
Kedua tangan Adel menangkup tangan sahabatnya.
"Han, jawab gue Han....," Adel menatap dalam mata Hanna, ia mencari sebuah jawaban disana.
Nathan menarik tangan Adel dengan cepat di ikuti oleh semua orang yang ada disitu, ia berhenti di lorong sunyi tepat di sebelah kamarnya.
"Lepaskan mas!" Adel berontak dari pegangan tangan Nathan.
"Apa kalian tidak punya rasa malu, selalu buat keributan di tempat ramai," gertak Nathan pada mereka.
"Eh Nathan! seharusnya yang malu itu kamu, bukan kami!" seru Hanna.
"Ollan, Hanna mulai sekarang kalian jangan terus menuduhku yang tidak-tidak, aku sudah lelah dengan tuduhan kalian, please jangan memfitnahku terus." kata Nathan tegas, seolah dia orang yang paling benar.
Mata Ollan dan Hanna seketika membelalak besar.
"Whatt???" seru mereka secara bersamaan.
"Adel sayang dengerin mas, aku tidak ada hubungan apapun dengan Zaskia, masalah kami semalan tidur di hotel itu karen kami bertiga sudah mabuk berat, tidak tahu apa-apa lagi, mereka pengawas diskotik itu yang membawa kami, dan kami dua kamar, aku sendiri, dan Zaskia bersama Seira." Nathan berbohong, ia mengarang cerita panjang lebar demi mempertahankan hubungannya denga Adel. Bagaimanapun hubungannya dengan Zaskia, ia tetap mencintai Adel dan ingin hubungannya dengan Adel tetap baik.
Zaskia menatap Nathan dengan penuh kebencian. Darahnya berdesir. Ada rasa dendam dalam hatinya. Hatinya begitu sakit mengetahui kenyataan bahwa, Nathan begitu mencintai Adel. Dan seolah menganggap dirinya hanya pelampiasan permainannya saja.
"Awas aja kamu mas, suatu saat nanti akulah pemenangnya dari permainan ini." ucapnya dalam hati.
Ingin rasanya Zaskia mengatakan semuanya, agar hubungan Adel dan Nathan hancur, dan Nathan menjatuhkan pilihan padanya. Tapi ia urungkan niatnya itu. Ia takut justru Nathan akan meninggalkannya.
"Semua itu fitnah Del, gue tidak ada hubungan apa-apa dengan mas Nathan. Bukannya elo sendiri semalam yang mengajak mas Nathan untuk pergi bersama kita, dan karena dua teman elo itu, elo ninggalin kami dalam keadaan mabuk." air mata Zaskia meleleh di pipi mulusnya.
"Apa gue bisa mempercayai elo Zas?" Adel menatap penuh arti pada Zaskia.
Zaskia menghampiri Adel, "Del, kita sudah lama temenan, gue nggak mungkin mau mengambil milik elo."
__ADS_1
Adel melihat Zaskia menangis tersedu, dan dia merasa yakin tidak mungkin apa yang ia tuduhkan padan Nathan itu benar. Kalau saja benar Nathan dan Zaskia punya hubungan tidak mungkin Zaskia tidak mengakuinya. Apalagi jelas-jelas Nathan begitu ingin mempertahankan hubungan dengannya, dan Zaskia mendengar semuanya tapi dia tidak marah.
"Ah, Zas...., maafin gue." lirih Adel lalu ia memeluk Zaskia.
Melihat semua yang di lakukan Adel membuat Ollan dan Hanna merasa tak habis pikir.
"Ah sudah lah Oll, ayo kita sarapan, tak usah pedulikan mereka, elo sudah tahu kan apa hasil akhirnya dari perdebatan ini." Hanna menarik tangan Ollan dan mengajaknya pergi ke ruang breakfast. Bagi Hanna, tak ada gunanya lagi berdebat, toh hasil akhirnya sudah bisa di tebak. Percuma membela Adel mati-matian, toh sahabatnya itu sudah di butakan oleh cinta palsu sang kekasih.
Ollan dan Hanna sampai ke ruang makan, mereka mengambil makananya lalu menjatuhkan bobotnya di kursi ruangan itu.
Walapun tak selera lagi untuk makan Hanna tetap menyuapkan makanan ke dalam mulutnya dengan terpaksa. Ia sangat menyesali keputusan Adel yang pasti tetap menerima Nathan.
"Benar-benar bodoh." monolognya sambil menyuapkan makanan ke mulutnya. Tatapannya menerawang jauh ke depan. Ingin rasanya ia membiarkan saja tapi kenyataannya tak bisa. Orang yang di bodohi oleh mereka adalah sahabatnya.
Sementara Ollan dan Hanna sudah dari tadi duduk di ruangan itu. Tampak dari arah sana Adel dan yang lainnya berjalan beriringan menuju tempat yang sama.
Mereka duduk di dekat Ollan dan Hanna tanpa ada rasa malu. Kemudian mereka mulai memakan manananya. Nathan tampak begitu perhatian pada Adel, ia menyuapi Adel dengan mesra. Sesekali terdengar canda tawa mereka.
"Kami duluan Del," Hanna pergi meninggalkan mereka dengan menggandeng Ollan. Ia merasa begitu kesal denga Adel.
Sesampainya di kamar Hanna dan Ollan dengan cepat mengemas barang-barangnya. Yang awalnya mereka hanya membawa satu koper kecil, kini bawaan mereka bertambah karena barang belanjaan untuk oleh-oleh yang telah mereka beli.
Adel dan yang lainya pun juga sudah menyelesaikan sarapannya. Mereka bergegas menuju kamar masing-masing.
Begitu tiba di kamar Adel menjadi serba salah pada Ollan dan Hanna. Mereka saling membisu. Hingga akhirnya Adel mulai mendekati mereka.
"Oll, Han, kalian berdua marah sama gue?"
"Tidak kok, untuk apa kami marah, semua keputusan ada di tanganmu." jawab Hanna ketus.
"Iya Del, kami sudah lelah." Ollan menepuk pundak Adel dua kali, lalu melanjutkan perkataannya, "Semua terserah elo, elo yang ngejalanin, yang perlu elo ingat kita udah pernah ngingatin elo. Dan juga elo jaga diri baik-baik ya Del, jangan sampai terjerumus hanya karena cinta."
__ADS_1
"Udahlah, gue nggak mau berdebat dengan kalian. Kalian tetap sahabat baik gue, yuk kita siap-siap." Adel mencoba mengalihkan pembicaraan.
"Hemmmm." hanya itu yang keluar dari bibir Hanna.
Mereka semua sudah siap dan sudah cek out. Mereka akan di antar ke airport oleh pihak resort. Mereka pergi ke Bali dan kembali ke Jakarta menaiki jet pribadi milik keluarga Nathan.
Sesampainya di airport mereka menuju jet dan memposisikan dirinya masing-masing. Bu Dewi dan Pak Johan masuk terlebih dahulu sebagai pemilik dan tuan rumah untuk pesta yang kemarin di gelar.
Lalu Nadia berjalan bergandengan dengan Zaskia. Iya Zaskia mulai mendekati Nadia untuk masuk lebih jauh dalam keluarga besar Nathan.
Lalu Adel dan Nathan dengan bergandengan mesra memasuki kabin. Selanjutnya Ollan dan Hanna tetap dengan wajah yang penuh dengan kekecewaan yang mereka tutupi.
Setelah semua masuk ke dalam kabin, jet itu melesat di udara melintasi pulau membawa mereka kembali ke jakarta. Mereka akan pulang ke rumahnya masing-masing setelah seminggu berada di Bali merayakan ulang tahun Nadia.
Keluarga Adi Winata kembali dengan senyum sumringah, sebagai tanda mereka telah melepaska lelahnya selama di Bali. Lain halnya denga Ollan dan Hanna, kedua sahabat itu kembali dengan penuh rasa kecewa pada semua orang, khususnya pada putra pertama keluarga Adi Winata. Dan pada sahabat mereka sendiri.
Setelah terbang selama satu jam lebih akhirnya jet peribadi yang mereka tumpangi pun mendarat dengan selamat di bandara Jakarta.
Ollan dan Hanna yang masih kesal dengan Adel pun, enggan untuk singgah ke apartement sahabatnya.
"Del, kita duluan ya." kata Hanna, lalu dengan cepat ia menarik tangan Ollan menggandengnya menuju ke tempat bu Dewi dan pak Johan, orang tua Nathan.
"Om, tante, kami permisi dulu ya, terimakasih banyak untuk semuanya."
"Oh iya, sama-sama terimakasih juga untuk kehadiran kalian di pesta Nadia."
"Iya tante, eh Nad, kami pulang dulu ya.
Setelah saling mencium pipi dengan bu Dewi dan Nadia, Ollan dan Hanna lsngsung pergi dari sana.
Bersambung....
__ADS_1