
"Nanti malam kita akan pergi ke rumah Bibi Cassandra. Aku akan mengenalkan mu pada Mommy ke tiga Bocah tadi. " Ucap Kenan merangkul pinggang Olivia dan membawanya ke dalam kamar.
Malam hari menyapa, Lagi-lagi Oliv berdiri di depan jendela sembari menatap laut yang luas.
"Kak Ken. " Ucapnya tanpa sadar mengingat sosok kakak yang paling dia sayangi dulu.
"Siapa Ken? " Kenan bertanya tiba-tiba sembari mengelus kan pipinya pada kepala wanita itu.
Oliv diam tak menjawab. Jika dia tak menjawab, bisa-bisa tubuhnya itu kembali di banting. Tapi jika dia menjawab jujur, dia malah semakin takut.
"Jika aku jujur, aku tak akan di banting kan? " Tanya nya terdengar ambigu. Namun dia memang ingin mendengar jawaban pria itu.
"Ya! Asalkan kau benar-benar jujur. " Jawab Kenan.
"Dia kakak laki-laki ku. "
"Kaka laki-laki? " Pria itu mengerutkan kening. Menurut informasi yang dia dapat dari wanita ini, dia sama sekali tak punya kakak atau adik. Alias tunggal.
"Aku tak tau kau punya kaka laki-laki? " Tanya nya heran.
"Dia adalah putra dari teman ayahku. Kami jadi sangat dekat setelah pertemuan pertama, aku jadi menganggapnya sebagai kakakku. " Jelas Oliv.
"Kapan? "
"Itu sudah sangat lama, Kira-kira saat usiaku masih 5 tahunan. "
Kenan tak menjawab. Dia menduselkan wajahnya ke leher wanita itu. Lalu menciumnya perlahan-lahan.
"Bersiaplah, kita akan berangkat sekarang. " Ucapnya melepaskan Oliv dan menarik tangannya keluar kamar untuk berhias.
Setelah selesai bersiap-siap, mereka pun keluar dari Kastil dan kembali naik ke Helikopter. Oliv berdecak kesal saat dia harus naik kembali ke dalam Helikopter.
"Aku benci keong terbang ini. " Gumamnya masih bisa di dengar oleh Kenan.
"Aku tidak mungkin membawa Jet ku kemari. " Jawab Kenan datar tanpa menoleh.
Oliv mendengus kesal. Dia memalingkan wajahnya ke arah lain malas menatap wajah Kenan. Namun pria itu menyentuh dagunya dan mengarahkan bibirnya agar mencium bibirnya lalu melumatt nya pelan.
Setelah hampir 2 jam perjalanan, mereka pun sampai di sebuah rumah mirip dengan sebuah Kastil milik Kenan. Warna Kastil itu lebih gelap dari pada Kastil milik pria itu.
Helikopter pun mendarat di depan halaman yang sangat luas itu. Beberapa pelayan wanita dengan sigap berbaris tepat di depan pintu masuk helikopter.
Kenan dan Oliv keluar dari helikopter dan turun. Para pelayan menunduk hormat dan mengucapkan selamat datang dengan lantang.
__ADS_1
"Selamat datang kembali, Tuan Besar Kedua! " Ucap mereka kompak.
Oliv menatap penuh kekaguman mereka semua yang begitu rapih dan profesional saat tengah bekerja.
Kenan tak menjawab dan terus berjalan hingga tiba di pintu masuk Kastil. Seorang kepala pelayan yang sudah cukup berumur sudah menunggu kedatangan mereka dengan senyuman.
"Selamat datang kembali. Tuan besar kedua, dan Nyonya muda kedua. " Sambutnya ramah.
Oliv ikut tersenyum dan menganggukkan sedikit kepalanya.
"Paman Teo, Anda masih bisa bekerja ekstra walaupun sudah sepuh. " Ucap Kenan ikut tersenyum samar.
"Terimakasih atas pujiannya Tuan. Mari masuk, Tuan besar pertama dan Nyonya Tua sudah menunggu anda. " Ucapnya lagi.
Oliv kaget namun dia berusaha untuk tenang dan tak membuat Pria gila ini malu.
Saat sampai di ruang Keluarga, mereka sudah melihat semua keluarga menunggu di sana.
Si kembar Triplet, dua orang pasangan suami istri. Yaitu Paman Kay dan Bibi Cassandra, Orang tua dari Triplet K. lalu Nenek Yolanda. Orang paling tua di Keluarga ini.
Oliv terlihat gugup dan semakin mencengkram erat lengan baju Kenan. Mereka pun duduk di kursi yang khusus sudah di sediakan.
"Viona? " Ucap Nenek Yolanda sontak membuat mereka semua menatapnya heran.
__ADS_1
"Viona? Kenan, dia Viona Kenan? " Ucapnya lagi sembari terus menatap wajah Oliv.
"Nenek, dia bukan Viona. Dia Olivia. " Jawab Kenan memperkenalkan wanitanya itu.
"Tidak! Nenek masih ingat jelas! Dia Viona! Dia Cucu Perempuan ku, Viona. Aku tak mungkin salah ingat! Wajahnya juga sangat mirip dengan wajah menggemaskan Viona saat masih kecil. " Ucapnya kukuh sembari tersenyum.
Kenan menatap wajah Olivia. Begitupun wanita itu yang menatap khawatir padanya karena ucapan Neneknya itu.
"Nek, dia Olivia. Bukan Viona. Nenek kan tau, Viona sudah tiada. " Ucap Kenan kembali meyakinkan sang nenek.
"Kenan! Coba lihat wajahnya baik-baik, dia sangat mirip dengan Viona! Bahkan matanya begitu mirip dengan Arsenio! " Nenek Yolanda begitu yakin hingga matanya berkaca-kaca.
Olivia semakin Khawatir. Dan lagi, Viona itu siapa? Kenapa nenek pria ini terus merasa yakin kalau dia adalah Viona?
Begitupun Kenan yang heran kenapa Neneknya itu menyebut Olivia dengan sebutan Viona? Padahal dia tau kalau Viona sudah meninggal 16 tahun yang lalu.
"Bu, Kenan bilang kalau dia Olivia. Bukan Viona, Ibu juga taukan kalau Viona sudah tiada. " Ucap Cassandra dengan lembut pada Ibu suaminya itu.
"Tapi Ndra.. "
"Ibu, jangan seperti itu. Ibu membuat Calon menantu kita ketakutan seperti itu. " Ucap Paman Kay mencoba menenangkan sang Ibu.
Sedangkan si kembar Triplet hanya saling pandang satu sama lain karena tak tau apa yang mereka bicarakan.
"Tapi, kenapa dia bisa begitu mirip dengan Viona? Wajahnya begitu mirip dengan Valencia. Matanya juga mirip dengan Arsenio. Itu kan hanya di miliki oleh Viona? " Nenek Yolanda bertanya bingung.
__ADS_1
"Udah, yah Bu? Ibu kan mau liat calon menantu ibu lagi, jadi jangan buat dia kaget sama apa yang ibu bilang. " Bibi Cassandra kembali berbicara dan mengelus lengan Mertuanya itu dengan penuh perhatian.