TEMAN MAKAN TEMAN

TEMAN MAKAN TEMAN
Membuang kenangan


__ADS_3

Adel berjalan memasuki rumah besar milik orang tuanya.


"Sayang, kamu sudah pulang?" Alice bertanya pada putrinya.


"Hemmm," sahut Adel.


Semenjak kegagalan pertunangannya hari itu, Adel memang sering ke luar rumah. Hanya sekedar untuk duduk-duduk di taman atau di kafe. Untuk menenangkan pikirannya.


Alice mendekat lalu mencium pipi putrinya. Alice memanggil pelayan untuk menyiapkan makan siang untuk putrinya.


"Kamu pasti belum makan, ayo mommy temenin kamu makan." ucap Alice.


Keduanya duduk di ruang makan. Berbagai makanan tampak terhidang rapi di meja makan itu.


"Sayang, sebaiknya kamu pergi liburan agar pikiran kamu lebih fresh," Alice menyarankan pada Adel untuk pergi berlibur.


"Maksud ku juga begitu mom, Adel pengen liburan dulu sebelum kembali ke Jakarta untuk wisuda nanti," kata Adel.


"Rencana yang bagus sayang, daddy setuju," ucap Rudi yang tiba-tiba datang dan langsung duduk di meja makan bersama mereka.


Beberapa hari kemudian. Setelah mendapatkan izin dari kedua orang tuanya Adel pun telah terbang menuju negara tempatnya berlibur. Yaitu negara Perancis. Negara asal sang mommy.


Di sana dia sempat menginap di rumah kerabat mommy nya. Karena nenek dan kakeknya, orang tua dari mommy nya telah tiada.


Setelah puas mengunjungi kerabat-kerabat dari sang mommy. Adel pun permisi pada mereka untuk menginap di hotel saja. Dengan alasan jika tinggal di hotel dia bisa pergi ke mana-mana dengan mudah. Karena dekat dengan tempat-tempat liburan.


Hari ini Adel keluar dari hotel tempatnya menginap. Ia berencana pergi ke menara Eiffel atau La Tour Eiffel. Yang merupakan menara yang menjadi ikon kota Paris. Menara ini berada di taman Champ de Mars, Paris, Perancis.


Adel sudah berada di bawah menara Eifell.


Suasana mendung menggelayut di atas sungai Seine, kota Paris, Perancis. Waktu masih siang tapi udara dingin sudah menggigit menusuk tulang. Ratusan wisatawan masih memenuhi sekitaran sungai Saine dan menara Eifell yang saling berdekatan itu.



Tak sedikit pasangan mengabadingan pose-pose mesra di dua objek wisata dunia itu.


Di antara ratusan orang pengunjung, tampak seorang gadis berdiri di pinggiran jembatan sungai Saine yang di penuhi oleh gembok-gembok cinta itu.

__ADS_1


Masyarakat paris menyebutnya, loving bridge atau kissing bridge.


Pont des Arts merupakan salah satu jembatan cinta yang ada di dunia. Jembatan ini di penuhi oleh padlock atau gembok cinta.



Gadis yang berdiri di pinggir jembatan itu tampak menggengam sesuatu lalu melemparnya ke sungai. Raut wajahnya terlihat penuh kekecewaan. Dia melemparkan barang yang di genggamnya tadi dengan penuh emosional.


Dialah Adelin Grace Gracia, gadis cantik itu berdiri menatap pemandangan yang begitu indah di hadapannya. Namun sayang pikirannya tidak berada di tempat itu.


Pikiran Adel teringat beberapa bulan yang lalu, saat ia dan Nathan masih kerap bertemu. Nathan selalu memberikan waktunya untuk Adel mulai mengantar kuliah, syuting, dan lain-lain.


Saat itu mereka membahas tentang pertunangan bahkan pernikahan mereka. Nathan memberikan gembok pada Adel dan Adel menulis nama mereka di gembok itu. Saat itu mereka berencana setelah menikah akan bulan madu ke paris, dan akan mengunci gembok itu disana sebagai tanda cinta mereka.


Namun kini semua itu hanya tinggal kenangan belaka. Adel membawa gembok itu dan membuangnya ke dalam sungai Saine.


Tanpa di sadari oleh Adel, seorang pemuda tampan terus memperhatikannya dari tadi. Pemuda berkulit putih dan bermata biru itu terus menatapnya dengan senyuman.


Saat Adel melempar gemboknya ke dalam sungai Saine, ia berteriak, "pergilah aku tidak membutuhkanmu lagi," teriakannya itu mampu menarik perhatian pemuda tadi. Pemuda itu datang dan mendekatinya.


"Hi," sapanya.


"Are you alone?" tanya pemuda itu.


"Yes, i'm alone," jawab Adel.


"Oh, bolehkah aku menemanimu?" tanya pemuda itu yang mampu membuat Adel terbengong, karena tidak menyangka pria di hadapannya bisa berbahasa Indonesia.


"Kamu bisa bahasa Indonesia?" tanya Adel penasaran.


"Tentu saja, aku dari Indonesia, sama seperti kamu,"


"Kamu tahu aku dari Indonesia?"


"Iya Adelin, siapa yang kenal dengan artis terkenal seperti kamu," jawab pemuda itu dengan senyum-senyum.


"Terimakasih sudah mengenaliku," ucap Adel sedikit kesal.

__ADS_1


Lalu pemuda itu mengulurkan tangannya dan Adel menjabat tangan itu.


"Andrew," ucap pemuda itu.


"Apa perlu aku ucapkan namaku juga?" tanya Adel bercanda.


Pemuda tampan itu bernama Andrew Gunawan. Dia adalah pria belasteran Indonesia-Perancis sama seperti Adel.


Ia ke Paris untuk menemani sang mama. Papanya sendiri sekarang berada di Jakarta. Mereka memang tinggal dan menetap di Jakarta.


Papa Andrew sendiri ialah seorang pengusaha sukses bernama Hadi Gunawan. Ia seorang pengusaha yang bergerak di bidang properti terbesar di Jakarta bahkan seluruh wilayah di Indonesia. Pak Hadi Gunawan sendiri banyak melakukan kerja sama dengan pembisnis-pembisnis muda. Dan memberi motivasi pada mereka.


Singkat cerita, antara Adel dan Andrew mulai terjalin ke akraban. Selama di Paris Andrew sering mengajak serta Adel saat dia dan sang mama berkeliling ke berbagai tempat wisata.


Roxana, mama dari Andrew tampak begitu perhatian dengan Adel. Saat Adel akan kembali ke tanah air bahkan ia tak mengijinkan. Roxana meminta Adel menunggunya seminggu lagi untuk pulang bersama-sama.


"Tapi Adel akan langsung pulang ke Jogja tante, tidak ke Jakarta," ucap Adel ia tersenyum sangat manis.


"Tidak apa-apa sayang, kami juga akan jalan-jalan ke Jogja," kata Roxana.


"Hah, ke Jogja mah? ini di luar rencana kita," Andrew menimpali pembicaraan mereka.


"Husssstt," Roxana meletakkan jari telunjuknya di bibir.


Adel tersenyum melihat ke dua ibu dan anak itu. Andrew tampak begitu dekat dengan sang mama.


"Pokoknya mama mau ke Jogja dulu sebelum pulang ke Jakarta," ketus Roxana pada putranya.


"Iya udah terserah mama,"


"Adel sayang, tante tidak punya anak perempuan, mengenalmu dua minggu ini, sungguh membuat tante sangat bahagia. Mau ya jadi anak tante," Roxana mengambil tangan Adel dan meletakkan di pangkuannya.


"Maksud mama, kami di jodohkan?" seru Andrew dengan polosnya.


"Wow, Andrew imajinasi kamu terlalu tinggi, mama ingin menganggap Adel sebagai putri mama kalau dia tidak keberatan. Eh, kamu malah mau menjadikannya istri. Kalau itu urusan kalian mama tidak mau ikut campur, tapi kalau memang itu terjadi sungguh mama akan menjadi mertua yang sangat beruntung," Roxana tersenyum menggoda Adel. Sebenarnya di dalam hatinya pun ia menginginkan Adel menjadi menantunya.


Bahkan kalau Adel bersedia menjadi menantunya, garis keturunan mereka yang berdarah Perancis pun akan terus mengalir. Apalagi ia akan memiliki besan perempuan yang sebangsa dan setanah air. Sungguh itu akan sangat menyenangkan.

__ADS_1


Adel hanya tersenyum malu mendengarkan penuturan dari Roxana.


Bersambung....


__ADS_2