
Semua makanan yang ada di sana sama sekali tak membuat Olivia tergiur ingin mencicipi nya. Karena sekarang yang dia inginkan hanyalah pergi dari sana sekarang juga.
Disaat Kenan sudah mulai memakan makanannya, Olivia masih diam dengan wajah menunduk menatap sendu ke bawah.
"Makanlah, apa kau tidak suka makanannya? Jika tidak suka, biar ku suruh mereka membuatkannya lagi. " Tanya pria itu santai sembari memasukkan makanannya kedalam mulut dan mengunyah nya pelan.
Namun Oliv tak menjawab dan menatap wajah pria itu dengan mata berkaca-kaca.
"Aku tak ingin makan, aku hanya ingin pergi dari sini. Vera pasti mencari ku. Jadi aku mohon, tolong biarkan aku pergi dari sini. "
Pria itu membalas dengan menatap datar wajah wanita itu. Dia kembali menyuapkan makanan ke dalam mulutnya.
"Jika kau ingin kabur pergi saja, jika memang bisa kau pergi dari sini. Maka lakukan lah, aku tak akan melarang mu. " Ucapnya santai.
Oliv mengepalkan kedua tangannya. "Tentu saja kau tak akan melarang ku pergi dari sini karena kau tau mustahil bagiku untuk keluar dari sini! Apalagi ini bukanlah negaraku, jadi tentu mustahil aku akan keluar dari sini! "
"Jika saja di sini adalah tempat yang mudah untuk bisa melarikan diri, kau mungkin sudah menyiapkan ratusan penjaga untuk menjagaku agar tak bisa kabur dari sini!! " Ucapnya dengan panjang lebar dan penuh kekesalan.
"Hem, itu ide yang bagus. Aku akan menyiapkan beberapa penjaga disini agar kau tak bisa kabur. " Ucapnya masih dengan santai menyantap makannya.
"Sialan! " Wanita itu mengumpat kesal mendengar jawaban dari pria di sampingnya.
"Cepatlah makan, nanti makanannya dingin. Aku tau kau lapar. "
__ADS_1
"Sok tau, aku tidak lapar! " Ketus Oliv sembari menyilang kan kedua tangannya di bawah dada.
Kenan masih menatap wajah ketus wanitanya itu dengan datar dan kembali memasukkan makanannya ke dalam mulut dan mengunyah nya dengan perlahan.
"Jangan menyiksa dirimu sendiri, itu tidak estetik. Cepat makan atau perlu ku suapi? " Kenan kembali berucap.
"Tidak! " Oliv masih pada pendiriannya, walaupun dia sudah merasakan kalau perutnya itu sedikit perih karena memang dia tengah kelaparan.
"Makanlah, aku tidak suka penolakan. " Pria itu bicara dengan nada sangat dingin dan masih menatap datar wajah wanitanya.
"Tidak, aku tidak peduli walaupun kau menatapku dengan tatapan membunuh dan membunuhku. Aku tidak akan makan jika aku tidak lapar. "
Pria itu mengepalkan kedua tangannya. Dia sangat marah dengan penolakan terang-terangan dari wanita itu.
Olivia membelalakkan kedua matanya melihat kelakuan yang baru saja pria itu lakukan. Dia langsung menatap takut pria di sampingnya yang sudah menatapnya dengan tatapan yang penuh dengan kobaran kemarahan.
"Apa kau gila? Bisa-bisanya kau melakukan itu? " Tanya Oliv semakin ketakutan.
"Aku bahkan bisa melakukan hal yang sama padamu seperti halnya sendok itu. "
Dia mencengkram lengan kanan Oliv dan membawanya ke dalam pangkuannya. Kenan kembali mencengkram dagu wanita itu dengan sangat kuat melebihi tadi hingga membuat Olivia menangis menahan rasa sakit.
"Lepaskan, sakit Tuan.., " Ucapnya lirih dengan susah payah.
__ADS_1
"Olivia Alberso, aku tegaskan lagi padamu. Aku tak suka yang namanya penolakan, jadi makanlah! Jika perlu aku akan menyuapi mu. " Tekan pria itu kembali tepat di depan wajah Olivia.
Satu tetes air mata terjatuh untuk yang kesekian kalinya. Wanita itu mengangguk pelan. "Ba-Baiklah, aku akan makan. "
"Bagus." Kenan melepaskan cengkraman tangannya dari Dagu Oliv. Dia pun dengan santainya memanggil pelayan untuk menyiapkan kembali makan siang mereka yang sudah terlewat 3 jam.
Olivia makan dengan perasaan was-was karena terus di tekan oleh pria itu. Setiap kali dia berhenti makan atau mengunyah, pinggangnya pasti akan selalu di cengkram dengan sangat kuat oleh pria itu.
Dia masih berada di pangkuan pria itu yang terus menerus menekan dirinya.
Setelah makanan habis, Kenan kembali mengangkat tubuh Oliv masuk kedalam kamarnya.
"Aku akan pergi dan pulang malam, pastikan setelah aku pulang kau sudah mandi dan menyambut kedatangan ku. " Ucapnya sembari memakai Jas berwarna hitam miliknya.
Wanita itu tak menjawab dan hanya diam saja sembari menatap ke bawah.
Wajahnya tiba-tiba mendongak saat Kenan mengangkat dagunya dan kembali menciumnya dengan kasar dan menjatuhkannya ke atas kasur.
"Argh, Sakit.., " Wanita itu mengerang kesakitan saat lehernya tiba-tiba saja di gigit oleh pria itu dengan cukup kuat.
"Ingat itu. " Ucapnya langsung berdiri dan keluar dari kamar tersebut.
Olivia buru-buru masuk kedalam kamar mandi. Dia membuka keras air di wastafel dan langsung berkumur-kumur mencoba membersihkan mulutnya dari bekas ciuman pria itu.
__ADS_1
"Menjijikan.. " Gumam Oliv memegang mulutnya sendiri.