
"Bukan, aku tak mendukungnya. Hanya memberimu usulan. Cobalah usulan ku, maka kau akan lihat perbedaannya. " Ucap pria itu dan langsung berdiri dari duduknya.
Mendengar ucapan Aksa membuat kerutan di kening pria itu semakin dalam.
"Kemana aku harus membawanya? " Tanya pria itu bingung.
Karena tak mau memikirkan itu, dia pun bangkit dari duduknya dan berjalan keluar. Dia kembali memasuki helikopter dan pergi dari sana.
Sedangkan Oliv yang masih di dalam kamar, hanya menatap tubuhnya yang di penuhi luka memar dan gigitan. Mulai dari tangan, kaki, perut dan leher. Tubuhnya pun masih terasa begitu lemas dan sakit, jika laki - Laki itu nanti malam memintanya lagi padanya, maka dia tak bisa memberikannya. Karena tubuhnya sendiri terasa begitu remuk dan tak mampu untuk di gerakkan.
Di tambah lagi perutnya yang terasa lapar membuat tubuhnya semakin lemas.
"Aku lapar, tubuhku juga terasa sakit. "
Sesaat setelah dia mengatakan hal itu, seseorang mengetuk pintu dari luar dengan perlahan. Oliv pun menyuruhnya untuk masuk. Ternyata seorang pelayan yang ingin memberikan dia sarapan. Pelayan itu tersenyum padanya dan menyimpan sarapannya di atas meja.
"Ini sarapannya, Nona. " Ucapnya ramah. Dia mendelik dan menelisik setiap inci tubuh wanita itu yang masih belum ditutupi apa - apa dan hanya di balut selimut.
Dia menatap iba pada wanita muda di atas kasur itu saat melihat ada beberapa lebam di kaki dan juga lengannya. Setelah menyimpan makanan di atas meja, dia pun pamit untuk keluar dari sana.
Wanita itu bergeser sedikit dari atas kasur dan mengambil makanan yang ada di meja. Dia memakan makanan itu dengan lahap dan menghabiskannya tanpa sisa.
Setelah selesai makan, dia pun kembali beranjak dari tempat duduknya untuk masuk ke dalam kamar mandi dsn kembali mandi.
Satu setengah jam dia mandi, sampai akhirnya dia keluar dari dalam kamar mandi dan langsung tersentak saat melihat Kenan tengah membuka baju kemejanya dan terlihat mabuk.
Oliv langsung menghentikan langkahnya kala melihat pria itu pun menatap dirinya dengan wajah memerah.
Aku baru mandi, tubuhku juga masih sangat sakit dan penuh lebam. Bagaimana ini? " Gumam Oliv mengeratkan cengkraman tangannya pada handuk yang dia pakai.
"Kemari." Titahnya sembari mengulurkan tangan.
Karena tak mau hal mengerikan terjadi padanya, Oliv pun menurut untuk mendekatinya dan membalas uluran tangan nya.
Wanita itu pun duduk di pangkuan Kenan namun tak berani menatap wajah pria di hadapannya.
"Kenapa tak menatapku? Apa aku begitu menakutkan? " Tanya Pria itu dingin. Sesaat setelah pria itu bernafas, bau alkohol begitu menyengat di indra penciuman Oliv. Dia merasa mual dan tiba - tiba mengingat malam dimana dia dan pria ini melakukan malam pertama.
Perlahan - lahan wanita itu mendongakkan wajahnya dan menatap wajah tampan Bak iblis di mata Oliv dengan sayu. Karena tak mau dia di siksa lagi, dia pun memulai semuanya pertama kali dan membuat pria itu menatapnya bingung.
Pria itu menangkap dagunya dan tersenyum sinis. "Kau mau menggodaku? " Tanya pria itu.
Oliv mengangguk pelan. "Ya! Bukannya itu yang kau mau? " Tanya wanita itu balik.
Kenan semakin menyeringai lebar. Dia pun menatap wajah wanita di pangkuannya dan menunggu apa yang akan dia lakukan.
Walaupun yang dia lakukan kini seperti seorang pelacur, tapi setidaknya pria di bawahnya ini tak akan menyiksanya karena melakukan apa yang dia inginkan.
Wajahnya terus mendekat hingga akhirnya ciuman tipis pun terjatuh di bibir keduanya. Oliv ingin melepaskan namun dengan cepat pria itu menahan tengkuk nya hingga bibir mereka kembali beradu.
Masa bodoh jika dia harus mandi lagi dan terlihat seperti seorang pelacur. Yang penting, pria ini tak menyiksa pisik dan batinnya lagi.
__ADS_1
Namun, Pikiran Oliv salah. Walaupun dia yang memulai lebih dulu, Pria itu tetap bermain kasar dan menyiksanya walaupun telah melakukan semua yang dia inginkan.
"Sth! " Wanita itu meringis menahan sakit saat pria itu mer*emas dengan begitu kuat kedua buah dadanya sebagai pegangan saat dia ingin melakukan pelepasan.
"Awh! " Wanita itu kembali meringis saat pria itu mencengkram pinggangnya saat dia tengah menggila memompa tubuhnya.
"Ahh.. Sakit.. " Lirihnya saat pria itu menggigit bahunya dengan kuat.
Namun pria itu hanya menulikan pendengarannya dan kembali melakukan aktivasi yang menyiksa tubuh Oliv.
Kenan mengangkat tubuh Oliv yang sudah lemah ke dalam kamar mandi dan memasukkan tubuhnya ke dalam Baht yang sudah di isi air hangat. Mereka pun berendam bersama dengan rahang pria itu yang tak pernah lepas dari bahunya.
Mencium, menggigit dan menghisap aroma tubuhnya seakan tak membuat dia bosan. Dia pun terkadang mencium pipi Oliv dan menggigit cuping telinganya.
"Kita pindah. " Ucap pria itu tiba - tiba yang membuat Oliv langsung menatap ke arahnya.
"Kemana? "
*
*
*
*
Terimakasih yang mau mampir, kasir dukungan dan masukin ke rak fav. Untuk menunggu Novel ini meliris Bab selanjutnya, aku pengen promosiin cerita yang kakakku suruh buat. Dan semoga kalian mau mampir🥰🤗
By : Lady_ Ayumi
*
Namun dia langsung tercengang dikala tangannya di jegal oleh pria itu dan tubuhnya pun terhempas dengan ringan pada sebuah kasur empuk di sana.
Wanita itu tercengang di saat pria itu menghempaskan dia ke atas kasur. Dia semakin ketakutan saat pria itu kembali berjalan kearahnya dengan melepaskan dasi dan juga jas yang dia gunakan ke sembarang arah.
"Tuan! Apa yang anda lakukan? Kenapa anda melakukan ini? " Marun bertanya dengan tubuh yang sudah bergetar hebat melihat pria itu naik ke atas ranjang dan mendekatinya.
Melihat baju wanita itu sudah berantakan, dengan kardigan yang sudah tak menutupi bahu indahnya semakin membuat Aaron tak terkendali.
Aah! Ingin sekali aku segera menelanjangi nya dan menatap tubuh indahnya. " Pria itu bergumam setelah dekat dengan tubuh Marun.
Wanita itu sudah menjatuhkan air matanya melihat pria itu mulai mengungkung tubuhnya.
"Lepaskan Tuan! Biarkan saya pergi dari sini! " Marun mencoba menahan bahu kokoh pria itu agar tak mendekat ke arahnya.
"Kenapa menangis, hem? Sepertinya kau memang baru di perlakukan seperti ini oleh seorang pria. " Ucap Aaron tersenyum saat melihat wanita itu menangis.
Dia mengangkat tangannya dan mengelus pipi kanan wanita itu yang terasa begitu halus dan lembut di tangannya.
__ADS_1
Namun Marun hanya begitu merasakan gesek kan kasar dan dingin dari tangan pria itu.
"Lepaskan Tuan! Saya ingin pergi dari sini! Jangan sentuh aku!! " Marun mencoba berdiri dari sana dan berlari. Namun lengan kekar pria itu langsung menahan perut wanita itu dan menjatuhkannya kembali ke atas kasur.
"Hais, kau ini memang berbeda dari wanita lain. Aku semakin menginginkanmu. " Bisik pria itu tepat di telinga Marun.
Wanita itu semakin memberontak dan memohon saat sadar apa yang diinginkan pria itu.
"Jangan Tuan, jangan menyentuh saya! Aku hanya wanita miskin dan lusuh yang tak punya apa-apa lagi! " Lirih Marun menahan tubuh pria itu dengan tangannya agar tak menghimpit tubuh kecilnya.
"Tapi tubuhmu berhasil membuatku bereaksi lebih walaupun kau lusuh. " Aaron mulai menciumi bahu wanita itu yang sudah tak tertutup.
"Jangan Tuan! Apa anda tau kalau ini adalah pemerkosaan! Saya bisa menuntut anda karena telah melecehkan saya! " Marun mulai mengancam dan kembali memberontak.
"Tuntutlah, jika memang kau bisa melakukan hal itu. " Pria itu menantang.
Srek!!
Dress tipis itu berhasil di robek dengan sempurna hanya dalam satu tarikan.
"TUANN!!! " Marun semakin menjerit kala dirinya mulai ditelanjangi.
Aaron menatap penuh hasrat dan gairah tubuh wanita di bawahnya itu saat hanya memakai Bra dan CD. Tubuhnya yang begitu indah di mata Aaron membuat pria itu semakin gila. Adiknya yang dari tadi merengek kini akan dia sumpalkan ke dalam liang kehangatan wanita itu.
"Hiks.. Tuan, saya mohon jangan. Jangan ambil itu Tuan, saya mohon.. Hiks.. Hiks.. "
Namun Aaron menulikan pendengarannya dan mulai menjamah setiap inci tubuh wanita itu tanpa mau ada yang terlewat. Dia pun ingin sekali memberi dia pujian karena wanita itu tak luluh dengan semua ucapannya dan malah semakin kukuh ingin dilepaskan.
Dia sudah tak bisa menahan hasratnya apalagi adiknya yang sudah tak sabar ingin masuk ke dalam liang dambaan nya itu. Dia melepaskan semua pakaian yang masih dia gunakan dan melemparkannya ke sembarang arah.
Pria itu pun memasukkan adiknya dalam sekali hentakkan.
"Aarghh! " Marun memekik kesakitan saat miliknya ingin di dobrak dengan paksa.
Namun pria itu malah tersenyum bangga saat mengetahui wanitanya ini masih sempit.
"Hiks.. Sa-sakit Tuan.. " Lirihnya menatap dengan mata penuh berkaca-kaca pada pria di atasnya itu.
Aaron tak berhenti, dia malah semakin tertantang untuk terus memaksa karena ini adalah pengalaman pertamanya memperawani seorang perawan.
Dia semakin kuat menghentakkan adik miliknya ke dalam tanpa memperdulikan teriakan dari wanita yang tengah dia gagahi itu.
"Arrghhh Tuan, sakit.. Hiks.. Hiks.. Tolong, lepaskan.. " Wanita itu mencakar kuat-kuat bahu kokoh pria itu menggunakan kuku lentik dan panjangnya.
Sial! Kenapa liang nya sempit sekali? Adikku bisa-bisa lecet! " Umpat pria itu merasa jika adiknya itu belum mencapai ujung.
Dia pun kembali berusaha agar bisa mencapai ujung kenikmatan. Kini dia benar-benar mengerahkan seluruh kekuatannya hingga akhirnya berhasil mendobrak hingga ujung liang wanita itu.
"Arrggghhh!! " Cakaran yang wanita itu berikan kini semakin dalam dan kuat saat merasakan miliknya begitu sakit dan linu saat dipaksa untuk mencapai ujung.
Dia menangis tersedu-sedu menahan tangis dan sakit hatinya. Apa yang dia jaga selama 22 tahun ini harus lenyap begitu saja di tangan seorang pria brengsek yang baru saja dia temui sekilas saja.
__ADS_1
*
Jika ada yang berkenan mampir langsung aja mampir ke sana, pembacanya memang baru sedikit. Tapi dukungan kalian akan membuat Novelnya jadi banyak pembaca, dan terimakasih sekali lagi karena mau mampir 🥰