Tawanan Cinta Tuan Arogan

Tawanan Cinta Tuan Arogan
Bab 16


__ADS_3

"Lepaskan aku! Aku tak mau tau dengan apa yang ada di dalam pikiranmu, tapi yang aku mau sekarang hanyalah kau melepaskan ku dan membawaku pergi dari sini! " Olivia berucap tegas walaupun sisa-sia air matanya masih menempel di kedua pipinya.


Pria itu diam. Namun tak lama, dia kembali tertawa dengan sangat kencang yang kembali membuat Wanita itu keheranan.


"Kau memang pria gila, kau tidak waras! " Makinya pada pria itu.


Seketika Kenan terdiam, dia menatap wajah wanita itu tajam dan langsung mengangkat tubuhnya lalu menjatuhkannya dengan kuat ke atas ranjang.


"Apalagi? Apa kau masih belum puas?! " Kenan meremas dengan sangat kuat dagu wanita itu hingga dia sulit berbicara dan membuatnya meringis kesakitan.


"Kau mengatakan kalau aku pria gila? Mungkin itu memang benar, aku memang punya keterbelakangan mental. Jadi mungkin aku memang gila. " Pria itu mencium dengan sangat brutal bibir merah muda milik Oliv dan mulai melepaskan baju yang dia pakai.


"Jangan sentuh aku brengsek! Sudah cukup sampai di sini! " Wanita itu memberontak di saat tangan pria itu mulai mengelus perut dan pahanya.


"Biarkan pria brengsek ini merasakan seluruh tubuhmu kembali. Dan diam lah! " Dia meremas kuat-kuat buah dada Olivia hingga membuat dia memekik kesakitan dan merasa linu.


"Ahk!! "


"Aku mohon, jangan lakukan itu lagi! "


Namun Kenan menulikan pendengarannya dan tetap melanjutkan permainannya hingga 3 jam ke depan.

__ADS_1


Dia menatap wajah wanita di bawah kungkungan nya yang masih terus menangis dengan kondisi tubuh yang melemah.


Tubuhnya terus-menerus di gempur oleh pria itu selama 3 jam dan tak membiarkan dia istirahat sama sekali hingga membuat dia hampir pingsan.


Kenan menatap datar wajah wanita itu yang menatap dirinya dengan mata yang berkaca-kaca. Dia bangkit dari kungkungan nya dan langsung kembali memakai pakaiannya.


Olivia kembali menangis namun berusaha dia tahan agar tak meledak. Dia juga berusaha menutupi tubuh telanjangnya dengan selimut dan berbalik memunggungi pria yang kembali menatapnya setelah dia selesai memakai bajunya.


"Setelah itu cepat mandi dan turun ke bawah. Sebentar lagi makan siang. " Kenan menatap jam dinding yang ada di sana. Sekarang sudah pukul 11: 48.


Dia berjalan keluar kamar dan menutup pintu kamar dengan perlahan-lahan.


Tangisan Olivia pecah seketika saat pria itu sudah pergi dari sana. Dia buru-buru turun dari ranjang dan berjalan ke kamar mandi. Awalnya dia tak yakin jika itu adalah kamar mandi, namun setelah di buka di dalamnya ada sebuah kaca besar yang memantulkan sebuah bathtub dia pun jadi yakin.


Wanita itu menatap sinis pada baju-baju yang tersusun di dalam lemari yang di gantung.


"Cih, sudah berapa banyak wanita yang dia bawa kemari? Sampai-sampai dia menyiapkan begitu banyak baju wanita? " Olivia berdecih jijik dengan kelakuan pria itu yang dia pikir sudah membawa banyak wanita ke sana sebelum dirinya.


Dia pun memulai ritual mandinya dengan cepat. Memasukkan banyak sabun pada tubuhnya dan menggosok-gosoknya dengan kuat berpikir kalau bau tubuh dan tanda yang pria itu berikan padanya akan menghilang.


Namun malah tubuhnya yang memerah. Dada dan lehernya sedikit berdarah karena di cakar oleh kukunya sendiri.

__ADS_1


"Menjijikkan sekali! Kenapa aku harus terkurung di sini bersama pria brengsek itu? Aku bahkan dijadikan tawanan olehnya. Dia pun dengan seenak hatinya menyentuh tubuhku! "


Setelah 2 jam lebih dia mandi. Dia keluar setelah memakai baju atau lebih tepat nya memakai daster manohara berwarna merah yang menutupi lutut indahnya.


Tok.. Tok.. Tok..


"Nona, apa anda sudah selesai? Tuan sudah menunggu anda. " Ucap seorang wanita dari arah luar kamar dengan sopan.


Olivia mendengus kesal. "Biar saja pria itu menungguku! Aku tak peduli. "


"Aku keluar sekarang. " Jawab Oliv dari dalam dan langsung membuka pintunya.


Saat baru membuka pintu, dia sudah melihat seorang wanita paruh baya menatapnya dengan tersenyum hangat.


"Mari Nona, saya antar ke tempat Tuan. " Ucapnya lagi.


Oliv tak menjawab dan hanya mengikuti langkah wanita paruh baya itu. Mungkin dia adalah pelayanan di kastil ini.


Setelah melangkah cukup jauh, mereka pun tiba di sebuah ruangan yang sangat luas dengan sebuah meja panjang yang berada di tengah.


Di atas meja itu terdapat banyak sekali makanan yang mewah dan juga minumannya. Kenan sudah berada di sana sejak 2 jam lebih yang lalu. Dia menunggu dengan sabar Wanitanya itu sampai dia turun ke bawah dan mereka bisa menyantap makan siang mereka bersama-sama.

__ADS_1


"Mari duduk Nona. " Wanita yang di panggil Que itu menarik kursi di samping pria itu dengan pelan.


Olivia pun duduk di sana sembari menatap makanan yang sudah tersaji rapih di atas meja.


__ADS_2