
Roxana dan Adel semakin hari semakin akrab bak ibu dan anak. Kehadiran Adel di tengah-tengah mereka mampu menggeser posisi Andrew sebagai anak kesayangan dan putra satu-satunya yang di miliki Roxana. Selama di Paris banyak hal yang sudah mereka lakukan bersama.
Saat itu Adel membantu Roxana mengemasi barangnya. Mereka akan kembali ke tanah air besok pagi. Sesekali terdengar canda tawa dari keduanya. Andrew yang menyaksikan kedekatan sang mama dan Adel, ia merasa kagum pada Adel. Adel begitu penyayang dan menghormati mamanya.
"Betul-betul sempurna," gumam Andrew spontan.
"Apanya yang sempurna Drew?" tanya Roxana yang mendengar apa yang barusan keluar dari mulut Andrew.
"Oh, itu, hemm, iya kota Paris ini sangat sempurna keindahannya mah," jawab Andrew asal. Dia gugup, tidak menyangka mamanya mendengar apa yang dia bilang. Padahal itu ungkapan ke kagumannya pada Adel, yang spontan keluar begitu saja dari mulutnya.
Roxana tetawa dalam hati. Ia tahu putranya diam-diam mengagumi Adel. Ia merasa bersalah telah membuat gugup putranya.
Esok pagi mereka semua telah bersiap. Mereka telah berada di bandara internasional kota Paris, Perancis yaitu bandara, Charles de Gaulle. Mereka akan menaiki pesawat 'Ara Airlines' pesawat yang menyediakan fasilitas firs class dengan mendapat pelayanan premium service assistant. Demi kenyamanan mereka selama perjalanan yang akan memakan waktu sekitar sembilan belas jam.
Mereka memasuki kabin pesawat. Mereka berada dalam satu ruangan. Selama perjalanan Andrew dan Roxana begitu perhatian terhadap Adel. Hingga Adel pun di buat nyaman oleh ibu dan anak itu. Untuk beberapa waktu sejak bertemu dengan Andrew, dan sampai saat ini, Adel benar-benar telah melupakan kesedihannya. Perhatian Roxana dan putranya yang begitu tulus mampu membuat Adel kembali ceria dan melupakan Nathan.
🔻🔻🔻
Di Jogja.
Kedua orang tua Adel tampak sibuk menyambut kedatangan putrinya. Semua pelayan sibuk bekerja mengikuti arahan sang nyonya. Koki terkenal yang biasa bekerja di restorant mereka pun, kali ini mereka undang ke rumah. Untuk memasak masakan special demi menyambut putri dan tamunya.
Adel memang kerap menelpon kedua orang tuanya saat dia berada di Paris. Bahkan ia telah mengenalkan Andrew dan mamanya melalui panggilan vidio yang di lakukan orang tuanya. Saat itu Roxana dan Alice tampak begitu akrab. Tentu saja mereka begitu akrab karena mereka berkebangsaan sama. Sama-sama dari Perancis. Keduanya begitu cocok saat mengobrol. Hingga akhirnya Roxana berniat ke Jogja untuk lebih mengenal keluarga Adel. Harapan besarnya ia ingin Adel dan Andrew bisa bersatu. Namun ia tidak ingin memaksa mereka. Biarkan cinta tumbuh dengan sendirinya di antara mereka.
Rudi ayah dari Adel tampak berbincang dengan istrinya.
"Mom, pukul berapa mereka akan sampai?"
"Perjalanan mereka sudah lima belas jam dari kemarin, mungkin empat jam lagi mereka akan tiba di airport."
"Oh, kalau begitu siapkan semuanya dengan cepat. Aku senang putriku terlihat begitu bahagia saat ia menelpon kemarin, dan pemuda itu sangat tampan, semoga mereka berjodoh." ucap Rudi penuh harapan.
"Semoga saja, sepertinya Andrew pemuda yang baik dad,"
"Hemm, tapi bagaimanapun Adel harus lebih mengenal Andrew, jangan sampai kesalahan yang dulu terulang kembali."
"Iya daddy benar,"
Percakapan suami istri itu tampak serius. Sebagai orang tua memang wajar mereka sangat memikirkan nasib anaknya yang telah gagal bertunangan.
Keadaan di rumah besar itu masih sangat sibuk.
🔻🔻🔻
Adel bersama Roxana dan Andre baru saja melakukan transit pesawat. Setelah Roxana duluan masuki kabin, Dengan cepat Andrew menarik tangan Adel dan mebawanya masuk ke kabin, karena mereka hampir tertinggal.
__ADS_1
Andrew terus membawa tangan Adel dalam genggamannya sampai mereka berada di tempat duduk mereka. Saat mereka telah duduk dan pesawat lepas landas pun Andrew masih saja menggenggam tangan Adel.
"Lepas," kata Adel, ia berusah menarik tangannya dari Andrew.
"Oh, iya," jawab Andrew sambil tersenyum. Ia benar-benar tak sadar kalau tangan Adel masih berada dalam gengamannya. Ia seakan tak ingin melepaskan Adel.
Roxana yang menyaksikan itu ia hanya tersenyum.
Beberapa menit kemudia, Adel mengantuk Andrew menyandarkan kepala Adel di bahunya.
Akhirnya mereka tiba juga di bandara Yogyakarta Internasional Airport. Setelah mereka keluar dari gate kedatangan penumpang internasional, orang tua Adel sudah menunggu disana. Mereka di sambut gembira oleh Rudi dan Alice. Kedua orang tua Adel.
"Moms, dad," Adel memeluk kedua orang tuanya.
"Sayang, kamu baik-saja?" ucap Rudi.
"Aku sangat baik dad, kenalkan ini tante Roxana dan ini Andrew," Adel melepas pelukannya lalu mengenalkan kedua orang yang ada bersamanya.
"Roxana."
"Andrew."
"Rudi."
Mereka pun bergantian saling berjabat tangan dan saling menyebutkan namanya.
Sopir menganggkat dan memasukkan barang-barang mereka ke bagasi.
"Kami akan menginap di hotel saja," ucap Roxana.
"Tidak. Tidak boleh, kalian harus menginap di rumah kami. Please jangan menolak, jangan kecewakan kami, kami telah mempersiapkan semuanya untuk menyambut kalian," kata Alice memohon.
Roxana merasa tak enak telah merepotkan mereka, "tidak perlu repot-repot seperti itu," ucapnya.
"Sama sekali tidak merepotkan, kami justru merasa sangat tersanjung jika kalian bersedia ke rumah kami," Alice masih memohon dengan sangat pada Roxana.
Roxana yang merasa tak enak dan takut di anggap tak menghargai mereka pun akhirnya mengiyakan keinginan mereka.
Mobil melaju menuju kediaman keluarga Raharja. Beberama menit perjalanan, akhirnya mereka sampai di rumah megah dengan halaman yang sangat luas, dengan berbagai macam tanaman hias tertata rapi di taman samping kanan kiri rumah itu. Menciptaka suasana asri di rumah itu.
Alice mempersilahkan tamunya untuk masuk. Dua kamar tamu di sediakan untuk Roxana dan Andrew. Setelah beristirahat dan bersiap-siap mereka pun makan malam bersama keluarga Adel. Kedatangan mereka di sambut hangat oleh keluarga besar Adel.
Mereka menikmati makan malam special. Setelah itu berbincang seadanya. Dan kembali beristirahat ke dalam kamarnya masing-masing.
Adel merasa gelisah. Entah mengapa setelah kembali ke rumahnya, Ingatan itupun kembali hadir di kepalanya. Ingatan tentang dimana ia baru tiba dari Jakarta ke Jogja. Lalu ia megenalkan Nathan melalui telepon pada kedua orang tuanya. Hingga hari pertunangannya tiba. Semua kenangan itu seolah kembali di putar di kepanya. Yang terus menerus muncul bergantian, seperti derasnya air hujan yang jatuh ke bumi terus menerus seakan tak mau berhenti.
__ADS_1
Tidak mau larut dalam kesedihan, Adel pun segera membaringkan tubuhnya di atas ranjang berukuran big size miliknya. Alih-alih bisa tidur, semakin ia memejamkan matanya ingatan itu malah semakin gencar berputar di kepalanya seolah -olah ia kembali dalam masa-masa itu.
"Ah, sial!" umpat Adel yang merasa kesal dengan dirinya sendiri.
Adel keluar kamar berniat untuk menghilangkan setresnya. Ia duduk di ayunan rotan yang ada di taman rumahnya. Sedang asyik-asyik melamun tiba-tiba ayunan di gerakkan seseorang dari belakang.
Adel terkejut lalu menoleh ke belakang, "Drew, kamu bikin jantungan aja."
Andrew tersenyum dan menatap lekat pada Adel.
"Sorry," ucapnya.
"Oke, tidak masalah, kenapa kamu tidak tidur?" tanya Adel.
"Kamu sendiri kenapa tidak tidur?" bukannya menjawab Andre malah balik bertanya.
"Belum mengantuk," jawab Adel.
"Sama aku juga belum mengantuk. Boleh aku temani?"
"Hemm, silahkan."
Andrew pun duduk di depan Adel.
"Kenapa kamu terlihat sedih?"
"Tidak apa-apa,"
"jangan pernah memikirkan sesuatu yang sudah berlalu, jika sesuatu itu hanya menghadirkan kesedihan untuk kita," ucap Andre, ia meraih tangan Adel, lalu menggenggamnya.
"Tau apa kamu tentang masa lalu,". sahut Adel.
"Sebelumnya aku tidak tahu apa-apa, tapi karena rasa kekagumanku pada mu, akhirnya aku mencari tahu tentang apa dan siapa gadis cantik yang bernama Adelin itu."
Adel tertunduk dan tersipu malu mendengarkan kata-kata yang di ucapkan Andrew.
"Lalu apa yang kamu tahu?"
"Setelah aku mengetahui semua nya tentang gadis itu dan bahkan aku telah menginap di rumahnya dan berkenalan dengan kedua orang tuanya. Dan sekarang dia ada di hadapanku. Aku semakin mengaguminya dan bahkan aku mulai mencintainya," Andrew menegakkan badannya, pandangan mereka bertemu untuk beberapa detik, lalu Adel menundukkan wajahnya.
Andrew menyentuh dagu Adel lalu perlahan mengangkatnya ke atas.
"Adel maukah kamu menikah denganku. Aku tidak memintamu menjadi pacarku tapi aku memintamu menjadi istriku, apa kamu bersedia?"
Bersambung....
__ADS_1