TEMAN MAKAN TEMAN

TEMAN MAKAN TEMAN
Keputusan Andrew


__ADS_3

Mereka berjalan memasuki apartement milik Adel. Tiba di depan pintu Apartemntnya Adel menempelkan cardlock di sensor pintu apartementnya. Dan akhirnya pintupun terbuka.


Tanpak ruangan begitu pengap. Hanna dan Ollan yang sudah hafal seluk beluk apartement sahabatnya itu membantu menghidupkan saklar lampu. Lampu hidup dan ruangan menjadi terang.


Mereka melihat semua barang di ruangan itu masih tertata rapi dan hanya ada sedikit debu.


"Emm, mbak Sumi kemana Del" tanya Ollan.


"Mbak Sumi cuti, dan pulang kampung saat gue pulang Jogja dulu, dan karena gue nggak balik-balik kesini akhirnya mbak Sumi udah kerja tempat lain sekarang, Dia nelpon gue," jawab Adel menjelaskan.


"Ohh gitu," lirih Ollan, dan Hanna hanya menanggapi ucapan Adel dengan mengangguk-anggukkan kepalanya.


Dan Andrew dia sibuk dengan menyapukan pandangannya ke seluruh ruangan itu.


"Ya sudah sana cepat ambil berkas-berkas yang ingin kamu ambil Del, kita jangan berlama-lama disini, berdebu!" seru Hanna.


"Oke!" Adel pun segera masuk ke kamarnya, Hanna mengikutinya membiarkan Ollan dan Andrew berdua di ruang tamu. Ollan yang alergi debu terus menutup hidungnya.


Setelah mendapatkan apa yang di cari di kamarnya, Adel dan Hanna keluar.


"Yuk kita keluar," ajak Adel pada semua orang.


"Apa sudah selesai?" tanya Andrew.


"Udah sayang, yuk kasihan tuh Ollan bisa-bisa berhenti bernafas dia gara-gara tutup hidung terus."


Andrew terpaku menatap Adel, bukan karena penjelasan Adel, tapi ia memastikan telinganya tidak salah dengar Adel menyebutnya sayang? ini kali pertama Adel memanggil dia sayang, apalagi di depan orang lain.


"Kenapa?" tanya Adel, ia menaik turunkan Tangannya di hadapan wajah Andrew yang sedang melamun.


"Oh tidak," Adrew menggelengkan kepalanya, "ayo sayang." ia lalu menggandeng tangan Adel.


Ollan dan Hanna yang menyaksikan keduanya, mereka saling pandang dan tersenyum. Mereka bisa pastikan kalau saat ini sahabatnya itu sudah bisa melupakan Nathan, dan sudah tidak larut dalam kesedihannya lagi. Setelah saling pandang, seolah bicara dengan telepati mereka pun saling tersenyum, Lalu kemudian berjalan mengikuti Adel dan Andrew yang keluar dari apartement.

__ADS_1


Setelah berada di luar Hanna bertanya pada mereka.


"Kalian mau pulang kan? kalau begitu kita juga pulang ya,"


"Iya kita pulang, dan kalian berdua ikut," Andrew membuka pintu mobil bagian belakang untuk Ollan dan Hanna, "silahkan," ucapnya kemudian.


"Terimakasih, tapi apa harus kami ikut?" tanya Hanna lagi.


"Iya ikut saja, kita makan malam di rumah saja, tidak enak kalau kita makan di luar, karena mama dan papa sudah menyiapkan semuanya," Andrew menoleh pada Adel, seolah meminta persetujuannya.


"Iya Hann, Oll kita ke rumah Andrew ya, mommy dan daddy juga rindu pada kalian," ucap Adel yang seakan mengerti isi hati Andrew.


"Baiklah, ayo Oll," Hanna mengajak Ollan memasuki mobil Andrew. Mereka pun berangkat menuju rumah Andrew.


Tin tin tin....bunyi klakson membuat beberapa scurity di rumah mewah itu berlari membukakan pagar. Mobil telah memasuki halaman rumah mewah yang berdisain Eropa itu.


Andrew memarkirkan mobilnya begitu saja, lalu ia turun dan membukakan pintu untuk Adel dan juga kedua sahabatnya.


mereka berjalan menuju teras, lalu menyalami semuanya. Andrew mengenalkan Ollan dan Hanna pada kedua orang tuanya


"Ollan."


"Hanna."


Mereka menyalami kedua orang tua Andrew, dengan menundukkan wajahnya dan tersenyum.


Lalu menghampiri kedua orang tua Adel. Alice memeluk keduanya, "apa kabar kalian?" tanya Alice berbasa-basi.


"Kami baik-baik saja tante, om" jawab Hanna, yang kemuadia menyalami Rian, di ikuti oleh Ollan.


Mereka tampak akrab dan berbasa-basi sebentar sebelum semuanya masuk ke dalam rumah.


"Bersiap-siaplah kami menunggu kalian semua di meja makan," ucap Roxana pada anak-anak muda di depannya.

__ADS_1


"Baik tante," jawab mereka kompak.


Adel membawa kedua sahabatnya ke dalam kamar yang di tempatinya, ia menyimpan berkas-berkasnya disana kemudian mengajak kedua sahabatnya menuju ruang makan.


Disana dua pasang orang tua Adel dan Andrew sudah duduk di depan meja makan. Tampak semua hidangan yang lezat sudah tersedia dan tertata rapi di meja makan mewah berwarna keemasan berbentuk oval memanjang itu. Beberapa maid juga tampak sibuk melayani mereka. Mereka memulai acara makan malam itu dengan tenang hingga selesai.


Setelah makan malam selesai, mereka pindah ke ruang tamu dan mengobrol disana. Sementara para maid membereskan meja makan.


"Adel, besok sopir yang antar kamu, om dan juga tante ke kampus ya, karena aku ada urusan sebentar di kantor," Andrew membuka prmbicaraan.


"Oh iya gak apa-apa kok," jawab Adel, sebenarnya dia sedikit kecewa karena ini wisudanya kenapa Andrew malah tak mau mendampinginya, itu yang di pikirkannya.


"Tapi, nanti aku akan segera datang setelah urusan di kantor selesai," ucap Andrew lagi.


Ollan dan Hanna saling pandang, mereka juga merasa kecewa dengan sikap Andrew, harusnya Andrew lebih mementingkan Adel dari pada urusan kantor, bukankah dia bisa menyuruh orang untuk mewakilinya menyelesaikan urusan kantor, apakah lebih penting urusan kantor dari pada Adel. Itulah isi kepala Ollan dan Hanna saat ini.


"Drew, kamu tidak usah ke kantor besok, biar papa suruh orang saja untuk menggantikan mu di kantor satu hari ini saja," kata Gunawan.


"Enggak pah, ini penting Andrew harus ke kantor dulu."


Pembahasan mereka telah selesai, malam sudah semakin larut Ollan dan Hanna pun permisi untuk pulang, dengan membawa sedikit rasa kecewa terhadap Andrew yang lebih mentingkan kerjaan dari pada sahabat mereka. Mereka takut salah menilai Andrew, mereka takut Adel mengalami kekecewaan lagi.


Ollan dan Hanna pulang di antar oleh sopir keluarga Andrew. Sedangkan semua orang di rumah itu sudah masuk ke kamarnya masing-masing untuk beristirahat. Begitupun dengan Adel dan juga Andrew.


Adel di dalam kamarnya, ia termenung memikirkan ucapan Andrew tadi. Dia merasa kecewa kenapa Andrew lebih mentingkan urusan kantor dari pada dia yang akan wisuda besok. Apakah urusan kantor itu sangat penting sehingga Andrew tak bisa meninggalkanya.


Tapi tadi papanya menyuruhnya untuk tidak usah kekantor, dan Andrew teta ngotot mau ke kantor. Apakah Andrew tidak betul-betul mencintainya? segala macam pertanyaan berkecamuk di kepala Adel.


Dia mulai meragukan Andrew, dia merasa Andrew tidak benar-benar mencintainya. Penat memikirkan semuanya akhirnya Adel pun terlelap dengan sendirinya.


Sementara Andrew di kamarnya, ia tampak gelisah. Dia tau keputusannya tadi telah mengecewakan semua orang. Terlebih pada Adel dan kedua sahabatnya. Dia melihat perubahan pada raut wajah dan sikap mereka tadi.


Bersambung.....

__ADS_1


__ADS_2