Taruhan Manis

Taruhan Manis
4. HEBOH !! Happy Reading yaaaa...


__ADS_3

"Mampus.. Mampus... telat deh" Nena sibuk merapikan seragam dan bersiap siap berangkat sekolah


"Nena, tumben terlambat bangun" Ayah bingung melihat anak tertuanya yang grasak grusuk di pagi hari


"Ibu mana, Yah?" Nena bertanya karena biasanya Nena dan Dion adiknya yang masih TK akan naik motor bersama Ibunya sampai terminal selanjutnya akan menuju TK Handayani tempat Ibu bekerja sebagai guru dan Dion bersekolah


"tuh.." Ayah menunjuk keluar dimana Ibu Nena sedang mengeluarkan motor dari garasi


"Ayo Kak.." panggil Dion


"Ntar, kk pake sepatu dulu" Nena merutuki dirinya sendiri karena semalam begadang mikirin taruhan dari Phillip... "Ngapain dipikirin sih, kan tinggal tolak aja."


Di terminal, Nena setengah berlari menghampiri teman temanya yang menatap bingung melihat wajah Nena yang amburadul


"Kamu kenapa Nen?" Ardi bertanya lebih dulu sambil merangkul pundak Nena, sedangkan Nouval merutuki diri karena telat bertanya


"Aku Masih ngantuk nah"


"Emang kalo cewek mens, perutnya sakit banget yah?" Dika bertanya polos "duh.. ***! Sakit woi.." Dika memaki karena kakinya di tendang Nouval


Lulu yang ditanya Dika malah berpikir.. Lah?!? kan minggu lalu Nena baru selesai datang bulan yang hampir bersamaan dengan dirinya.


Dengan gaya centil yang di buat buat, Phillip menggandeng lengan Nena


"Ya... Sayang, debay nya gak jadi donk"


sontak Nena menatap Phillip dengan mata yang membulat sempurna sedangkan yang lain sudah ribut tertawa melihat gaya centil Phillip


"Najis! Phillip muka mu nah..."


Nena pun ikut tertawa, sedangkan Nouval hanya menyunggingkan bibirnya menahan gemuruh hatinya karena pagi pagi sudah melihat Nena-nya, Calon Pendamping Masa Depan nya, Calon Ibu anak anaknya sudah di rangkul dan di gandeng oleh dua sahabatnya.


Ya... meskipun Dika, Ardi, Ivan dan Phillips sahabatnya namun Nouval tetap tidak ikhlas jika Bahu Nena di rangkul, Lengannya di gandeng, Kepalanya di elus oleh mereka. Nouval cemburu...


Yang lebih parah, Nena tidak menyadari bahkan tidak peka akan perasaanya itu yang membuat Nouval sering sakit hati.


Ketika Genk itu sampai didalam kelas, Gandhi langsung memeluk Ardi


"Dih.. Najis! Aku masih Normal.." Ardi mundur melepaskan pelukan Gandhi


anak anak satu kelas riuh melihat kejadian tersebut


"Wahai Paduka, tolonglah rakyatmu ini... buatlah sesuatu bagi kami..." Gandhi mendramatisir


"Wahai rakyatku... ada apakah?!?" Ardi pun ikut lebay


"Sesaat setelah Bell berbunyi... Raksasa Mochtar akan menghampiri kerajaan kita dan itu akan berlangsung sampai jam istirahat siang"


hah?!?


anak anak yang sudah di dalam kelas mengeluh


"Aww... Lulu!! Sakit taik!!" Ivan meringis karena tiba tiba Lulu Memukul punggungnya


"Bangke! tau dari mana Gan?" Teguh bertanya


"Lah.. kan hari ini beberapa guru akan ikut verifikasi guru di diknas termasuk Pak Rudi dan Bu Midah... Nah yang akan ngisi kelas kita itu Raksasa Mochtar. tuh bukunya beliau tadi aku disuruh bawa" Gandhi menjelaskan


aaaahhhhh... seisi kelas mengeluh dan memberikan tatapan memelas pada Ardi, sementara Ardi masih berpikir Bel masuk sudah berbunyi


Raksasa Mochtar yang di maksud adalah guru pelajaran Ekonomi-Matematika yang terkenal killer...


Ketika masuk dalam kelas hanya memberi salam singkat dan menulis soal di papan tulis


"Ruli, maju selesaikan soal ini..." Ruli yang di suruh maju keringat dingin.


Ardi mengambil benda pipih dari tasnya dan mengetik sesuatu di laman group kelasnya dan memberikan tatapan tajam bergantian pada Ridho dan Nena yang memang selalu mendapatkan urutan pertama dan kedua di seluruh jurusan IPS untuk seangkatan mereka


satu persatu siswa maju mengerjakan soal, tapi tidak ada yang bisa menyelesaikan termasuk Nena yang membuat Pak Mochtar heran jangankan mengerjakan, mengambil spidol saja tidak


"Maaf Pak, saya lagi datang bulan.. jadi mood saya lagi gak bisa mikir"


teman teman sekelas terkikik dan menyembunyikan ketawa mereka karena jawaban Nena yang tidak nyambung


Giliran Ridho maju...


"Pak.. bisakah saya dapat hukuman shooting bola basket saja?"


anak anak XI IPS4 sudah tidak bisa menahan senyum mereka


Yups... tadi Ardi mengetik di laman group XI IPS4

__ADS_1


'Jangan Ada Yang jawab soal di papan yah'


'Kita musuhin berjemaah klo Nena & Ridho ngerjain'


dengan Emoji Tinju dan wajah marah


Pak Mochtar hanya menggeleng dan akhirnya mengangguk mengerti


"kalo Ridho berhasil masukan bola 3x... Kalian lanjutkan kerjakan soal tadi di kantin"


"Main bola, boleh Pak?" Ardi menawar


"Masing masing, gol 2x" Pak Mochtar menunjuk ke enam anak perempuan di kelas


"Yeaaaah!!" "Wohoooo..." "Alhamdulilah"


anak anak bersorak riang


"Jangan Ribut!" titah pak Mochtar


di lapangan XI IPS4 sibuk membantu Ridho agar memasukan bola basket dalam ring dan anak anak cewek tendang bola, meski lebih banyak bermainya daripada membantu


Bahkan Ivan dan Dika berjoget ala Gangnam Style dengan wajah menjijikan menghibur teman teman lainya


"Taruhanya gak jadi yah?" Phillip mendekati Nena dan Lulu yang berdiri ditengah lapangan sambil menunjukan Kartu Iuran Sekolah Nena


"Sialan Phillip... kapan Kamu ngambil?" Nena sewot melihat Kartu yang seharusnya berada dalam tasnya sudah di tangan temanya, Phillip hanya tersenyum manis


"Nouval.... Mulai Sekarang Kamu jadi pacarku!!" Nena berbalik badan menghadap Nouval dan Berbicara namun cukup di dengar teman teman yang berada di lapangan


"..." semua pada bengong


"gak ada *****, taruhan batal" Lulu berbicara lirih pada Nena hanya di dengar oleh Phillip dan membuat bahu Nena terturun lemas dan gelisah.


Malunya pikir Nena... akhirnya Nena berlari


"Cup"


Nena menarik baju Nouval supaya membungkuk sedikit, menempelkan bibirnya ke bibir Nouval... cukup membuat mata Nouval membulat sempurna memandang mata Nena yang hanya berjarak beberapa centimeter dari matanya


"Hiyaaaaa"


"Bangke!!"


"Wooohoooo...."


Plokk... Plokk..


segala Makian dan sorak sorai anak anak kelas XI IPS4 ditengah lapangan membuat Pak Mochtar berlari ke lapangan


"Ada apa?"


Teet... Tett... Bersamaan Bell istirahat berbunyi


"Waktunya istirahat Pak!" Teriak anak anak


"Cepetan kuasai meja Kantin! masing masing 1 mangkok bakso dan Es Teh" Ivan berteriak


"Kamu Traktir kah Van?" Ria bertanya


"Papa dan Mama donk Dek Ria" Lulu menjawab, melirik Nena dan Nouval sambil bertoss dengan Ivan dan Ria... dan menarik lengan Nena yg masih berdiri kaku berhadapan dengan Nouval yang juga kikuk


"MAKAN MAKAN.." anak anak XI IPS4 bersenandung riang menuju kantin


Phillip menghampiri Nouval dan memukul halus bahunya..


"Kalo senang jangan di tahan, jadi gila loh.."


Di dalam kantin hampir semua bangku terisi anak anak XI IPS 4 menikmati Bakso dan Es teh..


Nouval dipersilahkan duduk berdampingan dengan Nena, di samping Nouval ada Ardi sedangkan di samping Nena ada Lulut.


Ivan, Dika dan Phillip dan Ria duduk di bangku depan mereka. seketika Nena bertanya polos


"Lu.., kamu gila yah? aku gak ada uang Lu..."


"Uhukkk..." Nouval tersedak


"Mamah Sayang... tenang yah, di sebelah mama itu ada babang tamvan, yaitu Papahnya kami yang akan bayarin kita" dengan wajah genit ala anak anak balita Ivan menyerocos


Nouval menatap Nena, tersenyum manis dan mengangguk

__ADS_1


"Hasyuuuu... Es Balok!! senyum mu bikin kajung" Dika berdiri dan menggeliatkan tubuhnya, di sambut riuh teman teman lain


ketika Bell istirahat usai, siswa siswa lain masuk ke kelas masing masing. kelas XI IPS4 masih di kantin dengan maksud mengerjakan soal dari Pak Mochtar


"Buntu nih otak ku" tiba tiba Ridho yang terkenal pemalu bersuara, membuat anak anak lain bingung..


"mampus!"


"Gawat..."


"Alamak!"


"Dia buntu.. apakabar kita?" Reka dan Arief yang terkenal paling suka nyalin tugas berpandangan


"Kenapa Dho?" Sinta sang sekretaris kelas bertanya


"Gak ada ransum yang tersedia nih.." Ridho menjawab pelan


"Buahahahah..." Seisi kantin heboh


"Ya Ampyuuunnn Ridho Sayangku, dah mulai lurus otak mu"


Lulut menghampiri Ridho dan mengelus mesra lengan kiri Ridho yang ditumbuhi buluh buluh halus


"Tenang anak anak, Om Dika pastikan Papah kita akan memenuhi ransum kita pada hari ini" Dika berdiplomatis


Brukk... hentakan meja dari Nena


"Berisik!! Cepetan kerjain soalnya.."


"Ciee.... mamah Sayang ngomel" olok Tara menciptakan rona merah di pipi Nena, Nouval tersenyum gemas.


"Jiiaaahh... Dia malu malu meong" Ivan yang duduk tepat di depan Nena menoel pipi Nena seketika mendapatkan tatapan mengancam dari Nouval yang merubah raut wajah secepat kilat.


"anjirr!! mukanya horor gitu..." Phillip terpingkal pingkal memegang perutnya melihat wajah Nouval


"tangannya..." Nouval berujar ke Ardi yang sedang mengacak rambut Nena langsung mendapatkan dorongan di bahunya dari Ardi


"Adik ku itu..." Ardi menggoda Nouval


"pacarku itu..." Nouval tidak mau kalah


"cieeee... ciee..." riuh anak anak


seharian Nena dan Nouval menjadi bahan ejekan teman sekelasnya


Mengerjakan soal hanya 20menit, selebihnya jadi pesta merayakan jadian Nena gadis supel dan Es Balok SMAN Limah


Saat jam sekolah usai, seperti biasa genk berjalan. belum sampai di depan gerbang Nouval di panggil Vita


"Nouval, bisa bicara sebentar aja.."


Nouval melirik Nena yang tersenyum dan menjawab


"yuuk ach... kita jalan pelan pelan deh, buruan yah Val"


"Nouval... gimana tentang yang seminggu lalu? aku sudah lama nunggu" Vita berbicara pelan menatap Nouval


Sedang yang di tatap hanya menatap lantai menjawab dengan singkat dan padat


"Kan sudah ku jawab juga seminggu lalu, aku tidak bisa, aku tidak mau."


"Kenapa?" Vita masih bersikukuh


"Aku tidak berniat dan tidak mau putusan dari Nena" Nouval berbicara mengangkat wajahnya menatap Vita


Vita yang kaget "Bukanya Nena pacaran dengan Ardi?"


"Dihh.. kata siapa? Sok tau.." Nouval menjawab asal


"udah yah.. oia, kasih tau ke NFC mu.. jangan ganggu Nena" menjauh dari Vita, Nouval melambaikan tangan dan berlari mengejar genk dan pacarnya


Yups.. sejak kejadian di belakang sekolah, Nena memang sering mendapatkan lirikan mengancam, bisik bisik tidak jelas dari anggota NFC bahkan Nena pernah mendapatkan surat ancaman yang berisi harus bertanggung jawab kalo sampai Nouval sakit atau stres.


Namun Nena tidak pernah menggubris dan bersikap santai dan tidak pernah bercerita ke teman genk lainya selain Ardi.


Itu sebabnya Ardi memang lebih sering jalan bareng Nena dan menemaninya di dalam lingkungan sekolah. Dan jika berjalan beriringan, Ardi sering merangkul santai tanpa modus apa apa pada Nena karena sudah menjadi kebiasaan nya


Bukanya Nouval tidak tau tentang itu semua, hanya saja Nouval berpikir logis jika dia yang menemani Nena, maka Nena akan semakin di musuhi oleh anggota NFC yang sejak awal Nouval sendiri jijik dengan NFC itu.


Tapi sekarang berbeda... Nena sudah jadi pacarnya. sudah tentu dia berhak dan bertanggung jawab melindungi Nena.

__ADS_1


__ADS_2