
Hari itu rapat masih terus berlangsung. Semua tamu yang hadir tampak puas dengan presentase yang di sampaikan oleh Andrew. Dan setelah beberapa jam akhirnya rapat pun telah usai.
Mereka semua keluar ruangan rapat. Senyum sumringah menghiasi wajah mereka semua, karena berhasil mendapatkan proyek kerja sama itu.
Semua undangan dari perusahaan lain sudah keluar ruangan, begitu juga dengan Andrew. Di sana hanya tertinggal Gunawan dan Nathan. Nathan menghampiri Gunawan, lalu berjabat tangan.
"Saya ucapkan terimakasih yang sebesar-besarnya atas kerja sama ini pak," ucap Nathan sungguh-sungguh.
"Sama-sama anak muda, terus semangat dalam kerja sama ini, saya yakin kamu akan sukses."
"Iya terimakasih pak, tapi sekarang perusahaan saya sedang di ambang kebangkrutan, dan karena ajakan kerja sama bapak saya bisa bangkit kembali."
"Tidak masalah, saya tertarik menjalin kerja sama dengan kamu karena, saya yakin dengan kerja sama ini kita akan sukses bersama. Dan lagi nama kamu cuku populer di kalangan pengusaha, makanya waktu itu saya secara pribadi ingin bertemu dengan kamu, saya mengundang makan malam tapi kamu tidak bisa datang, dan anak buah kamu yang bernama Jodi lah yang datang saat itu dan saya rasa dia kurang paham dengan maksud saya."
"Iya pak, saya minta maaf, waktu itu saya ada urusan."
Setelah selesai berbincang dengan Gunawan, Nathan pun langsung keluar dari kantor PT Angkasa Jaya. Ia mulai melajukan mobilnya menuju ke hotel tempat janjiannya bersama Bianca. Iya sekarang Nathan sudah menjadi langganan Bianca. Dia senang dengan pelayanan dan servis yang di berikan Bianca. Itulah sebabnya ia berkali-kali memanggil wanita itu untuk menemaninya.
Setelah tiba di hotel, Nathan menekan tombol di kamar itu. Seorang wanita cantik dengan mengenakan lingerie berwarna hitam nan tipis, hingga sangat terlihat jelas lekuk tubuh bahkan bagian sensitif wanita itu dari balik lingerie yang di kenakannya.
"Wow, so seksi baby," seru Nathan, dengan wajah berseri memerah seperti udang yang di rebus. Nathan menggigit bibir bawahnya.
"Masuk tuan," pinta Bianca.
Lalu ia berjalan masuk dan di ikuti Nathan di belakangnya yang menyapu habis setiap inci tubuhnya.
Pertempuran pun akan segera di mulai. Degan cepat Nathan membuka seluruh pakaiannya lalu menarik bianca masuk ke dalam kamar mandi.
"Jangan membuatku buas sayang, aku bisa menyiksamu nanti," bisik Nathan, setelah berhasil mendesak tubuh Bianca pada dinding kaca kamar mandi. Hujan shower membasahi tubuh polos keduanya.
"Lakukanlah tuan, aku sangat menginginkanmu," balas Bianca, dengan tersenyum nakal pada Nathan. Tangannya sibuk memainkan pusaka Nathan.
Nathan menarik tubuh wanita malam itu ke dalam bathtub. Lalu menunggi** kan tubuh polos nan mulus itu. Kemudian memasuki tubuh itu dari belakang.
"Arhhhh, ahhhhh," desa*an penuh kenikmatan lolor begitu saja dari bibir mungil Bianca, saat kejantanan sang tuan menghujamnya dengan kasar.
__ADS_1
Bebagai posisi sudah mereka lakukan demi mencapai kenikmatan surga dunia yang mereka dambakan. Hingga akhirnya lenguhan panjang terdengar keluar dari bibir kedua orang yang sedang melakukan penyatuan itu.
"Ahhhhh, nikmat Bianca, terimakasih sayang," Nathan mendes** panjang sebelum akhirnya ia mencabut miliknya dalam liang kenikmatan Bianca.
Setelah membersihkan dirinya. Seperti biasa Nathan memberikan sejumlah uang pada wanita bayarannya itu. Lalu mrninggalkan wanita itu begitu saja.
Setelah itu, ia segera keluar dari hotel dan berjalan menuju mobilnya. Lalu masuk ke dalam mobil. Menancap gas menuju ke rumahnya.
Nathan tiba di rumah. Ia kemudian masuk ke kamarnya. Di dalam kamar tampak Zaskia yang perutnya sudah mulai membuncit. Wanita itu duduk di tepi ranjang. Dan matanya melihat pada jam di dinding. Kemudian Zaskia menarik nafas berat.
Sudah jam dua belas malam lewat. Nathan baru tiba di rumah. Seperti biasa Zaskia tidak pernah menyambut kedatangan suaminya itu. Hatinya sudah terlanjur sakit dan selalu sakit dengan segala tingkah laku yang di lakukan Nathan padanya.
Walaupun tubuh Zaskia membelakangi pintu. Tapi ia cukup mendengar pintu itu telah terbuka dengan perlahan.
"Oh sorry, aku pikir kamu sudah tidur," ucap Nathan tiba-tiba karena ia terkejut melihat Zaskia yang tiba-tiba membalikkan badannya.
"Mas, kamu tahu kan, aku tidak akan bisa tidur kalau suamiku belum pulang bekerja," sahut Zaskia, tanpa melihat ke arah Nathan.
"Rapat di kantor, tadi ternyata berlangsung sangat lama," Entah mengapa tiba-tiba ada rasa iba yang Nathan rasakan pada Zaskia. Hingga dia mencoba menutupi kebusukannya dari istrinya itu.
"Rapat di kantor? apa di hotel?" pertanyaan Zaskia membuat Nathan gelagapan seketika.
"Di kantor lah, masa di hotel," jawab Nathan pelan.
"Di kantor, apa di hotel?" sela Zaskia mengulan pertanyaannya.
"Hotel, hhhhmmmm," Nathan menjawab di iringi tarikan berat nafasnya.
"Oh, kamu menemui pelacurmu?" tanya Zaskia sinis, tanpa melihat ke Nathan.
"Sudahlah Zaskia, jangan memancing keributan. Aku hanya menjawab pertanyaanmu,"
"Aku tidak mancing keributan mas, aku hanya ingin tahu kebenaran, tega sekali kamu memperlakukanku seperti ini. Tega sekali kamu menyelingkuhi aku," Zaskia mulai terisak.
"Sudah lah jangan cengeng, dulu mungkin juga Adel merasakan seperti apa yang kamu rasakan sekarang, jadi terima saja jangan banyak protes. Mungkin ini KARMA yang harus kamu terima,"
__ADS_1
Deggg...
Jantung Zaskia berdetak kencang saat suaminya menyebut nama sang mantan, rasanya sakit sekali.
"Omong kosong itu mas, tidak akan ada yang namanya KARMA itu jika kamu tidak melakukannya.
"Sudahla Zaskia, kamu terlalu banyak bicara, aku lelah dan mengantuk, aku mau tidur," ucap Nathan lalu ia membaringkan tubuhnya di ranjang.
Zaskia keluar, ia duduk di ruang tamu. Tatapan matanya kosong. Ia termenung dalam gelapnya malam. Ia merasa rumah tangganya ini seperti kuburan. Gelap dan menyeramkan.
🔻🔻🔻
Jogja
Disisi lain Adel tampak sibuk berkemas untuk keberangkatannya esok ke Jakarta, bersama kedua orang tuanya.
Kali ini ia akan ke Jakarta untuk wisuda. Dan bersama kedua orang tuanya ia juga akan bersila turahmi ke rumah kekasihnya. Andrew.
"Sayang istirahat lah malam udah larut, besok kita berangkat pagi lho, nanti kamu nggak kebangun," ucap Alice pada putrinya, sambil menarik seleting koper besar milik Adel.
"Iya moms," jawab Adel, lalu mencium kening sang mama.
"Good night,"
"Good night sayang," jawab Alice, seraya membuka pintu kamar Adel.
Setelah kepergian sang mama, Adel bergegas menutup pintu kamarnya. Lalu ia mengambil ponselnya yang terletak di atas nakas.
Segera ia memainkan benda pipih itu, tak sabar untuk membalas pesan sang kekasih yang tadi ia kirimkan. Tadi sengaja ia abaikan pesan dari Andrew karena ada sang mama di dekatnya ia merasa tak bebas ingin berbalas pesan dengan kekasihnya itu.
Setelah ia tekan nomor kontak kekasihnya, ia segera mengabarkan tentang keberangkatanya besok. Sebelumnya ia memang sudah memberitahu Andrew. Tapi saat ini membari tahu lagi kekasihnya itu jam keberangkatannya. Karena nanti Andrew dan keluarganya yang akan menjemput mereka di airport.
Sebenarnya Adel dan Alice telah menolak untuk menginap di rumah Andrew. Tapi Roxana memaksa mereka, dengan alasan kalau saat itu dia sudah menginap di rumah mereka juga.
Hingga akhirnya Alice tak mampu menolak tawaran calon besannya itu.
__ADS_1
Bersambung....