
Setelah puas melakukan hal itu kembali di dalam helikopter, Oliv tertidur dengan wajah penuh keringat karena kelelahan dan kepanasan.
Setelah lamanya perjalanan, mereka pun sampai di Kastil. Kenan langsung turun dari Helikopter sambil menggendong Oliv yang sudah dia selimuti menggunakan jasnya.
Dia berjalan dengan langkah lebar masuk ke dalam Kastil dan menuju kamar Oliv. Dia merebahkan tubuh wanita itu di atas ranjang dan menatap wajah teduhnya saat tertidur.
Pria itu mengangkat tangannya dan mengelus puncak rambut wanita itu dengan perlahan.
Namun tiba-tiba, dia terkejut saat sebuah air mata tiba-tiba luruh dari sudut mata Olivia. Wanita itu menangis dalam tidurnya lalu mengigau.
"Tidak, aku mohon... Lepaskan aku, " Lirih wanita itu masih menutup mata.
Kenan mengerutkan keningnya saat mendengar wanita itu mengigau.
"Aku mohon, aku tak mau. Aku tak mau di sentuh, jangan sentuh.. " Ucapnya lagi dengan air mata yang semakin deras.
Kenan menghapus air mata yang semakin deras berjatuhan itu. Namun Oliv malah memalingkan wajahnya ke arah lain dan seperti tengah ketakutan. Tubuhnya tiba-tiba bergetar, dan tentu bisa Kenan rasakan.
"Jangan sentuh aku, aku mohon.. Lepaskan aku. " Lirihnya lagi.
Pria itu mengeraskan rahang bawahnya. Dia mengepalkan tangannya kuat.
Setakut itu dia padaku, sampai-sampai dia pun memimpikan semua yang aku lakukan padanya?! " Gumam pria itu mendekatkan wajahnya.
"Kau tau, aku tak akan pernah seperti ini jika kau menurut. Aku bisa memberikan apapun yang kau mau, memberikan cukup kebebasan kau di sini agar kau bisa melakukan apa yang kau ingin lakukan. Kau bisa menghabiskan seluruh harta ku, tapi jangan pernah berpikir untuk bisa kabur dari sini! Ingat itu, Olivia! " Ujarnya panjang lebar tepat di depan wajah Oliv.
Kenan merogoh saku celananya dan menelpon Zio. Dan tak lama pria itu mengangkatnya.
"Zio, aku ingin pernikahan ku di adakan dengan sangat mewah dan megah. Aku ingin pernikahan kami menjadi pernikahan terbaik yang pernah ada di dunia! " Pinta sang Bos.
“Baik Tuan, akan saya rekrut perancang pernikahan paling hebat. ” Jawab Zio patuh.
Kenan langsung menutup sambungan telpon. Dia kembali menatap wajah Oliv yang sudah tak menangis dan ikut naik ke atas ranjang untuk tidur.
__ADS_1
Pagi hari tiba, Kenan sudah pergi dari kamar dan Oliv hanya terbangun sendiri di atas kamar.
Dia menghela nafas, karena baru kali ini dia bangun dengan cukup ringan. Tubuhnya tak di jamah lagi oleh pria itu membuat dia tenang.
Dia turun dari arah ranjang dan berjalan ke arah jendela untuk membuka jendela kamar tersebut.
Udara pagi ini begitu segar dan menenangkan. Cahaya matahari pun sudah bersinar menghangatkan kulit yang terkena cahayanya.
Dia tersenyum manis melihat pemandangan laut yang berombak sedang itu.
"Pemandangannya bagus sekali, ngomong-ngomong ini pantai atau pulau, yah? " Tanyanya menatap lurus ke depan.
Namun, sebuah suara yang cukup dia kenal tiba-tiba mengalihkan perhatiannya. Dia mendengar suara Helikopter dan buru-buru melihat Helikopter yang mendarat di halaman Kastil itu.
Wanita itu menatap penasaran siapa orang yang datang kemari? Apa mungkin itu jemputan bagi pria itu?
Tapi dia kembali di buat penasaran saat melihat ada 3 orang pria yang keluar dari sana. Wajah mereka cukup mirip, namun hanya gaya rambut nya saja yang berbeda.
__ADS_1
Oliv mengerutkan keningnya bingung. "Mereka kembar, yah? Tapi mereka siapa? " Tanyanya terheran-heran.
Dia pun berhenti melihat mereka bertiga setelah mereka masuk ke dalam Kastil dan dia pun masuk ke dalam kamar mandi.
"Zio, kenapa kau biarkan ketiga kecoa ini datang ke Kastil ku? " Tanya Kenan kesal saat melihat ke tiga keponakan nya itu datang ke Kastil nya tanpa setau dari nya dan tanpa izin dari nya.
Ketiga pria itu tersenyum lebar melihat wajah kesal sang paman.
"Maaf kan saya Tuan. Saya sudah menolak keinginan Tuan Muda pertama, kedua dan ketiga. Tapi, mereka malah menjahili saya dengan mengikat tangan dan kaki saya. Lalu mereka menggelitik telapak kaki, telinga dan juga perut saya. Saya pun tak ada pilihan lain selain mengizinkan mereka. " Jelas Zio pasrah menundukkan kepalanya.
"Kendra, Kenzo, Kenzie. Apa kalian sudah bicara pada Ibu kalian? " Tanya Kenan kepada ketiga bersaudara itu.
"Ya! " Si sulung menjawab sembari duduk di atas sofa. Diikuti oleh ke tiga adiknya yang lain.
"Aku dengar Uncle akan menikah, jadi kami buru-buru datang kemari memastikan apa itu benar atau salah. " Sambung.
"Bener sekali, jantung kami bertiga hampir serasa mau copot saat mendengar Uncle akan menikah. Kami tak percaya sama sekali, itu sebabnya kami langsung mendatangi Uncle. " Imbuh Kenzie ikut duduk.
Kenan menghela nafas kasar. "Kenapa? Apa pernikahan ku akan membunuh kalian sampai-sampai kalian harus datang kemari, hah?! " Tanya Pria itu kesal.
"Eit! Sabar Uncle, kami kan hanya bertanya saja apa kabar itu benar atau salah. Tapi setelah mendengar jawaban mu itu berarti benar kau akan menikah. " Balas Kenzo.
"Lalu, bagaimana calon Aunty kami? Apa dia begitu cantik sampai-sampai bisa membuat hati Uncle yang lebih keras dari batu Intan itu meleleh? " Tanya Kendra, si sulung.
Kenan menatap tajam ketiga keponakan nya itu lalu dia pun mengeluarkan sebuah pisau kecil dari sakunya. Dia menggantung-gantungkan pisau itu di jari tengahnya masih menatap tajam ketiga keponakan nya itu.
Ketiga bocah itu menelan ludah kasar.
GLEK!!
__ADS_1