menjadi bahan bulian teman-temannya. Aku tak ingin dia trauma karena perbuatan teman-temannya."


"Yah firasatku benar sejak melihatnya di rumah sakit tadi. Daniella cukup cerdas untuk menyelamatkan dirinya. Dia masih menyempatkan diri untuk menghubungi polisi."


"Dia memang cerdas hahaha! Daniella itu juara kelas dari dulu. Bahkan sampai saat ini dia masih mempertahankan juara umumnya."


Shakila tambah kagum dengan sosok Daniella lewat cerita Alin.


***


"Bunda Alin dimana sih sebenarnya? Apakah dokter itu hanya berusaha menghiburku? Huft," keluh Daniella tak tenang. Daritadi ia tak bisa tenang karena tak diperbolehkan kemanapun oleh dokter.


Dokter dan suster itu terlalu mengkhawatirkannya. Dia juga ingin melihat Alin sekarang. Dia mematikan TV yang daritadi malah menontonnya. Dia sangat bosan. Tak ada saluran TV yang menghiburnya. Biasanya juga kan channel TV di rumah sakit hanya memiliki beberapa siaran saja?! Itupun kebanyakan saluran yang memuat berita. Bukan karena dia tak suka menonton berita tetapi karena saluran berita yang kebanyakan memuat berita kriminal. Dia tak pernah tertarik menikmati siaran berita kriminal.


Matanya memutar dari atas ke bawah melihat langit-langit ruang tempat ia dirawat dan kembali menghela nafas panjang lagi.


"Arghhhh... " dia setengah berteriak sangking bosannya.


"Daniella!" kata suara seseorang tiba-tiba. Itu adalah suara dokter yang tadi menanganinya.


"Ada orang yang ingin menjengukmu." kata dokter tersebut.


Mendengar itu Daniella senang bukan kepalang. Apakah itu bunda Alin?


"Siapa dokter?" tanya Daniella memastikan.


"Rahasia. Lihat saja nanti." canda dokter tersebut sambil mengedipkan sebelah matanya. Daniella mendengus sebal sambil menimpuk bahu dokter tersebut dengan bantalnya.


Dokter Varel tertawa kecil melihat reaksi Daniella. Dokter Varel memang masih muda dan sangat tampan untuk ukuran dokter. Dia dan Daniella terpaut usia delapan tahun. Dokter Varel berusia dua puluh tujuh tahun.


"Dokter mengganggu pasien itu adalah pantangan besar loh," kata Daniella kemudian tersenyum smirk.


"Siapa bilang? Dasar tukang ngarang. Ya udah saya pergi dulu."


"Hm,"


"Jangan cemberut. Entar gak ada cowok yang mau pacaran sama kamu." dokter Varel segera menghilang di balik pintu sebelum Daniella akan melempar bantalnya lagi.


"Hahaha, dokter Varel baik banget sih." gumam Daniella mengingat-ingat sosok dokter Varel yang asik diajak untuk berbicara.


"Daniellaaa!" panggil Alin dengan panjang namun lirih. Di belakang Alin ada seorang perempuan lagi. Tentu saja itu adalah Carissa.


"Bun, bunda!" tak seorang pun yang dapat menggambarkan betapa senangnya Daniella saat itu.


Alin segera memeluk Daniella.

__ADS_1


"Bunda senang kamu baik-baik aja."


"Daniella juga sebaliknya. Senang banget waktu lihat yang menjenguk Daniella memang bunda. Sesuai ekspetasi Daniella."


"Kenalin ini Shakila. Teman baru bunda."


Daniella yang tahu siapa itu Shakila, langsung tercengang.


"Anda pacaran dengan dokter Albert kan?"


"Itu dulu Daniella sayang. Jangan takut sama saya. Saya tidak sama dengan Albert."


"Saya yakin tapi kenapa anda bisa bersama dengan bunda saya?"


"Tadi kami sempat mengobrol sayang. Dia sama miss Agni juga yang udah nyelamatin bunda dari polisi palsu yang mau menjarain bunda."


"Kenapa bisa begitu bunda?"


"Mereka membuat bunda jadi tersangka. Padahal bunda juga korban seperti kamu."


"Mereka benar-benar keterlaluan. Terimakasih nyonya sudah mau membantu bunda saya."


"Iya sayang," balas Shakila.


"Ngomong-ngomong ini tante bawain kamu kue. Dimakan ya kalau bosan sama makanan rumah sakit?!" Shakila meletakkan sebuah plastik berisi kotak kue kesukaan Daniella.


"Uwahh... makasih banget nyonya!"


"Baiklah tante,"


"Aduh gemes. Kamu kok patuh banget sih? Hahahaha,"


"Harus itu tan, hehehe!"


"Oh iya mungkin sekitar empat hari lagi kamu udah bisa balik ke rumah. Jadi usahakan selama di sini udah istrahat yang cukup."


"Iya tante."


Ketiganya tertawa lepas untuk melepas kekecewaan masing-masing. Alin membuka kotak kue brownies tersebut dan memotongnya untuk Daniella. Sementara Daniella dan Shakila berbincang-bincang.


"Tante gak sibuk ya? Setahu saya jadi model itu sibuknya 24/7, hehehe."


"Tante lagi hiatus sayang. Yeah tante punya alasan yaitu membongkar semua kejahatan Albert. Dan hari ini semuanya terwujudkan. Tante marah, juga terkejut. Tante gak tahu kapan tante bisa maafin dia tapi suatu saat nanti pasti bisa tante maafkan sepenuhnya. Tante gak bisa benci dia selamanya."


Daniella terdiam. Shakila begitu bijak, sesuai dengan kecantikannya. Masih adakah lagi orang yang berpikiran seperti itu?


Kembali ke dirinya. Dia selalu disakiti banyak orang tapi apakah dia bisa memaafkan mereka semua? Memaafkan satu orang yang menyakitinya saja rasanya susah. Orang yang menyakitinya lebih dari satu.


Mana mungkin dia membawa semua kebenciannya sampai mati? Terlalu berat memaafkan mereka semua namun ia juga ingin memaafkan mereka dengan tulus, sampai tak ada lagi sisa-sisa kebencian yang membekas di hatinya.

__ADS_1


"Karena bagaimanapun dia juga pernah baik sama tante. Tante cuma memaafkan, bukan untuk mencintai Albert kembali."


JLEB! Perkataan Shakila dari tadi terus mengenai dirinya. Dia pun mencamkan semua perkataan Shakila dalam pikirannya.


Daniella semakin kagum dengan Shakila. "Udah cantik, karirnya sukses gemilang, kaya sejak lahir, cerdas, baik pula."


"Tapi tante Shakila terlalu baik untuk orang brengsek seperti dokter Albert,"


Alin menghentikan percakapan antara keduanya. Dia menyodorkan piring kue kepada Daniella dan di terima oleh gadis itu.


Daniella menusuk sepotong kue tersebut dengan garpu yang telah tersedia dan memasukkannya ke dalam mulutnya.


"Enak banget kuenya tante." katanya sambil terus mengunyah kue tersebut.


"Tante tahu nih!!! Kamu hobi ngemil kan?" tebak Shakila membuat Alin menahan tawanya. Shakila benar.


Sementara Daniella merasa 'terciduk' dan hanya bisa menyengir lebar.


"Tante cenayang ya? Atau gak indigo?" tebak Daniella.


"Gak dua-duanya sayang. Soalnya liat kamu yang semangat makan kek gini ngingetin tante sama seseorang."


Daniella dan Alin hanya bisa manggut-manggut.


"Alin kerja apa sih? Saya penasaran soalnya."


Alin terdiam sebentar. "Saya tidak ada pekerjaan yang pasti. Soalnya Daniella harus terus saya amankan sebelum diculik oleh orang-orang jahat itu."


"Really?" tanya Shakila lagi.


Alin menganggukkan kepalanya.


"Bukan bagaimana ya... tapi jika kamu bersedia menjadi manager saya setelah saya aktif nanti, kamu bisa menghubungi saya. Tapi syaratnya kamu harus mendalami bahasa Inggris dan juga bisa berkomunikasi yang membangun."


"Saya bersedia. Jika anda ingin tahu, dulu saya adalah sarjana lulusan fakultas Bahasa Inggris. Tapi saya memutuskan untuk mengabdi kepada keluarga tuan Dilan, orangtuanya Daniella. Tapi mereka sudah almarhum." cerita Alin hati-hati, takut menyinggung perasaan Daniella.


Sementara Daniella sepertinya tidak mendengarnya. Dia malah keasyikan ngemil.


"Baiklah, kamu bisa bekerja untuk saya jika saya tidak hiatus lagi. Soal gaji perbulan aman."


Mendengar dirinya diterima sebagai manager seorang model terkenal seperti Shakila, membuat Alin merasa bahagia. Akhirnya dia mendapatkan pekerjaan lagi.


Dia bertekad ingin bekerja dengan becus dan berusaha sebaik yang ia bisa.


"Nantinya uangnya bisa membiayai kebutuhanku dan Daniella sehari-hari."


.


.

__ADS_1


.


👍, 📝 dan vote dari kalian menjadi penyemangat bagi author.


__ADS_2