
Setelah Adel membawa Nathan menjauh dari mereka dan Zaskia pergi. Ollan dan Hanna benar-benar merasa sakit hati dan tidak di hargai.
Mereka sampai ternganga, tidak menduga kalau Adel akan bersikap begitu. Hanna terduduk di kursi dengan raut wajah yang jelas tersirat kekecewaan. Ada rasa sakit, kesal, dan marah pada Adel. Ingin rasanya ia membiarkan saja Adel di. hianati oleh Zaskia dan Nathan, tapi ia tak tega dengan Adel. Akhirnya jalan satu-satunya yg ia pilih adalah sabar.
Sampai menjelang malam Hanna masih duduk dalam diamnya di temani Ollan yang terus menyemangatinya.
"Han, masuk yuk...." ajak Ollan.
Hanna menarik nafasnya dengan berat, seperti ada beban dalam hidupnya.
"Ayo Oll, aku juga harus siap-siap ikut mereka clubbing. Aku yakin kalau kita tidak ada Zaskia pasti akan melakukan hal-hal yang berbahaya pada Adel."
"Hemmm" Olan menganggukkan wajahnya.
Mereka berjalan menuju kamar, Sesampainya di kamar mereka telah mendapati Adel tak ada disana.
"Del....Adel!" Hanna mencari ke dalam kamar mandi tapi tak menemuinya.
"Sial!! Adel nggak ada Oll, apa kita terlalu lama di luar, atau dia yang sengaja pergi secepat itu."
"Cepat lah bersiap Han, kita harus mengikutinya." Ollan membawa bajunya ke kamar mandi dan berganti disana, sementara Hanna dia berganti pakaian di dalam kamar saja. Bagaimanapun juga walaupun Ollan lemah gemulai, mereka tetap berbeda gender. Mereka mengganti pakaian dan menyiapkan dirinya secepat mungkin.
Setelah semuanya selesai mereka segera keluar. Tujuan mereka ke kamar Zaskia.
Dan benar saja sesampainya di depan kamar Zaskia tampak Adel yang telah rapi menggandeng mesra tangan Nathan. Dan dari dalam kamar itu juga tampak Seira dan Zaskia akan keluar dengan pakaian yang sudah rapi juga.
Ollan dan Hanna tak banyak tanya, Mereka terus bergabung aja dengan semuanya. Zaskia menatap Ollan dan Hanna dengan tatapan sinis, "Emang kalian di ajak?"
"Nggak apa-apa kami nggak di ajak, tapi kami ingin ikut kalian bersenang-senang, boleh kan?"
__ADS_1
"Ayolah mas Nathan, boleh ya kami ikut. Kan mas sendiri yang memberi kami undangan ke Bali ini, setidaknya hargai jugalah kami, atau kami minta izin aja langsung sama om Johan dan tante Dewi, gimana kira-kira pendapat mereka." Hanna sengaja menyebutkan nama kedua orang tua Nathan, Dia ingin menekankan bahwa dia dan Ollan adalah tamu undangan yang harus di hargai.
Merasa nggak enak kalau sampai Hanna benar-benar memanggil orang tua Nathan, Adel, Zaskia dan Nathan, terdiam dan mengizinkan mereka untuk ikut.
Mereka pergi dalam satu mobil. Pihak resort mereka menginap lah yang mengantar mereka ke tempat hiburan malam itu.
Itungan menit mereka telah tiba di depan tempat hiburan yang bernama diskotik xxx itu. Mereka semua memasuki ruangan cukup besar dan lumayan mewah itu.
Ollan yang berada di belakang Hanna sudah mulai meliuk-liukan tubuhnya. Masuk ke tempat seperti ini bukan kali pertama buat mereka. Di Jakarta mereka hampir setiap akhir pekan selalu mencari hiburan ke tempat seperti ini.
Musik Dj yang menggema, menambah suasana clubbing semakin meriah. Liukan tubuh para dancer yang menari di atas meja bundar adalah tontonan wajib, saat datang ke tempat itu. Dan minuman baik alkohol dan non alkohol dengan berbagai rasa semua tersedia disana. Tempat ini menyediakan apa saja bagi siapa saja yang singah dengan hati yang terluka maupun yang bahagia.
Nathan memesan satu Room khusus untuk mereka. Ruangan yang hanya di sekat dengan pagar besi sebagai pembatas. Jadi mereka bisa melihat langsung sang Dj yang sedang memainkan musiknya, dan juga para pengunjung lainya.
Kelab-kelib lampu disko di atas lantai dansa, membuat suasana kelab semakin mengasyikkan. Walau sekilas mereka bisa melihat aktivitas para pengunjung yang sedang bersuka cita.
Terkadang mereka akan bertepuk tangan meriah seperti sedang menonton pertunjukan opera.
"Brengsek mereka" maki Zaskia dalam hatinya saat melihat Adel dan Natha berciuman dengan mesra.
Entah sudah berapa kali Zaskia bolak-balik mengambil minuman dengan gelas dan memberikanya ke Adel dan Nathan. Mungkin ia sengaja ingin membuat mereka berdua mabuk berat.
Adel menggeleng-gelengkan kepalanya dalam pelukan Nathan. Sedangkan Ollan dan Hanna mereka tidak bisa happy malam ini, Mereka lebih mengutamakan keselamatan Adel dari pada kesenangan sesaat yang akan mereka dapatkan. Zaskia terus menari-nari bersama sang Adik.
Sedangkan Ollan dan Hanna sedari tadi hanya duduk, dan berjoget sambil duduk, Seraya terus memperhatikan sahabatnya. Mereka tak mau ribut dengan Zaskia. Mereka hanya memantau saja, jika di rasa tidak ad hal yang berlebihan yang di lakukan Zaskia pada Adel, maka Ollan dan Hanna pun akan tetap diam.
Hingga akhirnya mereka melihat Zaskia yang sudah kelewat batas terus mencekoki Adel dan Nathan minuman.
"Sudah! cukup!" bentak Hanna seraya mencoba menyingkirkan tangan Zaskia yang terus memberi minuman pada Adel. Ketika Hanna tak berhasil menyingkirkan tangan Zaskia, Seira tertawa mengejeknya. Hanna merasa di rendahkan.
__ADS_1
"Diam lo !! berani sekali elo tertawain gue!!" bentak Hanna pada Seira.
"Apa-apaan elo, berani sekali membentak Seira seperti itu." Zaskia mendorong tubuh Hanna ke belakang.
"Maaf!! gue hanya menjaga artis gue, dari manusia-manusia biadab macam kalian." gertak Hanna.
Hanna dan Ollan memisahkan pelukan Nathan dari tubuh Adel dengan paksa karena kondisi Adel yang sudah mabuk.
"Sorry Nathan, gue nggak rela tangan kotor elo meluk-meluk sahabat gue, dari tadi gue diam aja bukan brarti gue ngijinin elo buat meluk Adel, gue malas ribut aja." Hanna menarik tubuh Adel dan mendekatkanya dengan Ollan.
"Pegang dia!" perintah Hanna pada Ollan.
"Hhhmmm" Ollan menganggukkan wajahnya.
"Binatang cocok dengan binatang!! kamu cocok dengan dia!" Hanna mengarahkan jari telunjuknya ke arah wajah Nathan dan Zaskia secara bergantian.
Nathan menyingkirkan telunjuk Hanna dari wajahnya, "Berani sekali kamu menunjuk wajahku, kamu kira kamu siapa hah!" bentak Nathan, dia berani melawan Hanna karena ia tahu Adel sudah mabuk berat jadi tidak akan tahu apa yang sudah terjadi.
"Aku! kamu tanya siapa aku?? Nathan Adi Winata, perlu kamu ketahui aku adalah manager dan juga sahabat Adel. gadis polos yang kamu permainkan." Hanna menatap nyalang pada Nathan, bahkan wajahnya ia majukan tepat di hadapan Nathan.
"Apa mau mu katakan!! dan jangan pernah mengganggu urusanku!"
"Mauku? kamu ingin tahu apa mauku?"
"Iya cepat katakan! aku akan berikan apapun yang kamu mau dan setelah itu jangan pernah mengusik urusanku lagi."
"Ha ha ha....kamu ingin tahu apa mauku Nathan? aku mau kamu putuskan Adel, tinggalkan dia....jangan ganggu dia lagi, bawa saja pergi cinta palsumu itu!" Hanna melepaskan semua amarahnya.
BERSAMBUNG
__ADS_1