
Oliv duduk di atas sofa sembari memeluk lututnya dengan wajah yang begitu acak-acakan dan terlihat frustasi.
Vera yang baru saja pulang ke rumah langsung kaget saat melihat penampilan sahabatnya itu.
"Liv? Kau kenapa? Penampilan mu acak-acakan sekali? " Tanya Vera mendekat dan duduk di samping sahabatnya itu.
"Aku di teror. " Jawab Oliv lirih.
"What?! " Seketika Vera melebarkan kedua matanya. "Di rumah ini ada hantunya? Di teror makhluk apa kau? " Sambungnya bertanya dengan polos, berpikir jika Oliv benar-benat terkena teror dari setan.
"Bukan hantu, tapi monster pemaksa. " Jawab Oliv menjatuhkan wajahnya ke atas lututnya.
"Monster? " Vera mengerutkan kedua alisnya.
"Pria sialan yang sudah mengambil kesucian ku tiba-tiba saja menelpon ku dan mengirim undangan yang sama dengan yang Vino berikan padaku. Dia juga mengajakku untuk pergi ke acara pernikahan Vino bersama-sama. " Jelas Oliv.
"Apa? Itu padahal ajakan yang bagus! Kau bisa membalas Vino dengan datang nya kau bersama pria tampan itu di acara pernikahannya! Kau juga bisa menunjukkan pada pria tak tau di untung itu kalau kau sudah move on darinya! " Vera malah mendukung Kenan.
"Kenapa kau malah mendukungnya? Aku tak mau bersama dengannya, selain mesum dia juga pemaksa! Aku juga kaget saat dia tau kalau aku mantan pacar Vino! "
"Dia tau kau mantan pacar Vino? "
Oliv mengangguk. "Dia juga yang membuat Rayyan tiba-tiba menjauh dariku. "
__ADS_1
"Apa?! Jadi dia pria yang Rayyan maksud? " Vera tercengang tak percaya.
Oliv langsung menatap wajah sahabatnya itu tak mengerti dengan kedua alis yang bertaut. "Maksud mu pria yang Rayyan maksud apa? " Tanya Oliv terlihat kebingungan dan mulai penasaran.
"Begini, saat kau tiba-tiba saja di blokir oleh Rayyan. Aku bertanya padanya kenapa dia melakukan itu, dia pun menjelaskannya semuanya padaku. Dia berkata dia suka padamu, tapi ada seseorang yang jauh lebih baik darinya dan jauh lebih cocok bersamamu. Itu sebabnya dia mundur. Tapi aku tak menyangka kalau pria itu adalah Pria yang sudah tidur denganmu. " Vera menyandarkan tubuhnya kesadaran sofa sembari menyilang kan kedua tangan di bawah dadanya.
"Jika dia bisa membuat Rayyan yang punya kekuasaan besar langsung mundur hanya dalam pembicaraan kecil, itu berarti pria ini jauh lebih berkuasa dari Rayyan dan Vino. " Sambungnya.
"Kau benar, dia juga bilang kalau Ayah Vino adalah rekan bisnis nya. " Ujar Oliv memukul-pukul pelan bantal di atas pangkuannya.
Vera kembali bangun dan menyentuh lengan Oliv. "Turuti saja kemauan pria itu, dan pergi ke acara pernikahan Vino dengannya. Sebaiknya kau ikuti saja alur hidupmu, aku yakin pria itulah yang akan mengubah hidupmu. " Usul Vera dengan yakin.
Oliv terdiam memikirkan ucapan Vera. Tak berselang lama dia pun menghela nafas panjang. "Baiklah, akan aku coba pergi dengannya ke acara pernikahan. Tapi jika sampai dia macam-macam aku tak segan-segan lapor polisi! " Ancam Oliv menunjukkan kepalan tangan mungilnya.
"Vera! " Tanpa Aba-aba Oliv langsung melemparkan bantal yang ada di pangkuannya ke wajah sahabatnya itu yang tiba-tiba saja tertawa.
Oliv yang kesal langsung masuk kedalam kamar dan menutup kamarnya dengan sangat keras.
"Ayolah sayang, aku hanya bercanda! " Ucap Vera masih tertawa dengan cukup keras.
Baru saja Oliv akan merebahkan tubuhnya ke atas kasur, ponselnya kembali berdering. Dan saat dilihat, pria itu kembali menelponnya.
Dengan pasrah Oliv mengangkat telponnya dan berucap dengan lirih.
__ADS_1
“Kenapa denganmu, sayang? Kau sakit? ” Tanya sang pria di telpon.
Oliv hanya menghela nafas pasrah dan tak peduli lagi dengan sebutan pria itu yang menyebutnya sayang.
"Tidak, aku baik-baik saja. " Jawab Oliv pelan.
“Bagaimana? Sudah dipikirkan? ”
Oliv diam untuk sesaat, dia pun lagi-lagi menghela nafas panjang. "Baiklah, kita akan pergi bersama. Tapi kau jangan berani macam-macam padaku! " Ancam nya.
Yang di sebrang langsung tertawa kecil. “Tenang saja, sayang. Mungkin beberapa sentuhan kecil, aku janji. ”
"Tidak ada sentuhan kecil apalagi sentuhan besar! Pokonya jangan berani menyentuhku! "
“Baiklah, sayang. Aku akan menjemputmu dan membawa gaun yang pantas untuk kau gunakan nanti. ”
"Tidak perlu. Aku punya baju sendiri! " Tolak Oliv.
“Aku tak mau ada penolakan, atau mau ku paksa ganti, hem? Biar aku yang membantumu memakai bajunya. ” Tawarnya.
"Tidak! Baiklah, terserah kau saja! Tapi aku mohon jangan ganggu aku untuk hari ini! "
“Baiklah, sayang. sampai bertemu kembali. ”
__ADS_1
Oliv langsung menutup sambungan telpon. Dia kembali menyimpan telponnya di atas meja dan kembali membaringkan dirinya di atas kasur.