
Nena dan Silla mencari Phillip ke kamarnya, namun kosong. Mereka bergegas masuk ke ruang Tindakan, takut apabila terjadi hal buruk pada Phillip.
Namun setelah mereka masuk-keluar kelima ruang Tindakan tetap kosong.
"Mbak.. Phillip dimana?"
Silla begitu takut. Dia sangat takut jika omongan nya pada Phillip semalam membawa Phillip pada hal-hal buruk.
Nena meraih HP nya yang berada di celana trainingnya hendak menghubungi Bang Vian.
"Nah... dicariin juga.. kalian dari mana sih?"
Phillip menggerutu pada Nena dan Silla yang kemudian Tapak Tanpa Bayangan *nya*** Nena mendarat di punggung Phillip.
"Kamu yang darimana? gak tau apa kita khawatir?"
"Shitt!! Nen-Nen sakit ich.."
Lalu Phillip memberitahukan jika dia semalam menemui Konselornya di ruang konseling, Lalu ke ruangan Tindakan untuk diperiksa dan setelah itu dia ke ruang Administrasi karena sudah di ijinkan oleh dokter dan konselornya.
"Cepetan gih, pada mandi. ntar lagi Bang Vian bakal jemput kita."
"Seriusan, Lip?"
Nena tidak percaya. sedangkan Silla yang sedang berdiri kikuk selama mendengar penjelasan Phillip menyunggingkan bibirnya tipis, Dia bersyukur tidak terjadi apa apa pada Phillip, lalu Silla menghembuskan napasnya pelan.
Phillip memperhatikan Silla secara intens.
"Sil, aku duluan yah... Lip, cepetan mumpung gak ada orang"
"Kenapa?"
Phillip bingung dengan ucapan ambigu Nena
"ya kali ngepel lantai? yah Ci.Po.Kk nya lah!"
"Oia, nti kalo ketahuan aku bisa masuk lagi karena kecanduan nyipok yah?"
Phillip menyambar pengertian Nena dan dengan cepat berdiri dihadapan Silla, lengan kirinya menarik pinggang Silla menempelkan pinggul mereka berdua lalu mencium mesra Silla, sementara Tangan kanan nya menutup mata Nena, Nena meronta kesal pada Phillip.
Ciuman yang sangat singkat, Namun membuat jantung Phillip dan Silla berdetak tak beraturan.
Saat Silla dan Nena keluar dari pintu utama yang memisahkan antara ruang tunggu pengunjung dan Hall dari Pusat Rehabilitasi, mereka t
dikejutkan dengan rombongan Bang Vian, Nouval, Dika, Ivan, Ardi dan Lulu yang sedang menunggu mereka.
"Mana Phillip?" Nouval bertanya
"Aku kangen kamu Nena sayang."
Nada malas malasan Nena membalas pertanyaan Nouval, Nouval menggaruk tengkuknya yang tidak gatal sambil mengeluarkan cengiran kudanya.
"Auk nih anak, bukanya kangen kangenan ama pacarnya malah nyari cowok!"
Ucap Lulu sambil menoyor kepala Nouval
"Nen, kamu gak tau sih.. 3hari ditinggal kamu, dia punya gebetan baru anak kelas X"
Dika mencoba memanasi Nena
"Syukurlah.. kirain aku pacaran ama peserta LGBT"
"Dih... Nen-Nen gak tau aja... gebetan Nouval loh Cowok!!"
Ivan menimpali ucapan Nena. semua yang berada di ruangan tunggu sontak tertawa mengejek Nouval yang sudah berdiri didepan Nena dan mengusap lembut wajah Nena dengan tangan kanan nya. Karena Nena ikutan mengejek dirinya
"Astagaaa... Kalian berisik banget sih!! bikin malu aja deh!!"
Tiba Tiba Phillip menampakan wajahnya dari pintu dengan menggerek kopernya.
"Phillip...." Ivan dengan gaya lebay nya
"Ma Vrooohh!!" Ardi
"Cintaaaa....." Lulu dengan gaya centilnya berlari ke arah Phillip dan memeluk nya.
"..."
__ADS_1
Seketika suasana jadi hening. Lulu keceplosan memanggil Phillip tanpa menyadari ada Silla - istri Phillip bersama mereka di situ.
Ivan yang berada didekat Phillip dan Lulu menarik Lulu, lalu menggunakan dagu nya menunjuk pada Silla.
"Tapi Phillip Cintaaaaa ama yang ini..."
Lulu setengah berlari dan menubruk Silla lalu memeluk Silla.
"Buahahahahahaa..."
Membahana di ruangan tunggu suara tawa dan olokan pada Lulu
"Dia buang malu nihhh..." Ivan
"Sokorrr!! makanya rem-rem itu sikap" Ardi
"Ganjen ja' di pelihara..." Dika
"Gak apa apa kok. Saya ngerti Mbak Nena dan Mbak Lulu sahabat Phillip."
Silla melerai tawa kakak dan sahabat sahabat Phillip - suaminya.
"Untung aja Silla pengertian."
Nouval berkata pada Lulu karena melihat pipi Lulu yang merah padam karena malu.
"Sill, klo aku jadi kamu.. dah ku lempar ke laut si Lulu itu"
Ivan mulai memanasi Silla yang mendapatkan lirikan liat aja kamu nanti dari Lulu.
"Sudah sudah... ayo kita pulang. nanti kita mampir makan siang dulu ya merayakan kesembuhan si bocah ini."
Bang Vian melerai obrolan teman teman adiknya.
"Makan Makan kitaaaa..." Sorak mereka semua.
"Val, mobil loe muat satu lg kan?"
Phillip bertanya pada Nouval
"Bang Vian ikut loe. gue pake mobil bang Vian. sini konci nya Bang."
"Cieeee..."
"Cuwiwit..."
"Doooh... yang pengantin baru"
"Iya in aja dah..."
Segala olokan dari teman teman dan Bang Vian di lontarkan pada Phillip dan Silla.
Silla tertunduk malu, sedangkan Phillip hanya tersenyum
"Bang, ade juga mau di halalin donk.."
Nena berkata pada Nouval, yang kemudian terdengar suara suara sumbang berupa olokan pedas pada Nena
"Dooh.. malesnya akoh tuh.."
Lulu berkata seperti itu sambil menatap langit.
Nena hanya tersenyum senyum tidak tau diri. karena Senang membuat teman teman nya dongkol...
Saat di perjalanan akan menuju sebuah Restaurant elite yang terletak di pusat bisnis kota mereka
didalam mobil, Phillip dan Silla hanya terdiam dengan pikiran mereka masing masing.
"Yang semalam beneran kan?"
Phillip memecah keheningan
"Heh... eh.. hhmm.."
"Kamu tidak boleh menariknya kembali. sudah tidak boleh mundur.."
Phillip berkata dengan penuh penekanan.
__ADS_1
"Yang mana?"
Pertanyaan Silla membuat mata Phillip membulat sempurna tidak mempercayai pendengaranya.
"yah ampun! kamu bersama Nena 3 hari aja sudah ketularan Lemot nya.."
"heh? maksudnya?"
"Pokoknya kamu harus temani aku. Titik!"
Phillip sudah mulai jengkel dengan Silla.
"ooh.. cuma temani kamu yah? kirain... hmm.."
Silla berucap lirih dan menundukan kepalanya. Phillip memandang Silla dan dengan lantang menyambung ucapan nya sendiri
"Iya temani aku sebagai istri aku.."
Silla tersipu malu.
Telunjuk kiri Phillip mengangkat dagu Silla lalu berkata
"Aku suka senyum kamu. sering sering tersenyum yah kalo dekat aku"
Silla menganggukan kepalanya dengan senyum manis menghiasi wajahnya.
Setelah mereka makan siang, mereka mengantar Phillip ke rumahnya untuk bertemu dengan orang tua Phillip.
Ketika subuh tadi mendapat telpon dari Vian mengabari Phillip aka keluar Rehab, Tante Devy dan Om Danuzo yang sedang
melakukan perjalanan bisnis cepat cepat pulang.
"Anak Mama!!"
Tante Devy berhambur ke pelukan Phillip. semua menyaksikan dengan penuh haru.
"Duhh Ma.. leher Phillip tercekek nih"
"Kamu hebat sayang! bisa cepat menyelesaikan program rehab kamu. Bagaimana ceritanya?"
Phillip tersenyum malu malu, bingung bagaimana harus menceritakan nya, lalu dengan kikuk berkata pada papa dan mamanya
"Pokoknya Phillip dah nemu obatnya deh"
"Hah?!? Kok obat lagi...?"
Ayah Phillip kaget mendengar ucapan Phillip. Lalu memandang menuntut penjelasan pada Nena dan Silla sebagai Pendamping Phillip saat di Pusat Rehab.
"Om Tante tenang aja... kali ini Obatnya Phillip luar biasa ampuh deh"
Pernyataan ambigu Nena membuat orang tua Phillip, Bang Vian dan teman se-genk nya semakin bingung dan khawatir.
Sedangkan Nena senyum senyum cuek dan menyentil siku Silla yang duduk di sebelahnya.
"Kalian yang ngomong, ato aku yang cerita tanpa sensor?"
Nena kembali dengan ucapan ambigu nya kali ini ditujukan pada Silla dan Phillip, sedangkan yang di sentil semakin gelisah salah tingkah
"Hmmm..." "Eh.. anu.."
Silla dan Phillip bersamaan
"Kelamaan deh. cepat Nena, tante pengen tau ceritanya.."
Tante Devy tidak sabaran, ketika Nena akan membuka suaranya dengan cepat Phillip berkata
"Silla yang akan bantu Phillip pulih di rumah."
"Oooh.. begitu. kenapa gak bilang daritadi sih?" Bang Vian
"Iya ribet banget daritadi"
Lulu menimpali omongan Bang Vian. Sedangkan orang tua Phillip tersenyum penuh arti karena paham jika anak dan menantu mereka sudah mulai menerima pernikahan hasil perjodohan bisnis mereka.
Selanjutnya, kedua orang tua Phillip meminta maaf pada Phillip dan Vian karena keegoisan mereka hampir saja keluarga mereka hancur.
Suasana haru dan bahagia dalam rumah Phillip sangat terasa.
__ADS_1