
Pagi - pagi sekali, Oliv terbangun dari tidurnya dan sudah tak melihat Pria yang selalu tidur dengannya itu ada di sampingnya.
Dia menatap ke sekeliling tempat itu tapi tetap tak menemukan dia. Oliv menghela nafas panjang.
"Dia pergi? "
Dia menyelimuti tubuh polosnya dan berjalan ke arah kamar mandi sebelum akhirnya Kenan pun masuk ke dalam sembari membawa sesuatu di tangannya.
Pria itu memicingkan matanya saat tak menemukan apa yang dia ingin lihat. "Kemana dia? " Tanyanya.
Dia berjalan ke arah kamar mandi dan membukanya tanpa mengatakan permisi, hingga membuat wanita yang tengah asyik berendam itu kini membulatkan matanya saat melihat ada orang yang masuk ke dalam kamar mandi saat dia tengah mandi.
Dia ingin menjerit tapi bagaimana bisa? Secara pria ini sudah tau bentuk tubuhnya bahkan seinci pun dia tau. Dia juga tak berani bertanya.
Kenan berjalan kearahnya lalu setelah dekat dia memberikan apa yang dia bawa pada wanita itu.
"Apa ini? " Tanyanya sembari mengerutkan kening.
"Lihat saja. "
Oliv mengambil kertas itu dan melihatnya. Dia membulatkan matanya kembali saat melihat jika itu adalah dekor pernikahan. Dia menatap sendiri kertas itu karena ini berartikan dia akan menikah dengan pria Badjingan ini.
"Kau suka yang mana? Biar aku bicara pada Wedding Planner untuk membuatkan konsep yang kau suka. "
Wanita itu terlihat berpikir, dia melihat setiap gambar dekorasi pernikahan yang cantik dan elegan itu. Namun sama sekali tak ada yang membuat dia suka. Dia bahkan tak berniat untuk melakukan hal ini.
__ADS_1
"Eum, apa bisa hari pernikahannya di majukan jadi lebih cepat? " Pinta Nya yang tentu membuat pria itu menyeringai lebar.
"Sepertinya kau tak sabar ingin menyandang Nama 'Rodriguez' di belakang nama mu. " Ucapnya Ikut masuk ke dalam Baht.
"Jadi, kau suka yang mana? " Tanyanya sembari menciumi wajah, leher dan dada wanitanya.
"... Yang ke 4." Jawabnya sembari menahan ******* karena pria itu kembali menghisap dadanya.
"Yang ke 4? Tidak buruk. " Ucapnya masih melanjutkan aksi yang dia lakukan.
Setengah jam berlalu. Pria itu keluar dari kamar mandi dengan mengendong tubuh Oliv dan mendudukkan dia di atas ranjang.
"Baiklah, akan aku usaha kan kita menikah dengan cepat. " Ucap Kenan sembari memakai baju kemeja putihnya.
Dan lagi, rencana bodohnya agar bisa kabur dari tangan Kenan masih terus berusaha dia pikirkan. Karena dia sama sekali tak mau hidup dengan pria ini, apalagi pria ini terkesan sangat pemaksa dan semuanya.
Bahkan pernah beberapa kali dia memikirkan hal - hal gila agar bisa kabur dari tangan pria itu. Namun, dia lagi - lagi memikirkan resiko apa yang akan dia dapatkan jika sampai dia melakukan hal itu. Tapi karena rasa egois di hatinya, dia tidak peduli dan ingin melakukan itu.
Melihat betapa ketat nya pria itu menyiapkan penjaga membuat dia tak punya pilihan lain selain bertahan. Karena dia sendiripun tak tau harus kabur kemana jika masih di sini.
"Aku bicara padamu tapi kau hanya diam dan melamun? Kau berani? " Tanya pria itu mengangkat dagu wanitanya dan kembali mencium bibirnya.
"Ma-Maaf.. " Lirih wanita itu saat bibirnya kembali di lahap.
Kenan menyusupkan wajahnya ke dalam ceruk leher Olivia dan mengendus aroma sabun yang begitu wangi.
__ADS_1
Sedangkan Oliv hanya diam saja saat pria itu mulai membuka pengait handuk di tubuhnya.
Ingin sekali, dia saat ini berkhayal kalau dia tengah memegang pisau yang begitu tajam dan setelah itu menusuk leher pria ini hingga dia mati.
Namun itu hanya dalam khayalan nya saja. Kenyataannya pria ini lah yang perlahan - lahan membunuh tubuhnya dengan semua yang dia mau.
"Kau berpikir ingin membunuh ku? " Pria itu tiba - tiba berucap yang langsung membuat wajah wanita itu memucat seketika.
Dia menggeleng pelan. "Tidak, aku tidak berani. " Jawab nya dengan pelan dan lelehan air mata yang coba dia tahan.
"Jangan pernah berpikir macam - macam apa lagi berpikir ingin membunuhku. Walaupun kau punya kesempatan untuk melakukannya, tapi akun pastikan akan membunuh kesempatan itu. Dan jika aku masih terus berpikir untuk lari, aku tak akan segan mematahkan kaki nakal mu itu! Mengerti? " Ancam nya dengan nada lembut di akhir kalimat.
Lagi - lagi Oliv hanya mengangguk. Dia sudah tak berani membuka suaranya jika sudah seperti ini.
Aku benci Kenan Rodriguez! Sangat membencinya!! Aku mohon keluarkan aku dari sini! "
Tanpa sadar kedua lengannya itu kini mencengkram dan mencakar dengan sangat kuat bahu kokoh pria itu hingga sedikit bercak merah terlihat di kemeja putihnya.
"Kau mencakar ku? " Tanya pria itu di saat merasakan kuku lentik Oliv menusuk kulit bahunya.
Wanita itu tersentak dan refleks menarik kedua lengannya. Wajahnya semakin pucat di saat kedua mata tajam itu mengkilat.
"A-Aku, aku ti-tidak sengaja.. " Lirihnya menahan rasa takut.
Bruk???!!!!
__ADS_1